EPS. 6

2186 Words
Pagi yang cerah, terdapat dua orang wanita dan satu orang pria tengah membersihkan diri setelah selesai menikmati sarapan pagi. Sarapan untuk pertama kalinya dengan formasi seperti ini, karena biasanya hanya ada Dara dan Mami saja. Sejak insiden kemarin Dara dibentak oleh Elang karena cara makannya yang tidak memiliki tata krama, maka saat sarapan pagi sedang berlangsung Dara mencoba menyeimbangi tata cara makan keluarga Prasetya. Elang yang menyadari sikap Dara yang berubah hanya bisa menggelengkan kepala, sebab wanita ceroboh itu sangat gigih untuk memperbaiki dirinya meskipun Elang sama sekali tidak tertarik dengannya. Dara mengutip piring kotor lalu ia tumpuk agar tidak berantakkan. Saat semuanya sudah beres, Dara mengangkat piring kotor tersebut dan hendak membawanya ke wastafel-namun langkah wanita 28 tahun itu terhenti saat Mami membuka suara. "Dara, sini duduk, biar Mbok Ijum yang nyuci," interupsi Mami dengan nada suara tegas. "Mbok, oh ... Mbok, tolong cucikan piringnya ya Mbok!!" teriak Mami agar Mbok Ijum yang sedang di dapur dapat mendengarnya. Dara kaku seketika saat Elang memandangnya tajam. Tatapan itu selalu berhasil membuat dirinya lemah, sungguh besar efek yang ditimbulkan. "Biar Dara aja yang nyuci Tante, kasihan Mbok Ijum mungkin lagi sarapan." "Ada yang mau Tante bicarakan dengan kamu dan Elang, tentang pernikahan kalian." Sontak, keduanya serentak memandang Mami dengan tatapan tidak percaya sekaligus terkejut. Seolah-olah kabar itu layaknya sebuah umpan untuk seekor ikan sehingga Dara dan Elang mudah terpancing meski hanya dua kata yang Mami katakan dengan sangat jelas, 'pernikahan kalian'. "Kenapa harus sekarang, Tan?" "Kenapa harus sekarang, Mam?" Tanya keduanya serentak, dan karena itu Elang dan Dara kembali saling memandang satu sama lain. Sikap Elang terlihat sangat aneh hari ini, tidak ada Elang yang sangat ketus dan pandangan tajam layaknya sebuah pisau. Tetapi tidak tahu untuk selang waktu berikutnya. "Duduk, Dar," perintah Mami setelah Mbok Ijum mengambil alih piring kotor yang sebelumnya Dara pegang. Wanita itu menuruti permintaan Mami untuk duduk. Dara menyeret kursi makan di samping Mami setelah ia menjatuhkan bokongnya tepat di atas bantal kursi. Mami memandang mereka berdua secara bergantian. Ekspresi Dara terlihat begitu gugup dan cemas, sedangkan Elang kembali pada sikapnya semula. Datar tanpa ekspresi apapun. "Pernikahan kalian akan dilaksanakan dua minggu lagi, dan tunangannya minggu depan, itu semua udah keputusan antara Mami dan Mama kamu Dara." "APA?!" teriak mereka kembali secara bersamaan. Bagaimana tidak? Dara tinggal di rumah Mami baru dua minggu, dan mereka baru melakukan satu ritual pendekatan. Bahkan itu tidak bisa disebut pendekatan karena keduanya merasa tidak nyaman, apalagi mengingat perlakuan Elang terhadap Dara setelah makan malam selesai. Bukannya takut akan kegagalan dalam suatu proses, tetapi dalam melakukan sesuatu perlu persiapan, bukan? "Tante? Kok secepat itu? Aku belum siap Tan, lagian pendekatan hubungan dengan Bang Elang baru sekali, itupun berjalan dengan tidak mulus," keluh Dara dengan nada memohon serta binar mata penuh kecewa. Elang yang menyadari perubahan sikap Dara langsung bersyukur. Keluhan Dara bisa menjadi tamengnya agar ia tidak jadi menikah dengan wanita ceroboh itu. Atau bisa jadi sebaliknya. Layaknya sebuah permainan judi, kalau beruntung maka akan menghasilkan uang tetapi kalau tidak maka konsekuensinya adalah bangkrut. "Bagus deh. Sebelumnya, kan, sudah pernah saya bilang, kalau kamu tidak sanggup menikah dengan saya, lebih baik mundur sebelum pernikahan dimulai daripada nanti kamu menjadi pecundang saat pernikahan berlangsung!" Dara yang merasa tertantang membalas tatapan Elang penuh amarah. Bukannya ia ingin menghancurkan komitmennya sendiri, tetapi belum saatnya Dara untuk melakukan hal yang lebih untuk komitmennya. Karena Elang sudah menantangnya dan secara tidak langsung sudah meremehkan Dara di depan Mami-lantas ia membalas perkataan Elang tidak kalah lantang. "Aku bukan seorang pecundang yang mengingkari komitmennya sendiri. Itu salah besar Bang Elang! Satu hal yang harus Abang tau, mungkin Abang berkata seperti itu karena takut kalau ternyata Abang jatuh cinta dengan aku saat kita sudah sah menjadi suami-istri!" begitulah yang dikatakan Dara tanpa jeda sedetik pun. Ia tersenyum licik saat menyadari raut wajah Elang dipenuhi amarah. "Atau memang Abang yang takut akan pernikahan ini? Karena Abang sudah memahami diri Abang kalau situ enggak punya nyali untuk hal yang lebih besar?" Pupil matanya semakin melebar saat Dara mengatakan hal yang sudah berlebihan, bahkan wanita itu tidak segan menjatuhkan martabat Elang di depan Mami. "Hei! Saya seorang pria yang selalu memegang teguh komitmen yang sudah saya rancang. Hanya saja saya tidak ingin menghabiskan waktu untuk satu hal yang percuma, yaitu dengan menikahi wanita sepertimu! Karena saya paham, kalau wanita sepertimu hanya selalu menyusahkan saya!" "Haha ...," tawa Dara palsu. "Perkataan itu sudah membuktikan bahwa Abang takut!" "Siapa bilang? Yasudah, kalau begitu sekarang juga ayo kita pergi ke toko cincin, dan segala t***k-bengek untuk pernikahan!" Elang kembali menantang Dara-yang jelas-jelas sudah menunggu jawaban seperti ini dari Elang. Dengan mantap Dara menyetujuinya, sedangkan Mami hanya menggelengkan kepala mendengar perdebatan mereka. Tidak mau ambil pusing, Mami segera masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak. -00- Sebuah pernikahan adalah sesuatu yang sakral, dan seharusnya hanya dilakukan sekali seumur hidup. Untuk melambangkan sebuah pernikahan yang nyata, maka harus ada bukti yang nyata juga. Saat ini, Dara dan Elang baru saja sampai di sebuah toko berlian yang sudah menjadi langganan Mami. Setelah mendengar perdebatan antara Dara dan Elang hanya membuat kepala Mami semakin berdenyut. Mami tidak menyangka kalau reaksi mereka akan selebay itu, apalagi sampai saling menantang dan memuji kehebatan diri sendiri. Untuk orang normal seusia mereka seharusnya bisa dengan tenang menghadapi hal itu, tetapi tidak berlaku untuk Dara dan Elang yang notebene-nya memiliki perbedaan. Toko berlian itu dilapisi sebagian besar cermin di setiap sisi dinding-hingga membuat kilauan berlian semakin mantap untuk dipandang. Sebelum pergi ke toko ini, Mami sudah mengingatkan untuk membeli segala mahar pernikahan di toko Hartati Berlian saja, sebab sang penjual sangat kenal betul dengan Mami-dan Elang akan mendapatkan harga diskon pula. Ada satu cincin emas putih yang dibalut dengan satu mata berlian yang sangat indah. Cincin itu menjadi pusat perhatian Dara sejak masuk ke dalam toko ini. Seolah berlian itu memiliki magnet tersendirinya untuk menarik Dara agar membeli itu. Tidak terlalu mewah, tetapi nyaman untuk dipandang dan dikenakan. Berlian yang menjadi penghias cincin itu terlihat menawan dengan seribu kilauan di bawah cahaya lampu. "Kamu mau yang mana? Jangan kebanyakan memilih karena saya tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk hal yang tidak berguna!" ketus Elang seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. "Saya ingin melanjutkan pekerjaan saya di kursi ujung sana, dan dalam waktu sepuluh menit kamu harus sudah selesai memilih atau tidak konsekuensinya kamu pakai cincin pernikahan dari hadiah kuaci kemasan saja." Sontak sang penjual langsung tersenyum saat menyadari ucapan Elang barusan, sedangkan Dara hanya menghela napas berat. Seorang wanita harus memiliki banyak waktu untuk mencari yang terbaik, bukan? Dan Dara salah satu dari sekian banyak wanita shophaholic. "Kenapa enggak sekalian aja, bungkus kuacinya jadi gaun pernikahan!" sindir Dara yang berhasil membuat Elang menoleh. Ia menatap tajam ke arah Dara yang mencoba untuk menyeimbangi keketusan ucapannya. "Waktu kamu tinggal 7 menit!" setelahnya Elang pergi meninggalkan Dara dari tempat itu. Kek taik kau Bang! Kau pikir milih cincin kaya beli kolor apa? Isshh ...! -00- Ada restoran cepat saji yang terletak di lantai dua mall Cilandak Town Square. Semenjak ia bertemu dengan Dara, Elang sudah sangat jarang menikmati masakan Mami. Hanya bisa di setiap hari libur saja, itu semua terjadi karena Elang tidak ingin berada dengan Dara dalam jangka waktu yang lama-bahkan untuk menikmati sebuah hidangan. Entah mimpi apa, Elang harus menikah dengan wanita bodoh yang selalu merenggut waktunya hanya untuk hal yang tidak berguna. Setiap kali ia mengingat akan segera satu atap dengan Dara berhasil membuat kepala Elang terus berdenyut. Menghadapi wanita berisik seperti Dara dalam jangka waktu satu jam sudah seperti neraka bagi Elang, bagaimana nanti ia akan bertemu dengan Dara setiap harinya? Mungkin dunia Elang akan segera berakhir. Tas belanjaan mereka terlihat menggunung. Mereka sudah melakukan sebagian besar t***k-bengek untuk pernikahan nanti, dan selebihnya tinggal diatur oleh WO. Elang memiliki seorang teman yang bekerja di WO Amanda, maka hal ini tidak terlalu sulit bagi Elang. Dara meletakkan tas belanja tersebut di sekitaran meja bundar yang telah dipesan Elang saat sampai di restoran ini. Menu pesanan mereka datang tepat saat Elang memasukan ponselnya ke dalam saku celana. Pria berkepala tiga itu melihat arlojinya, ternyata sudah sepuluh menit waktunya terenggut hanya untuk menunggu pesanan datang. Elang membenci menghabiskan waktu. "Pelayanan kalian sangat mengecewakan! Waktu sepuluh menit saya terenggut hanya menunggu masakan nasi goreng ayam suir?" ketus Elang kepada sang Pelayan yang sedari tadi menunduk. "Maaf Pak, tetapi tidak hanya anda yang mengalami hal itu, namun seluruh pelanggan kami," ujar sang Pelayan yang diketahui bernama Benny. Dara memutar bola matanya. Ia menatap jengah ke arah Elang yang sudah bersikap berlebihan. "Sudahlah Bang, hal kaya gini enggak perlu untuk didebati." "Kamu tahu saya-" ucapan Elang terpotong saat Dara memerintahkan Benny untuk kembali bekerja, setelahnya ia kembali menatap Elang. "Aku tahu kalau Abang seorang Pengacara, kalau Abang seseorang yang terpelajar dan disiplin akan waktu. Tapi, ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat dan menunjukan betapa hebatnya Abang!" pekik Dara lantang dan ketus. Bahkan Elang yang mendengarnya langsung bungkam dan memilih untuk mempersiapkan diri sebelum menyantap makanannya. Sepanjang makan siang, Dara sudah bisa beradaptasi agar tidak melakukan kesalahan lagi dalam proses menyantap hidangan. Sudah cukup perkataan ketus Elang menjadi pelajaran baru baginya, karena tidak semua orang bisa kita pahami. Untuk memahami sikap Elang butuh hati yang ekstra sabar, sebab pria itu memiliki segala sesuatu untuk diperdebatkan, bahkan tidak segan di hadapan orang ramai. Elang tipikal pria perfeksionis, maka cobalah untuk menyamakan suatu hal yang bersangkutan dengannya. Contohnya seperti saat first date mereka yang berujung kesialan. Ralat, kesialan bagi Dara maksudnya. Hanya karena Dara menggunakan kebiasaan sehari-harinya dalam menyantap hidangan, Elang sukses membuat wanita itu malu-bahkan menangis akibat perkataan ketusnya. KRING! KRING! Dara tersentak saat mengetahui ponselnya berdering. Ia segera mengambil benda persegi itu dari dalam tas selempangnya. Terpampang dengan jelas nama Cakra di layar ponselnya. Seteguk demi seteguk Dara menelan ludahnya secara paksa. Ia melihat sekilas ke arah Elang yang masih santai menyantap hidangannya, tanpa peduli apa efek samping yang akan ia terima, Dara langsung pergi menjauh untuk mengangkat telepon itu. "Halo? Kenapa Bang?" "Kau kenapa Dek? Kok bisa-" ucapan Cakra terpotong saat Dara lebih dulu bersuara. "Kalo Abang telepon aku hanya untuk bahas persoalan kenapa aku putusi Abang, bagusan nggak usah telepon aku lagi! Jangan pernah, karena aku mau nikah!" TUT! Dara mematikan panggilan teleponnya sepihak. Ia masih menatap layar ponselnya yang kini sudah menghitam, hembusan napas terdengar sangat berat. Setelah ia rasa sudah lebih baik, Dara kembali ke meja makan. Ia melihat Elang sudah menghabiskan nasi gorengnya. Mampos! Pasti merepet lagi nih Bang Elang. "Bisakah kamu mengangkat telepon harus izin terlebih dahulu dengan saya? Kamu anggap apa saya yang sedang makan di sini? Patung? Atau mayat?!" tanya Elang dengan ekspresi datar. Ia menenggak air mineralnya hingga tandas. "Ubah sikap kamu yang satu itu! Dari hal kecil seperti ini saja sudah menunjukan kalau kamu tidak hormat dengan saya? Bagaimana nanti saat kita menikah?" Dara hanya bisa menunduk seraya memaki dalam hati. Taiklah, kan, udah tau kali aku kalo nih patung es pasti merepet. Pusinglah kepala Tincek. Baca: (Tincek : nama orang) "JAWAB!" "Maaf Bang, iya ... aku janji enggak bakal ngulangi lagi." "Basi tau nggak? Habiskan makananmu dalam waktu tiga menit, atau tidak kamu akan saya tinggal!" sebelum Elang beranjak dari kursinya menuju toilet, ia lebih dulu kembali bersuara. "Besok saya akan cuti demi kamu. Kita akan fitting baju pengantin besok, dan kamu harus sudah selesai saat saya sampai di rumah Mami." -00- Malam yang dingin dipenuhi angin yang berhembus mewakili perasaan Dara yang sedang gundah sekaligus dilema. Ia tidak ingin pernikahannya akan berlangsung lebih dari satu kali. Cukup satu meskipun Dara sudah yakin pasti menjalankannya akan terasa sulit jika dua insan yang berbeda disatukan menjadi sebuah rumahtangga. Terbayang sebuah keluarga yang tidak harmonis terjadi pada keluarga sepupunya. Dara tidak ingin hal itu juga akan terjadi padanya. Buliran bening mulai menetes pada pelupuk mata. Saat ini, posisi Dara sedang berada di atas balkon seraya menatap pepohonan pada halaman belakang. Kenyataan pahit bahwa Elang sudah berbeda-kini akan menjadi tantangan yang cukup sulit bagi Dara. "Demi Bang Elang! Semuanya akan terasa indah meski harus menelan rasa sakit terlebih dahulu. Seperti apa yang pernah Ayah katakan, untuk mencapai puncak harus ada perjuangan yang hebat. SEMANGAT!!" Dara menghapus airmatanya dengan kasar lalu ia tersenyum saat bayangan tentang percakapan kecilnya bersama Ayah saat ia masih berumur sepuluh tahun. "Untuk menjadi seseorang yang kuat, kamu akan melewati fase-fase yang sulit. Seperti hujan, ia tidak peduli meskipun jatuh berkali-kali, karena ada masanya di mana ia akan kembali ke awan." "Maksudnya gimana, Yah? Dara kurang ngerti." Ayah tersenyum tulus seraya mengacak rambut Dara. "Karena tidak semuanya terjadi secara instan. Butuh proses, Sayang ...." Ayah mengecup puncak kepala Dara. Dara kecil tidaklah tersenyum, melainkan ia kembali manyun saat mengingat perlakuan yang tidak mengenakan dari teman lelakinya di sekolahan. "Ayah, mengapa semua laki-laki di kelasku selalu menyakiti Dara?" "Kamu dengar sayang, ada satu lelaki yang tidak akan menyakitimu." Dara memberhentikan ayunan dengan kakinya, lalu menatap Ayah yang berada di belakangnya. "Siapa, Yah?" "Aku, Ayah tidak akan pernah menyakiti Dara bahkan hingga putri kecil Ayah menjadi wanita dewasa yang sedang berbahagia berada di atas pelaminan. Jika nanti suamimu berani menyakiti putri kesayangan Ayah, maka akulah laki-laki pertama yang akan menghapus airmatamu dan memelukmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD