Bagian 9 : Masak

1043 Words
Leon terbangun dari tidur nya saat alarm di kamar nya berbunyi, ia dengan cepat bangun, hari ini, hari senin. Ia ucapara bendera, dengan segenap tenaga ia berlari siap-siap. Tapi langkah nya terhenti saat mendapati satu totebag berwarna hitam. "Siapa punya? Eh apa isi nya?" Gumam Leon, dengan cepat ia membuka totebag tersebut. Setelah dibuka ia mendapatkan kemeja dan satu buah jas. "Wah bagus, tapi siapa yang kasih?" Tanya Leon dengan gumaman. Ia mencoba ala-ala di depan kaca. Tapi saat melihat jam, ia berdecak. "Astaga, bisa terlambat kalau gini caranya." Leon dengan cepat masuk kedalam kamar mandi lalu membuang kemeja dan jas nya ke sembarang arah. Sudah 15 menit Leon di kamar mandi, Jena datang masuk kekamarnya Leon, niat gadis itu ingin menyuruhnya sarapan, tapi ie melihat kemeja dan jas yang di belikkan kemarim berceceran di atas lantai. "Anjir ni anak!" Desis Jena. Dengan perasaan kesal, Jena melipat jas dan kemeja itu lalu memasukkan nya ke dalam lemari. Sebelum pergi dari kamar Leon. Jena menuliskan sesuatu di sticky note. Dirinya izin pergi kek kantor tempat ia magang dan tidak bisa mengantarkan nya nanti, kalau jemput dia seperti nya bisa. Dan tanpa basa-basi Jena pun langsung pergi dari sana. 17 menit setelah ke pergian Jena, Leon dengan cepat memasang seragam. Sebentar lagi bel akan berbunyi, dan yup! Gerbang sudah di tutup jam segini. Ia menghela napas, terpaksa dirinya membolos hari ini. Dengan langkah malas Leon kembali ke ranjang nya, ia duduk disana sambil menghela napas nya prustasi, tapi perhatian nya tertuju kepada sticky note yang tertempel di atas meja belajarnya. Ia membaca sticky note itu dengan ekspresi datarnya. "Ok," Yang di fikirkan Leon, bagaimana nanti jika Jena betulan menjemputnya di sekolah, kan dirinya tidak bersekolah? Kemarin dia terlalu lama menggalau sampai lupa waktu, dan berakhirlah begadang. Jadi gitu, sekarang malah telat bangun. Benar-benar hari yang buruk. "Calm down Leon, just bad day," ucap Leon sambil menenangkan dirinya sendiri. Lalu setelah itu, ia merebahkan diri nya di atas ranjang milik nya sendiri lalu menggunakan tangan kanan nya sebagai bantal, walau ada bantal. Akhir-akhir ini pikiran nya tertuju kepada kakak angkat nya yang terlihat lebih care daripada sebelumnya. Entah itu pertanda bagus atau tidak, dirinya tidak tahu pasti, tapi yang jelas... ia tidak akan membatalkan rencana nya untuk pindah. "Maaf, tapi gue lelah," kata yang di ucapkan Leon sebelum kembali ke alam mimpi. ••• Sore hari nya, Jena masuk kedalam rumah dengan emosi yang sedikit membara, ia menatap Leon yang tengah minum itu dengan tatapan tajam nya. "Bodoh, kalau lo bolos setidaknya kasih tau jadi gue ngga repot-repot jempu elo," kata Jena dengan nada yang sangat kesal. Leon merasa tidak enak hati jadi nya, apa yang ia khawatirkan tadi siang ternyata benar. Mbak nya benar-benar menjemputnya. "Maaf mbak... Leon tadi kesiangan, dan ngga sampai ke sekolah," kata Leon dengan lirih. "Lain kali bilang, huft~" nada bicara Jena terlihat lebih tenang sekarang, Jena berjalan menuju kulkas, dia mengambil minuman bersoda lalu berjalan dengan tatapan kosong ke arah kamar nya. "Something wrong's from she?" Sedangkan di kamar Jena, Jena tengah duduk di balkon kamar nya dengan sekaleng minum soda di tangan nya. Ia menatap kearah langit yang luas dengan tatapan kosong. "Tama, Tama... kok ada orang sebrengsek elo?" "Oh iya ada kan, itu elo..." Racau Jena, sedari ia tidak pokus. Bahkan hari pertama magang nya sangat buruk. Ini semua karena Tama yang tiba-tiba mengajak nya berputus karena alasan ingin pindah ke canada. Tapi yang ia temukan apa? Laki-laki bertungan di canada. Cukup membuat sakit hari. Dan tebakan Jena, Ariel dan Nana kemarin tentang si Abi, itu ternyata benar. "Sudahlah kamu bodoh Jena," dunia nya benar-benar terasa hancur. Ini bukan hanya karena Tama tapi juga kabar bahwa keberangkatan Leon di percepat. Tanpa disadari Leon menyaksikan mbak nya dari celah pintu, entah mengapa d**a nya sedikit nyeri mendengar penuturan Jena. "Awas lo Tama!" Malam hari nya, Jena keluar dengan keadaan yang acak-acakkan. Dan terkesan tidak terawat. Hari ini Leon memasak maka dari itu ia turun. Leon yang lama-lama kesian dengan mbak nya mulai menanyakan ada apa dengan mbak nya. "Mbak... mbak ngga papa?" Tanya Leon dengan nada yang khawatir. Jena membalas perkataan Leon dengan anggukan kepala. "Ngga papa kok, santai," ucap Jena. Leon pun bersikap acuh. Toh dirinya sudah tau, ya walaupun masih tidak terlalu jelas. "Malam ini jangan begadang biar besok bisa sekolah," Leon menganguk membalas perkataan Jena. "Oh jadi gini rasa nya di perhatikan oleh mbak Jena," ucap Leon dalam hati nya. "Bay the way, lo... lo... pemberangkatan lo di percepat?" Tanya Jena dengan canggung, ia menggaruk tengkuk tangan nya yang tidak gatal. "Hah? Oh itu, eumm... kaya nya gitu, mami aja nih yang atur semua nya." Kata Leon Jena menganguk mengerti dan membuka mulut nya ber bentuk huruf 'O' ••• Jena semalam nya hanya menggalau, dirinya benar-benar seperti orang stress. Belum lagi stress di tempat magang nya. Papi nya tak henti-henti menasihati diri nya untuk berhati-hati. Apalagi kantor tempat dirinya magang ini orang-orang yang licik dan tidak terduga. "Adehh, ini masalah hidup kok datang nya bersamaan sih, kan saya stress", kata Jena dengan lirih. "Sabar mbak, tarik napas, buang," kata Leon sambil memijat kedua bahu Leon. Tapi Jena menepis tangan Leon. Dia tidak suka di pegang-pegang sembarangan seperti itu. Dan Leon yang baru tersadar pun hanya tersenyum kikuk. "Leon.. gue belum makan. Masakan nya mana?" Tanya Jena. Leon baru tersadar dari lamunan nya lalu ia bergegas masak. Tidak butuh waktu lama, Leon dapat menyelesaikan masakkan nya. Saat Jena mencoba Gadis itu wajib terkagum dengan kelezatan rasa makanan buatan Leon. Jujur sebagai wanita tulen ia insecure dengan Leon. Tapi ia belum mau mencoba belajar memasak, menurut nya memasak itu mengerikan karena harus berperang dengan minyak. Dia dulu pernah belajar masak, tapi sekali nya masak langsung disuruh masa ikan, jadi dari situ dia rada trauma dengan memasak. "Giman mbak?" Tanya Leon yang penasaran dengan hasil masakan nya. Dulu saat pertama kali ia memasakkan buat Jena, gadis itu menjawab biasa saja. Tapi kali ini.. "enak," jawab Jena seadanya. Leom tersenyum puas, akhirnya ia mengetahui respon masakkan nya bagi Jena. Jujur ia sangat menyukai mbak Jena nya yang hangat seperti ini,ia jadi ragu... ### A/n : don't forget to follow this account and akun istagram @MOCHEERA terimakasih^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD