Gaun putih yang dirancang dengan penuh berlian kini melekat di tubuh Alena, tampak begitu memukau saat dikenakannya. Alena kini tengah dirias oleh pihak dari wedding organizer, wajahnya dipakaikan beberapa krim pelembab, lalu dipoles dengan bedak tipis. Karena wajah Alena tidak perlu dipoles oleh bedak yang tebal, cantiknya sudah benar-benar alami.
Bulu mata dipasangkan, membuat bulu mata Alena cetar lebih cantik dari biasanya, lipstik berwarna nude dipakaikan pada bibirnya. Warna-warna teduh memang sangat cocok untuk Alena, membuatnya tampil dengan sangat memukau. Rambutnya digerai panjang, diberi mahkota pada kepalanya dengan sangat anggun, kalung berlian terpasang indah di leher Alena menambah kesan menakjubkan. Veil mulai dipasangkan, menutup samar-samar wajah cantik Alena.
“Kau sangat cantik, Nona. Tak salah Pak David memilihmu,” puji Catherine.
“Terima kasih. Panggil aku Alena saja, Cath,” ucap Alena seraya tersenyum.
Beberapa pelayan di mansion David yang ikut hadir untuk merayakan acara pernikahannya pun saling berbisik memuji kecantikan Alena. Mereka dirias untuk mengiringi pengantin perempuan, sehingga mereka yang pertama kali melihat bagaimana perubahan Alena yang semakin cantik ketika wajahnya dipoles oleh make-up.
“Beruntung sekali Tuan David bisa mendapatkan wanita cantik seperti Nona Alena,” ucap salah satu pelayan.
“Ya, kau benar sekali,” sahut satu pelayan, diangguki oleh para pelayan lainnya.
“Tuan David tidak pernah membawa wanita. Sekalinya dia membawa wanita, segera dinikahi, dan kecantikannya mengalahkan para wanita yang sering mengejarnya,” ucap pelayan lain.
“Benar sekali. Nona juga ramah terhadap kita, dia tidak sombong seperti wanita di luaran sana.
“Pokoknya mereka cocok, layaknya pangeran dan bidadari yang dipersatukan.”
“Keduanya sama-sama beruntung, pastinya.”
Begitulah bisik-bisik dari para pelayan yang akan menjadi pengiring pengantin wanita. Mereka memuji kecantikan Alena yang cocok jika disandingkan dengan David. Apalagi keramahan Alena membuat para pelayan itu menyukainya. Meskipun berbanding terbalik dengan sikap dingin David, justru hal itu yang akan menjadi pelengkap. Terbukti sudah bahwa David terlihat perubahannya meskipun baru beberapa hari mengenal Alena.
Farez datang membuka pintu yang menjadi tempat para wanita itu bersarang, dia melihat para pelayan yang sudah dirias cantik sedang menggosipkan majikannya yang akan menikah beberapa menit lagi. Dasar wanita, kerjaannya bergosip terus, cibir Farez dalam hatinya.
Tatapan pria itu kini mengarah pada sang pengantin wanita yang tampak sangat memukau, senyuman hangat tercetak jelas di raut wajah Farez, dia benar-benar mengagumi kecantikan Alena yang dipoles make-up sederhana. Apalagi gaun yang dipakai Alena sangat pas di tubuhnya, mahkota indah yang dipakai di kepala menghias rambutnya, serta kalung berlian yang melilit lehernya dengan indah.
“Apa Tuhan sedang mengirimkan sesosok bidadari untuk David?” Pertanyaan itu lolos dari bibir Farez, seraya mendekat ke arah Alena.
Catherine dan semua yang ada di sana terkikik geli mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Farez. Sementara Alena hanya terdiam, menatap cermin dengan tatapan kosong. Alena terbayang akan keluarganya, ingatannya kembali terulang pada kejadian yang menimpa keluarganya minggu lalu. Cairan bening turun begitu saja membasahi wajah cantik Alena yang telah dipoles make-up. Alena terisak, ingatannya dengan sangat jelas merekam semua kejadian itu.
Farez mendekat ke arah Alena, dia mendengar dengan jelas isakan itu. Farez sekarang berada tepat di belakang Alena, dia melihat cermin yang menampakkan Alena dan dirinya. Farez memegang bahu Alena pelan. “Ikhlaskan semua yang telah terjadi. Jadikan hari ini sebagai hari bahagiamu,” ucap Farez.
“Berhentilah menangis! Mereka pasti bahagia jika kau bahagia, dan sebaliknya jika kau bersedih, mereka juga akan merasakan hal yang sama. Buatlah mereka tenang di sana dengan kebahagiaanmu.” Farez menguatkan Alena.
Mendengar apa yang diucapkan Farez, Alena mengangguk segera menghapus jejak air matanya. Dia mencoba untuk terus kuat, dia menarik napasnya panjang. “Mana senyumnya?” tanya Farez.
Alena mencoba untuk tersenyum, lengkungan bibirnya kini tercetak jelas pada raut wajahnya. Farez ikut tersenyum melihatnya, dia mengulurkan tangan pada Alena untuk membantu gadis itu berdiri. Semenjak kejadian perdebatan tentang cincin pernikahan, Farez dan Alena menjadi dekat. Bahkan Farez menganggap Alena sebagai adiknya sendiri, begitu pun sebaliknya. Farez saat ini akan menjadi wali Alena di pernikahannya dengan David, karena Alena sudah tidak mempunyai anggota keluarga satu pun. Farez siap untuk membantu dan melindungi Alena, dia tidak akan membiarkan orang lain menyakiti Alena, termasuk David.
“Ayo!” ajak Farez.
Alena berjalan didampingi Farez menuju Altar, dengan diiringi Chaterine dan para pelayan yang menjadi pengiring pengantin wanita. Alena sedikit kesusahan karena ujung gaunnya yang panjang, salah satu pengiring pengantin akhirnya berinisiatif untuk memegang ujung gaun yang dipakai Alena agar memudahkannya berjalan.
Setelah berada di Altar, Farez menyerahkan Alena pada David sang mempelai pria. Alena dan David duduk di hadapan pendeta, diberikan arahan tentang apa yang harus mereka lakukan. Selanjutnya, pengucapan janji suci oleh kedua mempelai hingga usai.
Sesi saling memakaikan cincin dimulai, kini David memasangkan cincin pada jari manis Alena. Hal itu bergilir, setelah David selesai, giliran Alena yang memakaikan cincin pada jari manis David. Sorak riuh tepuk tangan terdengar dengan sangat jelas, begitu meriah. Alena menitikkan air matanya antara senang dan sedih secara bersamaan.
Sekarang giliran sesi yang paling dinanti yaitu mempelai pria mencium bibir mempelai wanitanya, hal itu berawal dengan sangat menegangkan. Ada yang bersorak menyuruh David untuk segera mencium bibir Alena, ada yang menutup wajahnya dengan sebelah tangan, ada juga yang tersenyum merona. Hal itu berlangsung histeris ketika David berhasil mencium bibir Alena, dan melumatnya. Kedua mempelai tersebut melakukan ciuman lembut di depan seluruh tamu undangan yang hadir.
Pipi Alena merah merona secara alami ketika ciuman itu berlangsung, itu pertama kalinya bagi Alena. Saat sesi melemparkan buket bunga ke seluruh hadirin pun semburat merah pada wajahnya masih tercetak dengan sangat jelas. David tersenyum manis ke arahnya.
Seluruh tamu undangan mulai mengantre untuk memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Dari awal acara banyak sekali orang yang mengabadikan momen mereka, apalagi sekarang mereka meminta untuk berfoto bersama kedua mempelai.
Farez menjadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat pada keduanya. Dia juga yang menghambat para tamu lainnya yang ingin segera memberikan ucapan. Karena Farez terus saja mengabadikan momen bersama kedua mempelai dengan berbagai macam gaya.
“Tersenyumlah, aku di sini ada untukmu,” ucap David berbisik pada Alena.
Alena menatap David lekat. "Terima kasih."
"Aku hampir bosan mendengar kalimat itu," cibir David.