03. Kembali?

803 Words
"Lo tahu enggak? Kalau kelakuan lo yang ngelabrak Anna sama Xavier viral banget di sosial media? Duh, wajah gue juga kesebar di mana-mana lagi." "Viral gimana?" "Ya viral, banyak yang komentarin, banyak yang apa ya namanya? Repost gitulah." "Syukur deh, biar malu tuh si Anna sama si Xavier." Ia baru saja bangun tidur. "Mereka mah, kulit badak, mana malu sama hal-hal kayak gini. Nanti juga kalau beritanya udah tenggelam ya biasa-biasa aja lagi." "Enggak dong, orang kalau ketemu Xavier sama Anna bakalan ngebatin 'oh ini yang selingkuh waktu itu'. Jadi mereka enggak akan pernah lepas dari penilaian sosial." "Omong-omong, nyokap lo teleponin gue mulu, nanyain kabar lo gimana. Aktifin kek HP lo biar bisa jawab sendiri. Gue bukan gak mau ngasih kabar tapi beliau enggak akan percaya sama gue." "Bawel deh." Bianca mengambil ponsel dan menyalakannya. Setelah itu, berbagai telepon, berbagai chat masuk ke sana. "Tuh kan Bi!" Sedang tak peduli, Bianca pun langsung menelepon Moma. Sang ibu yang kini pasti khawatir akan keadaanya. "Halo Mom." "Bianca! Kamu kemana aja sih? Moma teleponin dari kemarin, Moma khawatir pas tahu keadaan kamu di sana lagi gimana." "Tenang aja, Moma. Aku baik-baik aja di sini, Moma enggak perlu khawatir." "Kamu kapan pulang Nak? Udah hampir dua minggu kamu ninggalin Moma." "Besok Bianca pulang, hari ini masih ada urusan di sini Mom. Janji besok pulang ke Bandung." "Kamu emang ya, enggak sayang sama Moma. Lama banget! Orang tua mah kangen, khawatir, sedang kamu malah berlama-lama di sana." "Ya ampun Moma. Bibi bukan mau berlama-lama di sini." Moma biasa memanggil Bianca dengan sebutan Bibi. "Tapi memang ada barang endorsan yang belum Bianca kerjain, kemarin enggak keburu soalnya sibuk ngegalau, udah dulu ya." "Kamu enggak kangen sama Moma?" Moma ini memang ya? Harus sekali mendapat pengakuan. Apa mungkin karena Moma terlalu lama menjomblo? Tujuh tahun ditinggalkan Popa, Moma otomatis menggelar status sebagai janda ditinggal meninggal. "Kangen Moma, Bibi usahain pulang secepatnya. Love youuu." "Love you too." "Jangan khawatir ya Moma. Bibi kuat kok, Bibi baik-baik aja apalagi setelah kemarin bales perlakuan para penjahat itu." "Oke Bi, Moma masakin makanan enak buat kamu besok." "I'm so happy, thanks Mom." "Hm." "Besok Moma pasti masak rendang sama sambel pete teri, duh mantap tuh. Bi, balik sekarang aja napa." "No!" Bianca mengeluarkan sesuatu dari koper. "Kita harus review gaun pantai ini dulu." ^^^^^^^^^ Bianca bergerak menyugar rambut panjangnya. Sedang di sisi lain, Kimi sibuk memvideo dengan kamera. Satu real, insta story dan beberapa foto yang akan terpajang di feed. Bayarannya lumayan, Bianca tak mungkin melewatkan untuk mengendors barang ini. "Good! Tinggal ngambil foto doang nih, pindah spot!" "Ok!" Bianca mengikuti Kimi yang masih melihat hasil dari video barusan. Beruntung ia memiliki sosok Kimi yang multifungsi, bisa merekam video dengan baik, bisa mengedit juga tahu analisis sosial media. Kimi bener-bener sangat multitalenta. "Gimana?" "Oke kok." Kimi berhenti. "Nah di sini, lo tiduran di atas pasir, gue foto dari atas." "Pala lo miring dikit Bi, tangan cantik lo deketin ke muka, oke!" Setelah beberapa saat mengambil gambar di berbagai spot, Kimi pun merasa cukup, keduanya membeli kelapa muda kemudian. Dan saat itu, Xavier tiba-tiba menghampiri. Bianca tak menyangka bahwa ternyata Xavier belum pulang ke Jakarta. "Boleh kita bicara?" "Jangan mau Bi!" larang Kimi. "Mau ngapain sih lo? Mau bicarain apa lagi?" tanya Bianca. "Aku cuma mau bicara empat mata." "Empat mata? No! Gue yakin lo mau ngapa-ngapain Bianca." "Jangan asal!" Xavier menatap Kimi. "Gimana Bi? Di sana aja ngobrolnya." "Ok." "Bi!" Kimi khawatir. "Gue bisa jaga diri, lo tunggu aja di sini." Bianca menganggukan kepala sebelum beranjak menjauh dari Kimi. "Waktu lo enggak lebih dari sepuluh menit." "Maafin aku Bi, aku nyesel banget." "Aku enggak mau kehilangan kamu, sumpah demi apapun. Aku enggak akan bilang lagi kalau kemarin aku khilaf, aku enggak akan membela diri, aku salah dan aku tahu itu. Please, maafin aku!" "Lo sebelum selingkuh dari gue, goda-godain temen gue, mikir dulu enggak sih bakal gimana akhirnya? Padahal udah gue bilang dari awal, gue bisa tahu apapun yang lo sembunyiin. Sekarang aja, udah kayak gini baru nyesel." "Aku tahu Bi, aku tahu. Aku bego banget, tapi mau gimana lagi, semuanya udah terjadi." "Yaitu, semuanya udah terjadi, so yaudah, enggak perlu dibicarakan lagi, enggak perlu dibahas lagi, kan enggak susah. Lo bisa nyari cewek baru atau mau sama Anna juga silahkan sekarang, kita udah putus dari dua hari lalu." "Aku enggak mau pisah dari kamu Bi." "Dih? maksud lo? Setelah semua ini terjadi, lo malah enggak mau pisah? t***l banget sih." "Bi aku nyesel, aku mau kita balik." "Sorry, gue enggak nerima bekasan." "Meski begitu, aku lebih milih kamu dari pada Anna, makanya aku masih stay di Bali dan minta bicara." "Ya terus?" Bianca tertawa sumbang. "Lo pikir gue bakalan seneng gitu dipilih sama lo? Enggak! Maaf-maaf aja. Jangan kepedean dan sadar diri lain kali. Udah ya? Gue mual bicara sama lo."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD