Hanya dalam waktu yang singkat, Rexalia sudah membawa ketiganya ke halaman rumah tempat tinggal Xhillorus. Teleportasi yang melibatkan tubuh sendiri dan tubuh orang lain jelas berbeda. Semakin banyak beban yang di teleportasi, maka semakin besar juga konsumsi energi yang dibutuhkan.
Bagi Rexalia yang memang merupakan loria berkedudukan tinggi, ia bisa melakukan teleportasi dalam jarak tertentu dengan jumlah beban yang lebih banyak dari loria lainnya. Membawa Xhillorus dan dua anak manusia bergejala vrial itu tentu bukan sesuatu yang berat baginya.
“Sudah sampai.” Rexalia bergumam sambil segera berdiri.
Mendengar hal itu, Xhillorus segera memandang sekitar dan mendapati jika ini memang halaman rumahnya, mereka memang sudah tiba, tepatnya di tengah jalan menuju teras di mana hanya sekitar sepuluh langkah saja untuk tiba di pintu masuk.
“Kenapa kau tidak membawa kita ke dalam saja?” tanya Xhillorus yang merasa bahwa teleportasi yang dilakukan tanggung-tanggung.
“Jangan protes, bawa saja mereka.” Rexalia yang tidak mau memberi alasan malah langsung menyuruh pria itu untuk membawa Velgard dan Bevrlyne secepat mungkin.
“Bantu aku membawa salah satu dari dua anak ini, aku memerlukan pertolongan pada mereka secepatnya.” Xhillorus langsung beranjak berdiri lalu menggendong Velgard yang paling dekat dengannya, ia tak menunggu Rexalia bergerak, kakinya dilangkahkan dengan cepat, secepat manusia mampu berlari dengan beban.
Tanpa mengatakan apa-apa, Rexalia segera memangku tubuh Bevrlyne lalu menyusul kepergian Xhillorus menuju rumah. Malam itu suasana rumah tampak sepi, meski rumah ini berdiri di jajaran bangunan banyak yang mana pastilah ada banyak tetangga, tapi hari ini keadaan tampak sunyi.
Lampu-lampu rumah tampak masih padam dikarenakan Xhillorus sebelumnya berada di tempat praktik, bukan di dalam rumah ketika panggilan datang. Rexalia sendiri tidak menyalakan lampu rumah ketika ia selesai dengan persiapannya untuk keberangkatan.
Ketika mereka masuk ke dalam rumah, lampu di sana secara otomatis menyala, Xhillorus dan Rexalia terus berjalan melewati ruang tengah, tujuan mereka adalah menuju ke tempat keberangkatan.
Xhillorus masuk ke dalam ruang kerjanya lalu membaringkan tubuh Velgard pada sofa. Ketika Rexalia membaringkan tubuh Bevrlyne di atas sofa tepat di samping Velgard, Xhilorus mengaktifkan alat scanner yang memindai identitasnya, lalu ketika sudah terkonfirmasi, lantai segera terbuka.
Keempatnya turun menuju ruangan bawah tanah yang terbuka, ketika mereka tiba di ruangan itu, langit-langit kembali tertutup. Ruangan yang menjadi tempat mereka berada saat ini tampak jauh lebih modern, dinding-dindingnya sendiri berwarna putih seluruhnya seperti terbuat dari keramik mahal.
Tepat di tengah-tengah ruangan tersebut, terdapat logam-logam yang memiliki suatu ukiran di mana itu membentuk semacam portal yang sudah menyala, cahaya keluar dari sepanjang lingkaran portal yang dilanjutkan dengan lubang portal itu juga menyala.
Di sana ada komputer hologram yang tampak tembus pandang, alat itu menyembul tiba-tiba ketika Xhillorus memerintahkan. Xhillorus mengetikkan beberapa hal. Setelah selesai melakukan itu, ia segera menghubungi Planet Avorus, di sisi sana ada saudaranya yang bernama Xirius.
Pada layar itu terdapat gambar yang menunjukkan delay, ada waktu yang diperlukan untuk membuat koneksi terhubung. Mengingat jarak Bumi dengan Avorus sangat jauh, hal wajar jika ini terjadi.
Rexalia hanya memperhatikan saja, ia yang sudah mempersiapkan portal itu tahu bahwa untuk menghubungi Planet mereka perlu waktu, portal di seberang sana harus diaktifkan dan harus disetarakan waktunya, sinkronisasi dan letak koordinat juga harus disesuaikan secara manual.
Xhillorus tampak tak sabaran, benda kecil yang ada pada tangannya kembali bergetar, memberikan suatu informasi bahwa terjadi lagi satu aktivitas jantung dan otak pada mereka. Terlihat jika Bevrlyne bergerak seperti menggeliat sesaat, gerakannya sama seperti seseorang yang mengubah posisinya saat sedang tertidur pulas. Xhillorus makin khawatir dengan pergerakan yang tampak sangat sepele dan biasa itu. Ia menunggu layar tembus pandang itu untuk segera berubah tampilan. Rasanya setiap detik berlangsung selama berjam-jam.
“Xhillorus, ada apa?” tanya suara pria, Xhillorus sadar jika komunikasi sudah terhubung dan layar telah memperlihatkan sosok wajah pria tampan yang mirip dengannya, mereka tidak kembar tapi keduanya memiliki kemiripan yang signifikan.
“Akhirnya terhubung. Aku memiliki situasi yang sangat darurat di sini.” Xhillorus langsung menyampaikan apa yang terjadi.
“Aku dapat melihatnya dari raut wajahmu. Jelaskan sesingkat mungkin.” Pria dari seberang meminta.
“Ada anak vrial di bumi, aku harus membawa mereka ke sana. Akan kuceritakan selengkapnya setelah aku tiba.” Xhillorus benar-benar menjelaskan dengan sesingkat mungkin. Xirius tahu seberapa genting keadaan jika menyangkut anak vrial. Anak-anak itu akan mengalami masa awal kemunculan pusaka yang akan memengaruhi beberapa aspek dari bagian diri anak itu sendiri. Maka Xirius tak bertanya apa-apa lagi, ia mengangguk paham.
“Aku akan mengaktifkan jembatan ruang angkasanya.” Maka setelah itu komunikasi terputus. Mereka tak banyak bicara. Xhillorus juga segera mengetik banyak tombol sekaligus sehingga apa-apa saja yang dilakukannya tak dapat diketahui.
“Kenapa kau tidak mengatakan bahwa mereka anak manusia?” tanya Rexalia.
“Itu akan membuat saudaraku merasa pusing, lebih baik seperti ini saja agar percakapan bisa lebih singkat.” Xhillorus membalas tanpa menoleh, ia masih sibuk dengan pekerjaannya.
“Terserahlah, yang jelas, aku bisa sesegera mungkin pulang. Tugasku tidak termasuk mengawal dan mengurus anak-anak ini. Aku harus mendapatkan bayaran lebih banyak dari yang seharusnya,” ujar Rexalia. Ia bisa dikatakan sedikit mengeluh dikarenakan pekerjaannya jauh lebih banyak dari yang seharusnya.
“Aku tahu, maaf membuatmu kerepotan.”
“Permintaan maaf diterima,” balas Rexalia santai. “Meski begitu aku tetap akan memprotes pada atasan karena pekerjaanku bertambah banyak.” Ia menambahkan sambil memasang wajah tak semangat.
“Ya, itu urusanmu. Lakukan sesukamu.”
Ketika percakapan di antara mereka selesai, cahaya dari portal segera semakin terang. Keduanya secara refleks mundur lalu memandangi portal dimensi itu.
“Sudah terhubung?” tanya Rexalia yang segera melindungi wajah menggunakan tangan.
“Ya, kita sudah mendapatkan koordinatnya.” Xhillorus segera menekan satu tombol yang mana pada portal muncul cahaya biru yang berputar-putar di dalamnya, muncul juga suara yang berasal dari dalam portal itu, ada sedikit getaran yang terjadi di sana.
“Kalau begitu saatnya bagi kita untuk masuk.”
Xhillorus mengangguk lalu berjalan menuju Velgard untuk menggendongnya. “Aku sudah siap.”
Raxalia memutar badan, ia ingin mengatakan sesuatu tapi segera mengurungkannya, ia beralih memandang Bevrlyne lalu dengan menggunakan pusakanya, ia mengangkat tubuh Bevrlyne secara perlahan.
Bevrlyne yang tampak tak sadarkan diri itu mulau melayang lalu bergerak menuju ke arah di mana Rexalia berada, wanita itu langsung menangkapnya dengan dua tangan ketika tubuh Bevrlyne sudah berada dalam jangkauan.
Kedua loria itu segera berjalan menuju portal.
“Kau sudah memastikan semuanya sesuai?” tanya Rexalia sambil mengalihkan pandangannya pada Xhillorus.
“Aku tidak pernah melakukan kesalahan ketika mengurus portal dimensi.” Xhillorus menjawab begitu yakin membuat Rexalia kembali memperhatikan portal yang tampak bercahaya terang yang mana itu lebih terang dari lampu-lampu yang ada di dalam ruangan itu.
“Aku hanya ingin bertanya untuk memastikan saja.” Rexalia bergumam.
“Kau bisa percaya padaku.”
“Kalau begitu ayo pergi.” Rexalia melanjutkan langkahnya.
“Ya.”
“Aku pulang, rumah tersayangku.”
Pada akhirnya mereka memasuki portal yang mana tubuh mereka langsung hilang terselimuti cahaya di dalam portal. Selang sedetik setelah itu cahaya yang muncul dari portal itu hilang sepenuhnya.
Keadaan ruangan bawah tanah itu kembali seperti sedia kala, portal sendiri seperti rangkaian logam biasa tanpa adanya apa-apa. Mereka sudah sepenuhnya hilang dari tempat itu, berpindah menuju ke dunia lain dalam waktu yang sangat cepat.
***
30 Ednar, Kota Noufleris.
Pukul 18.49 Waktu Planet Avorus.
Di dalam sebuah rumah besar yang bisa dikatakan mewah, seorang pria sedang bekerja di depan layar hologram yang mana menampilkan data-data. Pria itu menggerakkan tangannya menyentuhkan jari-jarinya menyentuh layar hologram itu ketika dirinya mengoperasikan semuanya.
Meski langit sudah gelap, ia masih bekerja begitu fokus pada pekerjaan yang sedang dilakukannya. Padahal ini adalah waktu istirahat baginya. Pasang matanya terus fokus pada layar hologram di sana, kedua tangannya terus bergerak mengerjakan pekerjaan itu.
Ketika sedang fokus bekerja, tiba-tiba saja pintu ruangannya berbunyi yang mana menandakan seseorang tengah berada di luar.
Xhirius menoleh sesaat ketika pintu terbuka, tampak wanita berpakaian rapi berdiri di sana sambil tersenyum. Pada kedua tangannya terdapat nampan berisi makanan. “Aku membawakan makan malam.”
“Eleare, maaf, sebentar lagi aku selesai, kau tidak perlu membawanya ke sini.” Xirius menyahut, ia sadar bahwa dirinya saat ini terlambat makan malam.
“Tuan, Anda bekerja terlalu berlebihan. Ini sudah waktunya beristirahat.” Eleare, wanita yang menjadi pelayan di rumah itu memberi nasihat dengan nada yang halus.
“Aku tahu, aku hanya memerlukan waktu beberapa saat saja.” Xirius membalas yang juga tak kalah ramah.
“Kalau begitu aku akan menaruhnya di tempat makan.”
“Terima kasih banyak.”
Setelah itu Eleare undur diri, ia pergi dari sana, pintu kembali tertutup secara sendirinya saat itu. Xirius kembali memandang ke arah layar hologram yang sedang dirinya kerjakan.
Ketika Xirius sudah kembali sendirian, tiba-tiba saja perangkatnya mendapatkan panggilan dari saudaranya, ia langsung menjawab panggilan itu.
“Akhirnya terhubung. Aku memiliki situasi yang sangat darurat di sini.” Dari seberang sana, saudaranya tampak lega ketika mereka sudah terhubung.
“Aku dapat melihatnya dari raut wajahmu. Jelaskan sesingkat mungkin.” Xhirius membalas.
“Ada anak vrial di bumi, aku harus membawa mereka ke sana. Akan kuceritakan selengkapnya setelah aku tiba.” Xhillorus mengatakan inti dari tujuannya menghubungi dirinya. Maka Xirius segera menutup semua jendela yang ada pada pekerjaannya, hanya menyisakan layar hologram yang menampilkan wajah saudaranya itu.
“Aku segera mengaktifkan jembatan ruang angkasanya.”
Xirius juga segera menutup layar hologram itu ketika selesai berbicara. Ia membuka jendela baru yang menjadi perintah untuk mengaktifkan jembatan ruang angkasa yang menghubungkan antara portal yang ada di sana dengan portal yang ada di bumi.
Pada layar transparan itu ada tulisan aneh yang berupa tanda jika koordinat tempat pendaratan sudah ditemukan. Itu adalah bahasa yang digunakan oleh penduduk Planet Avorus. Bahasa mereka terdengar asing dan sulit diikuti ketika Xhillorus dan Xirius berdialog.
Tepat di tengah ruangan itu, muncul benda seperti portal yang terbuat dari batu berbentuk hampir menyerupai setengah lingkaran. Itu seperti disembunyikan pada lantai ruangan tersebut. Beberapa tombol Xhillorus tekan lalu ruang di sekitar gerbang itu bercahaya berwarna biru, jalan sudah terhubung dengan koordinat, ini adalah jembatan ruang angkasa yang menghubungkan dirinya dengan planet asalnya.
Cahaya biru menyinari ruangan tersebut, benda-benda bergerak karena gaya tarik yang kacau akibat dipengaruhi oleh benda itu, tapi Xhillorus sama sekali tak memedulikan hal tersebut, tak ada gaya tarik yang kuat sehingga kecil kemungkinan jika barang-barang yang ada di dalam ruangan itu akan tersedot ke dalam jembatan ruang angkasa.
Xhillorus menekan beberapa tombol lagi lalu berjalan menuju Bevrlyne dan Velgard, tanpa membuang waktu, ia memasuki gerbang bercahaya itu.
Jembatan luar angkasa sama halnya dengan gerbang teleportasi, memperpendek jarak dengan suatu perhitungan tertentu. Harus ada dua pintu untuk masuk dan keluar, sebelum melakukan perjalanan, sinkronisasi program harus dilakukan, koordinat harus jelas dan terhubung dengan baik, jika tidak, kecelakaan bisa terjadi di mana mereka yang melintasi gerbang bisa saja mendarat di suatu tempat acak yang tak jelas, bagus dengan keadaan tubuh yang masih utuh, ada kemungkinan tubuh sudah tak utuh lagi ketika mendarat pada tempat yang salah. Kasus lainnya adalah si pelintas akan tersesat di dimensi ruang yang tak memiliki awal dan akhir.
Setelah pria itu memasuki gerbang, cahaya biru yang keluar dari sana kembali padam dan itu tampak hanya seperti ambang pintu yang berbentuk hampir menyerupai setengah lingkaran saja.
Beberapa detik kemudian batu-batu aneh tersebut kembali pada posisinya secara otomatis, kembali tenggelam ke dalam lantai. Komputer hologram juga perlahan kembali bersembunyi ke dalam meja kerja, sehingga di sana keadaan tampak normal seperti layaknya ruang kerja, tak ada sesuatu yang berada di luar nalar yang tak masuk akal.
***