8. Berita Bagus

1028 Words
Chapter 8 Berita Bagus Nichole menuruni tangga untuk bergabung di ruang makan bersama keluarganya, tetapi ia mendapati Max berdiri di lantai bawah kediaman orang tuanya. "Nona Elingthon, ada kabar bagus pagi ini," kata Max. Nichole menyapukan pandangannya pada sekitar, untuk memastikan jika tidak ada orang lain yang mungkin akan mendengar percakapan mereka di ruangan itu dan ibunya berada tidak jauh dari tempatnya sedang merangkai bunga di vas besar yang berada tidak jauh dari tangga yang berbentuk melengkung setengah lingkaran. "Apa kalian menemukan sesuatu?" Margaretha berdehem. "Sayang, sebaiknya kau bawa mereka ke ruang belajar," katanya. Nichole buru-buru menuruni tangga lalu melangkah menuju ruang belajar orang tuanya lalu ia duduk di kursi tempat ayahnya biasa duduk di ruangan itu sementara Max duduk di depannya seperti dua orang bawahan sedang menghadap bosnya. Max mengusap layar iPad lalu menyentuh layarnya dan menyodorkan iPad tersebut kepada Nichole. "Kemarin malam Oleg datang ke ulang tahun Ethan." Nichole mengamati foto di layar iPad di depannya di mana terlihat Oleg, Lindsay, Harvey, dan Ethan berfoto berempat. "Aku melihat pria ini berbicara dengan Ethan, tetapi aku hanya melihat dari belakang." Max kemudian menggeser layar iPad di mana di sana terlihat Oleg berfoto dengan banyak orang termasuk Maddy dan Jason. "Kau mengenal beberapa orang di sini, bukan?" tanya Max. "Ya, aku mengenal beberapa orang di sana," jawab Nichole. "Baiklah, ini kelihatannya akan mempermudah misimu, Nona Elingthon," kata Max sembari tersenyum. "Kuharap aku bisa melakukannya kurang dari satu bulan." Misi mengungkap keberadaan mata-mata dari Rusia ditambah lagi dengan sepak terjang Oleg sebagai mantan komandan angkatan darat Rusia tentunya bukan sesuatu yang dapat diremehkan sehingga Max sedikit menyangsikan ucapan Nichole barusan. "Dari mana kau mendapatkan foto-foto itu?" tanya Nichole seraya menatap Max yang berpakaian rapi khas agen pengawal khusus. Nichole bahkan tidak memeriksa media sosial Maddy karena kekecewaannya pada Maddy dan ia belum memeriksa media sosial Harvey karena tidak pernah terpikir jika Harvey mengenal Oleg. "Raymond, agen CIA yang kemarin malam kutemui. Dialah yang mendapatkan semua informasi ini," jawab Max. "Dari media sosial siapa?" "Media sosial adik Ethan Smith, dia menambahkan tag pada kakaknya, Oleg dan Harvey McCharthy juga," terang Max. "Kebetulan aku berkenalan dengan adik Ethan," kata Nichole pelan, "tetapi, kami belum bertukar media sosial." "Kurasa adik Ethan adalah batu lompatan terbaik untuk masuk ke dalam lingkaran pertemanan mereka," ujar Max. Nichole mengangguk seraya berpikir jika kekecewaannya pada Maddy dan keengganannya berteman dengan Lindsay harus dikesampingkan dulu, ia harus berhubungan dengan mereka sampai menyelesaikan misi. "Ada informasi lagi?" tanya Nichole "Kami juga sudah mengantongi tempat di mana Oleg biasa berolah raga," jawab Max. "Aku harus berolah raga di sana?" tanya Nichole dengan alis berkerut dalam. "Tidak," katanya sambil menggelengkan kepala. "Itu terlalu mencolok setelah menjadi teman kampusnya lalu muncul di tempat olah raga bahkan bergaul dengan teman-temannya. Itu sangat aneh." "Kita bisa merencanakannya secara bertahap," sahut Max. Nichole menatap Max lekat-lekat, mengamati pakaian yang dikenakan Max dengan serius. "Apa kau berpenampilan seperti itu setiap hari?" tanyanya sambil menunjuk d**a Max. "Tentu saja aku akan berpakaian seperti ini setiap hari karena ini adalah pakaianku dalam menjalankan tugas," jawab Max. "Aku ingin kau berpakaian normal agar tidak terlalu mencolok," kata Nichole dengan tegas, "aku ingin membuat Oleg menurunkan kewaspadaannya terhadapku, kau bisa menyamar menjadi sopirku. Tentunya kalau kau tidak keberatan menyamar menjadi sopir." Sebenarnya Nichole menyesali ucapannya barusan, untuk menjadi seorang sopir Max terlalu tampan dan pastinya sangat mencolok. Nichole menatap Max dengan tatapan serius, berpikir mencari pilihan lain selain menjadi seorang sopir. "Tidak," kata Nichole sambil terus menatap mata Max. "Kuharap teman-temanku tidak mengenalimu sebagai salah satu agen Secret Service di gedung putih. Jadi, kurasa kau lebih baik berpura-pura menjadi temanku." Max menatap Nichole dan pandangan mereka beradu beberapa detik, alis Max berkerut karenanya. "Aku akan terus membuntutimu ke mana pun kau pergi, Nona Elingthon. Apa masuk akal jika seorang teman biasa kerap berada di dampingmu?" Nichole menatap Max dengan serius. "Kau ingin berpura-pura menjadi kekasihku?" "Apa itu terdengar berlebihan?" tanya Max. "Tidak. Kita bisa merencanakan hal lain selain berpura-pura menjadi sepasang kekasih." Nichole menjeda ucapannya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Menjadi teman dekat, apa mungkin?" "Maksudmu?" Nichole berpikir sejenak. "Harvey bilang kalau salah satu teman sekolah kami membuka cafe dan dia mengajakku ke sana." "Seberepa dekat dia dengan adik Ethan Smith?" "Namanya Lindsay." Nichole menjilat bibirnya. "Dan dia sepertinya naksir Harvey," jawabnya seraya menatap Max dengan serius. "Dia juga agak sentimen denganku." "Kenapa?" Haruskah Nichole memberitahu Max jika Lindsay dan dirinya menyukai pria yang sama? Nichole rasa tidak perlu. "Kurasa Lindsay tidak menyukai semua teman wanita Harvey." "Jadi, masalahnya adalah Harvey?" "Bisa dibilang begitu, aku tidak bisa mengajak Harvey ke cafe milik teman kami tanpa Linsdsay jika tujuanku masuk ke dalam pertemanan Ethan Smith." "Jadi, kau akan memulai dengan mengajak Lindsay ke cafe itu?" tanya Max. Nichole mangangguk. "Melalui Harvey tentu saja. Jadi, kita akan bertemu mereka di sana." "Pertemuan tidak disengaja dengan teman lama?" tanya Max dan Nichole mengangguk. "Idemu lumayan juga, lalu apa rencana selanjutnya?" Ide itu cukup sebenarnya merugikan dirinya karena hubungannya dengan Harvey tidak akan lebih dari teman untuk sementara. Tetapi, ini adalah sebuah pengorbanan untuk mencapai apa yang Nichole inginkan dan ia tidak akan menyesalinya dan dubungan asmara bukan tujuan utama sekarang karena ia menginginkan sesuatu yang lebih besar dalam hidupnya, ia ingin menjadi pengacara hebat seperti ayahnya. Nichole akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuanya. *** Sabtu malam Nichole mengenakan loose pants berwarna putih dipadukan dengan tank top abu-abu dengan tali spageti di pundaknya lalu dilengkapi dengan cardigan lengan panjang berwarna putih. Nichole keluar dari kamarnya dan menuju pintu keluar dari tempat tinggalnya, di depan pintu Max menyambutnya. Pria itu Max mengenakan celana panjang berwarna khaki dipadukan dengan kemeja berwana putih yang tidak dimasukkan dan dibiarkan kancing di dadanya terbuka. Max terlihat lebih santai dengan penampilannya, tidak kaku, dan untuk menyamar menjadi teman dekatnya dengan penampilan seperti itu Max terlihat tidak sangat cocok. Mesipun pertemanan mereka sedikit aneh karena usia mereka terpaut sepuluh tahun, tetapi dengan identitas penyamaran yang diberikan kepada Max sebagai salah satu putra klien ayahnya cukup masuk akal jika berteman dengannya. Nichole berdehem. "Kau mengingat semua sandiwara yang sudah kita rencanakan, kan?" "Jangan khawatir, Nona Elingthon." Nichole menatap Max dengans serius. "Dan kau harus membiasakan diri memanggil namaku." Bersambung.....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD