Teman

1143 Words
Campur aduk tak karuan, adalah perasaan Kirana ketika siang itu ia harus menemui Friska, dan kemungkinan besar Ardana juga. Bersama Desta ia tiba di kediaman orang tua Friska, setengah jam lebih awal dari waktu yang ditentukan. “Hai, Kirana!” Friska langsung menyambutnya dengan senyum berbinar. “Terima kasih sudah mau langsung in charge acara nikahan aku.” Kirana tersenyum, menyambut salam hangat Friska. Ia terkagum sendiri melihat penampilan wanita itu, yang tetap anggun walau masih mengenakan one set piyama dan wajahnya belum terpulas make up. “Eh … tangan kamu kenapa dingin banget?” Friska meraba jari Kirana hingga ke lengannya. “Kamu lagi sakit?” “Nggak … aku nggak sakit … mungkin karena tadi AC di mobil terlalu dingin.” Kirana mengelak sambil melirik Desta yang bingung. Sebab, pendingin mobilnya justru sedang bermasalah. “Oh, kalau gitu kita ngobrolnya di teras belakang yuk! Di sana hangat.” Friska menarik lengan Kirana. Desta mengikuti dengan kening berkerut. Sejak berangkat dari kantor tadi pagi, ia memang melihat ada gelagat yang aneh di diri Kirana. Ia jadi menduga, rekannya itu sebenarnya memang sedang sakit. “Kalian tunggu di sini, ya! Aku mau ganti pakaian dulu,” kata Friska sebelum berlalu. “Baik. Terima kasih.” Desta menjawab, sebab Kirana tampak seperti orang yang gugup. Kirana memilih duduk di salah satu kursi rotan. Namun, satu menit kemudian, ia pindah ke kursi lain yang lebih panjang. Tak lama kemudian, ia bergeser ke kursi semula. “Kenapa pindah-pindah, sih?” tanya Desta heran. “Cuma cari posisi yang enak,” jawab Kirana sambil merapikan rok agar menutupi lututnya. Desta duduk di kursi sebelahnya. Tanpa basa-basi, ia menempelkan telapak tangan kanannya di kening Kirana, sementara tangan kirinya menggenggam jemari Kirana. “Ih, apaan sih?” Kirana spontan menepisnya. “Cuma mau ngecek, beneran dingin nggak. Heran aku, soalnya AC mobilku tadi ‘kan panas.” Desta menjelaskan. Kirana merengut. Ia lupa kalau Desta adalah pria yang sulit dibohongi dan mudah curiga. “Kamu kenapa?” tanya Desta lembut, seolah penuh perhatian. “Nggak apa-apa.” Kirana melebarkan bibirnya, tersenyum untuk membuktikan bahwa memang tidak ada masalah dengan dirinya. “Tapi, kamu kelihatan gugup banget hari ini,” kata Desta khawatir. “Hmm … mungkin karena aku seharusnya hari ini sedang menikmati cuti, tiduran sambil nonton film. Makanya, pikiranku nggak fokus sama kerjaan.” Kirana memberikan alasan. “Jadi, gara-gara aku nih?” Desta merasa bersalah. “Aku nggak bilang gara-gara kamu. Kok, sensi?” Kirana heran. “Iyalah! Kalau aku bisa handle bener proyek ini dari awal, Friska nggak akan minta kamu yang pegang, dan Bu Diana nggak maksa kamu juga sampai batalin cuti kamu,” ujar Desta. “Jadi, ini salah aku ‘kan?” “Nggak.” Kirana terus mengelak. “Jujur, aja! Jangan pura-pura sama aku.” Desta mendesak. “Iya, ini memang salah kamu.” Kirana memilih mengiyakan untuk menyudahi drama perdebatan. “Jadi, kamu marah sama aku?” Desta tampak gusar. Kirana menarik napas panjang. Kadang, Desta terlalu sensitif dan membuat pelik hal yang sebenarnya tidak perlu jadi masalah. “Percuma marah sama kamu,” sahut Kirana. “Marah aja … nggak apa-apa, kok.” Desta seperti mendesak. “Aku nggak mau marah, tapi aku minta kamu sekarang diam, nggak berisik dan tenang, supaya aku nggak tambah stres dan gugup.” Kirana menatap Desta. “Oke!” Desta mengangguk dengan disertai senyum setuju. “Nanti, aku traktir kamu makan sop iga. Sebagai tanda aku minta maaf karena udah bikin kamu marah.” “Terserah.” Kirana menarik napas. Waktu berjalan lambat, sementara degup jantung Kirana seperti tabuhan bedug yang menghentak-hentak. Ia berdebar sebab belum tahu bagaimana reaksi Ardana bila melihatnya lagi. Apalagi jika tahu, mantan kekasihnya menjadi perancang acara pernikahannya. Ada rasa yang mendesak karena gejolak perasaannya. Kirana tak tahan. Ketika asisten rumah tangga Friska selesai menyajikan minuman dan makanan, ia berdiri. “Mbak … saya mau ke toilet. Bisa ditunjukkan di mana?” tanya Kirana sopan. Wanita muda asisten itu mengangguk, dan mengajak Kirana ke dalam rumah. Diantarkannya hingga ke depan kamar mandi untuk tamu. Di cermin wastafel, Kirana menatap wajahnya yang tampak pucat. Ia memulas lagi bibirnya, menyisir rambut dan merapikan pakaiannya yang sebenarnya tidak berantakan. Akan bertemu lagi dengan Ardana, membuatnya ingin terlihat lebih baik walau sadar ia tak bisa menandingi keanggunan Friska. Setelah merasa cukup, Kirana keluar. Perlahan, ia menutup pintu. Baru beberapa langkah berjalan, kakinya terpaku. Tubuhnya panas dingin. Matanya tertumpu pada Ardana yang sedang berjalan dari arah pintu masuk. Jarak mereka dekat. Udara ruangan seperti berhenti bergerak. Hening dan hampa. Keduanya bertatapan tanpa kata. Mata Ardana menyiratkan heran dan terkejut yang dalam. Sedangkan Kirana dengan kaki yang terasa goyah, malah menatapnya terpana. Dua tahun berpisah, penampilan Ardana berubah lebih dewasa. “Ngapain kamu di sini?” tanya Ardana sedikit parau. Meski sudah berusaha mengendalikan sikap, ia tidak bisa menyembunyikan rasa gelisahnya. “Aku … diundang ke sini.” Kirana menjawab lirih. Ardana menarik napas. “Jadi, kamu ini wedding plannet yang dipilih Friska?” “Iya,” jawab Kirana. “Kamu tahu kalau calon suaminya adalah aku?” tanya Ardana. Kirana mengangguk. Ia bertahan mengangkat kepalanya tegak. “Kenapa kamu tetap mau nerima pekerjaan ini?” Ardana heran. Pertanyaan Ardana jelas mengesankan dirinya tidak diharapkan. Degup jantungnya mereda berganti rasa bersalah. “Aku sudah menghindar. Tapi Friska dan atasanku memaksa.” Kirana membela diri. Mereka saling terdiam beberapa saat. Antara bingung dan upaya menata suasana hati. “Kalau Kakak nggak berkenan, sebaiknya bilang ke Friska supaya mengganti aku.” Kirana akhirnya berkata. “Apa alasannya?” tanya Ardana. “Bilang saja apa adanya … bahwa kita pernah berhubungan, dan kita jadi nggak nyaman,” jawab Kirana. “Atasan kamu tahu soal masa lalu kita?” selidik Ardana. “Nggak … nggak ada yang tahu. Aku nggak pernah cerita soal pribadiku.” Kirana menggeleng. Ardana tahu, Kirana adalah pribadi tertutup. Dulu, hanya kepadanya perempuan muda ini bisa menceritakan isi pikiran dan hatinya. “Hai Sayang!” Suara Friska tiba-tiba menyeruak. “Aku nggak tahu kalau kamu sudah datang.” Kirana mundur selangkah, memberikan ruang untuk Friska melangkah mendekati Ardana. Ia menunduk ketika tanpa sungkan wanita itu memeluk dan mencium calon suaminya. Jantungnya kembali berdetak cepat karena rasa cemburu. “Aku lihat kamu sudah ngobrol sama Kirana. Dia ini yang jadi Wedding Planner kita.” Friska menggayut manja di lengan Ardana. “Iya.” Ardana menjawab. Kirana menguatkan hati mengangkat wajahnya. Ia berusaha tersenyum. “Kayaknya tadi sudah ngobrol serius. Apa kalian sudah saling kenal?” Friska menatap Kirana dan Ardana bergantian. “Iya, kami sudah kenal ternyata. Kirana ini dulu temanku di kampus. Dia adik tingkatku.” “Oh ya? Beneran?” Friska tertawa seakan tak percaya. “Ya ampun, dunia sempit ya ternyata.” Senyum Kirana terus terkembang, sementara matanya memandang Ardana. Sinarnya mengirimkan pertanyaan, mengapa hanya mengatakan bahwa mereka adalah “teman”?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD