Seperti memulai hari yang baru dalam hidup Elea. Semenjak obrolan di telepon kemarin, meski hanya sebuah obrolan singkat. Baginya berarti luar biasa. seperti menemukan cahaya yang ia cari. Seperti menemukan apa yang membuat hidupnya terasa berarti.
Dan pagi ini ia jadi bisa bangun lebih pagi dari biasa. Bangun sebelum subuh dan bersiap berangak ke kantor. Rasanya tidak ada kekhawatiran atau rasa takut lagi dengan apa saja yang akan ia hadapi di kantor nanti.
Setelan berwarna serba mocca Elea pilih untuk ia kenakan ke kantor pagi ini. Pakaian yang sudah tentu hasil pemberian Safira. Ada macam-macam warna. Rasanya cukup untuk menjadi modal kalau saja si pria bermata elang itu mendadak mengajak bertemu kembali. Setidaknya Elea bisa tenang karena sudah punya banyak pilihan baju yang lebih dari sekedar pantas.
Dengan langkah ringan berayun, pagi ini Elea segaja ingin mampir ke rumah Safira terlebih dulu lalu kemudian menuju ke kantor bersama-sama. Bukan untuk minta sarapan gratis ya, tapi dia ingin menebus rasa bersalahnya. Semalam sudah menolak menginap di sana dan sengaja cari berbagai alasan.
Angkot yang Elea tumpangi masih sepi. Jelas, karena ini belum jam kantor. Sebagian orang bahkan masih nyaman bersembunyi di balik selimut mereka. Menghirup aroma embun yang belum terusir oleh asap kendaraan.
“Assalamualaikum,” Lea mengucap salam di depan gerbang rumah Safira. Masih terlihat sepi. Entah bocah itu sudah bangun atau belum. Lampu terasnay bahkan masih menyala.
Menunggu sekian menit, akhirnya mama Rena keluar membukakan pintu.
“Waalaikum salam, eh Lea?” sedikit kaget dan tidak menyangka dengan kedatangan Elea.
“Iya tante, Aku sengaja kesini dulu sebelum ke kantor." jawab Elea dengan senyum lebar.
Mama Rena langsung menangkap ada aura berbeda di wajah anak ini. Aura yang jauh lebih cerah dan penuh semangat. Berbeda jauh dengan yang ia lihat saat Lea pertama kali datang ke rumah ini.
Mungkin dia sudah cukup istirahat. Mungkin hatinya sedang gembira. Begitu pikir mama Rena.
"Ayo masuk, Safira belum bangun. Habis subuh tidur lagi. Kayaknya semalam dia nonton film sampai tengah malam. Coba sekalian kamu bangunkan."
"Iya Tante,"
Elea masuk ke rumah tersebut. Mama Rena tersenyum. Ia kenal dengan pakaian yang Elea pakai. Pakaian yang sudah lama tidak diminati anaknya, ternyata masih begitu cantik ketika dipakai Elea.
"Langsung naik aja gak apa-apa. Tante mau lanjut ke dapur." Mama Rena meninggalkan Elea.
Setengah berlari, Elea menaiki tangga. Mengetuk pintu kamar Safira dengan sedikit keras.
Tok … tok … tok ….
"Fira, For …."
Ditunggu beberapa menit tak ada jawaban. Ia coba panggil lagi. Sampai lima menit menunggu, baru ada tanda-tanda yang di dalam kamar terbangun.
"Apa Ma?" Suara Safira seperti orang yang belum benar-benar bangun dari mimpi.
Elea mengetuk sekali lagi tanpa memanggil. Pintu kamar itu akhirnya terbuka.
"Apa Ma …." Safira kaget. Yang mengetuk sejak tadi ternyata bukan mamanya. "Lah, kok ada di sini Lea?"
"Hehe," Elea hanya nyengir. "Selamat pagi, hehe."
Safira heran. Ini tidak seperti Elea yang ya kenal. "Ada apa sih? Kok cengar-cengir? Serem ih, pagi-pagi."
Elea meredam senyumannya sesaat. Menerobos masuk ke kamar Safira dengan tidak sabar.
"Makasih ya Fir, pokoknya Makasih," ucapnya sambil melompat-lompat.
Safira makin bingung. Ini benar-benar tak biasa. "Ada apa sih? Makasih buat apa?"
"Terima kasih buat nomor telepon yang kemarin. Aku sekarang udah bisa ngobrol sama Nicho!" seru Elea.
"Hah?"
"Iya, Nicho yang aku ceritakan itu."
"Tapi … itu cuma nomor …." Ingin bilang terus terang kalau nomor itu hanya nomor asal, rasanya tak sampai hati. "Oh, eng … emang aktif nomornya?" tanya Safira.
Elea mengangguk begitu yakin.
"Aku masih ingat kok, aku yakin banget suaranya sama dengan yang aku dengar sewaktu berkenalan di Mall."
"Hah? Tapi suara langsung sama di telepon kan gak sama." Safira coba menyadarkan.
"Gak kok, ini sama. Sama persis malah."
"Foto profil w******p nya sama dengan cowok yang kenalan sama kamu di Mall?"
"Eng … nomor itu gak digunakan untuk w******p. Tapi bisa ditelpon. Jadi aku gak bisa lihat foto profil w******p nya."
"Oh," Safira hanya bisa mengangguk pasrah. Sahabatnya yang lugu ini kemarin-kemarin tidak pernah kelihatan sebahagia ini. Mungkin sekarang sebaiknya dibiarkan dulu. Sambil Safira jaga-jaga mengawasi. Takut kalau sosok yang ada di balik telepon itu memanfaatkan kepolosan Elea.
"Ya udah cepat siap-siap dan mandi sana, nanti kita terlambat." kata Elea.
"Oh, iya-iya." Safira bergegas. Sebetulnya banyak yang ingin dia katakan dan tanyakan. Tapi sebaiknya ditunda dulu.
Sambil menunggu Safira bersiap-siap, Elea tak sabar ingin mendengar lagi suara itu. Suara lelaki pujaannya. Bukankah kemarin dia bilang, Elea boleh menelponnya kapan saja?
Duduk di salah satu sudut kamar Safira, jantungnya mulai tak karuan lagi saat nada telepon tersambung terdengar.
Sementara di sebuah rumah megah, sang tuan muda sedang duduk santai di pinggir kolam renang sambil menunggu sarapan dari bibi. Dering ponsel yang berulang membuatnya terusik. Sedikit terkejut, ternyata panggilan datang dari nomor yang menelpon semalam.
"Cewek ini lagi?" gumam Nicho. Entah kenapa ada perasaan tak tega setiap ingat suara gadis di balik telepon itu. "Hallo," jawabnya.
"Ha-hallo," Elea tidak menyangka kalau teleponnya akan dijawab secepat itu. "Pagi, maaf aku ganggu ya."
"Oh gak kok, kamu lagi apa? Kok pagi udah telepon?" tanya Nicho dengan ramah.
"Iya, kebetulan aku udah lagi siap-siap mau ke kantor." jawab Elea masih dengan tangan yang mendadak dingin dan gemetar.
"Sama dong, aku juga lagi mau berangkat ke kantor. Tapi lagi mau sarapan dulu. Kamu udah sarapan?"
"Oh, eng … belum. Nanti saja."
"Sebaiknya kalau ke kantor itu wajib sarapan dulu. Bahaya lho kalau telat makan." kata Nicho.
Diingatkan begitu saja Elea sudah melayang.
"I-iya, ya sudah, kamu silahkan sarapan dulu. Aku mau berangkat. Eng … aku masih boleh telepon kamu lagi kan?"
"Boleh, kapan saja kamu ada waktu dan pengen bicara sama aku, boleh."
Kalimat yang terakhir tadi membuat Elea reflek melompat kegirangan bukan main. Rasanya sudah semakin jelas, kalau Nicho juga senang berkomunikasi dengannya.
"Woi, pagi-pagi senyum-senyum sendiri," Nurdin menghampiri Nicho yang duduk di meja dekat kolam renang.
Nicho meletakkan ponselnya."Unik banget nih cewek. Kayaknya boleh juga deh diajak ketemuan. Kayaknya dia lugu tapi seru orangnya."
Nurdin menyipitkan mata. Menatap bingung dan berpikir.
"Ini maksudnya cewek yang semalam nelpon?" tanyanya.
Dijawab anggukan oleh Nicho.
"Terus dia nelpon lagi? Wah gak beres." Kalimat Nurdin penuh curiga.
"Gak beres apa sih? Cuma ngobrol di telpon dengan obrolan biasa. Apanya yang gak beres?" Bantah Nicho.
Kali ini Nicho terlihat tak main-main. Sudut hatinya menyimpan rasa penasaran dengan gadis yang sudah penuh percaya diri menelponnya dua kali.