“Tolongin napa?” protes Liana pada Luna dan Rafan yang memilih duduk bersantai, menikmati sarapan mereka. “Tolongin aja sendiri. Buka celana dia, terus obati p****t yang berdarah itu,” ujar Rafan sangat-sangatlah lempeng. Dia ingin menjerat Liana dalam pelukan Elang. Enggan mengulurkan tangan meskipun mudah saja bagi dia memindahkan Elang kemudian mengobatinya. “Lo mau bikin mata gue berdosa ya?” Liana memelototi. Tak peduli, akhirnya dia pun pergi mengambil air lalu menyirami wajah Elang. “Hujan.” Elang memekik kaget saat tiba-tiba diguyur air. Mengusap wajah dengan tangan, baru setelah itu membuka mata. Masih meringis karena beling masih tertancap di bokongnya. “Kita ke rumah sakit yuk!” “Gak ada rumah sakit di sini. Yang ada puskesmas. Dan itu hanya ada di kelurahan,” ujar Luna. “

