Sepulang dari Mall semalam, Elea tak bisa tidur hingga larut. Yang pertama karena ia terhipnotis dengan kehidupan yang sebenarnya di kota ini. Meski saat pulang harus terus-terusan bertanya kesana kemari agar tidak salah naik angkot. Lalu yang lebih dasyat dari alasan yang pertama tentunya siapa lagi kalau bukan si mata elang.
Ada dua kesimpulan yang bisa Elea ambil tentang kehidupan di kota ini. Yang pertama, kesimpulannya adalah bahwa kota ini sangat indah. Begitu indah dan tak seburuk dapur restoran tempat ia berkutat dengan cucian piring selama satu bulan kemarin. Kota ini ternyata begitu hidup dan membawanya mengenal gaya hidup yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Megahnya Mall, enaknya makan di sana. Hidup di kota ini kelihatannya mudah. Tinggal kerja di ketik-ketik, print-print dan fotocopy-fotocopy di kantor yang pekerjaanya santai lalu pulang nongkrong dengan kawan di Mall. Ah, rasanya kalau tahu begini sejak lama sekali dia akan nekat ke kota. Mungkin akan berani kuliah sambil kerja di kota. Tidak harus kuliah sampai selesai dulu di kampungnya sana.
Begitu kesimpulan pertama Elea. Si gadis lugu yang baru kenal sehari hidup di kota. Dia bisa bilang kerja di kantor itu mudah dan enak karena belum tahu dunia kantor yang sebenarnya. Maklumlah baru hari pertama bekerja. Dimana-mana juga sama. Hari pertama tidak mungkin langsung diberi tugas macam-macam ini dan itu.
Lalu kesimpulan yang kedua, dia jadi berpikir dan matanya baru terasa terbuka setelah jalan di Mall semalam. Ia baru merasa kalau semua manusia yang ia lihat berparas indah. Yang laki-laki tampan dan yang perempuan cantik.
Ya jelas saja, semua orang yang wara-wiri di Mall tentunya sudah memoles penampilan mereka. Baik yang untuk gaya belaka, maupun yang memoles diri karena tuntutan kerja. Elea belum sadar kalau semua adalah fatamorgana. Ada peluh dan kerja keras dibalik penampilan glamor dan glowing mereka.
Jadi di gadis lugu ini menyimpulkan bahwa, hidup di kota itu kerjanya enak, dan semua orangnya ganteng dan cantik-cantik. Ini kesimpulan yang bertolak belakang dengan kesan pertama yang ai tangkap saat baru menginjakkan kaki di kantor untuk interview.
Kita lihat saja, setelah menjalani hidup yang sebenranya di kota, apakah penilaian Elea tidak akan berubah?
Dan pagi ini seperti biasa, sesuai janjinya ia mempertahankan kedisiplinannya berabgkat pagi ke kantor. Pukul 08.00 waktu setempat dia sudah duduk rapi di ruangan. Tentunya masih begitu sepi. Mana ada karyawan lain yang mau datang jam 08.00 sedangkan jam masuk saja jam 09.00. Tidak jarang dari mereka yang bahkan datang lima menit sebelum jam kerja dimulai.
Elea duduk manis, menggaris buku besar sesuai yang sedikit diajarkan manajernya kemarin. kemarin seharian dia memang hanya diajari menggaris buku untuk mencatat pengeluaran barang. Lalu diajarkan cara memfotocopy. Itu saja. Setumpuk file yang berisi data karyawan belum ia sentuh sama sekali. Ia pikir ya tugasnya hanya sebatas itu saja.
Hampir satu jam berlalu, Safira muncul lima belas menit sebelum waktu kerja dimulai. Seperti biasa anak itu tidak bisa kalau melangkah lurus dan tidak mampir-mampir. Ia belok sebentar ke ruangan Elea dan memastikan kalau gadis itu ada. Tidak hilang di Mall semalam.
“Hei! Kemana aja semalam? Aku nungguin kamu tau, malah gak balik lagi. yaudah, aku tinggalin.” Safira langsung nerocos di depan meja Elea.
Elea kaget dan seketika merasa tidak enak. Semalam ia juga belum sempat bilang terima kasih. Padahal kalau tidak karena ditraktir Safira, mana bisa dia jajan di Mall seperti itu. Uang untuk makan saja pas-pasan.
“Eng … ma-maaf Fira, Aku cari sesuatu sampai lupa waktu. Terus pas aku balik ke tempat kamu makan, kamu sudah gak ada.”
“Ya jelas gak ada lah, aku nungguin kamu satu jam lebih. Mama aku udah telpon nyuruh pulang.”
“Maaf ya Fir, eng … terima kasih banyak ya, aku belum bisa balas traktiran kamu.” ucap Elea polos.
“Balasnya nanti aja kalau udah dapat gaji pertama.” sahut Safira sambil kabur meninggalkan ruangan Elea.
Jelas Safira kabur, suara langkah sepatu ibu Susi manajer Elea sudah terdengar. Tak lama wanita berpenampilan anggun namun tegas itu terlihat.
“Pagi Bu,” sambut Elea.
“Pagi, bagus kamu datang pagi begini seperti janji sewaktu interview.”
“I-iya Bu, saya tadi datang jam delapan.”
“Bagus, hari ini kita praktek semua yang kamu catat kemarin ya. Jadi saya mau kamu mulai memegang semua pekerjaan yang kamu catat itu. Bisa?”
“Bisa Bu,” jawab Elea yakin. “Saya sudah menggaris buku untuk catatan pengeluaran. Saya juga sudah memfotocopy form dokumen yang dibutuhkan untuk mencatat Bu,” jelasnya dengan mantap. Seolah ia sudah mengerjakan semua yang begitu penting.
“Oh ya, itu nanti aja. Banyak pekerjaan penting yang harus kamu urus. Ini kamu pelajari semua dokumen ini. kita ada pembaruan sistem. Jadi data-data karyawan ini sebagian belum diinput. Sekarang kamu kerjakan itu dulu. Saya kebetulan ada meeting lagi di luar. Jadi kamu kerjakan semuanya usahakan sebelum makan siang beres ya. Dan kalau ada telpon kamu terima saja. wakili saya untuk mengurus semuanya ok, saya berangkat meeting nanti tiga puluh menit lagi. Oh iya, tolong telponkan sopir untuk saya. Pilh jadwak sopir yang kosong. Catatannya ada di buku warna coklat di meja kamu itu. Jadi setiap ada yang minta pakai sopir kantor kamu catat di sana dan jadwal siapa saja yang kosong kamu juga bisa lihat disana.” Jelas bu susi panjang lebar.
Elea hanya mengangguk. Ia pandangi setumpuk file data karyawan dan terngiang pesan agar selesai sebelum makan siang.
“Baik Bu,”
“Ya sudah mulai bekerja. Telponkan sopir dulu untuk saya baru kamu mulai input data.”
Elea gugup. Membuka buku coklat di mejanya. Tercatat jadwal sopir kantor di sana. Ia lalu memberanikan diri menelpon nomor ponsel sopir yang jadwalnya kosong.
“Hallo Pak, tolong antar ibu Susi mau meeting pukul sembilan tiga puluh.” Begitu Elea bicara di telpon dengan pak sopir dengan gugup.
Ia bergegas membuka tumpukan file dan mulai mengetik dengan cepat dan teliti. Baru saja ibu susi berangkat, telepon di mejanya berdering. Ragu, takut salah, tapi manajernya sudah pesan agar ia mengurus semua pekerjaan selama ibu susi pergi.
“Hallo,” jawab Elea lirih setelah mengangkat gagang telepon.
“Hallo, ini Elea ya? Mbak Lea, tolong dong, AC ruang atas mati.” Kata suara di ujung telepon.
Hening Elea bingung. Ia buka buku catatan tugas.
“Lalu saya harus bagaimana? Saya gak bisa membetulkan AC,” jawabnya polos.
“Ya bukan mbak yang betulin AC, Mbak telpon lah ke tukang service AC dan suruh cepat datang ke kantor.”
“Tapi ….”
Telepon itu sudah ditutup. Elea bingung. Sebelumnya bu Susi sepertinya tidak menjelaskan perihal tugas ini.