Meeting yang dihadiri Elea akhirnya selesai. Tepat pada saat jam makan siang. Buku yang Elea bawa hanya terisi sedikit catatan. Masih untung ada sedikit catatan. Karena sepanjang meeting tadi pikiran Elea kosong seperti ember belum diisi. Ketika banyak peserta dari perusahaan lain mengajukan pertanyaan ini dan itu, ia diam saja dengan tatapan kosong seperti zombie. Yang ia pikirkan hanya satu. Kapan meeting itu selesai. Ia tidak sabar ingin mengelilingi seluruh lantai di gedung ini demi bisa menemukan sosok Nicho yang sempat ia lihat tadi.
“Baik, kita tutup pertemuan kali ini, untuk selanjutnya bapak dan ibu sekalian dipersilahkan untuk naik ke lantai atas untuk menikmati jamuan makan siang.” Pembawa acara menutup pertemuan tersebut.
Elea bengong. Tidak begitu memperhatikan apa yang dikatakan pembawa acara tadi. Celingukan melihat orang sekelilingnya keluardan bersama-sama menuju lift. Ia ikut keluar dan menuju lift dengan tujuan lain.
Menyelip diantara orang yang berduyun-duyun masuk lift. Elea berdiri di di pojokan lift.
“Penyelenggaraan meeting-nya tertata dengan baik ya, sampai ada jamuan makan siang segala.” Kata salah seorang yang berdiri dekat Elea.
Elea menunduk melihat kartu identitas yang menempel di bajunya. Seisi lift ini menggunakan kartu identitas yang sama.
‘Oh, berarti mereka semua yang ikut meeting bareng aku tadi. Dan sekarang mau ikut jamuan makan siang? Lumayan deh, aku ada alasan buat ngulur waktu dan gak buru-buru balik ke kantor. Selama mereka makan siang, pokoknya aku harus cari Nicho sampai ketemu.’ batin Elea.
Ting!
Pintu lift terbuka. Elea mengikuti langkah yang lainnya keluar dari lift. Sudah ada petugas yang menyambut mereka di sana. Sesaat ia berlagak ikut berbaur. Matanya langsung siaga. Kalau yang lain langsung menuju ke meja prasmanan, Elea seakan lupa kalau perutnya juga lapar. Dia berjalan kesana kemari memperhatikan setiap wajah yang berlalu lalang. Rasanya predikat gila dari Safira itu memang tepat. Sudah terlanjur tidak bisa melupakan si mata Elang, kemana saja pergi yang diingat hanya dia. Apalagi jelas-jelas tadi Elea sempat melihatnya. Meski hanya sekelebat di gedung berlantai tiga puluh ini. yang ia juga tidak tahu harus mencari kemana lagi.
Sementara Nurdin berjalan mondar-mandir tak jelas di dekat mobil tuannya. Masuk sebentar lalu keluar lagi. Tugasnya mengantar dokumen ke salah satu kantor di gedung ini sudah selesai. Tapi, sekilas pandang ia sempat melihat gadis yang berkenalan dengannya tempo hari di Mall yang tidak lain adalah Elea, membuatnya masih berat pergi dari tempat ini.
“Gue telpon Nicho sebentar deh, gue harus cari Elea dulu.” katanya sambil mengeluarkan ponsel. Elea, nama itu begitu melekat dalam ingatan dan hati pria ini. Pria yang entah kenapa tidak percaya diri berkenalan menggunakan namanya. Dan memilih menggunakan nama Nicho saat berkenalan dengan gadis yang sekarang menjadi impiannya itu. “Nic, gue balik ke kantor telat sedikit ya. Lu belum mau pulang ‘kan? Eng … ada keperluan sebentar.” ucapnya setelah panggilan ponselnya mendapat jawaban.
Yang ada di ujung telepon hanya membalas dengan tawa yang artinya setuju. Nurdin dengan cepat keluar dari mobil. Berjalan dengan tergesa-gesa menuju tempat diadakannya meeting beberapa perusahaan tadi. Namun ia dapati ruangan tersebut sudah kosong.
“Eng … Maaf Mbak, apa meeting yang tadi di sini sudah selesai?” tanyanya pada salah seorang petugas.
“Sudah Pak, semua peserta meeting sekarang sedang mengikuti jamuan makan siang di lantai atas.”
“Oh iya, terima kasih Mbak,” Nurdin langsung berlari cepat menuju ke tempat diadakannya jamuan makan siang itu.
Tiba di sana matanya langsung menyapu ke setiap wajah yang melintas. Persis seperti yang dilakukan Elea tadi. Kali ini Nurdin begitu yakin akan mudah menemukan Elea. Ia ingat gadis itu mengenakan setelan berwarna baby pink yang akan mudah dikenali.
Dari kejauhan Elea sama-sama mencari. Pada satu titik pandangan mereka bertemu. Reflek ia memanggil.
“Nicho!” serunya tanpa ragu. Berjalan tanpa menoleh kesana kemari dengan pandangan lurus karena takut sosok yang dipanggilnya lepas lagi.
Nurdin mendengar dengan jelas saat Elea memanggilnay dengan nama Nicho tadi. Bibirnya tersenyum ragu. Pada saat bersamaan seorang pelayan berjalan membawa beberapa minuman yang berjajar rapi di atas nampan melintas di depan Elea.
Brak!
Tabrakan tidak bisa dihindari. Mata Elea yang fokusnya jauh lurus ke depan sana tanpa menyadari apa-apa yang melintas disekelilingnya ditambah si pelayan yang juga hanya fokus pada nampan yang ia bawa. Kombinasi sempurna yang menciptakan kelalaian.
Prang!
“Aaaa!” Elea menjerit reflek. Gelas itu pecah berhamburan di lantai. Otomatis menyedot perhatian seisi ruangan besar ini. untuk sesaat langkah Elea berhenti. Lututnya gemetar. Apalagi menyadari semua orang sekarang melihat ke arahnya.
Nurdin yang juga menyaksikan kejadian itu dari jarak beberapa meter malah terdiam. Dalam hati kecilnya tergerak ingin menolong. Tapi entah kenapa mendadak rasa percaya dirinya punah. Bertemu dengan gadis impiannya untuk kedua kalinya ini malah membuatnya gugup dan serba salah. Rasa tidak percaya dirinya semakin menjadi setelah mendengar Elea memanggilnya dengan nama Nicho tadi. Menyesal rasanya. Kenapa harus memperkenalkan diri dengan nama itu. Nama yang tidak lain adalah nama sahabat sekaligus tuannya.
“Maaf, maaf Nona,” pelayan yang bertabrakan dengan Elea juga merasa bersalah. Beruntungnya petugas kebersihan bertindak cepat. Memberikan pertolongan dan membersihkan pecahan gelas itu.
“Saya juga minta maaf ya Mbak,” ucap Elea. Gemetar di lututnya sudah mulai bisa ia atasi.
Bermaksud bergegas melanjutkan langkahnya menuju ke Nicho yang sudah ia cari-cari itu namun sayangnya mendadak sosok itu tak ada. Elea bergegas dengan langkah cepat. Menoleh kesana-kemari tapi sosok Nicho benar-benar sudah tidak ada di sana.
Hari yang terasa sia-sia. Dengan raut kecewa Elea kembali ke kantor sebelum acara jamuan makan siang itu selesai.
“Makannya, jangan halu! Halu itu paling. Gak mungkin orang ada di depan mata tiba-tiba gak ada. Itu kemungkinannya cuma dua. Yang pertama, mungkin aja dia itu hantu. Yang kedua, dia itu pengecut yang gak mau lagi ketemu sama kamu.” Oceh Safira ketika bertemu lagi dengan Elea di kantin kantor selepas Elea kembali. Beruntungnya masih ada sisa waktu. Elea bisa punya sedikit waktu untuk curhat pada Safira sebelum menghadapi Bu Susi lagi di jam kerja.
“Mana ada hantu nyata begitu. Ngawur. Tapi kalau benar kemungkinan yang kedua, masa iya sih dia pergi begitu karena gak mau ketemu aku lagi? Emang aku salah apa?” Mendadak raut Elea berubah sedih.
“Wah, pakai mewek lagi, pacaran enggak, jatuh cinta juga bukan. Masa pakai mewek begini? sedih amat?” ledek Safira. Tapi rasanya ia tidak tega juga. sepertinya sahabatnya ini benar-benar sudah terjerat pada sosok yang disebutnya ‘Nicho’ itu.
‘Dasar anak desa baru jatuh cinta. Bisa eror nih dia kalau mikirin cowok itu terus. Aku harus cari akal.’ batin Safira.
Entah ide apa yang ia pikirkan. Beberapa menit mengotak-atik ponsel menemai Elea yang bengong karena kecewa.
“Nih, ketemu nomor teleponnya. Pasti yang ini.” Safira memperlihatkan sebuah nomor telepon yang ia cari dari internet.
“Tau dari mana? Kok kamu bisa nemu begitu?” tanya Elea polos.
“Sekarang apa-apa bisa dicari di internet. Aku yakin kok, yang kali ini benar. Telepon aja kalau gak percaya. Udah ya, aku mau balik ke ruanganku dulu. Waktu istirahat udah mau habis nih,” Safira pergi. meninggalkan Elea dengan sebuah nomor telepon yang ia ambil secara acak dan kirimkan ke nomor ponsel Elea.
“Tapi Fir, kok kamu mendadak bisa dapat nomor ini? Ini ….” Pertanyaan Elea tak terjawab. Ditinggal kabur begitu saja oleh Safira.
Entah bagaimana, Elea percaya. Ia simpan nomor tersebut dan tak sabar ingin mencoba menghubunginya.