Chapter 9
Sebuah Sandiwara
Setelah memastikan jika Max sudah berada di dalam cafe, Nichole keluar dari sebuah Maserati dan langsung menuju pintu cafe milik Henry. Sekilas Nichole mengamati bangunan cafe yang berada di Brooklyn itu, letaknya cukup strategis meskipun dari luar sepertinya cafe itu tidak terlalu besar.
Fred membukakan pintu untuk Nichole dan Nichole masuk ke dalam cafe dengan langkah tenang, sejenak ia menyapukan pandangannya dan menemukan Max duduk di pojok cafe bersama seorang pria yang berpenampilan santai lalu tatapannya terhenti pada meja yang berada di pojok lain di ruangan cafe yang didesain dengan gaya modern dan terlihat cukup nyaman untuk duduk-duduk santai. Nichole segera melangkah mendekati Harvey yang duduk bersama Maddy dan Lindsay.
"Hai," sapa Nichole seraya tersenyum lebar ketika jaraknya dengan teman-temannya hanya tinggal beberapa langkah. "Apa aku membuat kalian menunggu?" tanyanya berbasa-basi.
"Jangan khawatir, kau tidak terlambat," kata Maddy seraya melempar senyum.
Nichole tidak terlambat, tetapi ia sengaja datang di waktu yang sangat mepet sehingga hampir seperti terlambat agar membuat jeda sedikit dengan Max yang sudah lebih dulu datang.
Nichole duduk di damping Harvey karena dari empat kursi hanya kursi itu yang masih kosong. "Lindsay, senang sekali bisa bertemu lagi denganmu," katanya kepada Lindsay.
"Harvey bilang ini cafe milik temannya yang baru lulus sekolah pastry di Perancis, kurasa aku tidak boleh melewatkannya," kata Lindsay seraya mengelus rambutnya.
"Tentu saja," jawab Nichole seraya tersenyum. "Apa kalian sudah memesan makanan?"
"Henry bilang akan menyajikan sendiri pesanan kita," kata Harvey.
"Oh, ya? Kau memberitahunya kalau kita akan ke sini?" tanya Nichole dengan bersemangat.
"Dia sangat senang mendengar kita akan berkumpul di sini," jawab Harvey. "Dia bilang akan membuatkan kita sesuatu yang spesial."
"Di mana dia?" tanya Nichole.
"Nichole Georgia Elingthon!"
Suara renyah diselingi tawa itu membuat Nichole menoleh dan mendapati Henry berdiri sambil memegangi buku menu mengenakan pakaian chef.
"Hai," sapa Nichole seraya berdiri dan menjabat tangan Henry. "Aku tidak menyangka kau sudah menjadi seorang chef dan memiliki bisnis sendiri."
Henry menyeringai senang. "Ini adalah impianku dan aku hampir tidak percaya kalau aku bisa memiliki cafe."
"Kau tidak terlihat seperti seseorang yang memiliki hobi membuat kue saat sekolah, maksudku dengan gaya punk-mu dulu," ujar Nichole.
"Aku terkadang hanya iseng membuat kue dengan resep yang kulihat di internet di rumah dan tiba-tiba tercetus untuk sekolah pastry, aku bahkan meninggalkan kuliahku untuk sekolah pastry," ujar Henry.
"Itu kedengarannya agak gila, tetapi cukup keren," kata Nichole.
"Kulihat kau lulus sebagai lulusan terbaik, dan aku tidak terkejut, Nichole," kata Henry sembari meletakkan menu di meja. "Silakan, Nona-nona Manis."
Nichole tersenyum sembari duduk lalu membuka buku menu.
"Kudengar kau akan membintangi sebuah serial di Netflix, Maddy," kata Henry kepada Maddy.
"Hanya peran pendukung," kata Maddy sembari mengamati tulisan di buku menu.
"Untuk debut pertamamu, itu sungguh keren," kata Henry.
"Kurasa kita harus merayakannya," kata Nichole seraya menatap Maddy.
Maddy mengangkat wajahnya. "Hanya peran kecil, bukan apa-apa."
"Kau akan mendapatkan peran yang lebih besar nanti, aku sangat yakin," kata Nichole dan keyakinannya itu berdasar bakat akting Maddy di depannya—berpura-pura menjadi temannya sangat baik.
"Aku harap. Dari infuencer kecantikan di media sosial beralih ke dunia akting, ini sebuah hal baru bagiku dan cukup menantang," kata Maddy lalu mengibaskan tangannya. "Lupakan tentang aku, aku di sini ingin menikmati kue-kue lezat buatanmu."
"Dan... Kau, kau adik Ethan Smith, bukan?" tanya Henry kepada Lindsay, "aku sangat mengagumi kakakmu.
Lindsay tersenyum ramah. "Aku bisa membawanya ke sini jika kamu mau."
"Oh, tentu aku sangat tersanjung jika Ethan bersedia mencicipi kue di cafe-ku," ujar Henry, "baiklah, aku memiliki beberapa hidangan manis dan kopi di sini."
Henry lalu dengan sabar menjelaskan pada keempat orang tersebut, apa saja yang dapat kereka pesan di cafe-nya. Mereka lalu memesan beberapa makanan dan sembari menunggu makanan yang sedang disiapkan oleh Henry, keempat orang itu mengobrol dengan santai membicarakan masa-masa sekolah menengah atas dan berbagai topik lain.
Setelah kurang dari dua puluh menit Henry kembali dengan membawakan makanan yang mereka pesan lalu pria itu mengambil kursi dan bergabung mengobrol bersama mereka berempat.
"Nichole, kurasa aku harus mengabadikan foto kita dan memajangnya di media sosial cafe ini. Dunia harus tahu jika temanku adalah seorang cucu presiden Amerika," seloroh Henry sembari mengambil ponsel dari sakunya.
Nichole tersenyum karena hal yang ditunggu akhirnya datang juga yaitu monen di mana teman-temannya mengabadikan momen ke dalam sebuah foto lalu mengunggahnya di halaman media sosial.
"Jangan lupa kalau ada pemain basket ternama dan seorang calon aktris di sini," kata Nichole lalu mengalihkan pandangan pada Lindsay. "dan ada adik seorang kapten basket nasional di sini."
"Baiklah," kata Henry lalu mengarahkan kamera ponselnya pada semua orang di meja itu. "Satu, dua, tiga!"
"Kurasa aku perlu bantuan seseorang untuk memotret kita," kata Nichole seraya mengambil ponselnya dari tasnya.
"Perlu bantuan, Nona Elingthon?"
Suara bariton itu tidak mengejutkan Nichole, meskipun baru beberapa hari mengenalnya tetapi Nichole sudah hafal dengan pemilik suara itu.
Nichole berpura-pura terkejut dan berdiri. "Hai, Max...."
Max tersenyum simpul dan kedua alisnya terangkat. "Sungguh kebetulan, aku tidak tahu kalau kau berada di New York, Nichole."
Cara Max menatapnya dengan santai dan memanggil namanya sangat luwes membuat Nichole sangat lega karena agen Secret Service yang satu ini berakting dengan baik.
"Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di sini," kata Nichole.
"Benarkah? Aku ikut senang mendengarnya karena jika kau melanjutkan pendidikan, itu brarti aku bisa sering bertemu denganmu lagi," kata Max dan tatapannya tidak lepas dari wajah Nichole.
Nichole berdehem. "Omong-omong, kau sendirian?"
"Temanku baru saja pulang," jawab Max.
"Kau bisa bergabung dengan kami. Jika kau mau," kata Nichole.
"Tentu, jika teman-temanmu tidak keberatan," kata Max sambil mengulurkan tangannya. "Biar kufotokan kalian."
Nichole membuka kode keamanan ponselnya lalu menyerahkan ponselnya pada Max, setalah beberapa kali foto Max kemudian mengambil kursi dan duduk di samping Nichole lalu berkenalan dengan Harvey, Maddy, dan Lindsay.
"Kau tidak pernah bercerita kalau kau memiliki teman seorang pemain basket profesional, Nichole," kata Max seraya menatap Nichole.
Nichole diam-diam mengumpat di benaknya, sandiwara Max dirasa terlalu sempurna dan cara Max menatapnya tidak ada dalam rencana. Pria itu menatapnya lembut dan tidak mengalihkan pandangannya dari wajahnya membuat Nichole merasakan canggung dan gugup.
"Kau terlalu banyak membicarakan bisnismu setiap kita bertemu sehingga aku tidak memiliki waktu untuk menceritakan teman-temanku," jawab Nichole.
Harvey berdehem. "Apa kau juga suka bermain basket?" tanyanya pada Max.
"Ya. Di sela-sela kesibukanku, terkadang aku memainkan basket dan kadang menonton," jawab Max.
"Minggu depan tim basket Harvey akan bertanding di pembukaan Liga Basket Nasional, kau bisa mengajak Nichole untuk menonton Harvey," kata Lindsay seraya mengangkat gelas Kopinya.
"Kau mau menonton?" tanya Max seraya meletakkan lengannya di atas sandaran kursi Nichole dan wajah Max begitu dekat dengan Nichole.
Nichole tidak pernah sedekat itu dengan pria mana pun, ia ingin sekali mendorong Max agar menjauh. "Aku harus memeriksa jadwalku."
"Kalian sepertinya sangat akrab," kata Lindsay seraya melirik Harvey.
"Dia putra klien ayahku," jawab Nichole.
"Ayahku juga rekan bisnis Tuan Elingthon," timpal Max.
"Kalian sudah lama saling kenal?" tanya Maddy.
"Mungkin enam tahun," jawab Max dengan santai dan terus menatap Nichole.
"Di mataku kalian sangat cocok, kenapa tidak pacaran?" kata Lindsay.
Nichole menilai ucapan Lindsay adalah upaya untuk menjauhkannya dari Harvey dan ia harus mengapresiasi bocah yang sedang berusaha memiliki Harvey itu.
Nichole tersenyum. "Aku masih ingin berkonsentrasi pada kuliahku."
"Kau sudah mengatakannya beberapa kali padaku," kata Max.
"Jadi, kau sudah pernah menolak Max?" tanya Maddy dengan mata terbelalak.
Nichole ingin sekali memelototi Max, tetapi ia hanya bisa tersenyum. "Yeah, aku tidak ingin pacaran jarak jauh."
Satu-satunya alasan yang tepat adalah tidak ingin menjalani hubungan jarak jauh karena dirinya berada di Inggris dan Max di Amerika.
"Tidak, kurasa aku bukan tipe pria yang diidamkan Nichole," kata Max dan mengalihkan padangannya kepada Harvey.
Max sialan, batin Nichole. Nichole berdehem. "Guys, lupakan hubunganku dengan Max, oke?"
Bersambung......