Tak Ada Pilihan

1264 Words
Seketika, segenap saraf Kirana tegang. Matanya terasa panas sementara jari-jarinya gemetar. Udara di sekitarnya terasa menipis hingga membuat dadanya sesak. “Ya, ampun! … Kok bisa menikahnya sama Kak Arda,” keluhnya sambil menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan agar sesaknya terkendali. Ia merasa sangat terpukul. Selang sepuluh menit, ia mulai bisa menguasai diri. Dengan tangan yang masih gemetar dan tubuh panas dingin, ia meneliti kembali binder Friska. Dari isinya, Kirana mengetahui sejarah hubungan wanita itu dengan Ardana. Mereka rupanya bertemu setahun yang lalu. Walaupun itu terjadi di waktu ia dan Ardana sudah berpisah, tetap saja hatinya terasa sakit. “Kirana!” panggil Desta. Tanpa disadari, rekan lelakinya itu sudah berada di dalam ruangan. “Iya … ada apa?” Setengah gugup, Kirana merespon. “Kamu kenapa?” tanya Desta dengan tampang heran. Ia duduk di sebelah Kirana, memperhatikan gadis itu lebih dekat. “Nggak apa-apa. Memangnya kenapa?” Kirana merapikan rambutnya, seolah bagian itu yang menjadi pusat perhatian Desta. “Mukamu pucat. Terus mata dan hidungmu merah. Kamu habis nangis?” Desta meneliti lebih detail. Kirana menarik selembar tisu di atas meja, dan mengusap matanya yang memang terasa berair. Rupanya, tangis yang ditahannya tetap saja meninggalkan bekas di mukanya. “Ada masalah apa?” tanya Desta penuh perhatian. “Nggak ada masalah. Aku cuma lagi capek aja.” Kirana berkilah. “Tapi, kalau nggak ada masalah kok mukamu sedih begitu?” Desta tak langsung percaya. “Hmmm … aku habis keingat almarhum orang tuaku.” Kirana berbohong. Ia tak mau temannya tahu tentang luka batinnya. Desta berhenti bertanya. Ia menatap Kirana lekat, dan seperti memahami perasaannya. “Buku apa itu?” Mata Desta beralih pada binder di depan Kirana. “Oh, ini buku wedding dream punya klien baru kita.” Kirana menyodorkannya kepada Desta. Desta tak langsung membukanya. Ia mengikat rambut panjangnya terlebih dahulu sebelum menyibak lembar demi lembar sambil memberikan komentar pujian dan kritik atas impian Friska. “Nggak sinkron nih temanya, antara dekorasi sama warna kebaya pengantinnya. Makanan juga sama. Western ditabrak sama makanan Timur Tengah?” Kening Desta berkerut. “Gimana juga konsepnya?” Kirana tidak menjawab. Ia Ia mencoba tetap bisa bersikap senormal mungkin, meski dadanya masih berdebar dan badannya panas dingin. “Aku mau cek media sosialnya. Siapa namanya?” tanya Desta sambil membuka layar ponselnya. “Friska Amalina.” Suara Kirana agak parau saat mengucapkan nama perempuan itu. “Kita lihat bareng, ya!” Desta menyalakan smart tv di ujung ruangan dan menghubungkan ponselnya. Jemari Kirana tidak henti saling memilin saat memperhatikan apa yang dilakukan pria yang penuh percaya diri itu. Ia juga tidak bisa mencegah perbuatan tersebut. Memeriksa media sosial adalah salah satu cara umum yang digunakan untuk menggali informasi mengenai latar belakang dan selera klien, sebagai dasar menyesuaikan layanan yang akan diberikan. Foto dan video Friska terpampang jelas di layar TV 70 inci. Jantung Kirana berdegup kencang saat Desta mulai menggulirkan layar. Rekannya itu mengulik satu per satu postingan. Spontan Kirana menutup mulutnya yang bergetar ketika rekaman sosok lelaki yang begitu dirindukannya muncul di depan mata. Biarpun hanya melalui foto dan video, melihat Ardana lagi setelah dua tahun berlalu, mengguncang jiwa sekaligus membakar emosinya. Ia cemburu menyaksikan kemesraan mantan kekasihnya itu bersama wanita lain. “Orang kaya banget ini sih, Kir. Kamu lihat deh outfit, rumah dan mobilnya. Jalan-jalannya juga banyakan ke luar negeri. Sering ikut event lari maraton juga ternyata. Bukan cuma lokal tapi juga internasional. Dia ketemu calon suaminya pas lagi ikut London Marathon tahun kemarin.” Desta menyimpulkan. Kirana maklum. Pertemuan yang kebetulan sangat mungkin terjadi, sebab Ardana sedang kuliah di itu. Kirana menelan ludah, menyadari jauhnya perbedaan hidupnya dengan dunia Friska. Jika ia bekerja keras untuk bisa hidup, wanita itu sepertinya hanya berusaha menikmati hidup. Kontras sekali. Desta memandangi lama sebuah foto yang menampilkan Friska dan Ardana sedang berdiri setengah berpelukan dengan latar belakang Menara Eiffel. Ia tidak menyadari air muka Kirana semakin pias memelas. “Di foto ini, aku lihat perempuan dan lelakinya serasi banget. Cantik dan ganteng. Wajah mereka juga mirip. Kata orang sih seperti botol ketemu tutupnya … berarti memang jodohnya nih.” Desta memberikan penilaian. Hati Kirana seperti terlecut mendengar ucapan Desta. Kakinya lemas. Ia tak siap menerima kenyataan bahwa Ardana sudah menemukan belahan jiwanya di Friska, bukan di dirinya. Ia kecewa bukan main sebab cinta pertamanya itu telah membuka hati untuk orang lain sementara ia tetap menutupnya. “Permisi, aku mau ke kamar mandi dulu!” Kirana beranjak dan setengah berlari meninggalkan Desta. Di salah satu bilik toilet, Kirana tak mampu membendung air mata. Ia iri luar biasa dan menyesal telah memutuskan lelaki baik itu. Ketika teringat alasannya, tangisnya semakin dalam. Pengalaman perih yang telah dikubur akibat Gayatri memaksanya meninggalkan Ardana seolah bangkit kembali. Bukan cuma membayangi, tapi seperti nyata hadir mencengkeram jiwanya lagi. Rasa percaya diri yang susah payah dibangunnya, seketika runtuh. Butuh waktu setengah jam agar Kirana bisa menguasai emosi yang bergejolak. Di depan cermin, ia menatap wajah dan penampilan. Tanpa dapat dicegah, ia membandingkan dirinya dengan Friska. Meski kini ia punya pekerjaan dengan penghasilan yang lebih dari cukup, tetap saja ia merasa kalah dari wanita itu. Seperti yang pernah dikatakan Gayatri, dirinya tidak berarti dan tidak sepadan dengan Ardana. Setelah merenung, Kirana memutuskan dirinya tak akan mampu bekerja menangani tugas barunya. Hatinya terlalu rapuh bertemu lagi dengan Ardana. Dia juga yakin, Gayatri tidak akan menyetujui dirinya menjadi perancang pernikahan anaknya. “Apa alasannya?” tanya Diana dengan tatapan menelisik kala Kirana menyampaikan keberatannya. “Saya … mau cuti.” Kirana mencari jawaban teraman. “Cuti?” Kening Diana berkerut. “Maaf, Bu. Sejak bekerja di sini, saya nggak pernah ambil cuti. Jujur saja, saya lagi merasa jenuh dan sedikit lelah,” jelas Kirana yang kemudian langsung disesali. Jenuh dan lelah sepertinya bukanlah alasan yang profesional untuk menghindari tugas. Namun, memberitahukan alasan penyebab sebenarnya juga sama saja. Diana tidak langsung menanggapi. Sebagai wanita yang sudah banyak pengalaman, ia bisa menangkap kegelisahan anak buahnya. Ia menebak, inti persoalannya pasti tak jauh dari soal asmara. Hal yang umum diresahkan wanita muda seusia Kirana. “Ada masalah lain?” Diana mencoba menyelami perasaan Kirana lebih dalam. “Nggak ada, Bu,” jawab Kirana lirih. “Yakin?” tanya Diana menegaskan. “Nggak ada masalah pribadi atau keluarga?” “Iya saya yakin. Masalah pribadi ada. Saya memang merasa down karena lagi teringat mendiang orang tua saya. Besok genap empat tahun mereka meninggal,” ucap Kirana. Ia takjub sendiri dengan kelihaiannya menggeser fakta. Diana menarik napas. Ia hapal karakter semua pegawainya. Sejak awal, Kirana termasuk yang paling tertutup soal kehidupan pribadinya. Namun, ia sangat beritegritas melaksanakan tugas-tugasnya. Sering, ia menilai gadis ini terlalu keras pada dirinya sendiri. Wajar saja bila akhirnya jadi letih. “Baiklah, Kirana. Aku kasih kamu izin cuti dua minggu. Tapi, sebelumnya … buatkan dulu proposal penawaran untuk proyek pernikahan Friska. Nanti aku akan tugaskan Desta yang in charge.” Diana tersenyum. “Kenapa nggak sekalian Desta saja yang buat?” Kirana menawar. “Friska memilih perusahaan ini karena dia terkesan dengan pernikahan yang pernah kamu tangani. Jadi, aku harus memastikan ada peran kamu di acaranya. Aku tunjuk Desta yang handle, karena kepala kalian isinya hampir sama. Kamu pintar di konsep, sedangkan Desta jago mengeksekusi.” jelas Diana. “Selesaikan hari ini, jadi besok kamu sudah bisa mulai cuti. Oke?!” tantang Diana. “Kalau saya nggak mau?” Kirana memancing. Ingin ia tetap menolak perintah itu. “Kamu nggak punya pilihan, Sayang.” Diana menggeleng. Hatinya yang sudah gundah, tambah jadi tidak karuan. Ia seperti terperangkap di ruangan tanpa jalan keluar. Dalam hati ia mengeluh, “Tuhan … mengapa harus seperti ini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD