Dua tahun kemudian.
Usai memberikan tepuk tangan dan mengucapkan terima kasih atas kerja sama timnya, Kirana menghembuskan nafas panjang dan duduk di lantai berlapis karpet tebal. Dilepaskannya sepatu bertumit tinggi yang cukup menyiksa kaki. Tak peduli ia dengan rekan-rekan yang berseliweran di ballroom hotel.
“Selamat ya project manager aku. Acara wedding ini kayaknya lebih sukses dari sebelumnya.” Desta–anggota timnya–tanpa sungkan ikut duduk di sebelah Kirana.
“Selamat juga vendor coordinator aku. Suksesnya juga karena peran kamulah,” kilah Kirana balik menyanjung lelaki berambut panjang itu.
“Habis ini, kita nongkrong dulu yuk, di Moonlight Club,” ajak Desta.
“Hmmm … aku mau langsung pulang aja.” Kirana menolak.
“Ayolah kamu harus ikut. Sebentar aja … nanti kuantar pulang.” Desta terus membujuk.
“Kenapa aku harus ikut?” Kirana curiga. Nalurinya yakin ada maksud lain di ajakan rekannya itu.
Desta merapatkan bibirnya. Tampak jelas ia menahan sesuatu yang disembunyikan.
“Kenapa?” desak Kirana. “Pasti ada sesuatu nih!”
“Bukan sesuatu, tapi seseorang.” Desta menahan senyum.
Kirana merengut. “Siapa?”
“Rasya.” Desta mengaku. Dia tidak bisa berbohong di depan Kirana. “Dia ngajakin aku hang out bareng kamu dan sama anak-anak yang lain juga. Vena, Dion, Risna ….”
“Aku capek banget, Des. Aku kepengen tidur.” Kirana menggeleng. Ia sudah kehabisan energi dan ingin menyendiri. Bertemu Rasya akan membuatnya tak nyaman dan bertambah lelah. Teman Desta di komunitas motor itu terlalu intens mendekatinya.
“Rasya pasti kecewa.” Desta khawatir.
“Biarin aja dia kecewa. Aku ‘kan nggak pernah ngasih harapan apa-apa,” elak Kirana sambil bangkit berdiri lalu mengenakan sepatunya.
“Kir … kasihlah kesempatan buat Rasya. Janganlah kamu patah hati terus!” Desta ikut berdiri. “Dia suka banget loh sama kamu dan pengen banget jadi pacar kamu.”
“Aku lagi nggak pengen punya pacar.” Kirana melangkah meninggalkan Desta yang memanggilnya dua kali lagi sebelum kemudian menyerah.
Kirana tiba di unit apartemennya. Tak ada yang tahu, betapa letihnya ia setiap kali menyelesaikan tugas mengurus acara pernikahan orang lain. Menyaksikan bagaimana indahnya prosesi penyatuan hati dua orang yang saling mencintai, mengingatkannya kembali pada Ardana. Cinta pertamanya yang masih saja melekat di hatinya.
Tak satupun orang yang pernah dicurhati dan tahu seberapa parah patah hatinya. Ia cuma bisa berharap, suatu saat akan sembuh dari lukanya dan bisa jatuh hati lagi.
Kamar terasa dingin. Alih-alih menaikkan suhu AC, ia malah mengambil syal yang selalu menemaninya tidur. Dililitkannya di leher, dan ujung kain lembut itu dilekatkan di hidung. Syal itu adalah hadiah yang dulu ditolak Ardana. Ia menyimpannya, dan kerap menciuminya sampai terlelap.
Kadang ia mengigau memanggil nama lelaki yang begitu dicintainya. “Kak Arda ….”
***
Kirana bangun kesiangan. Tergesa ia bersiap ke kantor perusahaan Event Organizer tempatnya bekerja setelah lulus kuliah. Meski atasannya tidak akan mempermasalahkan keterlambatannya, tetap saja ia merasa tak selayaknya menunjukkan perilaku tidak disiplin.
Sampai di meja kerjanya, ia menemukan buket bunga mawar berkombinasi krisan putih. Ia sudah langsung tahu siapa pengirimnya. Meski demikian, ia membuka juga amplop kecil pengirim di sela kuntum-kuntum berwarna merah. Isinya tulisan ucapan dari Rasya. “Semoga harimu selalu indah.”
Seperti kiriman bunga sebelumnya dari lelaki itu, Kirana membawanya keluar dan meletakkannya di meja resepsionis kantor.
“Besok … kalau ada yang kirim bunga lagi buatku, kamu taruh aja di sini, ya! Bagus buat pajangan,” pinta Kirana pada anak magang baru yang menjadi penerima tamu.
Gadis yang berstatus mahasiswi itu mengangguk. Meski penasaran, ia tak berani menanyakan alasan Kirana.
“Terima kasih.” Kirana tersenyum sambil berbalik kembali ke mejanya.
Baru saja duduk, Rasya menelepon. Ia tidak mempedulikannya. Kan tetapi, lelaki itu tak putus asa dan mengirimkan sebuah pesan. “Halo, Kirana. Sudah terima bunga dariku?”
Semula, Kirana tidak ingin menjawab. Namun, ia tak mau sedemikian tidak sopannya kepada lelaki yang menurut Desta adalah seorang pengusaha.
Ia menggerakkan jari-jarinya cepat. “Sudah, terima kasih ya Pak. Sebaiknya nggak usah repot-repot kirimin aku bunga terus. Aku alergi serbuk sari.”
“Oh, maaf. Sebaiknya aku kirimin kamu apa? Kasih tahu aku yang kamu suka,” respon Rasya.
“Yang aku suka adalah … nggak usah dikirimin apa-apa lagi dan nggak usah diperhatikan lagi.” Kirana terang-terangan menuliskan keinginannya.
“Wah, maaf. Aku nggak mau itu. Aku akan tetap mengirimkan sesuatu sampai kamu suka dan jadi minta diperhatikan terus.” Rasya mengiringi akhir tulisannya dengan emoji senyum dan gambar hati.
Kirana meletakkan ponselnya. Risih ia dengan reaksi Rasha, yang tak pantang mundur biarpun sudah ditolak berkali-kali.
“Kirana! Kamu ditunggu Bu Diana di ruang rapat!” seru seorang rekannya.
Tanpa menunda lagi, ia bergegas menyambangi atasannya. Di ruang pertemuan, Diana sedang berbincang dengan seorang wanita berambut coklat. Kirana sejenak terpesona dengan kilau kulit wajahnya yang putih tak bernoda, alis yang rapi dan bulu mata yang panjang dan lentik.
“Selamat pagi.” Kirana sopan menyapa.
“Selamat pagi!” Diana tersenyum. “Selamat juga karena acara semalam sukses. Ibu si pengantin telpon aku tadi pagi … bilang sangat puas dan suka dengan semuanya.” Wanita anggun berusia empat puluh tahunan itu tersenyum bangga.
“Terima kasih, Bu Di.” Hati Kirana berbunga. Ia senang, kerja kerasnya di divisi wedding organizer dihargai.
“Kenalkan … ini Friska. Dia akan menikah dan meminta bantuan kita mengurus acaranya.” Diana memperkenalkan tamunya.
Kirana maju untuk menjabat tangan Friska. Wanita itu menyambut salamnya dengan sikap anggun.
“Friska akan menikah dua bulan lagi,” ucap Diana. “Kamu jadi project manager yang in charge ngurus acaranya.”
“Baik.” Kirana memusatkan perhatian pada wanita cantik di depannya. “Apa Kak Friska sudah punya bayangan … mau model pernikahan yang seperti apa?” tanya Kirana.
Friska tersenyum seraya menyodorkan sebuah map binder berukuran setengah folio. “Ini adalah my wedding dream book … isinya tentang konsep pernikahan yang aku inginkan. Aku mulai membuatnya sejak setahun lalu, sejak aku bertemu calon suamiku. Aku akan tinggalkan buat kamu lihat. Aku harap kamu bisa mewujudkan semuanya.”
Kirana menerimanya. “Tapi sebelumnya, mohon maaf … calon suami Kakak nggak ikut kesini?” tanya Kirana. Ia heran, karena tak biasanya calon pengantin wanita datang sendirian membahas rencana pernikahannya. Jika tidak dengan pasangan, paling tidak dengan keluarganya.
“Dia nggak bisa datang sekarang hari ini, sedang banyak pekerjaan.” Friska menyibakkan rambut coklatnya. “Dan karena aku juga ada keperluan lain, mungkin kita bisa ketemu lagi … besok siang?”
“Bisa.” Kirana menyanggupi. “Kami akan pelajari dulu buku ini. Besok akan kami tunjukkan proposal konsep acaranya.”
“Baik, terima kasih.” Friska berpamitan.
Sepeninggal Friska dan Bu Diana yang kembali ke ruangannya, Kirana tetap duduk berdiam di ruang meeting. Sebelum ia mengumpulkan tim ia harus memastikan dulu apa yang diinginkan kliennya. Dibukanya lembar demi lembar buku yang lebih menyerupai kliping itu.
Dari susunannya, Kirana dapat menilai bahwa Friska adalah wanita perfeksionis yang terorganisir. Binder itu memiliki folder-folder yang mengelompokkan potongan-potongan gambar dari majalah dan foto-foto, ke dalam tema pakaian pengantin, dekorasi, makanan, undangan, souvenir, dan lainnya. Ia jadi penasaran, seperti apa lelaki yang menjadi calon suami Friska.
Jari-jari Kirana terus menyibak setiap lembar. Otaknya langsung berputar mencocokan vendor-vendor yang bisa memenuhi keinginan Friska. Tangannya lalu berhenti di halaman terakhir. Tubuhnya membeku, dan matanya terpaku pada gambar yang tertempel di sana. Di bawah tulisan tangan ‘my future husband’ terpampang jelas foto Ardana.