Shanna menolehkan pandangan nya ke pintu kamar. Dengan sigap dia langsung menyimpan iPad yang sedang di pakainya untuk meninjau grafik milik perusahaan begitu melihat salah satu ajudan kakeknya berada di ambang pintu.
"Selamat malam, Nona. Saya diperintahkan oleh Tuan Legiond untuk meminta anda turun ke ruang pertemuan." ujar ajudan itu
Shanna mengerutkan dahinya dan mengangguk.
"Aku akan segera turun." sahut Shanna singkat. Setelah memastikan jika ajudan kakek nya sudah pergi menjauh, Shanna segera bercermin. Hanya untuk sekedar memastikan jika dirinya tidak terlihat kacau atau berantakan saat bertemu dengan kakeknya.
Setelah Shanna memastikan jika dirinya tidak kacau atau berantakan, dia langsung keluar dari kamarnya dan turun menuju ruang pertemuan di Mansion utama Legiond.
Begitu keluar dari rumah nya, dapat Shanna lihat jika banyak mobil berjajar di pekarangan rumah nya. Bahkan banyak orang orang berjas hitam dengan earpods terdapat di telinga mereka sedang berlalu lalang.
Hanya sekali lihat, Shanna dapat tahu jika mereka adalah pengawal milik kakek nya. Dan semua nya langsung mengangguk menyapa Shanna ketika melihat Nona muda itu keluar dari rumah nya.
Entah apa yang akan disampaikan oleh kakeknya hingga sebanyak ini orang yang terlibat.
Dua pengawal langsung membukakan pintu Mansion untuk Shanna ketika melihat Nona muda itu akan memasuki nya.
"Selamat malam, Nona." sapa kedua nya yang di sahuti dengan senyuman dan anggukan dari Shanna
Kesibukan di luar rumah ternyata terjadi juga di dalam rumah. Para Maid berjalan cepat kesana kemari. Membersihkan, merapihkan dan mungkin menghidangkan masakan untuk makan malam yang memang belum berlangsung.
Tanpa membiarkan diri larut dalam kesibukan di sekitarnya, Shanna langsung beranjak memasuki ruang pertemuan. Dia menemukan jika seluruh anggota keluarga nya sudah duduk rapi disana.
"Ah, Shannaya cucu ku. Kemari, nak." pinta kakek Shannaya, Alexander Legiond
Shanna tersenyum dan mengangguk. Dia duduk di sisi kanan David yang menyapa nya dengan senyuman.
"Kalian mungkin bertanya tanya kenapa aku mengumpulkan kalian disini." ujar Alexander
Dapat Shanna lihat jika semua anggota keluarga Legiond mengangguk setuju dengan ucapan Alexander.
"Dua hari lagi, kita akan mengadakan acara amal. Pakaian, makanan, alat tulis dan pendidikan. Acara amal akan diadakan di berbagai daerah di negara ini. Ada yang keberatan?" tanya Alexander
"Perusahaan sedang stabil. Hanya ada satu masalah yang bisa aku selesaikan sebelum acara amal berlangsung. Jadi aku rasa tak apa jika aku meninggalkan perusahan selama beberapa waktu." sahut Shanna
Alexander tampak tersenyum puas sambil menganggukkan kepalanya.
"Yah, aku akan mengajukan cuti. Karena kebetulan aku juga tidak pernah mengambil jatah cuti milik ku." sahut David, seorang anggota kepolisian.
"Aku juga akan ikut. Tidak ada jadwal pemotretan atau yang lainnya." ujar Annie sambil menatap kuku nya yang baru saja di rawat
Alexander tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah. Kalau begitu, dua hari lagi kita akan pergi ke berbagai pelosok kota untuk acara amal." seru Alexander
♾♾♾♾
"Kakak, sepertinya kak Alea, kak Malvin dan aku tidak akan bisa terlalu lama bepergian. Kita tidak bisa meninggalkan sekolah terlalu lama." ujar Raphael ketika Shanna akan memasuki kamarnya
Di belakang Raphael, ada Alea dan Malvin yang tersenyum dengan tatapan yang tidak bisa Shanna artikan.
"Jadi? Kalian ingin aku berbuat apa?" tanya Shanna sambil bersidekap
Alea tertawa pelan. Dia berjalan menuju Shanna dan melingkarkan tangannya pada lengan Shanna.
"Bisa buatkan surat izin? Supaya aku, Malvin dan Raphael bisa mengikuti acara amal sampai selesai." pinta Alea
"Aku mungkin bisa menurunkan surat izin untuk Raphael karena dia baru memasuki sekolah menengah pertama. Tapi untukmu dan Malvin agaknya akan sedikit sulit. Apalagi kalian berada di tingkat akhir sekolah dan akan banyak ujian." sahut Shanna
Alea dan Malvin menghela nafasnya lesu. Bahu keduanya melemas mendengar ucapan Shanna.
"Tapi jika kalian memang ingin mengikuti acara amal dan bukan bermaksud melarikan diri dari tugas sekolah, aku mungkin bisa membuatkan surat resmi dari keluarga Legiond untuk sekolah kalian." ujar Shanna
"Tapi jika kalian hanya ingin melarikan diri dari tugas sekolah dan tidak mengikuti acara amal dengan baik, aku akan langsung mengirim kalian ke sekolah dengan Heli. Deal?" lanjut Shanna
Alea dan Malvin terpekik senang. Kedua nya langsung berlari memeluk Shanna dengan erat. Membuat tubuh mungil Shanna terhimpit oleh tubuh keduanya yang tinggi.
"Kak Shanna memang terbaik." puji Malvin
Shanna terdiam sejenak. Setelahnya dia tersenyum tipis sambil mengusap rambut kedua nya.
"Alright kids, masuk ke kamar kalian masing masing. Sudah malam." perintah Shanna pada ketiga nya
"Selamat malam, kak Shanna." seru ketiga nya dan langsung beranjak memasuki kamar masing masing
Sementara Shanna menghela nafasnya dan kembali berjalan menuju ruang kerja nya yang terletak di samping kamar.
Niat nya untuk tidur sudah mulai sirna. Lagipula masih ada tugas yang menunggu nya.
Shanna membuka brangkas yang terdapat di bagian bawah meja kerja nya. Dia mengeluarkan beberapa berkas penting yang menjamin kehidupan anggota keluarga Legiond dan dahi nya berkerut ketika menemukan beberapa perbedaan dalam isi berkas tersebut ketika beberapa hari yang lalu Shanna membaca nya.
"Shannaya?"
Terdengar suara panggilan dan ketukan pintu di ruang kerja nya. Shanna langsung kembali memasukan berkas itu dan beranjak membuka pintu ruang kerja nya.
"Kakek..." gumam Shanna ketika melihat wajah Kakeknya yang tersenyum teduh
"Boleh Kakek masuk?" tanya Alexander
Shanna mengangguk dan membuka pintu nya lebar lebar. Mempersilahkan Kakeknya masuk ke dalam ruang kerja nya.
Alexander masuk ke ruang kerja Shanna. Dia mendudukkan tubuhnya di sofa dan menatap cucu nya dengan senyuman.
"Sudah selarut ini, kenapa belum tidur?" tanya Alexander
"Ada yang harus aku kerjakan, Kek. Aku akan segera tidur ketika sudah selesai dengan berkas berkas ini." jawab Shanna
Alexander mengangguk mengerti. Dia menatap Shanna yang kembali duduk di kursi kebesaran nya dan mulai membuka satu per satu berkas yang ada di meja.
"Apa ada masalah di perusahaan?" tanya Alexander cemas. Terlebih ketika beberapa kali melihat kerutan di dahi Shanna.
Shanna mengalihkan pandangannya pada kakeknya. Dia terdiam sejenak, menimbang nimbang apa dia harus mengatakan tentang Annie yang mengambil ratusan juta tanpa alasan yang jelas atau justru bungkam dan mengatasi sendirian masalah itu.
Tapi akhirnya Shanna tersenyum "Tidak ada masalah besar. Hanya ada sedikit masalah kecil yang pasti akan segera aku selesaikan."
Alexander tersenyum tipis. Dia menatap Shanna dengan hangat "Tidak salah aku menitipkan The Legiond pada mu. Diantara semua cucu ku, hanya kau yang bisa aku percaya untuk mengurus perusahaan. Kau pasti bertanya tanya kenapa Kakek menunjukmu sebagai pewaris utama, padahal kau adalah cucu ku yang jauh lebih muda dibandingkan David yang sudah menyelesaikan kuliahnya."
Shanna terdiam. Dia menutup berkas yang di baca nya dan memberi atensi penuh pada Kakeknya.
"David, dia mempunyai semangat tinggi untuk profesi nya sebagai seorang Polisi. Dia tidak memiliki minat pada perusahaan. Dionald dan Annie... Entahlah. Aku kurang setuju jika kedua nya memimpin The Legiond." jelas Alexander
"Akhirnya keputusan ku jatuh padamu. Tentu saja aku memikirkan hal ini sejak lama. Karena itu aku memberikan mu pendidikan tentang perusahaan sejak dini. Maaf jika keputusanku membuatmu tertekan, Shanna. Tapi aku tidak bisa mempercayai The Legiond pada cucu ku yang lain nya. Aku tidak mau perusahaan yang aku bangun dengan susah payah harus gulung tikar." lanjut Alexander
Shanna terdiam dan mengangguk mengerti "Aku mengerti, Kakek. Tak apa. Aku tahu jika Kakek tidak akan memberi tanggung jawab sebesar ini padaku tanpa pertimbangan yang matang."
Dan sekarang, Shanna tahu kenapa semua berkas berkas penting yang berisi tentang properti milik Legiond, sudah beralih nama menjadi miliknya. Shannaya Audrey Legiond.
♾♾♾♾
Shanna keluar dari dalam kamar nya. Tubuhnya sudah terbalut rapi dengan kemeja merah dengan celana bahan berwarna hitam sebagai pasangannya. Sementara blazer hitam nya dia lipat dan dia sampirkan di lengan kiri nya.
Suara langkah kaki nya yang memakai pantofel terdengar memenuhi lorong Mansion yang masih sepi.
Shanna membawa tubuhnya menuju ruang makan. Dia menemukan Kedua orang tua, dua adiknya dan juga beberapa anggota keluarga Legiond yang lain sudah mulai berdatangan dan hendak memenuhi kursi kosong di meja makan.
"Selamat pagi, semuanya." sapa Shanna singkat. Dia langsung duduk dan mengoleskan selai blueberry di atas roti tawar miliknya.
"Annie, kita harus bertemu setelah sarapan." ujar Shanna pada Annie
Yang mempunyai nama menatap Shanna dengan tidak suka dan mendengus kesal.
"Hanya 5 menit. Aku sibuk." sahut Annie ketus
"Tidak akan lebih dari satu menit jika kau tidak membawa pembicaraan nanti pada hal lain." ucap Shanna datar
Annie menatap Shanna dengan tatapan penuh permusuhan sebelum akhirnya membenturkan garpu dan pisau nya ada piring. Membuat suara keras sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruang makan dengan langkah menghentak.
"Shannaya! Tidak bisa kah kau membiarkan anak ku hidup dengan tenang?!" seru Jemma, Ibu dari Annie
"Dan apakah Annie bisa membiarkan perusahaan ku tanpa masalah? Dengan begitu aku akan membiarkan nya hidup dengan tenang sampai mati nanti. Mudah kan?" tanya Shanna. Dia menatap Emily dengan satu alis terangkat.
"Karena Kakek belum ada disini, aku ingin jujur pada kalian semua. Kakek sama sekali tidak tahu apa yang sudah Annie lakukan pada perusahaan. Aku tidak memberitahu Kakek tentang apa yang sudah Annie lakukan. Bukannya aku sudah melakukan tugasku sebagai Saudara yang baik? Jadi sekarang waktunya Annie yang menjadi 'Saudara yang baik' untukku." jelas Shanna
Hening seketika.
Semua orang terlihat memperhatikan pembicaraan Jemma dan Shanna yang terlihat sangat serius.
"Ada apa sebenarnya?" tanya David bingung
Pertanyaan nya membuat Rico menyenggol lengan David, berusaha membuat nya diam dan bertanya nanti.
"Annie hanya mengambil bagian kecil dari perusahaan mu! Dia juga memiliki hak untuk memakai uang itu sebanyak yang dia mau karena dia bagian dari Legiond!" seru Jemma kesal. Wajahnya memerah dan tatapan nya berubah menjadi penuh kemarahan pada Shanna.
Shanna mengangkat satu alisnya.
Dia meraih iPad yang berada di tas tangan miliknya. Jari jemari nya bergerak lincah di atas layar benda itu.
Hingga beberapa detik kemudian benda elektronik milik semua anggota keluarga Legiond itu berdering. Menampilkan notifikasi Email dari Shanna.
"Email yang aku kirim adalah soft print dari bukti transfer yang sudah aku lakukan pada masing masing ATM milik cucu dari keluarga Legiond setiap bulannya. David, Rico, Dionald, Annie, Raphael, Malvin dan Alea. Semua nya memiliki nominal yang sama setiap bulan nya." ujar Shanna. Tangannya kembali meraih roti tawar miliknya.
"Apa nominal itu masih kurang hingga Annie mengambil uang lebih dari perusahaan secara diam diam?" tanya Shanna
Semua nya terdiam. Menatap layar smartphone miliknya yang menampilkan bukti kiriman uang dengan delapan digit angka nol.
"Sejujurnya... Jika itu atas izin dari ku, maka itu tindakan legal. Tapi jika tanpa izin dari ku, bukannya itu pencurian?" lanjut nya
"Jika aku tidak melaporkan ini pada Kakek, apa aku harus melaporkan ini pada Polisi? Tolong jawab aku, Aunty Jemma." ucap Shanna pada Jemma yang terdiam