EPS. 5

1726 Words
Suasana yang sangat romantis. Dikelilingi beberapa lilin dan kelopak mawar, serta diiringi dengan alunan biola bertajuk mellow. Kafe ini adalah tempat yang dipilih Elang untuk pendekatan perdana mereka sebelum masuk ke jenjang pernikahan. Ralat, sebenarnya kafe ini adalah ide Mami-karena selera Elang tidak seperti ini. Kafe ini terlalu membosankan menurut Elang. Beberapa pengunjung kafe datang bersama pasangan mereka, terlihat sangat romantis, berbeda dengan Elang dan Dara-hanya saling diam, dan sesekali menatap. Terkesan seperti orang yang tidak kenal, bukan? Atau lebih parah. Hidangan yang telah dipesan Elang akhirnya datang. Dengan sigap, Elang segera mengambil serbet dan meletakkan di atas pahanya dan menyelipkan serbet yang satunya lagi di dalam kerah baju untuk menjadi tameng kemejanya. Berbeda dengan Dara yang tidak mempedulikan persoalan serbet. Sepanjang makan malam tidak terdengar suara apapun dari keduanya kecuali dentingan piring, sendok, dan garpu. Dara masih terlalu canggung setelah beberapa hari yang lalu Elang memakinya, jadi ia memilih posisi aman sementara ini. Kecuali kalau Dara khilaf. Elang terlihat begitu santai saat menyantap makan malamnya, tidak seperti Dara yang terburu-buru menghabiskan nasi di piringnya. Sama sekali bukan kriteria calon istri Elang. "Bang Elang. Cumi tepung Abang minta dikit, ya ...," pintanya dengan nada memohon, sedangkan Elang hanya mengangguk. Seperti apa yang ia katakan, Dara mengambil cumi milik Elang dan langsung melahapnya habis. "Bang Elang, jadi Pengacara enak, nggak? Kayaknya susah, ya? Soalnya beberapa hari ini aku lihat Abang sering datang telat ke rumah Tante Renata." Tanpa ada suara apapun yang terlontar dari mulut Elang. Ia terus menyuap makanannya hingga dapat dicerna oleh perutnya. Makan malam yang aneh, bukan? Tidak ada pembicaraan apapun. Satu botol wine datang dengan es yang mengelilingi di dalam bucket. Seorang Pelayan yang diketahui bernama Kara menuangkan setiap gelas beberapa mililiter wine. Setelahnya Kara pergi meninggalkan meja Elang dan Dara. Sekilas Dara menatap Elang takut-takut, namun setelah tidak ada sinyal kemarahan dari raut wajah Elang, lantas Dara langsung menenggak habis wine miliknya. Ada rasa pahit serta panas yang menjalar di dalam tubuhnya. Ini kali pertama Dara merasakan minuman beralkohol. "Gila Bang Elang! Macam mau terbakar lidah aku! Ini apaansih Bang?" Dara memeletkan lidahnya lalu menenggak segelas air putih miliknya hingga tandas. Tidak ada gubrisan dari Elang semakin membuat Dara kesal dan memilih melanjutkan makan malamnya yang tinggal sedikit. Ia menoleh sekilas, ternyata Elang sudah menghabiskan makan malamnya penuh khidmat. Lelaki 30 tahun itu mengelap mulutnya dengan serbet putih yang terletak di atas meja, setelahnya ia menatap Dara tajam. Tatapan penuh kebencian seperti biasanya. Tatapan yang berhasil membuat Dara tersedak hebat hingga menyemburkan beberapa butir nasi dari dalam mulutnya. Elang memutar bola mata jengah, ini makan malam terburuk yang pernah Elang alami. Setelah Elang melihat Dara sudah menghabiskan air mineralnya, ia kembali menatap Dara penuh kebencian. "Kamu tidak pernah belajar tata krama saat makan?" tanya Elang dengan nada ketus serta satu alis terangkat. "Ha? Maksudnya?" Dara mengernyitkan dahinya tidak mengerti maksud dari perkataan Elang. "Saya sejak kecil sudah diajarkan untuk tetap diam saat proses makan sedang berlangsung hingga selesai. Saya terlahir dari keluarga yang berpendidikan dan memiliki moral kehidupan yang berada jauh dari moral kehidupan kamu!" Elang mendekatkan wajahnya pada wajah Dara. Ia tatap wanita itu dengan bola mata hazelnya yang membulat sempurna. "Jadi, pertanyaannya, apa kamu diajarkan oleh orangtuamu untuk bersikap tenang saat proses makan sedang berlangsung?" "Iya. Diajarkan oleh kedua orangtuaku," jawab Dara polos. Elang tersenyum sinis lalu kembali dengan posisi duduknya semula. "Kamu berbeda dengan wanita yang pernah saya ajak makan malam. Mereka memiliki attitude yang baik, tapi kamu tidak memiliki itu. Dari cara makan kamu terlihat sama dengan preman yang ada di pasaran." Elang mengambil wine miliknya dan menenggak hingga tandas. Ia masih tidak peduli meskipun kini Dara sudah mengeluarkan air mata akibat ucapannya. "Dan sekarang ... saya sedang mengajak anak seorang Polisi untuk makan malam bersama saya, bukan mengajak preman! Satu lagi, waktu saya terbuang hanya untuk makan malam bersama kamu!" Buliran bening terus mengalir dari pelupuk mata Dara. Kata-kata Elang begitu menusuk hingga ke hatinya. Tidak ada Elang yang manis seperti dulu, kini hanya ada Elang dengan ucapannya yang ketus. Dara mengusap kasar air matanya namun tidak berpengaruh, karena buliran bening itu terus mengalir. Rasanya seperti sebuah hantaman yang berhasil membuat hati Dara penyok hingga tak berbentuk. "Aku udah mencoba untuk menjadi apa yang Abang minta. Aku mencoba untuk menyesuaikan diri dengan Abang, tap-" ucapan Dara terpotong saat suara Elang menggelegar hingga semua pengunjung kafe menoleh ke arahnya. "Saya tidak pernah suka melihat wanita menangis! Apapun itu alasan kamu, saya benci dengan wanita cengeng! Saya tidak peduli meskipun kini menjadi pusat perhatian, tapi satu hal yang harus kamu ketahui tentang saya, wanita cengeng hanya benalu untuk Negeri! Tidak berguna, dan tidak membawa dampak yang baik!" Elang meletakkan beberapa lembar uang seratus ribu di atas meja, lalu pergi meninggalkan Dara yang masih terus menangis. Elang tidak pernah suka menjadi pusat perhatian-maka dari itu ia memilih untuk menunggu Dara di area parkiran saja. Jika wanita itu merajuk, mungkin lebih baik untuk Elang karena ia bisa langsung pulang tanpa harus melaksanakan ritual kedua dari Mami. Dasar! Enggak punya hati banget sih! Maki Dara setelah kepergian Elang. -00- Udara dingin menerpa tubuh mungil Dara yang hanya berbalutkan gaun mini bewarna biru. Gaun sedada yang dikenakan Dara tidak bisa menjadi tameng untuk melindunginya dari udara malam hari. Selesai dari Kafe Julion, mereka pindah ke sebuah taman yang berada tidak jauh dari kafe. Dara begitu asyik menyantap es krim miliknya yang dibelikan Elang sebagai permohonan maaf atas perkataan kasarnya-meskipun Dara tidak menyadari mengapa Elang membelikannya es krim. Melihat Dara yang sesekali mengusap lengan atasnya-guna mengurangi rasa dingin-membuat hati kecil Elang tidak tega melihatnya. Lantas, pria itu membuka jas hitam miliknya lalu ia berikan kepada Dara untuk dipakai. Mungkin lebih berguna untuk wanita itu dibanding Elang yang memang memakai kemeja lengan panjang. "Apa nih, Bang?" "Kamu tidak punya mata, atau memang bodoh?" Senyuman yang terlukis di bibir Dara langsung melengkung ke bawah. Ia tidak habis pikir dengan Elang yang selalu berkata ketus padanya, padahal Dara hanya berniat untuk memperpanjang perbincangan diantara mereka. "Aku tau itu jas, tapi untuk apa?" tanya Dara lalu kembali menjilat es krim rasa mint miliknya. "Ya ... untuk kamu pakai!" Dara tersenyum, ternyata Elang masih memiliki hati. Baru kali ini Elang memperlakukan Dara semanis ini, setelah pertemuan kedua mereka. Saat jas hitam kebesaran itu melekat pada tubuh Dara, seketika aroma tubuh Elang terhirup. Aroma yang selalu ia rindukan, bahkan aroma ini tidak pernah berubah sejak ia kecil hingga sekarang. "Makasih, Bang." "Tidak perlu! Saya melakukan itu karena tidak ingin membawa pulang anak gadis orang dalam keadaan sakit!" dengan nada ketus menjadi ciri khas Elang saat berbicara. Meskipun menyakitkan saat mendengarnya, perlahan Dara mulai mencoba untuk memahami, bahwa Elang tidak membenci dirinya melainkan memang sudah menjdi ciri khas pria itu. "Bang, aku mau nanya, lah." Dara menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Ia menatap sudut mata Elang yang kini sedang fokus pada I-pad. "Abang kenapa mau dijodohkan dengan aku? Apa karena Abang kasihan, atau memang enggak punya pasangan lagi?" Seketika bola mata Elang langsung melotot. Ia kembali memfokuskan sorot matanya ke arah wanita di sampingnya. Itu adalah pertanyaan yang sangat fatal menurut Elang. "Kamu ingat baik-baik! Kalau saya tidak pernah tertarik dengan tipe wanita sepertimu, bodoh! Ini semua saya lakukan karena MAMI! Jadi jangan pernah berharap kalau saya akan memperlakukanmu baik seperti seorang suami pada umumnya!" ungkap Elang dengan menekankan kata 'Mami' untuk menjelaskan semuanya. Air mata sudah mengambang di pelupuk mata Dara, kedip sekali saja bisa dipastikan buliran bening itu akan mengalir dan membasahi pipinya yang berbalut blush on peach orange. Dengan sekuat mungkin Dara mencoba menahan agar air matanya tidak mengalir dan menyebabkan Elang akan semakin marah. "Menikah dengan saya hanya menjadi masalah buatmu, bodoh! Karena sampai kapan, pun, saya tidak akan pernah cinta kepadamu!" Semangat Dara! Jangan kecewakan Mamak, dan terus kau perjuangkan apa yang kau imipikan sejak lama! Jangan sampe kehilangan Bang Elang lagi. Dia itu cuma sok ketus, Dar, jadi anggap aja kalo Bang Elang cuma sandiwara! Dara menyemangati dirinya dalam hati. "Akan aku buktikan kalau menikah dengan Abang adalah kebahagiaan tersendiri bagiku! Tidak peduli seberapa dinginnya sikap Abang!" balas Dara tidak kalah lantang, bahkan Elang berhasil bungkam dibuatnya. Senyum kemenangan mulai terukir dengan jelas pada bibir Dara. "Menikah dengan saya hanya menjadi mimpi burukmu!" lantas Elang langsung pergi meninggalkan Dara yang kembali manyun. Sebelum pria itu benar-benar meninggalkannya, Dara memutuskan untuk segera mengejar Elang. -00- Keesokan harinya adalah hari minggu, hari di mana Elang libur bekerja-meskipun hal itu dipaksakan oleh Mami. Tadi malam pria itu menginap di rumah Mami, karena keadaan sudah larut malam. Jadi, kejadian kemarin malam, Dara dan Elang sampai di rumah tepat pukul sebelas malam-dikarenakan macet disekitaran tugu monas-dan kebetulan besok hari minggu, maka Elang diminta Mami untuk menginap saja agar besok pagi bisa sarapan bersama. Meskipun harus ada perdebatan singkat diantara Elang dan Mami, tapi yang pasti Elang tidak mungkin menolak permohonan Mami kalau sudah memasang wajah memelas seperti kemarin malam. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi, namun Dara masih belum keluar dari kamarnya sedangkan Elang dan Mami sudah menunggu kehadirannya sejak tadi. Karena tidak sabar menunggu Dara yang tidak kunjung datang, Mami meminta Elang untuk memanggil Dara di kamarnya. "Lang, coba kamu panggilkan Dara di kamarnya," titah Mami seraya mewadahkan nasi di atas piring Elang. "Malas, ah ... Mam. Suruh Mbok Ijum aja," tolak Elang secara halus-karena saat ini ia sedang berkutat pada I-pad-sebagai alat elektronik yang membantunya dalam mengurus berbagai pekerjaan kantor yang belum diselesaikan. "ELANG PRASETYA!" senggak Mami yang berhasil membuat Elang mau tidak mau memanggil Dara di kamarnya. Ia meletakkan I-pad miliknya di atas meja makan, lalu berjalan menuju lantai dua. DUAR!! Benturan antara pintu dan dinding terdengar menggelegar seantero kamar yang sedang Dara tempati. Kontan, wanita yang berada di balik selimut itu langsung menyibak selimutnya dan menjerit seakan-akan sedang terjadi bencana alam. Tingkah polos dan ekspresi wajahnya yang lucu berhasil membuat Elang tersenyum di dalam hatinya. Wanita ini benar-benar aneh, begitulah yang ada di pikiran Elang saat melihat Dara harus berekspresi selebay itu saat Elang membuka pintu kamarnya. "Bangun Wanita Lamban! Kamu itu harus terbiasa bangun pagi untuk menjadi istri saya, cepat kamu bangun lalu bersihkan dirimu, setelahnya segera ke ruang makan!" bentak Elang lalu meninggalkan Dara yang masih mengatur pernapasannya serta rasa denyut di kepalanya. Bangun secara tiba-tiba memberi efek sakit pada kepala, bukan? Dan hal itu yang dirasakan Dara saat ini. Bang Elang kek taik, sumpah! Bikin pusing kepala orang aja, taik ... taik!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD