Hipnotis Si Mata Elang

1076 Words
“Hei, ayo cepetan!” Safira menarik tangan Elea. Si gadis desa yang baru kenal kota ini seperti patung yang diseret temannya. Diam dan ikut saja tapi langkahnya masih berat. “Woi, ngeliat apa sih? Ngeliat kesitu aja?” Tangan Safira mengibas-ngibas didepan wajah Elea. Gadis itu hanya nyengir celingukan kikuk serba salah lalu terpaksa ikut saja langkah kaki teman baru yang mendadak mengklaim diri menjadi sahabatnya ini. Mereka berjalan menuju ke sebuah tempat makan yang terletak satu lantai diatas tempat mereka berada saat ini. Safira memilih tempat duduk lalu asik mengabsen makanan di buku menu. Kebetulan harga makanan di tempat itu masih terhitung terjangkau untuk ukuran saku karyawan kantoran biasa seperti mereka. Jadi di sini dia bisa sepuasnya memesan makanan dan memenuhi mejenya bak sultan mau makan malam. Satu persatu makanan pesanan Safira datang. Elea masih diam dalam bengong. Diam yang kosong. Seperti baru melihat hantu atau baru melihat malaikat mungkin. “Woi!” Ssekali lagi Safira coba membangunkan kawan barunya ini dari lamunan tak jelas. “Abis liat apa sih? Ditinggal sebentar aja udah aneh gini?” “Eng … enggak kok,” Elea membantah. Ya jelas gengsi, malu dan takut ditertawakan rasanya kalau sampai Safira tahu dia bengong tak jelas begitu hanya gara-gara baru saja kenalan sama cowok. “Gak mungkin, pasti abis liat sesuatu, hayo ngaku,” “Gak … eng, ini makanan sebanyak ini harganya berapa?” Elea coba mengalihkan pembicaraan. “Alah, gak usah tanya harga. Ini semua udah aku bayar. Tinggal makan. kalau gak bayar paling kamu ditahan di sini suruh cuci piring.” “Hah?” Elea langsung kaget. Kadang dia ini saking lugunya masih belum bisa membedakan mana yang candaan dan mana yang betulan. “Enggak lah, ah udah deh, cepetan makan.” Safira langsung emmulai makan malamnya dengan lahap sementara Elea masih malu-malu. Makan satu suap demi satu suap sambil memuji rasa makanan ini dalam hati. Kalau mau bilang langsung makannya enak sekali dan Elea belum pernah makan juga malu. Takut kelihatan aslinya dari kampung dan … Ah, Elea memang si lugu yang penuh gengsi. “Eh, BTW nih ya, kamu tinggal dimana? Terus tinggal sama siapa? Terus sebelumnya kerja di kantor mana? Kok bisa nyangkut sampai ke kantor ini?” Disela-sela mengunyah makanan, Safira nerocos bertanya. “Eng ….” Elea rasanya bingung mau menjawab yang mana dulu. Pertama, pertanyaannya terlalu banyak. Kedua, lagi-lagi dia gengsi kalau bilang sebelumnya kerja di restoran jadi tukang cuci piring. “Ah. Dari tadi kalau ditanya eng-eng terus. Jawab aja gak usah pakai mikir. Ini bukan ujian di kampus. Tinggal cerita doang.” “Oh, eng … maaf.” “Tuh ‘kan. Eng lagi aja.” “I-iya, maksud aku, aku dari desa. Terus di kota ini baru sebulan lebih. Jadi sebelumnya kerja ….” “Oh, jadi ini tempat kerja pertama kamu.” Tebakan Safira mejadi keuntungan untuk Elea. “Iya,” sahutnya sambil menyunggingkan senyum lebar. “Beruntung banget kamu, baru ngelamar kerja langsung diterima di kantor kita. Kantor kita itu kantor besar tau. Susah lho buat masuk di sana. Aku aja dulu pernah gagal. Terus beberapa bulan kemudian aku ngelamar lagi pas ada lowongan.” Elea hanya mengangguk-angguk. Entah dihatinya cerita Safira ini terdengar penting atau tidak. Yang jelas isi otaknya sedang dipenuhi si pria mata elang yang tatapannya lembut tapi tajam dan langsung terukir indah tanpa bisa ditolak. Jadi seakan apapun yang terdengar sekarang terasa angin lalu yang tak begitu digubris olehnya. “Terus keluarga kamu gimana? kamu tinggal di kota ini sendirian? Nge kos? Atau?” Safira mulai lagi dengan rentetan pertanyaannya. Yang ditanya malah bengong belum menjawab. Atau lebih tepatnya belum sadar kalu sedang mendapat pertanyaan. “Hello,” Safira melambaikan tangannya sekali lagi di depan wajah Elea. Gadis itu mengerjapkan matanya. Tanda lamunannya sudah lenyap barusan. “Oh, i-iya. Apa tadi?” tanya Elea sambil sedikit garuk-garuk kepala. “Ya ampun, beneran deh nih anak ngelamun. Aku tanya soal keluarga kamu. Keluarga kamu.” Safira mengulangi dan memperjelas pertanyaannya. “Oh, keluarga? Eng … orang tuaku semua sudah gak ada. Aku tinggal sama keluarga paman di kampung. Lalu merantau ke kota ini.” jawan Elea. “Oh, gitu. Wah, kamu beranian juga ya. Aku seumur-umur gak pernah pisah jauh dari orang tua aku. kuliah aja aku gak boleh di luar kota. Harus di sini. Makannya, aku kayaknya gak bakal berani deh akalu harus tinggal di luar kota sendirain kayak kamu gitu.” Lagi-lagi ocehan panjang lebar Safira hanya menjadi angina lewat. Elea raganya di depan mata Safira tapi pikirannya masih tertinggal di depan gedung bioskop. Entah kenapa rasanya ingin menjelajah Mall ini. ingin mencoba mencari pria bermata elang itu. barangkali saja ia masih ada di salah satu sudut Mall ini. Entah di sebelah mana. “Safira, aku boleh turun ke lantai bawah sebentar? Ada yang mau aku cari. Kamu makannya masih lama?” Elea memberanikan diri. Tentunya sambil berdoa dan berharap kalau teman barunya ini tidak akan mendadak bilang ingin ikut. “Oh, tuh ‘kan benar tebakan aku. pasti kamu dari tadi kepikiran sesuatu deh. Ada barang yang mau kamu beli? Tungguin aku makan sebentar lagi deh, nanti kita cari bareng-bareng.” Elea jadi bingung harus cari alasan apa lagi. Tidak mungkin juga rasanya kalau harus jujur bilang kalau yang ia cari itu bukan barang yang terpajang di Mall ini. Melainkan orang. “Gimana kalau kamu tunggu sini aja? Sayang ‘kan makanannya masih banyak banget. Kamu habiskan aja dulu. Nanti aku kesini lagi kok,” Kali ini Elea langsung berdiri dan mengenakan tasnya. Tanpa banyak kata lagi dia langsung melangkah keluar restoran dan menuju escalator. Yang ditinggalkan hanya bisa diam ditempat. Geleng-geleng bingung. “Dasar aneh, dia malu kali ya kalau aku tau dia mau beli apa, ah yaudah deh. Biarin aja. Aku tungguin aja dulu.” gumam Safira. Elea turun dengan escalator. Setenagh berlari ia kembali menuju ke depan bioskop. Dasar bocah ini, padahal jelas-jelas dia melihat sendiri kalau Nicho yang telah menghipnotis hatinya itu telah pergi setelah menerima telepon. Berdiri beberapa menit di depan gedung bioskop dan berharap harapan yang mustahil kalau orang yang ditunggu tak sengaja lewat lagi. akhirnya Elea mencoba berjalan ke sekitaran. Menyusuri tiap jengkal Mall hingga ke area parkir. Tapi semuanya nihil. Hingga tak terasa satu jam sudah ia berjalan kesana kemari. Merasa tidak enak hati dengan Safira, Elea mencoba kembali ke restoran tempat ia dan Safira makan bersama tadi di lantai atas. Jelas saja kawan barunya itu sudah tidak ada di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD