Hujan turun sangat deras setelah Leonardo masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikannya entah kemana. Saat ini Leonardo memilih untuk memarkirkan mobilnya di pinggir jalan sejenak. Aria masih tertidur di sebelahnya dengan pulas. Sesekali matanya melirik Aria hanya untuk berjaga-jaga. Dan sekarang rasa bimbang dan bingungnya muncul. Harus ia bawa kemanakah Aria? Ke rumahnya atau ke rumah keluarga Caveensky?
Jika Leonardo membawa Aria pulang ke rumah Caveensky, sudah pasti ada pertarungan antar dirinya dan Frank. Jika Leonardo membawa Aria ke rumahnya, ia tidak yakin akan tidur dengan tenang dan pastinya akan ada perdebatan hebat besok pagi. Leonardo mengacak rambutnya frustasi. Ini semua karena Nate yang tidak tahu diri itu. Kenapa lelaki itu harus one night stand disaat seperti ini? Leonardo berjanji akan meninju habis wajah sepupunya itu besok. Setelah berpikir cukup lama, Leonardo akhirnya mendapat jalan tengah. Ia akan menyewakan kamar hotel untuk Aria dan kembali pulang. Itu adalah satu-satunya solusi paling aman.
"Kenapa kau sungguh merepotkan?" gumam Leonardo saat membopong tubuh Aria ke dalam lobby hotel. Tentu saja dengan tetesan hujan yang cukup membuat pakaiannya basah.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang wanita dengan senyuman sopannya. Tetapi matanya berbinar melihat rambut Leonard yang basah kuyup dan membuat kesan tampan pria itu bertambah.
"Siapkan satu kamar untuk anak ini," ucap Leonardo datar. Wanita itu segera mengurusnya dan memberikan kartu kamarnya kepada Leonardo.
Tidak perlu lama-lama sampai akhirnya Leonardo menaruh tubuh Aria ke atas kasur. Nafasnya berhembus lega. Ia melenturkan sekilas pinggangnya yang pegal itu. Saat melihat tampilannya di kaca, Leonardo rasa lebih baik ia mandi sejenak dengan air hangat. Lagipula Aria sedang tidur. Leonardo menghubungi sekretarisnya, Endy, untuk membawakan bajunya ke hotel.
Satu-satu ia lepaskan kancing kemejanya dan pakaian yang melekat lainnya. Menyalakan shower air hangat yang segera mengguyur tubuhnya. Rasa nyamannya mulai mengalir di dirinya. Matanya terpejam menikmati setiap air yang mengalir pada tubuhnya. Sebelum akhirnya segala kenikmatan itu berakhir karena suara jeritan gadis kecil.
"Siapa kau?! Berani sekali membawaku ke kamar hotel! Kau pikir aku ini wanita apa?! Murahan?!"
Leonardo mengernyit heran bercampur jengkel kepada Aria yang sudah membelakangi tubuhnya. Ia meraih handuk kimono dan segera menggunakannya. "Cepat jawab aku! Apa yang sedang kau lakukan sebenarnya!"
"Tidurlah, aku sangat pusing mendengarkanmu," ucap Leonardo datar dan melewati Aria untuk ke luar kamar mandi. Bertepatan dengan suara bel kamar yang berbunyi. Aria mengernyit bingung saat seorang lelaki lainnya masuk ke dalam kamarnya. Perasaannya tidak enak.
"Kau ini siapa lagi? Kenapa aku berakhir di hotel dengan pakaian yang basah seperti ini?" tanya Aria kepada Endy bertubi-tubi. Endy yang tidak tahu bosnya sedang bersama seorang wanita, ia melirik Leonardo untuk meminta penjelasan.
"Tenanglah, aku akan meninggalkanmu di sini," ucap Leonardo yang sudah lengkap dengan pakaian santainya. Kaos lengan pendek berrwarna hitam dipadu celana jeans. Tentu saja ia menggantinya di kamar mandi.
Aria mengernyitkan dahinya tidak setuju. "Lalu aku bagaimana?"
"Kau ingin ikut denganku?" jawab Leonardo tidak yakin dengan maksud Aria tersebut. "Berhentilah menggangguku."
"Kau pikir aku suka mengganggumu? Kau hanya pria tua yang memiliki banyak masalah di sekelilingmu!"
Leonardo memutar matanya malas. Lagi-lagi Aria membuat darahnya mendidih. "Lalu kau mau apa?"
"Aku tidak ingin apa-apa, kau hanya perlu bertanggung jawab mengantar ku pulang." Aria menyilangkan tangannya di d**a.
"Itu bukan tugasku."
"Lalu?"
"Mintalah kekasihmu untuk mengantarmu pulang, dan tanyakan apa yang sebenarnya terjadi." Kerutan di dahi Aria semakin mendalam. Ia benar-benar tidak mengerti maksud Leonardo.
"Kekasihku? Aku bahkan tidak memiliki kekasih!" Leonardo memejamkan matanya menahan amarah.
"Telepon Nate sekarang juga dan suruh dia mengurus bocah kecil ini." Tanpa mempedulikan Aria, Leonardo lebih dulu pergi meninggalkan kamar hotel yang membuatnya muak itu. Benar-benar menyusahkan.
º~º
Aria menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Sesaat dua pria asing yang ia tidak ketahui itu pergi, ia masih memikirkan apa yang telah terjadi. Ia benar-benar lupa apa yang telah terjadi di club tadi. Kenapa nama Nate disebut oleh pria tua itu? Aria bahkan belum mengetahui nama dari Leonardo. Ia juga tidak tahu siapa Endy. Hembusan nafasnya lagi-lagi terdengar. Kepalanya pening, perutnya mual, hujan deras, serta waktu yang sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Belum lagi tubuh dinginya karena pakaiannya yang basah kuyup. Selimut tebal kamar tersebut tidak cukup menghangatkan tubuhnya.
Ting! Tong!
Bel kamar Aria berbunyi. Ia segera bangkit dan membuka pintu kamarnya dengan cepat. Lelaki yang sangat familiat baginya muncul di hadapannya itu. Nate telah mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai. Lelaki itu tersenyum tipis dengan tangannya yang membawa sesuatu.
"Apa kau baik-baik saja? Aku membawakan pakaian dan makanan untukmu." Aria mengangguk kaku dan mempersilahkan Nate untuk masuk ke dalam. "Jadi Leonardo membawamu ke sini?"
"Leonardo? Siapa itu?" Aria duduk di pinggir ranjang menghadap Nate yang duduk di sofa kecil sudut kamar.
"Dia sepupuku, maaf aku harus meninggalkanmu padanya tadi, aku memiliki urusan penting," ucap Nate penuh rasa sesal. Aria menatapnya datar dan tidak menyahutinya. Ia justru membuka tas kecil yang Nate bawa untuk mengganti pakaiannya. "Apa kau marah? Maafkan aku, Ar."
"Sudahlah itu tidak penting, lagipula sepupumu itu tidak melakukan apa-apa." Aria berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia merasa lega dapat berganti pakaian piyama yang Nate bawa. Tubuhnya jauh lebih hangat dengan balutan piyam berwarna pink tersebut.
Aria keluar dan kembali duduk di pinggir ranjang. "Bagaimana kau ada di club itu tadi?"
"Hmm, aku ada janji bersama temanku dan aku melihatmu di tengah keramaian." Aria mengangguk mengerti sembari membuka bungkusan makanan siap saji. "Kau sangat mabuk tadi."
"Ya begitulah, aku hanya ingin bersenang-senang."
"Tetapi kau bisa saja dalam bahaya jika hal itu terjadi lagi," ucap Nate lebih tegas.
"Lalu? Apa hakmu mengurusi hidupku?" Nate menghela kasar. Ia lupa kalau aria bukanlah gadis yang mudah dirayu. "Pulanglah, aku ingin tidur."
"Kau tidak ingin kutemani?" goda Nate yang segera mendapat lirikan tajam dari Aria. "Baiklah, aku hanya bercanda. Kalau butuh sesuatu, kau dapat menghubungiku."
"Aku tahu." Nate bangkit dari duduknya dan berniat membuka pintu sebelum Aria menghentikannya. "Maaf atas kejadian di acara tadi dan... terima kasih."
Nate tersenyum tipis dengan posisi masih membelakangi Aria. Lalu berbalik sejenak. "Kuharap Frank memakiku lebih kasar jika itu membuatmu merasa bersalah."
º~º
"Kau baru pulang?" Lagkah Aria terhentikan saat suara tegas yang sedang ia jauhi itu menanyakannya. Frank terlihat begitu santai memainkan tabletnya di sofa ruang tamu. Padahal Aria sengaja pulang lebih siang agar tidak bertemu frank, nyatanya pria itu masih di rumah.
"Menurutmu?" sahut Aria sinis dan melangkah lebih cepat lagi. Ia benar-benar malas bertemu dengan Frank.
"Apa kau bersama Nate semalaman?" Lagi-lagi langkah Aria terhentikan saat menaiki tangga. Dadanya kembali sesak dan memanas. Memoriny berputar pada ucapan Frank semalam.
"Tentu saja, aku ini gadis murahan, sudah pasti aku menghabiskan waktuku bersama lelaki yang baru kukenal." Aria pergi meninggalkan Frank yang terbungkam diam. Kalimatnya itu berhasil menyindir Frank.
Aria masuk ke dalam kamarnya dan segera membersihkan dirinya. Tidak ada hal lain yang ingin ia lakukan pada hari Minggu ini. Hanya merebahkan diri dan menyelesaikan drama-drama yang sedang ia tonton. Setelah menyelesaikan bersih-bersihnya, ia membuka ponselnya dan cukup terkejut. Begitu banyak pesan dari Sharon, Rinne, dan Alea akibat hilangnya Aria kemarin. Sehingga ia harus menjelaskan apa yang terjadi semalam pada dirinya.