Bianca sampai pagi ini di Bandung. Ia yakin Moma pasti tengah sarapan. Sesaat gadis itu pun masuk ke dalam rumah tanpa salam. Langkahnya sedikit tertahan kala menemui sepasang sepatu pria.
Sebentar.
Bianca mengernyit, sepasang sepatu pria? Itu berarti ada pria di rumah ini?
Siapa?
"Loh, kamu pulang pagi banget Bi? Enggak ngabarin Moma dulu lagi. Moma belum siapin apa-apa, soalnya Moma pikir, kamu bakalan sampai di Bandung sore nanti."
Bianca tak menjawab, ia menatap Moma penuh selidik sembari sesekali menggulirkan bola mata pada laki-laki yang menatapnya heran.
"Ah sini dulu kamu, salim sama tamu."
Salim?
Enggak!
Enggak mungkinkan kalau laki-laki ini pengganti Popa?
"Bibi, kenapa malah ngelamun? Ayo salim dulu."
Bianca sebenarnya agak malas, tapi ia tetap menghampiri lelaki tersebut lalu menyalami tangannya dengan sopan.
"Kenalin, dia Om Ezra, atasan baru Moma di kantor."
ATASAN?
MOMA BERKENCAN DENGAN ATASAN DI KANTOR?
"Dia membeli rumah di depan kita, jadi kalian akan sering bertemu beberapa waktu ke depan."
Membeli rumah cokelat dua tingkat yang lucu di depan? Apa itu modus untuk bisa mendekati Moma?
Benak Bianca benar-benar penuh oleh kecurigaan.
"Ayo duduk dulu, ikut sarapan sama kami." Moma dengan perhatian menyiapkan piring untuk Bianca "Maaf ya Mas, saya enggak tahu kalau Bibi bakalan dateng pagi ini."
Kenapa Moma harus minta maaf pada orang itu?
"Enggak apa-apa kok. Makasih ya, udah ngajakin sarapan."
"Ah enggak Mas, lagian saya seneng kalau ada temen sarapan begini."
Duh, Bianca boleh enggak sih mual mendengar percakapan ini?
Ia benar-benar belum siap untuk punya papa baru.
Dan lagi, kenapa Moma memilih brondong begini? Dilihat dari sisi manapun, Ezra nampak lebih muda dari Moma.
Ya meski Moma juga masih cantik, modis dan awet muda, tapi tetap saja ini terasa aneh!
"Mas udah selesai? Kita berangkat sekarang?"
"Moma mau berangkat sama dia?" Tunjuk Bianca pada Ezra.
"Gak sopan!" Moma menurunkan jari telunjuk Bianca. "Moma beberapa hari ke depan harus nebeng ke mobilnya Mas Ezra. Kenapa? Karena mobil Moma lagi ada di bengkel. Kami pergi sekarang."
Setelah mengusap rambut Bianca, Aalifa pun beranjak.
Ezra masih ada di sana, mengambil ponsel dan jas kerjanya. Ia sempat saling menatap dengan Bianca, tersenyum tipis dan bergerak pergi.
^^^^^^^^^^
"This is crazy Kimi!"
"What?"
"MOMA BAWA COWOK KE RUMAH SETELAH MENJANDA TUJUH TAHUN LAMANYA, YANG LEBIH PARAH, COWOK ITU SEKARANG TINGGAL DI RUMAH DEPAN SANA, YANG LEBIH MENGEJUTKAN, TERNYATA DIA ATASAN BARUNYA MOMA DI TEMPAT KERJA!"
"Momaaa, bawa cowok?"
"Iya nyokap gue bawa cowok ke rumah, tadi pas gue datang, mereka lagi sarapan romantis berdua!" Bianca mendramatisir. "Gue belum terima, gue enggak bisa."
"Tapi kan itu hak nyokap lo Bi." Kimi duduk di sofa kamar Bianca yang bernuansa serba pastel ini.
"Tapi gue belum siap dan cowoknya itu kurang baik, sumpah!"
Alis Kimi terangkat. "Kenapa lo tahu kalau cowoknya kurang baik? Lo cium calon bapak tiri lo?"
"Enggak! Enak aja lo, cuma-cuma-cuma, tadi pas dia mau jalan keluar, sempet senyumin gue masa?"
"Ya ampun! Wajar dong kalau disenyumin, sopan santun orang mah. Ya kali kalau lo mau dijudesin sama dia."
"Tau ah! Bentar, gue turun dulu."
"Kenapa? Udah mau nyampe seblaknya?"
"Yoi!" Kini, Bianca hanya mengenakan daster pink Hello Kitty-nya yang nampak buruk dan gombrang. Rambut gadis itu juga terikat secara asal-asalan. Bianca memutuskan untuk menunggu di depan gerbang. Sebelum sesaat kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di tepian rumah yang ada di hadapannya.
Dari sana, seorang laki-laki keluar dengan penuh kharisma.
Kala mata mereka saling memandang, tubuh Bianca serasa panas-dingin. Melihat Ezra yang mengangguk menyapanya, Bianca pun ikut mengangguk.
"Mbak Bianca?"
Bianca berkedip cepat, seorang ojol berjaket hijau khas sudah berhenti di depannya lalu memberikan bungkusan. "Seblaknya Mbak, jangan lupa kasih bintang lima, permisi."
"Makasih Pak."
"Jadi, kenapa laki-laki itu balik lagi ke rumah?" gumam Bianca penasaran. Dan karena bodoh, gadis itu tanpa ragu melintasi jalan, menunju ke arah rumah yang berhadapan tepat dengan kediamannya. Pagar di sana terbuka, Bianca celingak-celinguk. Apa laki-laki itu tinggal di sini sendiri? Apa mungkin sebenarnya ada wanita simpanan yang tidak diketahui oleh siapapun?
Demi Moma, Bianca harus waspada dan mencari tahu semuanya. Tentang masalalu, tentang kehidupan pribadi dan lain-lain.
Tapi, untuk mengetahui hal tersebut, itu berarti, Bianca harus mencium ... Om Ezra.
Calon papa tirinya sendiri.
Ya memang sih belum resmi.
Tapi apakah etis jika ia melakukan itu?
"Ada keperluan apa?"
Tubuh Bianca refleks mundur mendengar suara maskulin yang dalam itu. Kenapa ia tak sadar bahwa Ezra sudah berada di hadapannya?
"Ah, saya ... lihat-lihat aja. Maaf kalau terkesan tidak sopan. Penasaran pemandangan rumah ini bagaimana karena lama tidak dihuni."
"Begitu ya?"
Sedang Bianca malah tengah salah fokus pada bibir Ezra.
Bibir itu yang harus ia cium nanti?
Ya ampun!
"Tapi saya sedang sibuk sekarang, bagaimana kalau nanti? Kamu bisa berkeliaran di rumah saya sesukamu."
Bianca mengernyit!
What?
Apa maksudnya ini?