Menghentikan Mereka yang Lepas Kendali

1742 Words
Mr. Schneider berjalan menuju pintu luar, ia melupakan keadaan anak-anak dengan tak memeriksa keadaan mereka, entah kenapa ia malah memilih untuk menunggu temannya di luar bangunan sekolah untuk segera menyambut kedatangannya. Mungkin karena dirinya merasa bahwa keberadaan Rexalia saja sudah cukup atau ada alasan lain yang membuatnya tidak perlu ikut mengurus kedua anak yang katanya saat ini sedang lepas kendali. Meski rekannya mengatakan akan datang dalam dua puluh menit, ternyata ia datang kurang dari sepuluh menit. Sepertinya ia memiliki sopir yang berkendara dengan luar biasa tangkas sehingga waktu yang memburu dan keadaan yang mendesak bukan menjadi masalah. Sebuah mini van tak lama memasuki bangunan Morgana High School, banyak pasang mata dari para murid yang penasaran dengan siapa yang datang, terlebih sang kepala sekolah yang langsung memberikan sambutan. Siapa orang istimewa itu sampai sang kepala sekolah harus turun tangan sendirian? Terlebih insiden sebelumnya masih belum diatasi yang mana saat ini sedang terjadi perbincangan hangat mengenai anggota tim football yang berkelahi di tengah pertandingan. Mr. Schneider sama sekali tak memedulikan setiap tatapan itu, ketika mobil berhenti di hadapannya, ia tampak agak lega, terlebih saat melihat siapa yang turun dari dalam kendaraan itu. Ia adalah sosok pria tinggi yang memiliki badan tegap, tubuhnya proporsional dan sepertinya dirawat dengan baik. Rambutnya pirang pendek, cukup pendek sehingga tak akan bisa dijambak. Wajahnya tampak berusia Kisaran awal tiga puluh tahun, tapi mungkin usia yang sebenarnya jauh dari itu, tingginya sekitar enam kaki. Dialah Xhillorus, nama xhevilanya. Sedangkan untuk nama manusianya adalah Anderson Grahambell. “Kau datang lebih cepat dari yang kuduga. Ayo ikuti aku.” Mr. Schneider segera memimpin jalan bagi Xhillorus. Pria itu tak bicara apa-apa meski Mr. Schneider tak bicara lebih, ia hanya mengangguk singkat lalu merapikan jasnya. Kakinya melangkah besar mengikuti Mr. Schneider . Mr. Schneider berjalan dengan langkah yang cepat, hanya saja tidak sampai berlari. Dengan kedatangan orang asing saja pada sekolah sudah membuat tiap pasang mata menaruh pertanyaan, apalagi jika mereka sampai berlari. Caitlin sendiri ingin mengajukan pertanyaan, tapi karena sepertinya ini bukan waktu yang tepat, maka ia menundanya untuk nanti. Saat ini yang lebih utamanya adalah bergegas kembali ke ruangan kepala sekolah, perasaannya mengatakan bahwa hal buruk telah terjadi. Ketika beberapa ratus meter lagi mereka sampai di kantor kepala sekolah, Xhillorus merasakan adanya suatu tekanan yang besar di mana itu bersumber dari ruangan kepala sekolah berada. “Sensasi ini, apa kau menyembunyikan anak-anak vrial?” tanya Xhillorus ketika langkah mereka terus menyusuri lorong. Sensasi yang dirasakannya adalah suatu muatan energi yang biasa terjadi ketika anak vrial pertama kali memasuki usia dewasa di mana kekuatan atau pusaka mereka mulai menampakkan diri. Tentu saja bagi pada manusia yang ada di sekitar sana, tekanan energi ini tak dapat dirasakan kecuali berupa embusan angin biasa saja. “Ya dan tidak.” Mr. Schneider memberikan jawaban yang tak pasti. Keduanya tak memperlambat langkah mereka yang mana Caitlin yang menyusul mereka juga melakukan hal yang sama. “Apa yang kau maksud?” tanya Xhillorus dengan tatapan yang tak mengerti, ia memandangi punggung temannya itu. Mr. Schneider menggeleng singkat. “Aku tak bisa menjelaskannya, kau harus melihatnya sendiri,” katanya dengan jelas. “Kalau begitu kita harus bergegas. Ini energi yang sangat besar. Kau keliru membiarkan anak itu sendirian.” Xhillorus meminta untuk mereka berjalan lebih cepat lagi agar mereka segera sampai. Akan terjadi hal berbahaya dan tak diinginkan jika kekuatan ini dibiarkan terus mengamuk. “Anak-anak.” Mr. Schneider mengoreksi perkataan Xhillorus. “Apa?” “Mereka ada dua, kembar.” Ia menjelaskan. Hal itu membuat Xhillorus menggaruk kepalanya karena agak frustrasi. Akan agak menghabiskan tenaga jika harus mengurus dua anak sekaligus dalam waktu yang sama. Tapi Xhillorus bukan khawatir mengenai itu, dia kuat dan mampu mengatasinya. Yang menjadi masalah adalah apa yang mampu keduanya perbuat. Mereka bisa melakukan kekacauan lebih besar dari satu anak vrial. “Ya ampun, Edrexal , kau benar-benar ceroboh.” Ketika mereka sampai di depan pintu kantor kepala sekolah. Ada suatu muatan energi besar yang mendorong pintu untuk hancur. Xhillorus segera mengerahkan pusakanya untuk melawan kekuatan itu. “Anak-anak ini memiliki energi yang sangat besar.” Xhillorus berhasil menahan dan menekannya meski tanpa menggerakkan apa-apa dari tubuhnya. “Kalian tetaplah berada di belakangku, aku tak menjamin kalian baik-baik saja jika berada di tempat lain.” Xhillorus memperingatkan. Maka Mr. Schneider langsung menarik tangan Caitlin agar berada tepat di belakang pria itu. Sedetik kemudian, Xhillorus segera membuka pintu menggunakan kekuatannya, saat pintu terbuka pemandangan yang didapatnya adalah ruangan yang sudah hancur total. Entah Bevrlyne maupun Velgard, keduanya memiliki pupil mata kiri yang menyala berwarna biru terang. Keduanya masih mengamuk melakukan perusakan pada segala yang ada di sana. Rexalia sendiri tampak baik-baik saja, ia sedang memasang wajah bingung karena tidak tahu bagaimana cara menghadapi kedua anak yang sedang mengamuk itu. “Oh ya ampun! Anak-anak, apa yang kalian lakukan!” seru Caitlin yang tampak amat histeris. Mendengar perkataan itu, Rexalia segera mengalihkan pandangannya pada pintu yang sudah terbuka lebar menampakkan tiga orang di sana. “Kalian datang juga akhirnya.” Rexalia tampak lega melihat kedatangan mereka. “Rexalia, kau baik-baik saja?” tanya Mr. Schneider. “Aku tidak mungkin terluka oleh anak ingusan seperti mereka.” Rexalia berbicara ketus sambil menyilangkan tangan di depan d**a. “Kalian mundurlah, jangan dulu masuk.” Xhillorus menahan dua orang yang hendak melangkah melewatinya, Mr. Schneider mengangguk lalu menahan wanita yang menjadi ibu kedua anak yang memgamuk itu. Ketika Xhillorus memperhatikan dua anak yang sedang berusaha menghancurkan dinding-dinding ruangan itu, ia sadar terhadap sesuatu. “Edrexal, bukankah mereka anak manusia. Bagaimana bisa mereka mengalami gejala ini?” Xhillorus menoleh pada Mr. Schneider . Ia meminta penjelasan padanya. Awalnya ia mengira jika ada anak vrial yaitu loria muda di sini, nyatanya bukan, yang dilihatnya saat ini adalah manusia. Xhillorus dapat membedakan yang mana Loria dan yang mana manusia meski kedua ras ini tampak sama saja. “Itu yang menjadi masalahnya. Astaga, mereka menarik energi listrik.” Mr. Schneider menyadari apa yang terjadi pada keduanya. Tampak jelas pada pandangan mereka jika tegangan listrik dari lampu dan semua alat elektronik yang rusak bergerak menuju tubuh mereka. “Baiklah, kita tunda itu untuk nanti. Aku akan menghentikan mereka terlebih dulu, kalian lebih baik mundur dulu, jangan memghalangiku.” Xhillorus memandang keduanya, mengarahkan pusakanya pada Bevrlyne dan Velgard. Karena ia adalah loria yang kuat, melakukan hal seperti ini bukan sesuatu yang sulit dirinya lakukan, ia berhasil menjangkau pikiran keduanya yang tampak kacau. “Aku tak menyangka bahwa kekuatan mereka akan sebesar ini.” “Maka dari itu aku bingung bagaimana caranya menghadapi anak-anak ini, aku sudah memukul dan melempar mereka berulang kali, tapi seperti tidak merasa sakit, mereka terus bangkit lalu menyerangku.” Rexalia memberitahukan kenapa dia merasa bingung dan sudah habis akal. Ia lelah sendiri karena kedua anak yang dirinya serang terus kembali berdiri. “Anak-anak, berhenti! Dengarkan aku kalian harus kembali duduk!” Xhillorus memerintahkan, tangan kananya mengarah pada kursi-kursi yang telah dibuat hancur. Kedua kursi itu perlahan kembali terbentuk, patahan-patahan dan segala bagiannya kembali menyatu pada tempat masing-masing. Velgard dan Bevrlyne yang mendapat perintah itu segera berhenti bergerak, wajah beringas penuh amarah itu perlahan meredup. Mereka tak melanjutkan melakukan perusakan, keduanya tampak berjalan menuju kursi lalu kembali duduk dengan patuh sesuai dengan apa yang Xhillorus perintahkan. “Apa? Semudah itu? Ya ampun, untuk apa aku memukul dan melemparkan mereka berulang kali?” Rexalia yang melihat Xhillorus begitu mudah memperlakukan kedua anak itu tak bisa untuk tak memprotes. “Aku menenangkan dan memblokir pikiran mereka untuk sementara. Ini masalah yang serius.” Xhillorus bergumam pelan. “Aku tahu.” Xhillorus berjalan mendekat menuju si kembar lalu memeriksa ekspresi wajah kosong mereka. Keduanya tak memiliki ekspresi dan reaksi apa-apa seolah mereka berada dalam pengaruh sihir. Xhillorus memandang wajah mereka bergantian, menyentuh kening Bevrlyne lalu beralih pada Velgard. Cahaya pada mereka perlahan memudar sebelum berakhir padam, mata gelap mereka kembali. Meski begitu, ini tak dapat dianggap telah berada dalam situasi yang normal. Mereka masih bisa mengamuk kapan saja. Xhillorus tak dapat menurunkan penjagaan dan merasa lega atas apa yang saat ini terjadi. “Bagaimana keadaan mereka?” tanya Mr. Schneider . Ia masih berada di depan pintu seperti penjaga yang berusaha menahan siapa pun untuk masuk ke dalam ruangan itu. “Emosi, pusaka mereka terpengaruh dan terpicu oleh emosi. Tubuh mereka sudah tak menerima listrik lagi, tapi itu akan berlanjut jika kekanganku lepas atau rusak jika mereka memutuskan melakukan perlawanan.” Xhillorus berajak berdiri setelah menerangkan apa yang terjadi. “Aku pikir, mereka mengalami lonjakan kemunculan pusaka. DNA dan sel mereka sedang menyesuaikan diri dengan sesuatu yang baru ini. Tapi aku tak menyangka jika ini memengaruhi emosi dan kepribadian mereka.” Mr. Schneider mengutarakan apa yang menjadi spekulasinya. Ini agak berbeda dengan kasus anak vrial pada umumnya, terlebih mereka adalah anak manusia. Xhillorus mengangguk atas perkataan yang Mr. Schneider utarakan. “Kau benar. Aku akan mengurus mereka, jika walinya datang, biarkan dia menemuiku.” Xhillorus segera berbicara. Mendengar wali, Caitlin langsung melangkah segera berbicara sebelum Mr. Schneider sempat mengatakannya. “Aku ibu mereka.” “Ini jauh lebih baik. Aku harus berbicara sesuatu padamu,” ucapnya dengan ekspresi tenang, Mr. Schneider mengusap punggung wanita itu untuk lebih tenang sedikit. “Tapi sebelum itu sepertinya ruangan ini harus diurus dulu.” Xhillorus memandang keadaan sekitar. Ia menggeleng lemah karena situasinya benar-benar buruk. Untung saja kaca-kaca jendela belum sampai ada yang dipecahkan, orang di luar akan penasaran dengan apa yang terjadi di dalam ruangan ini dan pada akhirnya mereka akan mendapati pemandangan abnormal ini. “Aku tidak akan membantu, aku akan mempersiapkan segala kebutuhan keberangkatan kalian saja.” Rexalia langsung berjalan pergi begitu saja. Mr. Schneider langsung mengangguk. “Terima kasih banyak.” “Keberangkatan apa?” tanya Caitlin padanga. “Kita akan mmebicarakannya, kau tenanglah.” Mr. Schneider hanya bisa mengatakan itu untuk membuat Caitlin tidak terlalu banyak menuntut terlebih dulu. Xhillorus mengarahkan kedua tangannya ke depan lalu kedua matanya berubah menjadi bercahaya putih terang. Di ruangan itu tiba-tiba saja semua barang rusak dan hancur itu melayang seperti ruangan tersebut menjadi daerah yang anti gravitasi, hanya Xhillorus, Bevrlyne dan Velgard saja yang tak terangkat dari sana, semua yang ada di lantai sudah naik. Rekonstruksi segera dilakukan. Pembangunan ulang itu tampak benar-benar luar biasa dan tak akan dapat dipercayai, benda-benda yang rusak itu perlahan menyatu dan kembali pada bentuknya yang semula. Seolah waktu telah dimundurkan sehingga benda-benda rusak tersebut kembali pada keadaan di mana itu masih belum dirusak. Butuh waktu hampir lima menit untuk memperbaiki semua kerusakan yang telah diperbuat oleh sepasang saudara kembar itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD