Meski otak dan tubuhnya di bawah pengaruh alkohol juga obat perangsang, tapi Anna tahu betul siapa pria yang bersamanya itu. Dia telah berusaha semampunya untuk tidak bertingkah menjijikkan begini, namun tubuhnya berkhianat. Rasanya seperti terbakar. Jantungnya berdetak kencang. Desir aneh menyengat setiap ujung sarafnya. Apalagi ketika bersentuhan dengan Biru. Anna hilang akal. Dia tahu ini salah. Tapi … bagaimana dia harus mempertahankan harga dirinya, sedangkan kendali tak sanggup dia pegang lagi.
Terlentang di ranjang dengan nafas terengah. Tatapannya beradu dengan Biru yang berdiri hanya beberapa jengkal di hadapannya. Denyut sialan di bawah sana kembali membuatnya menggelinjang. Air matanya meleleh. Entah salahnya apa, sampai nasibnya selalu sial begini. Mendesis, Anna kliyengan bangun. Duduk di tepi ranjang dengan tangan mencengkram sprei. Masih berusaha menggenggam sisa kewarasannya. Karena dia tahu, harga apa yang harus dibayar, kalau sampai menyerahkan diri merangkak di ranjang bosnya.
“Masih ada kesempatan, kalau kamu berubah pikiran.” Biru melangkah mendekat. Berdiri tepat di hadapan Anna.
Sialnya saat Anna mati-matian mencoba tetap waras, tangan besar bosnya terulur menyentuh pipinya yang nyeri. Membelai lembut, lalu menarik dagunya mendongak. Sapuan di bibirnya seperti membungkam Anna yang berusaha menolak. Tatapan tajam yang selalu membuatnya gemetar itu, menjebaknya hingga tidak bisa berpaling. Mata Anna mengerjap diantara deru nafasnya yang makin tercekat sesak. Jantungnya seperti mau meledak, ketika ibu jari Biru perlahan menyusup masuk ke mulutnya.
“Jilat!” pinta Biru menekan lidah Anna.
Gemetar, bodohnya Anna malah menurut. Biru mengulum bibir. Basah, hangat, dan jilatan berkedut di jarinya seperti sengat menjalar di pembuluh darahnya. Menarik keluar masuk dengan otak liarnya. Wajah gugup dan tatapan sayu gadis cantik di depannya itu, menyeretnya makin jauh tersesat.
Perlahan Biru menunduk. Mencabut jarinya, lalu menjilat dan mengulum sisa basah liur Anna dengan tatapan tak lepas dari mata sayu itu. Haruskah dia berhenti? Tapi, bagaimana caranya? Sedang Biru sudah terlanjur gila menginginkannya.
“Kamu belum jawab pertanyaanku!” gumamnya makin merunduk. Wajah Anna yang merona gelagapan mundur, namun Biru malah meneleng mendekat mengecup bibirnya yang kaku. Ciuman memabukkan tadi, seperti racun yang membuatnya ketagihan.
“Hmmm …” Biru kembali menggumam menuntut jawaban. Bibirnya makin keranjingan mengulum dan menggigit lembut, sampai Anna tersengal.
“Apa?” bisik Anna serak, lalu meringis karena Biru melumat panas. Dagunya dibawa mendongak. Suara cecap dan deru nafas mengisi hening di temaram kamar yang kini terasa engap.
“Erghhh ….” Anna melenguh pelan. Tangannya yang mencengkram sprei, sontak mencekal lengan bosnya yang makin rakus melumatnya.
Biru berhenti. Menatap mata Anna yang bergerak gusar. Dia tersenyum membelai pipi mulus tanpa polesan make up itu.
“Manis?!” bisik Biru dengan senyum yang jarang Anna dapatkan. “Mau berhenti?”
Itu bukan pertanyaan, karena nyatanya dia malah makin keranjingan menyentuh Anna.
“Akuuu ….” Anna tercicit bingung. Tangannya makin erat mencengkram lengan Biru. Sialnya desir laknat itu makin menyiksanya. Mati-matian dia menahan untuk tidak mendesah, setiap kali kedut di sana membuatnya menggeliat resah.
“Apa, hmmm?” Biru kembali mendekat. Mengecup hangat bibir Anna yang terkatup rapat, lalu mengendus rahang dan leher bawah telinga.
Biru tahu kali ini dia layak disebut bangsatt. Mau seliar apa selama ini bermain dengan perempuan yang datang menawarkan diri, dia tak pernah terbebani. Karena mereka sama-sama kotor. Tapi, tidak dengan Anna! Gadis cantik yang saking polosnya, sampai sering berkelakuan bego hingga membuatnya marah nggak jelas. Apalagi kalau melihat Anna didekati pria lain, Biru merasa jengah. Bukan hanya si sampah Arhan, tapi juga sepupu tengilnya Juna yang seperti sengaja nemplok ke Anna untuk membuatnya emosi.
“Naaa …”
“Arghhhh ….” Anna mendesah mencengkram kuat lengan Biru, saat telinganya diendus. Wangi parfum khas yang selama dua tahun lebih ini jadi aroma paling dia sukai, merebak menjerat hasratnya.
Anna makin mendongak saat Biru menjilat telinganya. Rasanya panas bukan main. Antara sadar dan tidak, Anna memeluk pinggang Biru. Wajahnya mendusel di leher kokohnya. Panas kulit dan wangi pria itu membuatnya tak lagi mampu bertahan. Melenguh menggeliat oleh belaian lidah basah di telinganya, Anna sampai menggigit leher Biru. Dan itu jadi pemantik yang kemudian membuat bosnya juga menggila.
Biru mendorong Anna hingga terhempas di ranjang. Melepas satu persatu kancing kemejanya, lalu melempar asal. Dia naik ke bibir ranjang. Merangkak di atas tubuh Anna yang terbaring gugup. Menunduk, dia pun mulai mencium dan melumat bibir manis itu. Anna sampai kewalahan saat lidahnya dibelit. Tersengal ditindih tubuh kekar yang mulai menekan dan menggesek liar.
“Ehmmm ….” Nafas Anna masih ngos-ngosan, ketika Biru mengendus dan mencium lehernya. Gila! Dia benar-benar gila, pilih menyerah memberikan tubuhnya ke Biru. Tak ada lagi ingin untuk berhenti. Padahal tadi dengan Arhan dia berontak dan jijik disentuh.
Menggeliat dan mendesis meringis oleh perih di lehernya, Anna memeluk Biru yang juga sudah tak sanggup berhenti. Deru keras nafas pria tampan yang selama ini diam-diam menggenggam hatinya ini, justru makin membuatnya menginginkan lebih. Kalau luka adalah harga yang harus dia bayar untuk kebodohannya kali ini, maka Anna tidak akan menyesalinya.
“Biruuuu ….” gumamnya menyebut nama indah yang baru kali ini berani dia suarakan.
“Hmmm ….” Biru mengangkat wajahnya. Mengelus wajah Anna dengan tatapan lembut memuja. “Jangan minta aku berhenti! Aku sudah terlanjur gila menginginkanmu, Na!” bisiknya menjepit paha Anna yang terus menggeliat. Denyut di bawah sana meronta makin keras.
Anna menatap lekat mata Biru. Jemarinya membelai lembut wajah tampan dan mata tajam itu. Kesalahan terbesarnya adalah jatuh cinta ke pria ini. Cinta yang meski sakit, tapi justru membuatnya bertahan hingga sekarang di samping bosnya. Dia tahu diri! Rasa itu hanya miliknya, tanpa Anna ingin siapapun tahu. Terlebih Biru!
“Maaf …” gumamnya, lalu menarik tengkuk Biru dan mencium bibirnya.
Mata Biru sempat mengerjap kaget, tapi kemudian tersenyum dan membalas ciuman Anna. Keduanya b******u saling tindih. Melumat dan membelitkan lidah. Desahan Anna makin keras, saat tangan Biru keranjingan menyelinap ke balik bajunya dan menyentuh bongkahan dadanya.
“Arghhhh …” Anna menggelinjang. Remasan lembut dan ciuman liar Biru membakar hasratnya tanpa ampun. Merona malu, tapi pasrah ketika bajunya satu persatu terlepas.
“Indah!” gumam Biru menatap buah kenyal yang selama ini hanya bisa dia lihat dari balik baju longgar Anna. Menunduk, dia menjilat, mengulum, dan menghisap seperti orang lapar.
Anna makin menggelinjang. Dadanya terangkat dengan wajah mendongak. Tangannya menjambak rambut Biru yang sedang menggerayanginya di bawah sana.
“Na …” bisik lirih menikmati wajah ayu yang meronta gusar oleh setuhannya di sana.
“Sshhhhh ….” Anna mendesis. Pahanya mengapit begitu jemari Biru menyelinap masuk dan menyentuhnya di sana.
“Basaaahh ….” Biru mencium bibir Anna yang gemetar dengan erangan lirihnya. Sialan! Dia benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Apalagi menatap mata sayu Anna. “Cium aku!”
Dan Anna pun melumat bibir Biru. Jari-jari yang menggesek dan membelai di bawah sana membuat Anna menggila. Tersengal, dia mengigit bibir Biru bersamaan dengan kedut hebat dan tubuhnya yang gemetar dihantam rasa nikmat.
“Arghh …” Biru meringis merasakan perih anyir bibirnya, tapi juga tersenyum puas melihat Anna tengah dengan wajah merona memerah. Dilepasnya celana gadis itu, lalu melorot punyanya.
Biru menarik kaki Anna miring, lalu menarik merapat dan memeluk pinggangnya. Pinggulnya menekan dan menggesek. Sudah menggeliat keras, rasanya luar biasa nikmat saat menekan di sana.
“Biruuu …”
“Hmm ….” Biru tersengal. Tubuh mereka melekat erat. Dia meremas lembut bokonng Anna, lalu mencium bibirnya. “Aku menginginkanmu, Na!” bisiknya.
Dan begitu Anna mengangguk, Biru mendorong Anna terlentang. Menindihnya dengan ciuman panas dan lumatan lapar. Detak jantungnya berpacu kencang. Bermain dengan banyak wanita, sudah hal biasa baginya. Tapi, dia tidak sesinting itu sampai benar-benar meniduri mereka. Tidak! Sebajingan apapun dirinya, tidak sampai asal buang benih. Apalagi ke w************n seperti mereka yang tak pantas jadi ibu dari anaknya.
“Kamu menyesal?” tanya Biru membelai wajah Anna yang gusar.
“Tidak,” geleng Anna.
Biru tersenyum mengecupnya hangat. Anna meringis tegang, saat Biru mencoba memasukinya. Namun, Anna juga sudah tidak sanggup lagi menahan geleyar yang terus menyiksanya ini.
“Arghhhh ….” Dia merintih lirih. Biru menatapnya lembut, lalu kembali mendorong pinggulnya pelan.
“Sshhh ….” Desis ngilu juga terdengar dari bibir Biru. Pelan, lalu dia menghentak masuk hingga Anna menjerit lirih mencengkram bahunya.
“Argghhhh ….”
Air matanya meleleh. Biru meringis tersengal membelai wajahnya, mencium, dan mengecup hangat.
“Maaf! Sakit?” ucapnya dengan menahan ngilu. Rasanya seperti terjepit, tapi luar biasa nikmat. Mana pernah dia sangka, apa yang tadinya hanya bayangan liar di otak sintingnya. Kini benar-benar terjadi. Bercinta dengan Anna! Gila, tapi dia menginginkannya. Maka tak apa dia melepas segelnya, bersama gadis yang dia inginkan ini. Toh, Anna juga memberikan yang pertamanya untuknya.
“Sakit!” angguk Anna sampai menggigil, Rasanya seperti disobek. Penuh dan perih bukan main.
Biru mengulum bibir Anna. Menyentuhnya lembut, lalu perlahan menggerakkan pinggulnya. Keduanya saling lumat. Suara desah saling sahut di kamar yang kini menggelora panas. Saling tindih, tangan Biru makin keranjingan meremas dadaa Anna.
“Biruuuu ….” Anna melenguh memeluk leher Biru yang mendekapnya. Hentakannya makin cepat. Anna menggelinjang. Kedua kakinya menjepit pinggang Biru, lalu mendesah keras dengan tubuh tegang gemetar.
“Naaaa ….” Biru meringis oleh kedut yang menjepit dengan sensasi luar biasa nikmat. Menegakkan punggung, dia memeluk kaki Anna. Hentakannya makin liar. Anna meringis geli saat Biru menjilat dan mengulum jemari kakinya.
Mata mereka saling tatap. Sumpah, Biru makin tampan dengan wajah bersimbah keringat dan mendesis mengejar ujung nikmatnya seperti itu. Tubuh kekar berototnya itu yang membuat para perempuan menggatal, selalu cari kesempatan nemplok.
“Arghhhh ….” Biru mengerang pelan. Nafasnya memburu bersama dengan hentakannya yang makin cepat. Tiba-tiba dia menunduk. Menyambar bibir Anna dan memeluknya erat.
“Biruuu ….” Anna kembali menggelinjang mencakar punggung Biru. Rasanya sampai kliyengan.
“Naaaaan ….” Biru menggila. Mengerang dan tersengal oleh geleyar yang makin mendekat. Harusnya dia hentikan, tapi dengan sintingnya Biru malah sengaja membiarkannya meledak di dalam. “Argghhhh ….”
Tubuhnya menegang kaku. Saraf-sarafnya seperti kram. Gemetar hebat tergulung nikmat. Tersengal dia terkulai telungkup di atas tubuh Anna. Membelai wajah cantik yang masih meringis itu, Biru menciumnya lembut.
“Kamu milikku!”