Ajakan Bertemu

1081 Words
Malam demi malam berlalu, komunikasi via ponsel antara Elea dan Nicho terus berlanjut. Tanpa pernah saling berkirim foto dan tanpa pernah saling menaruh curiga. Yang satu yakin kalau lawan bicaranya adalah sosok yang dia cari. Sementara yang satu, merasa punya teman bicara yang seru meski belum tahu seperti apa sosoknya. Sudah dua minggu mereka saling bertukar cerita. Hari-hari Nicho kembali terisi. Kehampaan karena jauh dari sosok Zakia mulai bisa ia tepis. Ada irama baru dalam hidupnya. Meski baginya ini bukan sebuah kisah cinta. “Eng … kalau malam ini aku ke rumah kamu boleh?” tanya Nicho. Yang ditanya langsung diam seketika. Tidak menyangka kalau akan secepat ini. “Maksudnya? Maksudnya kita mau ketemu?” Lea mengulangi pertanyaan. “Iya, kalau kamu setuju.” Seperti penantian menahun yang akhirnya terjawab. Agak terasa hiperbola, tapi itulah yang dirasakan Elea. Setiap kali pembicaraan mereka berlangsung, Elea sudah tidak sabaran ingin mencetuskan ajakan pertemuan. Tapi tak sampai terucap. Malu, gengsi dan tidak percaya diri. “I-iya … nanti malam?” saking gugupnya Elea mengulangi bertanya. Takut salah dengar, takut kalau tadi hanya halusinasi. “Iya, nanti malam. Tolong kasih alamat kamu ya,” Deg! Jantung serasa berhenti. Sekarang rasanya lebih dari sekedar naik roket ke Venus. Di atas tempat tidurnya ia melompat-lompat seperti anak TK kegirangan. Tidak tahu harus mendefinisikan dengan kalimat apa tentang perasaan yang membuncah di hatinya saat ini. Dia, si pemilik mata indah yang tatapannya begitu memesona itu mengajak bertemu. Nanti malam, yang artinya tinggal hitungan jam. “Eng … ka-kamu mau kesini? Apa kita gak ketemuan di luar aja? Di Mall tempat kita ketemu pertama kali waktu itu?” Mendadak Elea tergagap. “Aku rasa lebih baik di rumah kamu.” “Hah? Oh, iya.” Beberapa detik kemudian sambungan telepon itu berakhir. Elea menepuk-nepuk pipi. Meyakinkan diri kalau tidak sedang bermimpi. “Haaaa? Ini beneran? Nanti … nanti malam aku bakal ketemu dia lagi? Haaaaaa,” Antara gregetan, gemas, deg-degan dan grogi menjadi satu. “Aku harus pakai baju yang mana?” Lea berlari dari atas tempat tidur menuju lemari. Menggantung dengan rapi pakaian pemberian Safira. Ia pilih satu persatu. Bingung. Seumur hidup belum pernah Elea segugup ini. “Pokoknya aku harus tampil anggun dan elegan. Gak boleh malu-maluin. Mungkin aja setelah pertemuan nanti Nicho bakal ….” Khayalan Elea sudah kemana-mana. Membayangkan akan ada pernyataan cinta. Lalu bayangan akan diantar dan dijemput pangeran tampan itu setiap hari ke kantornya. Pokoknya semua bayangan yang indah-indah sudah menari-nari dalam isi kepala. Waktu yang ditunjukkan jarum jam terpaksa membuat Elea menunda sesaat semua yang ia rencaakan untuk nanti malam. Urusan kantor tetap yang utama. Atau karirnya sebagai anak baru bisa terancam. Segera Elea berangkat ke kantor. Berharap bisa datang lebih awal dan nanti pulang tepat waktu agar bisa bersiap-siap. Muncul nama Safira di layar ponsel sesaat sebelum Elea keluar dari rumah kos nya. Kali ini Elea memilih mengabaikan. Sudah bisa ditebak kalau Safira akan meminta Elea mampir dulu ke rumahnya sebelum berangkat ke kantor. Daripada dijawab dan tidak bisa ditolak, Elea memilih mengabaikan saja panggilan itu. Setibanya dikantor, kondisi masih sepi. Elea seperti baru mendapat rejeki nomplok. Bibirnya terus mengukir senyum yang tidak bisa ditahan. Untung saja belum ramai orang, jadi senyumnya ini tidak mengundang pertanyaan dari mulut-mulut iseng. “Pagi sekali kamu sudah sampai di sini?” tanya Bu Susi yang ternyata sudah lebih dulu ada di ruangan. Elea terkejut. Sempat mengira kalau dia akan datang paling pagi. “Iya Bu,” jawab Elea singkat. “Kalau bisa datang setiap hari jam segini lebih bagus.” Elea tak menyahut. Rugi. Dalam kontrak kerja jelas tertulis jam kerja adalah pukul 09.00 WIB sampai dengan 17.00 WIB. Sementara sekarang baru pukul 08.00 WIB. Artinya, satu jam lebih awal dari waktu kerja normal. “Kebetulan saja Bu, karena saya ada keperluan nanti malam. Jadi, saya ingin pulang ontime. Apabila ada pekerjaan tambahan yang perlu saya selesaikan, biar saya selesaikan di pagi ini.” jawabnya setelah beberapa detik berpikir. Bu Susi hanya tersenyum. Setelahnya Elea menjalankan tugas-tuganya di kantor seperti biasa. Hingga saat makan siang tiba pun ia memilih tidak makan siang di kantin. Hanya membeli sebuah roti dan memakannya di meja kerja. ajakan bertemu di rumah kos nanti malam tentu perlu persiapan tersendiri. Kalau saja Nicho mau makan di luar, Elea tentu tidak perlu repot. Tapi kali ini, otomatis ia harus mempersiapkan membeli beberapa makanan ringan dan minuman untuk menyambut Nicho nanti. Rasanya tidak mungkin juga kalau bertemu dan hanya mengobrol tanpa ditemani makanan dan minuman. Elea gengsi. Oleh karena itu, uang jatah makan siang untuk hari ini dan besok, semua di alokasikan untuk membeli makanan untuk Nicho. “Lea! Ya ampun anak ini, ditelepon dari pagi gak diangkat, di w******p gak dibaca, dan sekarang ditungguin di kantin gak nongol. Puasa?” Safira masuk keruangan Elea di tengah jam istirahat. “Gak kok, nih makan roti.” “Ngapain makan roti? Itu gak kenyang!” “Biarin.” Jawab Elea singkat. “Dih, nanti sakit perut kelaparan lho,” “Gak kok, ini udah cukup kenyang.” “Kenapa sih gak ke kantin? Ngirit ya?” Mulut Safira memang kadang bicara tanpa disaring. Ceplas-ceplos begitu saja. “Gak kok, emang lagi gak pengen aja.” “Hmm dasar, ya udah. Nanti malam ikut pulang ke rumah aku ya, papa sama mama mau ajak kita makan di luar.” “Hah? Maaf gak bisa Fir,” “Dih, kok gak bisa? Kenapa?” Elea bingung. Rasanya belum berani bilang kalau ia punya janji untuk bertemu Nicho malam nanti. Bisa-bisa mulut ember Safira akan berkoar kemana-mana. “Aku ada keperluan. Jadi, lain waktu aja ya, salam deh buat papa sama mama kamu.” “Hah? Keperluan apa? Memangnya gak bisa ditunda? Kayak sok penting banget sih?” “Bukan sok penting, tapi ini memang penting.” “Sepenting apa? Apa ada keluarga kamu yang datang dari kampung?” “Eng … bukan. Tapi pokoknya penting.” Kedatangan Bu Susi menyelamatkan Elea. Safira terpaksa pergi. Tidak bisa mencecar pertanyaan lagi. waktu istirahat makan siang juga telah usai. Setelah ini Elea tinggal menghabiskan waktu setengah hari lagi dan bergegas pulang secepatnya sebelum Safira membuntutinya. Menit demi menit berlalu. Tepat pukul 17.00 WIB, Elea bergegas. Komputernya sudah dimatikan dan mejanya sudah rapi. Ia baru ingat kalau belum mengirimkan alamat rumah kos nya pada Nicho. “Kamu pulang saja sekarang. Katanya sedang ada perlu,” kata Bu Susi. “Oh, iya Bu.” Takut keburu Safira datang menyusul ke ruangannya, Elea cepat-cepat pamit sebelum sempat mengetik pesan di ponselnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD