"Pak, ini data klien yang terkena kasus penipuan itu. Tadi dia baru saja mengirimkan lampirannya ke email saya," ujar Marissa seraya memberikan beberapa dokumen yang terselipkan di dalam map berlambang PLawyer.
Elang yang sedang fokus pada monitor komputernya terpaksa harus mendongak dan menerima dokumen tersebut. Setelah kepergian Marissa dari ruangannya, Elang perlahan membuka map tersebut dan membaca lembaran teratas.
Setiap huruf tidak ada yang terlewatkan, Elang membaca keseluruhan isi dokumen. Begitulah Elang, sangat teliti dan perfeksionis dalam permasalahan apapun.
"Penipuan masalah bisnis?" tanya Elang pada dirinya sendiri. Ia mengerutkan dahi saat membaca paragraf terakhir tentang keluhan sang klien. "Zaman sekarang masih aja mau dibodoh-bodohi! Memang dasar bego, jelas-jelas itu perusahaan yang ilegal. Untung klien, menghasilkan duit."
Setelah selesai mengamati keseluruhan dokumen, Elang meletakkan kembali map tersebut bersama tumpukkan map lainnya. Ia kembali mencari beberapa bukti untuk menyelesaikan kasus pemerkosaan masal yang kemarin baru-baru saja terjadi pada seorang gadis SMA. Yang menjadi alasan Elang menerima tawaran kasus ini, karena sang korban adalah anak dari pejabat tinggi di Jakarta, jadi PLawyer akan dibayar mahal untuk hal itu.
Namun, alasan lainnya karena Elang peduli terhadap kasus seperti ini. Secara tidak langsung, setiap ia menerima kasus yang sama, Elang selalu merasa terpukul. Karena Mami juga seorang wanita, begitu juga dengan Luna. Elang memiliki prinsip, bahwa seorang wanita harus dibahagiakan, bukan diperlecehkan.
KRING! KRING!
Elang memijit pelipisnya sejenak, lalu sedikit melonggarkan dasinya. Berada di hadapan komputer dengan waktu yang cukup lama berhasil membuat kepala Elang terasa pusing.
"Halo? Saya Elang Prasetya ada yang bisa dibantu?" ujar Elang setelah ia mengangkat panggilan telepon.
"Hai, Bro! Ini gue, Raja."
Sontak Elang langsung memekik girang saat mengetahui siapa yang meneleponnya. Itu Raja, sahabat karibnya sejak SMA. Sudah satu tahun lebih mereka tidak bertemu karena Raja sedang sibuk mengurus bisnis perumahan miliknya yang berada di Australia.
"Apa kabar lo, Ja? Sumpah, kangen banget gue sama lo!" pekik Elang girang. Bahkan saking bahagianya, sakit kepala yang melanda hilang begitu saja.
"Baik, Lang. Mana posisi? Meet up yuk ... ngopi bareng gitu, udah lama nggak ketemu kita."
"Di kafe biasa, jam satu siang. Bentar lagi gue udah mau jam istirahat nih. Lagian ada yang mau gue ceritakan ke elo."
"See you, Bro!"
Setelah panggilan terputus, senyuman Elang semakin mengembang. Ia tidak menyangka kalau Raja secepat ini balik ke Indonesia. Padahal dari Australia ke Indonesia cukup dekat, tetapi kesibukan masing-masing yang menjadi penghalang keduanya.
Marissa masuk ke dalam ruangan Elang dengan senyuman manis seperti biasanya. Sangat cantik dan anggun. Berbeda sekali jika dibandingkan dengan Dara.
"Mau teh? Kopi? Atau s**u? Untuk jam istirahat nanti?"
Elang menggeleng seraya mengulum senyum. "Enggak usah, makasih." Setelahnya Marissa kembali keluar.
Itu senyuman paling tulus dari Elang setelah sekian lama ia tidak tersenyum seperti ini.
-00-
Saat Elang sampai di kafe, ternyata Raja sudah lebih dulu sampai. Bahkan pria itu sudah memesankan milik Elang. Apalagi kalau bukan cokelat panas. Dari dulu Elang tidak pernah lepas dari minuman itu, bahkan saat pergi ke kelab malam, Elang justru memesan minuman itu.
"Raja! Kangen banget gue sama lo!" Elang berjalan sedikit cepat menghampiri Raja yang terlihat sedang memainkan ponsel.
Saat mendengar suara barinton yang tidak asing lagi di telinga Raja, sontak pria itu langsung mengalihkan pandangannya menuju sumber suara. Ia bangkit lalu memeluk Elang dengan erat. Pelukan yang terjadi cukup lama hingga menjadi pusat perhatian seantero kafe.
Bayangkan saja, jika ada dua orang pria berbadan atletis saling berpelukan di tempat umum, apa yang kamu pikirkan? Mereka sepasang kekasih, bukan? Jika iya, semua orang yang berada di kafe itu memiliki persepsi yang sama dengan kamu.
Elang yang sadar bahwa dirinya dan Raja menjadi pusat perhatian memutuskan untuk menyudahi pelukan itu. Elang langsung duduk sedangkan Raja masih berdiri. Mengamati sekitar lalu tersenyum.
"Kami bukan pasangan gay, tapi tadi pelukan antara dua orang sahabat yang akhirnya bertemu setelah sekian lama berpisah!" teriak Raja berniat meluruskan semuanya.
"Raja anjing, bikin malu lo. Alay!" pekik Elang.
Raja hanya tertawa lalu duduk di hadapan Elang. Ia menunggu Elang memulai percakapan terlebih dahulu.
"Setahun di Australia ternyata nggak ngerubah lo jadi pria dewasa, ya ... masih sama kaya dulu, pecicilan!"
Raja menyeruput kopi hitam miliknya, lalu ia kembali tersenyum. Senyuman yang begitu mempesona, ada lesung pipi yang tertutupi oleh brewoknya. "Gimana mau berubah, Lang. Cewek di sana menggoda iman."
"Anjing! Kebiasaan SMA lo belum berubah. Belum puas apa? Atas kejadian yang ngebuat lo harus masuk penjara?"
"Lang, gue gak mau bahas masa kelam itu!" Raja memasang tampang malas saat Elang mencoba mengungkit masa lalunya.
Dulu Raja pernah masuk penjara karena sewaktu kuliah, Raja memiliki seorang kekasih. Namanya Jessy, seorang gadis berambut sepundak dengan kulit putih bersih. Jessy sendiri anak dari Dosen yang mengajar di kelas Raja.
Hingga pada akhirnya Raja khilaf. Ia memaksa Jessy agar mau bercinta dengannya. Awalnya Jessy menolak, namun Raja tetap memaksanya.
Dua minggu kemudian ternyata Jessy dinyatakan positif hamil. Lantas Ayah Jessy marah besar dan melaporkan Raja ke polisi atas tuduhan pemerkosaan. Sedangkan Jessy terpaksa menggugurkan kandungannya.
"Lo berapa lama di Indo?" tanya Elang dengan topik baru.
"Kayanya cuma satu bulan gitu." Raja mengambil satu kentang goreng yang baru saja diantarkan oleh Pelayan. "Tadi katanya lo mau cerita."
Pipi Elang langsung bersemu merah. Ia tidak tahu harus memulainya dari mana. Sebab, selama ia bersahabat dengan Raja, hanya satu orang wanita yang pernah Elang ceritakan kepada Raja. Wanita itu Luna, dan jika Elang menceritakan tentang Dara berarti sosok wanita itu juga spesial seperti Luna, kah?
"So?" tanya Raja kembali.
"Jadi gini ..., gue itu mau dijodohkan sama anak temennya Mami."
Sontak Raja langsung tertawa mendengarnya. Elang si cowok paling terkenal sewaktu SMA, bahkan berlanjut hingga kuliah, akan dijodohkan? Ini sama sekali bukan kriteria Elang.
"Lo mau dijodohkan? Tahun 2017 masih ada, ya? Jodoh-jodohan gitu?" ledek Raja yang dibalas satu jitakan dari Elang.
"Namanya Dara, dia itu ...." Elang menceritakan segalanya tentang Dara. Mulai dari siapa sosok Dara sebenarnya, bagaimana tingkah wanita itu, pertemuan pertama mereka saat di bandara, hingga sampai betapa seringnya ia bertengkar dengan wanita itu. "Kesel nggak lo? Satu jam aja dekat sama dia udah bisa bikin gue gila, lah nanti? Kami bakal ketemu setiap hari."
"Kenapa nggak lo tolak aja permintaan Mami Renata, sama sepeti yang pernah lo lakukan tahun lalu." Raja memang memanggil Renata dengan sebutan 'Mami' karena saat masa SMA dulu, Raja sering menginap di rumah Elang, dan ia sudah dianggap seperti anak oleh Mami.
"Mami nggak bakal mempan lagi sama modus gue." Elang kembali menyeruput cokelat panas miliknya. "Yeah, you know me so well."
"Menurut gue, sih. Coba aja lo jalani, karena siapa yang tahu kalo Dara itu jodoh lo. Buktinya kalian dipersatukan lagi oleh takdir, 'kan? Yasudah, coba lo terima lapang dada." Raja mengambil napas sejenak. "So, jangan pernah mempermainkan perasaan seseorang yang tulus sama lo! Itu saran gue."
Elang terdiam. Ia mencerna seluruh perkataan Raja. Ada betulnya, jika semua ia lalui dengan lapang d**a mungkin akan terasa mudah, tetapi teori tidak segampang praktik. Namun yang menjadi masalah, Elang sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadap Dara. Bahkan ia tidak memiliki prediksi seperti apa pernikahannya nanti, apakah mereka akan saling jatuh cinta atau justru berakhir di sidang perceraian.
"Terus, menurut lo, gue harus lupakan Luna gitu? Demi cewek bodoh kaya dia?" bantah Elang yang masih belum menerima perjodohan ini, namun juga tidak bisa membatalkan perjodohan ini. Semuanya karena Mami.
Raja memutar bola matanya jengah. Lalu ia tersenyum seadanya, "Gini ya, Bro ..., gue enggak ada nyuruh lo buat lupain Luna, tapi, di dunia ini ada empat arah yang akan jadi pilihan lo selanjutnya." Raja diam sejenak. "Ada kanan, kiri, dan depan. Ada tiga arah yang salah satunya menuju masa depan yang sesuai dengan ekspetasi lo. Tapi belum tentu lo kembali ke arah belakang, akan buat lo bahagia, apalagi Luna udah tiada untuk selamanya."
Elang kembali terdiam. Apa yang dikatakan Raja sangat mewakili segalanya, tetapi ia masih tidak yakin untuk menjalankan suatu pernikahan tanpa dasar cinta. Terutama mereka memiliki kepribadian yang sangat berbeda, hal itu yang menjadi inti masalah saat ini.
"Gue nggak yakin bakal bisa jalani hubungan pernikahan dengan dia. Tanpa ada cinta yang melengkapinya, pula."
Elang labil dengan perasaannya. Di satu sisi ia tidak ingin pernikahannya dengan Dara terjadi, tetapi di sisi lain ia tidak tega kepada Mami kalau sampai menolak permintaan Mami untuk menikah dengan Dara. Semuanya seperti tumpukkan skripsi yang tidak ada habisnya untuk direvisi.
"Cinta akan tumbuh setelah lo melafadzkan ijab kabul, Bro! Dan menurut agama, ta'aruf itu yang seharusnya menjadi landasan pernikahan."
Untuk yang kesekian kalinya Elang menghela napas berat. Semua perkataan Raja sudah ia rangkum menjadi satu. Ternyata selama ia berada di Australia, Raja sudah berubah. "Oke. Ternyata nggak sia-sia lo di Australia. Dan gue rasa lo lebih cocok jadi pakar pernikahan, Bro!"
Senyum manisnya kembali terlihat setelah mendengar perkataan Elang barusan. "Yang terpenting, bagaimana lo menyikapi dia, Lang. Karena suatu penyesalan selalu datang disaat yang tidak tepat."
"Lo bener, Ja." Elang menyeruput kembali cokelat panasnya hingga tandas. "Lo datang ke acara lamaran sekaligus pernikahan gue di Medan, ya ...."
"Bisa diatur."