Dengan mood berantakan, Kirana mengerjakan tugasnya. Ia membutuhkan waktu lama karena tergoda menelusuri unggahan konten Friska yang malah semakin membuatnya iri. Hingga menjelang sore, ia belum juga selesai menghasilkan satu konsep utuh. Menurutnya, banyak hal yang diimpikan Friska tidak sinkron dengan kepribadian Ardana.
“Sudah selesai?” tanya Desta yang duduk di seberangnya. Sudah tiga kali ia mengulang pertanyaan yang sama.
“Belum,” jawab Kirana.
“Berapa lama lagi?” Desta mulai gelisah.
“Sebentar lagi.” Kirana mendongak memandang rekannya. “Kalau kamu tanyain terus, aku bakal lama selesainya.
“Kenapa kamu menolak jadi project manager wedding ini?” Desta malah mengalihkan pembicaraan. “Padahal, bonusnya gede. Katanya kamu mau beli mobil.”
“Aku nggak niat beli mobil dulu, tapi rumah.” Kirana meralat. “Aku nolak karena aku mau cuti.”
“Dalam rangka apa?” Desta penasaran.
Kirana menarik napas. “Aku ada urusan mendadak.”
“Urusan apa?” desak Desta. Ia tidak bisa menutupi rasa ingin tahunya.
“Urusan pribadi!” Kirana mulai kesal. “Kenapa sih, kok kamu pengen tahu aja masalah aku?”
Desta menatap Kirana lekat. “Jadi, sebenarnya kamu itu ada urusan atau masalah?”
“Apa bedanya?” sengit Kirana.
“Beda dong!” kilah Desta. “Kalau urusan, itu seperti tugas yang harus kamu jalankan atau selesaikan. Sedangkan masalah adalah kesulitan atau kendala yang kamu hadapi ketika kamu menyelesaikan sebuah urusan.”
Kirana merengut. Teori Desta menambah kusut hati dan otaknya.
“Sori, Kir … aku harus pergi soalnya. Nggak bisa nungguin kamu sampai malam. Ada janji yang nggak bisa aku tunda,” ungkap Desta.
“Pergi saja. Nanti aku kirimkan konsepnya ke email kamu,” ujar Kirana sambil kembali menatap laptopnya.
Desta kemudian pergi, disusul yang lainnya. Kantor pun sepi. Di tengah kesendirian, ia mulai bisa berpikir jernih. Dibuatnya dua konsep proposal. Satu yang murni berdasarkan keinginan Friska, dan satu lagi yang dipadukan dengan selera Ardana yang ia ketahui. Setelah mengirimkannya kepada Desta dan Bu Diana, ia pulang.
Dua hari, Kirana berdiam diri di kamarnya. Menangis dan meratap. Ponselnya ia matikan, sehingga tak ada satu orang pun yang bisa menghubunginya.
Di hari ketiga, ia menatap dirinya di cermin. Kusut masai, pucat dan seperti manusia tak waras. Ia jadi kasihan dengan dirinya sendiri yang telah menyengsarakan hidupnya dengan masih saja belum bisa move on dari cintanya pada Ardana.
“Hei, perempuan bodoh!” sapanya pada bayangan di depannya. “Hidup ini sudah ada yang ngatur. Kadang Tuhan memang juga suka bercanda. Tapi, hampir saja nakdirin aku jadi wedding organizer mantan pacar aku … kayaknya nggak lucu banget!”
Kirana cemberut. Melihat sosok yang dipantukan cermin semakin mengibakan, ia tersenyum dan mulai tertawa sendiri.
“Maaf ya, Tuhan … karena sudah jadi manusia lemah yang nggak bersyukur. Aku percaya takdirMu pasti yang terbaik. Kak Arda nggak berjodoh dengan aku pasti ketetapan yang baik dariMU. Aku ikhlas …,” ucap Kirana sambil menadahkan kedua tangannya.
Maka, setelah menarik napas panjang, ia memutuskan untuk bangkit dari kesedihannya. Satu jam kemudian ia sudah berada di perjalanan menuju Cipanas yang merupakan tempat kelahiran dan dirinya dibesarkan. Di daerah itu pula orang tuanya dimakamkan.
Semasa hidupnya, orang tuanya tidak memiliki rumah sendiri. Dahulu ayahnya hanya mampu menyewa rumah petakan kecil di dekat pasar. Jadi, setelah berziarah dan mengunjungi kerabat jauhnya, ia menuju hotel terdekat untuk beristirahat. Esoknya, ia kembali ke Jakarta. Berlama-lama di kampung halamannya malah membuatnya penat.
***
Kirana baru menyalakan kembali ponsel ketika sudah kembali ke unit apartemen kecilnya. Catatan puluhan panggilan dan pesan langsung memenuhi layarnya. Diana, Desta, Rasha dan lainya.
Baru ia akan membuka aplikasi pesan, pintu unitnya diketuk dengan cukup keras. Kirana mengintip melalui lubang kaca pengintai. Desta terlihat berdiri tegak.
Penuh rasa heran, Kirana membuka pintu. “Hai … ngapain kamu kesini?”
“Nyari kamu!” Desta menerobos masuk. Mukanya tegang.
“Ada apa?” Kirana menyusul temannya duduk di sofa 2 seater.
“Kamu kemana aja sih? Ditelfon nggak bisa,” keluh Desta.
“Eh, kamu ‘kan tahu aku lagi cuti,” sela Kirana.
“Ya, tapi jangan sampai matiin hape juga!” Desta sungguh kesal.
“Aku lagi nggak mau diganggu siapapun,” kilah Kirana. “Memangnya ada apa, sih?”
“Friska suka proposal alternatif kamu,” jawab Desta.
Kirana tertegun, tetapi cepat mengendalikan sikap. “Bagus, dong!”
“Persoalannya … dia nggak suka dengan apa yang aku kerjakan. Padahal, aku cuma ikutin penawaran yang kamu buat.” Desta menghela napas panjang.
“Kok aneh?” Kirana heran.
“Dia hubungin kamu, nggak?” tanya Desta.
“Aku … nggak tahu. Hape aku ‘kan mati.” Kirana beranjak dan mengambil ponselnya di kamar.
Ternyata, memang ada pesan dari wanita itu untuknya. “Kirana, ini Friska. Aku suka proposal kamu. Calon suamiku juga langsung cocok. Kamu bisa pas banget nyatuin gaya kita berdua. Jadi, kami mau kamu yang in charge … bukan Desta. Aku nggak suka dia.”
Dada Kirana bergemuruh. Ketenangan yang baru dibangunnya, seakan terkoyak.
“Friska kirim pesan ke kamu?” Desta penasaran.
“Hmmm … nggak ada.” Kirana pura-pura sibuk menggulirkan layar. Ia tak mau memperburuk suasana hati temannya.
Desta menyandarkan kepala. Matanya terpejam. “Aku nyerah, Kir. Aku males kerja sama orang yang bawel.”
“Belum apa-apa kok sudah nyerah. Selama ini kamu nggak pernah komplain kalau aku bawelin.” Kirana mencoba menenangkan.
“Bedalah. Kalau kamu bawelnya cuma di mulut, tapi dasarnya kamu sayang sama aku. Kalau Friska, kayaknya benci banget sama aku. Padahal, kenal juga baru.” Desta mencurahkan resahnya.
Kirana diam saja. Dalah hati, ia membaca ulang pesan Friska dan menulliskan jawaban. “Maaf Friska. Aku nggak bisa.”
Sebelum tidur malam, Kirana membuat rencana untuk mengisi hari esok. Pagi, ia akan membersihkan dan menata ulang interior apartemennya. Siang, ke toko buku dan berbelanja bahan makanan, lalu menonton film di layanan streaming sepuasnya.
Akan tetapi, yang terjadi kemudian tidak sesuai dengan yang dibayangkan. Selesai mandi, Diana menelepon. Kirana tidak menjawab. Namun, panggilan tersebut terus diulang. Akhirnya, pada kali keempat, ia menjawab juga.
“Maaf, Ibu. Saya baru selesai mandi.” Kirana memberikan alasan.
Terdengar helaan napas panjang Diana. “Ya, oke.”
“Ada apa, Bu?” tanya Kirana.
“Aku minta, pagi ini kamu masuk kantor!” kata Diana tegas.
Kirana kaget. “Tapi, saya ‘kan lagi cuti.”
“Cutimu aku batalkan.” Nada suara Diana datar tanpa perasaan.
Rasa terkejut Kirana bertambah. Ia tak menyangka atasannya setega ini.
“Aku akan memberikan kompensasi atas cutimu, yang penting kamu datang hari ini.” sambung Diana.
“Kenapa penting?” tanya Kirana.
“Friska maunya, kamu yang jadi project manager acara pernikahannya,” jawab Diana.
Jawaban itu, membuat jantung Kirana berdetak kencang. “Kenapa harus saya? Saya sudah bilang ke Friska kalau saya nggak bisa.”
“Kamu harus bisa. Alasan Friska memakai jasa EO kita karena dia terkesan sama kamu. Aku dan dia sudah tanda tangan kontrak. Kalau kamu menolak in charge, dia akan menuntut perusahaan kita telah wanprestasi karena dianggap tidak memberikan layanan sesuai yang diinginkan.” Diana menjelaskan. “Jadi, kamu harus mau!”
Kirana terperangah. Tak menyangka penolakannya akan berdampak sejauh itu.