Setelah maka siang itu berakhir, entah apa yang emmpengaruhi pikiran Elea, logika darimana yang emmbuatnya begitu mudah yakin dan percaya pada Safira. Mungkin kepolosannya kadang tanpa disaring lagi atau tak melalui filter logika.
Nomor telepon yang entah dari mana asalnya itu ia simpan baik-baik. Langsung tersimpan dalam ponselnya dengan nama ‘Nicho’.
“Lea, nginep lagi di rumah aku malam ini ‘kan?” tanya Safira.
Saat jam pulang kantor tiba setelah melewati seharian rutinitas kantor, sama seperti kemarin. Safira terus menempel Elea memintanya ikut pulang dan menginap. Kalau mau dituruti Safira inginnya setiap hari ada Elea. Kalau perlu Elea tidak perlu kos. Tinggal saja di rumah Safira secara gratis. Yang penting Safira punya teman ngerumpi yang bisa ada di rumah setiap hari.
“Eng … kayaknya gak dulu deh Fir,” tolak Elea secara halus.
“Hah? Kok gak? Kenapa? Mamaku sudah masak banyak buat kita malam ini. Terus baju yang aku kasih buat kamu juga ‘kan harus kamu ambil.” Safira sedikit memaksa.
“Tapi ….”
“Tapi kenapa?”
Rasanya terlalu tidak mungkin kalau Elea bilang secara terang-terangan kalau dia ingin cepat pulang demi bisa segera menghubungi nomor yang diberikan Safira siang tadi. Terlalu konyol. Resikonya ada dua. Kalau tidak ditertawkan ya Safira akan memaksa Elea untuk menelpon nomor itu dirumahnya saja. Sekalian ia ingin dengar dan ingin tahu.
“Aku lagi capek banget. Pulang sampai kos nanti langsung pengen tidur.” ujar Elea beralasan.
“Hah? Langsung pengen tidur? Ya udah gak apa-apa nanti langsung tidur juga boleh. Tapi di rumahku aja ya, biar aku ada teman ngobrol.” Safira masih dengan nada yang terus merengek.
“Eng … aduh, maaf Fir, beneran deh gak bisa hari ini. Kalau di rumah kamu pasti ngobrol. Aku ‘kan udah bilang tadi pengen langsung tidur.”
“Ya udah deh, kalau gitu ke rumah buat ambil baju aja ya, itu angkotnya udah datang!” tanpa mempedulikan penolakan Elea, Safira langsung saja menarik tangan sahabatnya itu. Memaksanya ikut naik ke dalam angkot.
Elea bingung. Tapi daripada memaksa menolak dan akan membuat keributan, mau tidak mau ikut naik saja. Sekarang urusannya tinggal putar otak bagaimana caranya agar dia tidak perlu sampai menginap.
Sepanjang jalan di dalam angkot yang penuh karena ini jam pulang kantor, Safira mengoceh. Bercerita ini dan itu. Ocehannya tak lain seputar apa saja yang terjadi seharian di kantor. Elea hanya mengangguk-angguk seolah mendengarkan. Padahal pikirannya entah kemana.
“Kiri Pak!” seru Safira. Tak terasa mereka sudah sampai.
Berjalan berdua melewati jalanan yang sama dengan kemarin. Dengan situasi yang hampir mirip. Bedanya kali ini Elea banyak diam dan hanya Safira yang mengoceh seorang diri.
“Lea, kok dari tadi diam aja sih? Gak asik deh,” protes Safira saat mereka sudah tiba di depan rumahnya.
Elea mencari akal. Berlagak sedikit memijak kepalanya yang apdahal tidak terasa pusing.
“Capek Fir, ngantuk dan pengen tidur.”
“Ah, masa jam segini mau tidur? Magrib aja belum.” Lagi-lagi Safira enggan melepaskan Elea pulang. persis seperti ditawan secara halus.
“Eh, kalian sudah sampai di rumah,” Mama Rena menyambut. Kalau tidak segera bilang pamit, jelas Elea akan semakin susah pulang. Pokoknya sekali masuk rumah ini sama dengan harus siap menemani Safira mengobrol sepanjang malam seperti kemarin.
“Eng … Maaf tante, Lea mau langsung pamit pulang ya, tadi mau langsung pulang tapi Safira maksa aku ikut kesini. Aku mau ambil baju yang tadi pagi aja tante. Tapi aku gak bisa menginap.” Tanpa menunggu basa-basi Elea langsung curi start untuk langsung pamit.
“Hah? Kok baru datang langsung pulang? Kalian gak lagi marahan ‘kan?” tanya mama Rena heran.
“Tau nih Lea,” sambung Safira.
Elea menggeleng cepat. “Enggak kok tante, Lea ngantuk banget dan capek. Pengen langsung pulang dan tidur. Lagian juga kalau kamar kos ditinggal berhari-hari nanti gak ada yang beresin. Kosong. Kan sayang. Insya Allah besok-besok lagi kalau ada waktu Lea mau kok menginap lagi.” panjang lebar Elea memberikan alasan supaya langsung diijinkan pulang.
Safira dan mamanya terdiam sejenak. Yang satu terlihat kesal karena gagal dapat teman ngerumpi mala mini. Sementara yang satu iba melihat sahabat putrinya sepertinya benar-benar kelelahan dan ingin pulang.
“Ya sudah, kalau begitu masuk dulu sebentar. Biar tante bungkusin makan malam buat kamu. Walaupun capek, jangan sampai pulang langsung tidur. Mandi dulu, sholat lalu makan. Baru tidur, ok.” beruntungnya mama Rena tidak mempersulit.
“Iya Tante, tapi gak perlu repot-repot. Nanti biar ….”
“Udah, kamu gak boleh menolak. Tunggu di sini sebentar deh kalau kamu buru-buru pengen pulang.”
Tak sampai lima menit mama Rena kembali dengan membawa bungkusan berisi makan malam dan paper bag besar berisi baju bekas pemberian Safira.
“Terima kasih ya Tante, Fir, aku pulang dulu.” Elea bergegas sebelum ditahan lagi oleh Safira.
Hanya mama Rena yang menjawab. Sementara Safira hanya mengangguk dengan wajah manyun terlihat tidak terima.
Elea berjalan dengan cepat. Keluar dari komplek perumahan Safira dan secepatnya mencari angkot menuju ke rumah kos nya. Sepanjang jalan ia tidak menoleh lagi. Seperti orang yang takut dikejar zombie.
Ketika angkot sudah melaju jauh, ia baru bisa bernapas lega. Menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya tiba juga di rumah kosnya.
Dengan langkah setengah berlari Lea bergegas masuk ke kamarnya. Mondar-mandir tersenyum-senyum sendiri tak jelas. Ingin langsung menelpon tapi adzan magrib sudah berkumandang. Tentunya ia ingin obrolan di telepon nanti berhasil dan berlangsung lama. Bukan ide yang baik untuk menelpon sekarang juga. Waktu magrib yang singkat rasanya tak lazim kalau digunakan untuk menelpon seseorang.
“Ok, aku harus cepetan mandi, sholat baru bisa telepon.”
Lea meletakkan barang bawaannya. Bergegas masuk ke kamar mandi di dalm kamarnya. Mandi dengan buru-buru dan segera melaksanakan sholat.
Selesai Sholat ia memeriksa ponsel tanpa mau menunda lagi. Melihat nomor itu saja rasanya sudah tak karuan. Hanya bermodal keyakinan, Elea menghubungi nomor itu.
Nada telepon tersambung terdengar. Elea mulai berdebar tak karuan.
Sementara di sebuah rumah mewah di tengah kota ini, seorang pria tampan yang hanya tinggal bersama para asisten dan seorang sopir kepercayaannya menunda makan malamnya sesaat. Pelayan di rumahnya telah meanggil dan memberitahukan jika hidangan sudah siap. Namun ponselnya berdering. Ia sedikit terusik namun penasaran.
“Din, lu makan duluan deh, ini ada nomor baru telepon ke nomor gue yang ini. Gak tahu siapa, tapi yang tahu nomor pribadi gue biasanya penting sih. Duluan aja sana, gue mau angkat telepon dulu.” ujarnya pada sang sopir sekaligus sahabatnya yang selalu menemani.
“Ok,” yang diajak bicara langsung paham dan berlalu.
Pria ini kembali masuk ke kamarnya. Duduk santai di salah satu sudut dan menjawab panggilan itu.
“Hallo, eng … apa benar ini Nicho?” tanya Elea dengan gemetar melalui ponselnya.
“Iya, ini aku Nicho, ini siapa?”
Jawaban dari ujung telepon sana membuat Lea melompat kegirangan bukan main. Rasanya sekarang malah gugup dan tak dapat bicara.