Nicho duduk dengan santai di baris kedua. Diantarkan oleh Nurdin yang setia menemani dan mengantarkannya setiap hari. Hari ini wajah Nicho terlihat lebih sumringah dari biasa. Rupanya panggilan telepon dari gadis yang ia sebut sebagai ‘cewek aneh’ itu terasa jadi hiburan tersendiri baginya.
Sambil duduk menikmati kemacetan pagi seperti biasa, ia menjelajah. Memantau kegiatan sosok yang sudah menahun ia simpan namanya dalam hati. Zakia Nafisa. Gadis yang kecantikannya di atas rata-rata. Hidung bangir yang diwarisi karena separuh berdarah timur tengah dan separun Indonesia. Kulit putih bersih dengan postur sempurna. Gadis itu adalah kawan lama yang sudah berhasil menawan hati seorang Nicholas sejak bertahun-tahun. Bukan hanya cantik dari luar, sikapnya yang anggun dan santun, juga karirnya yang gemilang. Andal dalam bidang bisnis yang semakin membuatnya serasi dan sejalan bila disandingkan dengan Nicho.
Pokoknya semua hal dari sosok Zakia sudah berhasil membuat hati Nicho lumpuh. Namun sayangnya hubungan mereka seperti main layangan. Tarik ulur tiada akhir. Zakia yang masih menggila mengejar karirnya di bidang bisnis fashion, dan Nicho yang juga luar biasa sibuk dengan sederet perusahaan yang sekarang menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya. Kedua hal itu membuat mereka tak kunjung bersatu. Padahal sama-sama sudah saling tahu kalau ada rasa.
“Lu nanti lihat social medianya Zakia deh, dia akhirnya berhasil jalin kerjasama dengan salah satu brand fashion ternama di eropa. Jadi mereka akan kolaborasi gitu. Setelah ini brand fashion produk Zakia pasti semakin sukses dan bisa tembus ke pasaran eropa.” kata Nicho. Dia memang biasa membagi cerita apapun pada Nurdin.
“Wah, keren dong. Alhamdulillah. Terus kapan mau nyusul ke Belanda? Atau ke Italia?” balas Nurdin.
“Rese lu ya, nanti lah!” Nicho tertawa kecil. Dia paham maksud pertanyaan sahabatnya.
“Ya, katanya Kia balik ke Indonesianya masih dua tahunan lagi, lama dong. Masa gak mau disusul? Ucapin selamat gitu. Sekalian ….”
“Sekalian ngelamar?”
“Hahahaha,” Nurdin terbahak diikuti Nicho yang tersenyum kecil. “Ya habisnya mau tunggu apa lagi? Mau sampai kapan? Mungkin seumur hidup, si Kia bakal terus pengen ngejar karirnya. Tapi gak ada salahnya kan, kalau kalian ….”
“Nikah?” Sebelum didahului Nurdin, Nicho mencetuskannya lebih dulu.
“Nah, itu tau. Lagian lu udah sama-sama dewasa. Mau sampai kapan sih? Nanti nyesel aja.”
Nurdin memang tau segalanya tentang Nicho. Bahkan kalau boleh dibilang, mereka ini tidak pantas terlihat sebagai sopir dan bos. Lebih cocok seperti kakak adik. Nicholas benar-benar menjadi dirinya sendiri ketika bicara dengan Nurdin. Berbeda jauh saat ia di kantor. Penuh wibawa dan disegani.
“Yah, pengennya gitu sih Din. Tapi … banyak yang gue khawatirkan. Gue takut kalau memulai sesuatu dengan tergesa-gesa, nantinya gak akan baik. Kasian juga Kia, dia masih ingin menikmati karirnya. Biarkan saja dulu. Dua tahun bukan waktu yang lama kok,”
“Terus selama menunggu dua tahun lagi tanpa hubungan yang jelas, yakin masih bisa jomblo?” kali ini nurdin meledek.
“Yakin lah,” seru Nicho.
“Kemarin aja udah bisa telponan sama cewek, ah gak yakin gue,” Nurdin berkelakar.
“Yah, iri lu ya? Hahahaha, kan gue bilang gue cuma kasihan. Lagian juga cuma telepon doang. Apa salahnya?”
“Awalnya telepon doang, kita gak tahu selanjutnya.”
“Jangan gitu lah Din, serius nih, gue gak bakalan suka sama yang lain. Lagian mana mungkin gue tiba-tiba suka sama cewek yang gak jelas asal-usulnya. Dibandingkan sama Zakia yang udah gue incar bertahun-tahun.” jelas Nicho memberi bantahan.
“Iya, tenang aja. Gue tau lu kok,”
“Tapi, kalau dia telpon gue terus gimana ya? Gue gak tega serius.”
“Nah, ini penyakit. Penyakit gak tega yang bikin akhirnya hati bisa belok. Hati-hati lu, kan gue udah bilang jangan kenalan sembarangan.”
“Tapi Din, dari mana dia dapat nomor gue? Kan lu tau sendiri, yang tahu nomor itu Cuma lu dan Zakia. Orang kantor sekali pun, gak ada yang tahu.”
“Ah, lu Nic, bos besar handoyo group masa polos banget? Yang namanya nomor telepon itu bisa aja didapat dari mana aja. Cari dimana gitu, bisa aja.”
“Iya juga sih, tapi ya udah lah, hitung-hitung nambah teman.”
Nurdin mulai kesal kalau Nicho sudah begini. Pasalnya, hubungan yang erat yang sudah terjalin antara orang tua mereka, utang budi dengan kebaikan dan ketulusan keluarga Nicho sejak orang tuanya masih ada, membuat Nurdin merasa tanggung jawab untuk menjaga Nicho sekarang sepenuhnya ada di pundaknya.
“Jangan macam-macam lu ya, pokoknya gue bakal awasi siapa cewek itu. Gue gak mau lu sampai dimanfaatin sama orang.” tegasnya.
Nicho hanya tertawa kecil mendengarnya.
“Lu sendiri gimana? Siapa cewek yang udah buat lu ngelamun setiap hari itu?”
Nurdin hanya menggeleng mendengar pertanyaan balasan dari Nicho.
“Kayaknya gak mungkin Nic, dia itu cewek kantoran. Ya, meskipun gue sudah bisa dibilang jatuh hati sejak pertama bertemu. Bahkan kemarin, waktu gue ke gedung Global, gue gak sengaja ketemu dia lagi. kayaknya sih, dia masih ingat gue. Tapi ….” Nurdin diam sejenak. Kali ini tidak mungkin ia menceritakan semuanya pada Nicho. Terlalu konyol dan naïf kalau dia harus berterus terang bahwa ia berkenalan dengan menggunakan nama Nicho. Alasannya sebenarnya konyol. Dia hanya tidak percaya diri menggunakan nama aslinya. Merasa sosok Elea terlalu cantik dan mungkin tidak akan terkesan kalau Nurdin berkenalan dengan nama asli.
“Tapi apa? Buruan nih, udah mau sampai kantor.”
“Tapi gue sengaja pergi sebelum dia nyamperin gue.” lanjut Nurdin.
“Dasar aneh lu, ngeledek gue gara-gara gue gak kunjung ngelamar Zakia, tapi lu sendiri lebih aneh. Kok bisa-bisanya kayak gitu sih lu? Masa ketemu malah menghindar? Katanya lu udah jatuh cinta?” cecar Nicho.
“Ya ….” Nurdin berpikir keras. Memang sebenarnya ada alasan lain yang menyebabkan ia menghindar dari Elea. “Gue kan cuma sopir Nic, nanti cewek itu malah kecewa kalau tau aslinya pekerjaan gue. Lebih baik gak usah dilanjutin lah,”
“Hah? Jadi itu alasan lu? Ya ampun Din, bilang dong dari dulu. Lagian kenapa sih dari dulu lu itu gak mau kalau diminta kerja di kantor papa? Kan sekarang jadi kantor gue. Pokoknya mulai besok lu jadi wakil gue. Jadi gak ada alasan konyol lu bilang minder karena jadi sopir.”
“Gak Nic, gak bisa begitu. Gue di sini kan menggantikan bapak gue. Lagian dengan jadi sopir, gue jadi bisa mengawal lu kemana-mana. Sesuai amanah almarhum Tuan Handoyo.”
Nicho hanya bisa menghela napas. Dia tak bisa berkata apa-apa kalau Nurdin sudah bicara demikian. Pasalnya bukan hanya kali ini ia meminta Nurdin untuk menjadi bagian dari kantornya. Tapi terus ditolak dengan alasan yang sama.