Seperti hari kemarin. Tepat pukul delapan pagi Elea sudah tiba di kantornya. Padahal jam kerja baru dimulai pukul 09.00 WIB. Belum banyak tugas yang Elea kerjakan. Selayaknya anak baru di kantor, ia sedang diberi waktu untuk lebih mengenal banyak hal di kantor ini. Mulai dari lingkungannya, rekan-rekan kerjanya, termasuk dokumen apa saja yang akan berkaitan dengan tanggung jawabnya di kantor ini.
“Nah, gimana? Senang kan di kantor ini? Kerja santai, gaji gede.” Safira mampir ke ruangan Elea saat jam pulang kantor hampir tiba. Seperti biasa, Elea yang masih canggung dan merasa belum begitu akrab hanya bisa mengangguk dan senyum saja. “Cepetan beres-beres. Jam lima teng, kita pulang. filmnya jam tujuh malam. Masih ada waktu buat ke bioskop.” lanjutnya.
Elea sebenarnya masih pusing berusaha memahami tumpukan dokumen di mejanya. Belum lagi file-file yang tersusun rapi di dalam lemari yang berdiri kokoh di pojok ruangan ini juga menanti untuk dipelajari satu persatu.
“Memang kalau pulang lambat sedikit gak boleh ya? Saya masih butuh waktu buat belajar.” ujar Elea dengan polosnya.
“Hadeh,” Safira menepuk kening. “Gak usah lembur kalau gak di suruh lembur, rugi.” bisiknya takut kedengaran yang lain. “Ok, cepetan beresin. Tiga menit lagi pas jam lima.” Safira berlalu.
Elea masih celingukan di tempatnya. Kebetulan hari ini atasannya ada meeting di luar kantor sore tadi. Sebelum pergi ibu atasan hanya berpesan agar Elea mempelajari dokumen-dokumen di meja kerjanya dan boleh pulang pukul 17.00 WIB.
“Eh, tadi kata bu Manajer boleh pulang jam lima, iya deh, aku pulang.” lirih Elea bicara sendiri sambil bersiap merapikan meja kerjanya.
Ia periksa seluruh isi ruangan dan memastikan kalau semua sambungan listrik di ruangan itu sudah dimatikan. Setelah mematikan lampu ia mengunci ruangan dan bersiap menuju lift.
“Cepetan ayo!” seru Safira membuat Elea yang sedang berjalan pelan menuju lift kaget.
“Memangnya mau kemana kok cepat-cepat? Kita kan gak searah pulangnya,” ujar Elea.
“Alah, udah cepetan.” Safira menarik tangan Elea masuk lift dan cepat menekan tombol sebelum keburu banyak orang lain ikut naik. “Kemarin kan udah aku bilangin, hari ini kita mau nonton.”
Elea bingung bagaimana cara menolak teman barunya yang tingkahnya agak aneh ini. Uang di sakunya memang cukup untuk beli tiket nonton hari ini. Tapi mana mungkin hanya nonton, setelahnya pasti beli makan atau ya sekedar beli minuman di Mall. Bisa-bisa Elea tidak makan sampai menunggu gajian.
“Gak deh, kapan-kapan aja ya,” tolak Elea dengan halus.
“Kok kapan-kapan sih? Kapan lagi?” Safira sepertinya tidak ingin ditolak.
“Eng … aku,”
“Tenang aja, aku traktir semuanya. Pokoknya makan, nonton aku yang bayar. Ya biasalah, paham kok, anak baru belum gajian. Yang penting kamu temani aku nonton hari ini.” Safira langsung menarik tangan Elea keluar lift lalu melewati lobi dan masuk ke dalam taxi online pesanannya yang rupanya sudah ia pesan sejak tadi.
Elea tidak bisa mencari alasan lagi. Apalagi ia rasakan sejak kemarin satu-satunya orang yang ramah dengannya di kantor ini hanya Safira. Yang lain semua acuh masing-masing. Menyapa saja tidak. Menolak permintaan Safira sama artinya dengan terancam kehilangan satu teman baik di dunia baru ini.
Hanya butuh waktu tiga puluh menit, mereka sudah tiba di Mall yang dituju. Elea langsung celingukan ke sana kemari saat turun dari taxi. Kalau boleh dibilang ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di Mall megah ibu kota. Dulu di desanya tidak ada Mall semegah ini. selama satu bulan merantau, jangankan memikirkan pergi ke Mall, untuk makan sudah cukup saja sudah sangat bersyukur. Setiap pulang dari café badan Elea terasa remuk setelah mencuci piring seharian. Alhasil ia tidak pernah bergaul selama satu bulan lalu. Setiap hari hanya pulang pergi rumah dan café.
“Bioskopnya ada di lantai tiga.” ujar Safira setelah membayar ongkos taxi. Lagi-lagi ia menarik tangan Elea dan gadis itu hanya bisa menurut. “Lea, aku mau nonton film romance. Kamu biasanya kalau ke bioskop nonton apa? Horor, romance, komedi, action?”
Elea menggeleng. Ingin bilang belum pernah ke bioskop rasanya gengsi.
“Kok geleng-geleng sih? Ah yaudah deh, yang penting sekarang temani aku nonton.”
Setelah membeli tiket dan memilih tempat duduk mereka segera masuk ke dalam ruang pertunjukan film. Kurang lebih seratus dua puluh menit film itu diputar. Sampai film selesai popcorn Elea masih utuh. Ia fokus menonton dan hanya meminum beberapa teguk minuman soda dingin yang dibelikan Safira.
Ketika film selesai mereka berjalan keluar bersama. Safira kelihatan masih berkaca-kaca terbawa suasana kisah dalam film itu.
“Kamu tunggu di depan ya, aku mau ke toilet dulu.” ujar Safira.
“Oh, iya.”
Elea berjalan menuju pintu keluar seorang diri. Di depan pintu keluar indra penglihatan Elea menjelajah kesana kemari. Di seberang sana toko sepatu yang dari jauh saja terlihat begitu menggoda. Pemandangan sepatu hak tinggi aneka mode yang terasa memanggil untuk dibeli. Tiba-tiba ….
Brakk!
“Aww, maaf. Ma-maaf ya,” pandangan matanya yang kemana-mana membuat Elea tidak sadar sudah menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.
“It’s ok,” ucap pria itu sambil membersihkan kemejanya yang terkena tumpahan popcorn Elea.
Elea mendadak terpaku. Pandangannya tertuju pada paras di hadapannya. Sempurna. Belum pernah ia bertemu pria setampan ini.
“Kamu gak apa-apa?” Pria itu balik bertanya. Sorot mata indahnya kini bertemu langsung dengan tatapan mata Elea. Sekian detik tatapan itu berlangsung tanpa kata. Irama jantung Elea mendadak berdegup kencang. Seperti melihat malaikat turun ke bumi.
“Gak apa-apa kok,” ucapnya dengan nada gugup. Ia akhiri momen saling tatap itu dengan salah tingkah.
“Maaf, popcorn kamu jadi berantakan. Mau saya belikan lagi?” tanya pria itu.
“Gak, gak usah,” Elea berusaha mengatur sikap supaya jangan sampai terlihat kampungan.
“Ya sudah, saya permisi.” Pria itu mengucapkan kata pamit dan langsung melangkah pergi.
Ada rasa kecewa dalam hati Elea. Tidak ada perkenalan, artinya momen indah barusan hanya terjadi sekilat itu dalam hidupnya.
Elea masih diam di tempat. Berharap keajaiban datang dan akan membawa pangeran tampan itu berbalik.
“Sorry, kita belum kenalan tadi.” Diluar dugaan pria itu benar-benar kembali. “Aku Nicho,” ia mengulurkan tangan.
Mendadak tangan Elea terasa dingin. Ini benar-benar bagai mimpi. “E-elea,” sebutnya gugup.
“Kamu tinggal dimana?” tanya pria yang mengaku bernama Nicho itu.
“Eng … di ….” Elea bahkan belum hafal alamat rumah kontrakannya.
“Aku bekerja di salah satu perusahaan swasta di dekat sini. Barangkali lain waktu kita bisa bertemu lagi.” ucapnya.
Elea hanya mengangguk dengan senyum yang gugup. Tak lama terdengar bunyi ponsel dari saku pria itu. Setelah menerima panggilan telepon ia cepat pamit dan pergi dari hadapan Elea.