Leon terbangun dari tidur nya ia mendapat telfon dari mami nya. Ia melirik kearah jam sebentar.
"Ah jam 8 pagi, hari ini minggu. Ku habiskan buat tidur saja,"
Leon mengangkat telfon dari mami sebentar, baru nanti ia akan melanjutkan tidurnya.
"Leon, nak, jadi gimana? Kamu mau nerima tawaran mami?" Ok sekarang tarik Leon, ia sebenarnya ragu karena mbak nya sekarang lebih bersikap baik pada dirinya.
"E-eum.. Leon... Leon... Leon m-mau mi," kata Leon dengan pelan, tapi itu tetap terdengar dari ibunya.
"Baik, akan mami siapkan. Kemungkinan 2 minggu lagi kamu akan berangkat," kata Mami. Leon mengiyakan nya. Setelah berbincang ini dan itu dengan Mami nya. Leon menghela napas, ia mengambil selimut lalu menyelimuti diri nya sendiri. Dan seterusnya ia tertidur.
•••
Di lain tempat, Ariel tengah memasakkan sesuatu untuk sarapan. Jena itu seneng banget kalau bareng Ariel, karena menurut nya Ariel seperti ibu bagi dirinya. Beda lagi dengan Nana yang ia anggap seperti kakak sendiri, mengingat Nana lebih tau dari dirinya.
"Riel, gue bantu sini," tawar Nana, Ariel yang memang kesusahan mengangukkan kepalanya. Sedangkan Jena hanya duduk manis di atas meja makan.
Dia sama sekali tidak bisa masak, "lo mau bantu engga, Jen? Belajar masak sini. Mamah nya Tama suka sama yang pinter masak, lo masak telur aja gosong."
Jena tertohok mendengarnya, tapi dia memang sama sekali malas untul berusaha memasak. Lagipula ia tahu jika ujung-ujung nya ia tidak akan bersama Tama.
"Malas ah Riel, kalian aja, gue duduk manis di sini."
Jena tidak mendapatkan respon sama sekali, kedua nya tengah sibuk memasak. Tiba-tiba handphone Jena berdering, menandakan pesan masuk. Ia melihat sekilas itu dari mami nya.
Karena penasaran ia membuka nya. Dan pesan yang ia terima adalah bukti pemberangkatan Leon ke luar kota untuk 2 minggu yang akan datang.
"s****n!" Desis Jena.
Nana yang kebetulan mendengar u*****n Jena-pun menolehkan kepalanya menuju Jena. Ia bertanya ada apa dengan nya.
"Emak gue ngasih tau kalau Leon berangkat ke luar kota 2 minggu lagi, s**l kenapa gue engga rela kaya gini ya?"
"Mungkin karena lo masih ngerasa bersalah, minta maaf gih ke Leon. Selesaiin semua nya," usul Nana. Jena diam, tapi ada rasa aneh, bukan hanya itu. Entahlah ia juga tidak tahu pasti.
"Ok," balas Jena secara singkat.
Menunggu beberapa menit, akhirnya masakkan Ariel dan Nana siap, kini mereka menyantap nya di meja makan bersama.
"Hari ini ada jadwal kuliah engga?" Tanya Ariel sambil memasukkan nasi kedalam mulutnya.
"Minggu Riel, lo habis putus engga fokus mulu, tadi aja gula di bilang garem. Itu ada gue, kalau kaga kemanisan ni makanan," sungut Nana sambil berdengus.
"Ya lo tau sendirilah orang patah hati kaya gimana," ucap Jena menimpali.
"Nahh, yaudah cepattan di habisin makan nya. Jalan-jalan bisalah ya ini," Jena dan Nana menganguk, lalu kembali menyantap makanannya.
Selesai makan, mereka bertiga bersiap-siap untuk jalan-jalan ke mall terdekat. Dengan rempong mereka memilih pakaian apa yang akan mereka kenakan.
"Riel, Jen, perasaan gue kaga enak deh," ucap Nana lirih.
"What's wrong?" Tanya Ariel, gadis itu yang tadi nya sedang memakai bedak kini perhatian nya kearah Nana.
"Ngga tau kek, ngga enak aja rasanya."
"Udah lu tenang, ngga ada yang bakal terjadi kok," kata Jena yang menenangkan Nana. Nana menghela napas lalu mengangukkan kepalanya.
Sekarang mereka sudah siap berangkat ke mall.
•••
"Mbak lagi diskon ya?" Tanya Jena dengan bersemangat, mbak-mbak kasir nya menganguk, demi apapun Jena membawa banyak barang yang berdiskon. Begitupun dengan Ariel dan Nana.
Saat asik mencari pakaian diskon yang bagus, ia menemukan satu kemeja laki-laki yang terlihat bagus. Tidak ada angin atau hujan ia berniat membelikan kemeja itu untuk Leon. Ia masih menatap kemeja itu dengan ragu, apakah ia harus beli atau tidak.
Tapi saat mendengar ibu-ibu yang berjalan mendekat sambil membahas kemeja itu, Jena mengambil dengan cepat lalu bergegas ke arah kasir untuk membayar pesanan.
"Kemeja buat siapa?" Tanya Arile yang baru saja menghampiri Jena. Jena yang di tanya menjawab pertanyaan Ariel. "Buat Leon," Ariel tersenyum tipis saat mendengar penuturan Jena. Gadis itu benar-benar mulai menerima Leon.
"Udah bayar?" Tanya Nana yang baru datang dengan beberapa baju ditangan nya memecahkan keheningan.
"Belum, nunggu antrian."
Setelah selesai berbelanja, ketiga gadis itu berencana untuk makan siang terlebih dahulu, mengingat mereka menghabiskan waktu 2 jam untuk diskon tadi.
"Mau makan di mana nih?" Tanya Ariel
"Atur aja," balas Jena acuh sambil memainkan handphone nya, ia sedang chattan dengan teman satu kelompok magang nya.
"Nana, ada saran?"
"Itu aja yuk!" Ajak Nana dengan semangat. Ariel menganguk menyetujui, lalu ia menyenggol lengan Jena, Jena pun tersadar lalu mengangukkan kepala nya.
Baru saja mereka ingin masuk, ternyata restoran itu sudah di pesan khusus untuk acara. Jadilah mereka makan di tempat lain. Tapi saat mereka ingin berbalik, Nana tidak sengaja melihat orang yang ia kenal.
"Riel, Jen, itu bukan nya Abi? Sama Tama juga. Eh mereka juga sama cewek mana gandengan lagi, apa-apan!" Sungut Nana. Ariel hanya diam, ia sudah dapat menebak hal ini akan terjadi.
"Mending kita pindah tempat makan dulu, ngga enak sama satpam nya natap terus," kata Ariel. Jena dan Nana yang masih blank hanya mengangukkan kepala dan pasrah di bawa kemana saja.
"Jen, Na, kalian kan udah tau Ares cuman main-mainin gue, seharusnya kalian juga mikir sama Tama dan Abi. Mereka itu satu frekuensi, satu pemikiran. Gue yakin banget, walaupun Tama baik banget tapi gue yakin bisa-bisa aja hal ini kejadian," ucap Ariel panjang, lebar.
"Tapi kan Riel..."
"Pesan makanan kalian, lupain mereka. Kalau perlu lost contant cowok kaya gitu di pertahanin.
"Iya,"
•••
Jena pulang ke rumah jam satu malam lebih, kepala nya benar-benar pusing karena habis menangis. Nana dan dirinya habis-habisan galau karena doi mereka.
Sekarang ia pulang, rumah sepi. Semua lampu mati, ia menyalakan semua lampu. "Kenapa ini? Kok lampu mati semua."
Jena berjalan menuju kamar mami nya, takut-takut jika mami nya pulang dan pasti ia akan di marahi habis-habisan karena pulang larut dengan kondisi diri yang terkesan berantakan. Tapi untung saja mami nya tidak ada di rumah.
Setelah dari kamar mami nya, ia berjalan menuju kamar Leon. Ia menatap mata Leon yang tertidur dengan teduh, tanpa ia sadari ia tersenyum tipis.
Jena pun menaruh kemeja yang sempat ia beli di mall tadi, lalu pergi menuju kamarnya.
###
A/n : don't forget to follow this account and akun istagram aku @MOCHEERA . terimakasih