Polosnya Elea

1110 Words
“ Apa? Jadi kamu ngilang di Mall waktu itu dan bikin aku nunggu satu jam lebih ternyata kamu nyari cowok yang baru aja kenalan sama kamu?” Safira melongo tak habis pikir. Sahabat barunya ini rupanya jauh lebih polos dari yang ia duga. “Untung aja cowok itu gak ketemu. Kalau ternyata dia penjahat gimana? Konyol banget kamu. Kenalan cuma berapa detik sampai berani keliling Mall buat nyariin kayak gitu?” Geleng-geleng kepala masih tak percaya. “Gila kamu, parah banget. Gak gitu caranya naksir cowok Lea,” “Kok aku dikatain gila sih?” Detik ini Elea merasa menyesal telah menceritakan semuanya pada Safira. Tapi kalau dipikir-pikir, Safira memang benar. Untuk ukuran seorang perempuan, tindakan Elea memang terhitung nekat. “Bukan gila yang sebenarnya Lea, tapi coba kamu pikir. Kalau misal orang itu cuma menang cakep doang, tapi jahat gimana?” “Gak mungkin jahat kok Fir, dari sorot matanya aku yakin dia orang baik.” “Hah? Sorot mata? Hello Lea, ini ibu kota. Kamu gak bisa menilai orang hanya dari sorot mata. Mata buaya juga bisa pura-pura kelihatan baik kalau lagi cari mangsa.” Elea kembali terdiam. Memeluk bantal berbentuk strawberry milik Safira kemudian memilih merebahkan tubuh. Kata-kata Safira rupanya telah berhasil sedikit mempengaruhi isi otak Elea. Tapi hati kecilnya menolak. Ada rasa kecewa jika membayangkan perkenalan tempo hari hanya akan menjadi perkenalan iseng begitu saja. Juga ada dorongan kuat yang membuatnya yakin entah suatu hari bisa bertemu dengan pria itu lagi. memang tak ada alasan khusus yang Elea punya. Tapi bukankah Setiap awal kisah percintaan tak pernah punya alasan khusus. Hati bisa saja terpukau hanya dengan sekali tatap. Atau juga sekali mendengar. Semua tidak ada yang tahu. “Pokoknya, Aku tetap akan berusaha cari Nicho.” ucap Elea lirih. Kali ini predikat ‘gila’ yang disematkan Safira untuknya sudah tak ia pedulikan lagi. Safira melirik jam dinding. Ikut mengambil posisi tidur samping sahabatnya. Waktu sudah larut. Sementara esok mereka harus kembali masuk kantor. “Ya semoga aja Nicho yang kenalan sama kamu itu emang beneran orang baik.” tutup Safira. Mereka berdua memejamkan mata. Dalam hati Safira diam-diam khawatir pada nasib Elea besok pagi. Dengan tragedi tidur siang di waktu yang sangat tidak tepat itu bisa saja mengancam kelanjutan nasib Elea di kantor. ‘Aduh, nih anak polosnya kebangetan. Pakai acara tidur segala lagi di kantor. Dia belum paham juga. Pasti dia tadi tidur pas Bu Susi bawa Pak Nicholas keliling kantor. Artinya Manager HRD dan calon klien besar kantor kita sudah melihat kinerja staff nya yang buruk karena berani tidur nyenyak di jam kerja. Haduh, dasar Lea. Pakai alasan kekenyangan gara-gara aku traktir di kantin lagi. Padahal kan dia gak habis kerja rodi. Kenapa juga bisa ketiduran begitu. Aduh, sumpah ya, aku yang jadi deg-degan.’ batin Safira. Bukan apa-apa yang ia khawatirkan. Tapi takut sahabatnya ini di pecat. Sementara hatinya baru mulai merasa nyaman menemukan teman baru. Apalagi teman yang sepolos Elea. Sangat jarang bisa ditemukan di kota besar seperti ini. Detik terus berlalu hingga malam berganti pagi. Mereka berdua bangun subuh ketika alarm berbunyi. Bergegas bergantian ke kamar mandi hingga berpakaian rapi. Lagi-lagi Safira meminjamkan pakaian untuk Elea. Kali ini Elea diminta memilih sendiri. Pakaian kantor dengan beraneka ragam gaya dalam satu lemari besar. Ada yang berjajar digantung dan dilipat. Elea sampai bingung memilihnya. Sungguh berbeda jauh dengannya. Pakaian kantor yang ia miliki hanya ada beberapa stel. Bahkan bisa dibilang pakaian yang dimiliki Elea sebenarnya bukan pakaian untuk ke kantor. Hanya ia paksa padu padankan saja yang sekiranya terlihat masih pantas. “Nah, ini banyak yang aku udah bosan. Nanti kamu pilih aja yang kamu mau. Nanti aku minta sama mama paper bag yang besar buat kamu bawa baju. sama yang kamu pakai itu juga buat kamu aja.” Kata Safira sambil menyiapkan tas kerja mereka bersama-sama. Elea kaget dan setengah tidak percaya. Tadi ia sengaja memilih satu set kemeja, blazer dan celana berwarna baby pink. Posisinya saat di dalam lemari ada di paling ujung. Ia pikir baju ini pasti sudah jarang dipakai oleh Safira. Meski terlihat masih sangat bagus. Tapi Elea sedikitpun tidak pernah menyangka kalau akan diberikan seperti ini. “Eh, jangan Fir, jangan. Nanti ….” “Tenang aja, ini gak akan aku tagih pas gajian. Hehehe, emang aku udah bosan kok. Bajuku ada banyak banget. belum lagi papa juga sering beliin. Nih, hari ini aja papaku lagi tugas di Bandung. Biasanya pulang pasti beliin aku baju. Lihat aja besok. Jadi gak usah sungkan, bawa aja yang kamu mau.” Elea menggeleng. Kikuk dan sungkan. Setelah sempat merasa kerepotan dengan sikap Safira yang memaksa mentraktir tapi akan ditagih saat gajian, ternyata dibalik keanehannya itu banyak sekali kebaikan yang Safira berikan. “Tapi Fir ….” “Ah, gak usah tapi-tapi. Kalau kamu gak mau milih biar aku aja yang pilihin. Cepetan nih, jangan sampai kita terlambat. Bisa nambah lagi masalah kamu di kantor.” Safira memilih beberapa stel pakaian kantor. Ia pisahkan dan simpan di paper bag besar. “Kamu ambilnya nanti pas pulang aja ya. Gak usah dibawa-bawa ke kantor. Ribet.” Pukul 07.30 waktu setempat, mereka berangkat ke kantor setelah menyantap sarapan buatan ibu. semakin dekat menuju kantor Elea terlihat polos saja. Seakan tidak menyadari kesalahan besar yang ia perbuat kemarin. Sementara Safira yang malah deg-degan tak karuan memikirkan nasib Elea. “Ya udah, aku langsung ke ruangan aku ya, nanti ketemu pas makan siang.” kata Safira. Mereka berpisah setelah keluar dari lift di lantai lima belas. Berjalan menuju ruangan mereka masing-masing. Elea sedikit terkejut ketika mendapati Bu Susi sudah ada di ruangan lebih dulu. Padahal jam kantor baru dimulai pukul 09.00 waktu setempat. Sementara saat ini baru pukul 08.00 waktu setempat. “Pagi Bu,” Elea memberi salam. Wajahnya masih kelihatan tenang. “Pagi. Bagaimana dengan tugas kamu yang kemarin? Sudah beres? Lalu kenapa kabel telepon rusak kamu tidak panggil teknisi malah dipasang perekat seperti itu? Itu bukan memperbaiki namanya. Malah membuat semakin rusak.” ucap Bu Susi datar. Elea cepat-cepat meletakkan tasnya. Lalu kembali ke hadapan Bu Susi. “Maaf Bu, tapi kemarin sudah berhasil tersambung lagi teleponnya.” jawabnya polos. Elea pikir kesalahannya hanya sebatas itu. “Lain kali jangan begitu.” “Iya Bu,” “Tugas yang kemarin gimana?” “Eng … sedikit lagi Bu,” “Artinya belum beres?” “Eng … kemarin ….” “Selesaikan tugas itu sekarang. Nanti kalau sudah selesai saya mau kasih tugas kamu ke kantor lain. Ikut meeting di sana. Ini kesempatan terakhir. Dan jangan tidur saat meeting.” Deg! Kalimat terakhir Bu Susi baru membuat Elea sadar. ‘Jadi beneran Bu Susi lihat pas aku tidur kemarin? Ya ampun, gimana ini?’ batin Elea.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD