Gagal Bertemu Lagi?

1078 Words
Elea gemetar. Baru kali ini ai tahu rasanya dimarahi atasan. Sebenarnya dia masih beruntung. Bahkan bisa dibilang super beruntung. Tidak ada ocehan panjang yang ia terima dari Bu Susi. Meskipun raut dinginnya jelas menyiratkan marah. Setidaknya yang penting Elea tidak semakin drop mentalnya gara-gara mendengar auman singa. “Eng … sa-saya harus ikut meeting di kantor mana Bu? Dan … meeting perihal apa?” tanyanya sebelum beralari kemejanya. “Selesaikan dulu tugas yang kemarin. Nanti saya beri tahu. Jam sepuluh kamu sudah harus berangkat. kamu hanya punya waktu dua jam. Cepat selesaikan.” “I-iya Bu,” Melihat raut dingin Bu Susi yang sedingin air kutub utara, nyali Elea makin ciut. Melangkah selangkah demi selangkah mundur seperti takut diterkam beruang salju. Menyalakan komputer dengan gemetar dan menarik napas panjang. Jantungnya masih tak karuan. Ia ingat ada botol minuman berisi air mineral yang dibawakan sebagai bekal dari mama Rena. Dengan lirikan takut-takut, Elea mengeluarkannya dari tas dan meneguknya sedikit. Lalu buru-buru menyimpannya lagi. Jemarinya bergerak di atas keabord dengan kaku. Teringat kembali kalimat Bu Susi yang bilang kalau ini adalah kesempatan terakhir. Tidak! Elea tidak mau kalah dan kembali sengsara seperti satu bulan lalu saat menjadi tukang cuci piring di rumah makan. Namanya juga kepepet. Ditambah dalam keadaan takut. Elea mulai bisa menguasai dirinya. Jemarinya menari dengan lincah dan fokusnya bak pekerja professional. Ok, dua jam ini tidak boleh ada kata gagal. Bu Susi terlihat sibuk sendiri di mejanya. Beberapa kali menerima telepon dan serius membaca beberapa file. Detak jarum jam bergulir dan tak terasa sudah pukul 10.00 waktu setempat. Lirikan tajam Bu Susi langsung mengarah ke meja Elea yang terletak di seberangnya. “Lea,” “Iya Bu, sudah selesai.” ucap Elea sebelum ditanya. Sedikit tersungging senyum di bibirnya. Senyum campuran antara lega dan menghibur diri menjadi satu. “Ok,” Bu Susi menghampiri meja Elea. Sorot mata tajamnya meneliti hasil kerja staff barunya tesebut. Beberapa menit dengan teliti memeriksa baris demi baris yang terlihat pada monitor. “Sepertinya sudah rapi semuanya. Nanti saya cek sekali lagi. Sekarang kamu siap-siap. Sopir sudah menunggu.” “Baik Bu,” Elea lega wajah Bu Susi sudah tak segarang tadi. Buru-buru ia simpan ponsel ke dalam tas dan benda lain yang sekiranya penting untuk dibawa. Semacam buku dan pena. “Saya berangkat sekarang Bu,” tak mau dibilang terlambat dan gagal, Elea langsung berlari. Melewati begitu saja Bu Susi yang masih berdiri di dekat mejanya. “Lea ….” Bu Susi sempat memanggil namun tidak terdengar. Gadis itu sudah berlari jauh dan hampir tiba di pintu lift. “Dasar anak itu,” Yang dipanggil sekarang sudah tiba di lobi. Keluar dari lift dengan terengah-engah karena berlari dengan kecepatan maksimal. Kemudian lanjut berlari lagi sampai tiba di depan pintu keluar. Untung saja sopir yang bertugas langsung tanggap dan tidak diam saja menunggu di parkiran. “Mbak Lea, mau meeting di luar?” tanyanya. Lea diam sesaat lalu mengangguk. ‘Oh iya, tadi lupa gak tanya sama Bu Susi mobilnya yang mana? Untung aja sopirnya langsung kesini. Hehe,’ batin Elea. “Iya Pak,” masuk ke mobil dengan wajah ceria. Akhirnya dapat kepercayaan ikut meeting di luar. “Kita mau meeting dimana Pak?” tanyanya polos. “Lho, Mbak Lea ini gak tau mau meeting dimana?” “Hehe, eng … tadi buru-buru Pak, saya lupa tanya.” “Tapi tahu ‘kan mau meeting apa?” “Hah?” sekarang Elea terperanjat. Bisa-bisanya malah Pak sopir yang ingat soal itu dan dia malah lupa sama sekali tidak bertanya apa-apa pada Bu Susi sebelum berangkat tadi. “Soalnya staff yang sebelum mbak itu, dipecat gara-gara mau meeting sama klien penting dan gak siap. Terus ngelantur semua pas meeting. Karena dianggap merugikan dan buat malu perusahaan, jadi langsung dirumahkan.” Omongan Pak Sopir yang barusan benar-benar bikin panas dingin. “Bisa putar balik gak pak?” “Buat apa Mbak? Apa ada yang ketinggalan?” “Eng … i-itu ….” “Kayaknya gak bakal keburu Mbak, kalau telat nanti saya yang dimarahi Bu Susi.” “Ya sudah deh Pak,” Mau tidak mau Elea pasrah. Benar-benar ceroboh. Bagaimana bisa dia datang ke kantor orang untuk meeting dan sama sekali tidak tahu materi apa yang akan dibahas nanti. Loksi yang dituju akhirnya sudah di depan mata. Elea turun sambil melawan rasa takut dalam dirinya. Dengan penuh percaya diri melangkah masuk. Sudah terpasang banner penyambutan bagi peserta meeting di gedung ini. Elea mendekat dan membaca baik-baik. “Oh, cuma meeting soal peningkatan kinerja karyawan. Kirain apa,” Artinya kali ini Elea aman dan selamat. Tidak ada hal yang harus dipersiapkan secara khusus dan berdampak fatal ketika dia gagal menyipakannya seperti yang diceritakan pak sopir tadi. “Dasar, nakut-nakutin aja.” Gumamnya sebelum masuk ke ruang meeting. Sesaat sebelum melangkahkan kaki, ekor mata Elea menangkap sesosok bayangan. Hatinya tergerak untuk menoleh meski tanpa alasan. Dan benar saja. Sekarang ia menajamkan pandangan menangkap baik-baik sosok yang berada beberapa meter darinya itu. Mencocokkan dengan memori di otak. Tidak salah lagi. “Nicho! Itu Nicho,” tanpa sadar Elea berlari mengejar. Namun sayangnya pria itu sudah menghilang dibalik pintu lift. “Yah, kemana dia?” Elea lagi-lagi kehilangan jejak. Beberapa detik ia kembali gamang. Yang sudah ada didepan mata hilang lagi dari pandangan. Tapi Lea tidak mau kehilangan kedua kalinya. “Aku harus susul ke lantai berapa?” gumamnya bingung. Tak lama ponselnya berdering. Panggilan dari Bu Susi. Sebelum menjawab telepon itu, pikiran Elea langsung kembali sadar. Hipnotis dari pesona Nicho seketika hilang. “Ya ampun, meeting!” Panggilan itu ia abaikan. Berlari cepat menuju ruang meeting dan masuk mengikuti yang lain. Sementara seorang pria yang baru saja naik ke lantai atas hatinya juga gelisah. ‘Aku yakin aku lihat dia tadi di sini.’ ucapnya dalam batin. Memutuskan berkeliling sebentar sebelum kembali ke mobil. Tapi yang ia cari sudah tak ada. Membuka ponselnya dan melihat wajah Elea sekali lagi. Senyumnya terukir. Elea yang ia lihat hari ini dengan setelan berwarna pink terlihat lebih cantik dari yang ia temui saat berkenalan hari itu. “Apa dia kerja di sini ya?” ia bertanya-tanya sendiri. Sementara Elea di dalam sana duduk dengan gusar. Raganya saja yang ikut pertemuan ini. Namun pikirannya entah kemana. “Lea, kamu sudah di ruang meeting? Kali ini kita meeting tentang peningkatan kinerja karyawan.” Bu Susi mengingatkan dari ujung telepon. Elea baru berani menerima telepon setelah ia benar-benar ada di ruang meeting. “Iya Bu, saya sudah siap. Meetingnya sebentar lagi dimulai.” Pungkasnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD