Berdiri di depan kelas, dengan tangan di telinga, Leon di hukum karena tidak fokus dan melamun di kelas.
"Aduh, masih pagi, udah lumayan s**l aja," ucap Leon dengan lirih nya.
Bel istirahat berbunyi, akhirnya hukuman nya telah selesai. Gibran menghampiri nya dan mengajak nya ke kekantin.
"Ah seperti nya gue bakal ajak Gibran diskusi," gumam Leon.
•••
Pelajaran terakhir sudah selesai, kini ia berjalan menuju parkiran untuk meminta tebengan ke Gibran. Tapi Gibran bilang mobil mbak nya sudah terparkir di depan gerbang sekolah.
Mau tak mau Leon mengintip dari celah gerbang, untuk memastikan perkataan Gibran. Dan benar saja, mobil itu terparkir berjarak di depan Gerbang sekolah nya.
"Mbak Jena akhir-akhir ini aneh, yaudah gue duluan ya Bran," Gibran membalas pamitan Leon dengan jari nya yang berbentuk 'ok'
Sedangkan Leon berjalan dengan santai menuju mobil Jena. Masuk ke mobil, ia nampak melihat Jena yang tengah menelfon dengan seseorang.
"Udah pulang?" Tanya Jena sambil menjauhkan telfon nya dari telinga nya. Leon membalas pertanyaan Jena dengan anggukkan.
Jena menjalankan mobil nya sambil berbicara di telfon.
"Perusahaan lain kan bisa? Apa harus di perusahaan itu? Dosen s****n!" Umpat Jena. Ia terlihat kesal dengan topik pembicaraan nya.
"Ya tapi... lo tau sendiri, itu perusahaan musuh papi gue. Gue magang di perusahaan musuh? Like sist... oh god, kepala gue pusing. Nanti kita sambung pas gue sampai rumah, gue lagi jemput adik gue. Gue tutup!" Jena mematikan telfon nya dengan kesal, helaan napas terdengar.
Berbeda dengan Leon, yang tadi sedang memikirkan tawaran mami dan perkataan Gibran di kantin tadi. Dan sekarang ia sedikit terkejut mendengar mbak nya menyebut diri nya 'adik' ke teman nya.
"Lo mau makan di rumah atau di luar?" Tanya Jena memecahkan keheningan. Lamunan Leon buyar, ia menjawab pertanyaan Jena.
"Di rumah aja mbak, mami pasti masak."
"Mami engga masak, dia pergi lagi. Kalau lo mau masak, ya terserah sih," kata Jena. Leon baru kali ini merasakan berbicara dengan Jena sedikit lama.
"Masak aja nanti mbak," Jena menjawab nya dengan deheman. Lalu kembali melanjutkan perjalanan nya ke rumah.
Sesampainya di rumah, Jena izin ingin pergi ke Leon. "Oit, gue mau pergi dulu, lo jaga rumah," kata Jena, Leon hanya menganguk menanggapi perkataan.
Ini kesempatan nya, biasa nya kalau rumah sepi, ia akan mengunci kamar lalu mematikan lampu nya dan menyetel lagu. Hal itu membuat nya tenang dan tidak stress. Bersyukurlah ia dapat mengatasi rasa stress nya.
Ia berjalan menuju kamar nya, membersihkan diri nya, lalu mematikan lampu dan menyetel lagu is duduk di kasur sambil menunggu seseorang untuk mengangkat panggilan telfon dari nya. Tak butuh waktu lama, telfon itu tersambung.
"Bran,"
"Iya?"
"Gue t-terima tawaran mami...."
"...."
•••
Ok, tampar Jena sekarang juga. Ia baru saja membuat kesalahan. Dirinya tidak sengaja mengompori tentang Ares ke Ariel.
"Maaf Riel... gue engga bermaksud nyembunyiin, tapi gue mau mastiin lebih dalam sebelum ngasih tau lo. Tapi ternyata sudah kelewat batas ya," kata Jena. Ariel menghela napas sebentar lalu tertawa dengan pilu setelah nya.
"Haha, kek nya emang kita harus putus engga sih? Hubungan nya udah toxic banget."
Jena dan Nana diam. "Riel, kita ngikut keputusan elo aja. Tapi lo juga harus coba tenangin diri dulu, jangan sampe kebawa emosi dan malah nyesel di akhir,"
"Apa yang mau di sesali Na? Jelas banget gue cuman mainan dia doang. Udahlah, gue ajak putus sekarang, gue juga lelah."
Baik Jena maupun Nana hanya bisa diam, mereka tidak berharak ikut campur urusan Ariel.
"Gue mau telfon Leon dulu," ucap Jena sambil berdiri membawa handphone nya.
"Buat apa?"
"Suruh jaga rumah, gue mau nginap disini. Ikutan nginap engga Na?"
"Ikut ay," Jena menganguk lalu berjalan menjauh dari teman-teman nya. Ia menelfon adik angkat nya. Tapi telfon nya tidak terangkat, sepertinya adik nya itu sedang telfonan dengan seseorang.
"Telfon nanti aja," gumam Jena. Kini ia balik kembali ke Ariel dan Nana. Balik-balik ia sudah melihat Ariel yang menatap handphone nya dengan nyalang.
"K-kenapa nih?"
"Beneran di mainin Jen, haha."
Jena menatap Ariel sedih, ia jadi harus waspada dengan Tama. Begitupun Nana yang harus waspada dengan Abi. Mereka beriga sahabatan, kita tidak tahu apa yang mereka rencanakan di belakang.
"Jen, Na, hati-hati sama Tama dan Abi. Jangan terlalu mudah jatuh terlalu dalam," kata Ariel sebelum meneteskan airmata nya.
"Gue ngerasa orang paling bodoh sedunia deh, bisa-bisa nya dengan bodoh ngabisin waktu buat bareng manusia kelebihan gabut itu," sarkas Ariel. Jena dan Nana hanya menjadi pendengar setia keluh kesal Ariel.
"Gue tuh—"
Ucapan Ariel terhenti saat telfon Jena berbunyi, Jena mengatakan itu dari adik angkat nya. Ia izin menjauh untuk menelfon.
Ariel dan Nana hanya menatap punggung Jena yang menjauh untuk mengangkat telfon dari Leon.
"Ngerasa engga Na? Jena lebih perhatian sama Leon sekarang?"
"Iya Riel," Nana mengiyakan perkataan yang di lontarkan oleh Ariel.
"Syukur deh, jujur gue lebih suka dia sama Leon. Lagian mereka juga adik-kakak angkat, engga sedarah daging. Masih bisa," Nana menganguk-angukkan kepala nya setuju.
Balik lagi ke Jena, ia meminta izin ke adik angkat nya itu.
"Sibuk banget lo artis, baru bisa di hubungin sekarang,"
"Maaf mbak, tadi lagi telfonan sama Gibran." Kata Leon di seberang sana yang merasa bersalah dengan Jena.
"No problem dear, gue cuman mau bilang kalau gue nginap di rumah Temen. Jaga rumah nya, baek-baek dirumah cil,"
"O-ok mbak.."
"Gue tutup,"
"Iya,"
Sambungan di matikan, kini Jena kembali ke tempat semulai, saat sampai ia menatap kearah teman-teman nya yang menguyingkan senyuman aneh ke Jena.
"Kenapa nih?" Tanya Jena sambil mengernyitkan alis nya.
"Engga, kelihatan nya udah deket aja sama adik angkat nya nih," goda Nana. Jena hanya menanggapi nya dengan acuh.
"Gue ngerasa bersalah aja,"
"Lah bisa ngerasa bersalah juga lo," saat itu juga Jena tertohok mendengar perkataan Ariel.
"Buset Riel, hh.. salah banget ya gue, sampe Leon cerita kalau mental nya ke ganggu gara-gara gue dan dia sampe bela-belain belajar dengan keras cuman buat dapat beasiswa di luar kota."
"Jahat banget lo anjir!" Celutuk Nana.
"Sampe mental nya keganggu, lo tau sendiri fisik gampang di obati, tapi mental engga."
"Iya gue salah, tapi entah kenapa gue engga rela di pergi. Gue pengen di disini-sini aja, liat muka nya tuh bikin gua merasa bersalah terus," kata Jena sambil mengeluarkan helaan napas.
Ariel hanya diam dan tersenyum tipis mendengarnya, ia tahu Jena kenapa.
###
A/n : don't forget to follow this account, dan follow akun istagram aku @MOCHEERA. terimakasih^^