“Fanfan.” Luna memanggil karena sedari tadi dia sudah berbicara panjang lebar—meminta maaf atas apa yang dilakukan hewan berbulu kesayangannya itu tapi seperti diacuhkan karena Rafan membisu. Sebenarnya Rafan bukanlah acuh padanya, melainkan sibuk masuk ke dalam hati yang dirasa sedikit gejolak yang menghantam logikanya. Pantangan lurus ke bawah, melihat dan merasakan setiap sentuhan tangan kecil itu saat mengobati luka cakaran yang merusak kulit luar kedua tangannya. “Fanfan!” Sekali lagi Luna memanggil dengan teriakan sampai membuat Rafan terkejut dan lamunan itu seketika buyar. “I—iya.” Sampai tergagap karena gugup. Jantung terus terpacu, sambil menerka-nerka apakah dia ketahuan sedang memikirkan perempuan di depannya itu? “Lo dengar gak sih apa yang ngomong?” Luna mengangkat wajah,

