PROLOG - Kakak vs Tukang Gombal
"Kak, ada tamu yang ingin bertemu denganmu." Seorang gadis berumur 17 tahun dengan pakaian rumahnya itu, membuka pintu kerja kakak lelakinya. Tidak semua orang dapat mengganggu Frank Caveensky saat lelaki itu sedang bekerja. Terkecuali untuk Aria yang tidak peduli akan aturan konyol yang dibuat oleh kakaknya.
Siapapun yang mengetuk pintu ini saat saya sedang bekerja, akan mendapat konsekuensinya!
Begitulah kalimat yang tertera di depan pintu kerja Frank. Persetan dengan gaji, Aria tidak bekerja untuknya. Sehingga setiap ada sesuatu, para pelayan yang akan meminta tolong kepada Aria untuk memanggilnya.
"Siapa?" sahut Frank tak acuh dan masih sibuk mencoret banyak kertas di mejanya itu.
"Periksalah sendiri, aku memiliki kesibukanku juga. Dan tolong lepas kalimat konyolmu itu di pintu. Jika para pelayan berhenti bekerja, kau juga tidak akan bisa apa-apa." Aria mendengus kesal sebelum akhirnya meninggalkan ruang kerja Frank. Ia sudah lelah terus-menerus dipanggil oleh para pelayan hanya untuk memberi tahu Frank akan sesuatu yang ia tidak peduli.
Aria kembali merebahkan tubuhnya dan melanjutkan kegiatannya, menonton drama Korea Selatan. Malam minggu seperti ini hanya ada satu kegiatan yang sangat ingin ia lakukan. Menghabiskan drama 16 episode itu dalam sehari. Aria bahkan rela tidak mengangkat telepon dari sahabatnya yang ingin mengajaknya pergi ke tempat remang-remang.
"Lebih baik aku menatap wajah tampan Park Seo Joon daripada melihat orang berjoget tidak jelas!" Aria menolak ajakan teman-temannya itu.
Saat hatinya sudah terbawa suasana romantis yang drama itu berikan, matanya berkaca-kaca dan remasan tangannya semakin kuat, seseorang membuka pintu kamar Aria dan menghancurkan momen k*****s tersebut.
"Ada apa lagi, Kak?!" seru Aria kesal campur terkejut pada Frank yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Ganti bajumu, ikut Kakak ke acara para rekan perusahaan," pinta Frank tegas dan tidak bergeming akan omelan Aria sebelumnya.
Aria mengerang malas. "Ayolah... kurasa kedatanganku tidak sepenting itu. Aku benar-benar tidak dapat meninggalkan kasur malam ini."
"Hanya sebentar, Aria, kau bisa melanjutkan duniamu itu setelah pulang nanti." Aria masih berat hati untuk menyetujui ajakan Frank. Bayangan suasana bosan dari acara seperti itu tidak lepas dari kepala Aria. "Akan ada banyak macaron yang kau bisa beli sepulang nanti."
Mata sayuh Aria seketika membesar sempurna. Wajahnya berseri-seri tergiur akan tawaran Frank. Tidak ada alasan baginya untuk menolah sebuah makanan bulat warna-warni berisi cream kesukaannya itu. "Baiklah! Aku akan siap-siap sekarang."
º~º
Alunan musik biola yang Aria dengar dari kejauhan menambah suasana elegan khas ballroom tersebut. Para tamu terlihat berpakaian sangat formal. Pria sudah pasti menggunakan jas hitam dengan kemeja senada dan dipadu dengan celana bahan yang dipastikan dari butik terkenal dengan harga selangit. Begitu juga dengan para wanita, rambut adalah mahkota yang dapat membuat mereka tampil berbeda. Gaun mewah yang dirancang oleh tangan-tangan mahal para ahli, menambah rasa percaya diri mereka untuk mencari teman ataupun pasangan.
Aria tersenyum sinis dalam diamnya. Gaun yang ia pakai juga tidak kalah mahalnya dari mereka semua. Walaupun ia malas datang ke acara seperti ini, ia tetap merupakan adik dari CEO Sky Company yang cukup dinantikan kedatangannya oleh para pengusaha lainnya. Mereka semua jelas tahu siapa Aria, namun tidak satupun dari mereka yang Aria kenal saat ini. Sedari tadi langkahnya hanya mengikuti kemana Frank dan Bram, sekretaris Frank, pergi.
"Apa kau ingin mencoba beberapa makanan di sana?" tawar Frank yang segera disetujui. Sangat disayangkan jika Aria tidak mengisi perutnya dengan hidangan kelas atas yang berjajar di sudut ballroom. Lagipula tidak ada yang dapat ia lakukan selain makan, bukan?
"Jangan kemana-mana, Kak, aku tidak ingin seperti orang bodoh di tengah-tengah mereka karena kehilanganmu," ucap Aria lalu segera pergi ke tempat makanan. Begitu banyak makanan kesukaannya yang berhasil membuat perutnya berbunyi tidak sabar,
"Hmm, yang mana dulukah yang harus kucoba?" gumam Aria sembara menatap lekat hidangan-hidangan tersebut. Mungkin ia hanya lapar mata, namun ia ingin mencoba semua masakan western yang tersaji bebas di hadapannya itu.
"Apa kau begitu bingung untuk memilih?"
"Ya-" Aria menjawab pertanyaan dari seseorang tanpa ia sadari. Kepalanya segera menoleh ke asal suara dan betapa terkejutnya ia melihat seorang lelaki tampan yang tengah tersenyum manis ke arahnya.
"Siapa kau?" tanya Aria berusaha menahan bibirnya yang ingin tersenyum memuji.
Lelaki itu mengulurkan tangannya. "Namaku Nate, kau Aria, bukan? Adik dari Frank Caveensky?"
Aria membalas uluran tangan Nate dan tersenyum kikuk. "Ya, senang bertemu denganmu."
"Kurasa kau butuh pertolongan untuk memilih hidangan yang harus kau coba," goda Nate membuat pipi Aria memerah. Secara tidak langsung, Aria tahu kalau Nate memperhatikan wajah bodohnya tadi.
"Tidak perlu, aku hanya terlalu menyukai semua ini dan tidak ingin menjadi gemuk karena akhirnya aku akan memakan semuanya." Nate tertawa pelan mendengar penjelasan Aria.
"Kau tidak akan gemuk hanya karena memakan beberapa hidangan malam ini, percayalah."
"Kuharap begitu," gumam Aria lalu meraih dua potong pizza dan daging steak kesukaannya. Nate menaikkan alisnya tertarik. "Apa kau terkejut melihatku makan sebanyak ini?"
"Ya... sedikit, tetapi wanita yang berani makan sebanyak dirimu sangatlah menarik di mata para pria. Termasuk diriku."
Aria tersenyum tipis seakan sudah bosan mendengar kalimat seperti itu dari para lelaki. "Ya ya ya, aku akan pura-pura percaya pada ucapanmu." Lalu ia membuka mulutnya untuk melahap sepotong pizza tersebut.
"Hey, aku serius, percayalah. Kau sungguh menarik untuk ku kenali lebih jauh."
"Baiklah, aku percaya padamu. Tetapi bukan berarti aku membiarkanmu mengenal diriku lebih jauh lagi, Nate."
"Ya, kau memang harus seperti itu. Berikan aku kesulitan untuk mengenal dirimu."
"Kau yakin? Aku akan sangat membuat dirimu kesulitan."
"Tidak apa-apa. Itu satu-satunya cara agar aku tahu kapan kau mulai menyukaiku balik." Aria menaikkan sebelah alisnya dengan mulutnya yang masih mengunyah. "Kau akan berhenti memberiku kesulitan jika kau menyukaiku, bukan?"
Aria tertawa mengejek. "Jangan terlalu percaya diri. Mungkin saja aku tidak akan pernah berhenti memberimu kesulitan."
"Kita lihat saja nanti."
"Aria!" panggil Frank tiba-tiba membuat keduanya menoleh bersamaan. Frank menghampiri Aria dengan wajah tidak sukanya. Nate tersenyum sopan saat Frank sudah berdiri di sebelah Aria. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Kau tidak melihat aku sedang mengunyah? Tentu saja aku sedang makan."
"Lalu mengapa ada dia bersamamu?" Aria mengernyit tidak yakin.
"Nate? Dia hanya lelaki asing yang tiba-tiba menghampiriku dan menunjukkan skill gombalannya."
Seketika tatapan tajam Frank beralih ke arah Nate. Tentu saja Nate bergedik gemetar. Tetapi ia harus menjadi pria sejati yang berani menghadapi segala kesulitan. "Malam Frank, namaku Nate De-"
"Aku tidak peduli, jauhilah adikku sebelum kesabaranku habis," pinta Frank tegas dan dingin. Jelas membuat Aria bingung setengah mati. Frank tidak pernah ikut campur masalah asmaranya selama ini.
Nate memudarkan senyumannya dan menjadi gugup seketika. "Maafkan aku, Frank, tetapi aku tidak berniat melukai Aria."
"Aku bilang aku tidak peduli! Aku hanya tidak ingin bocah lelaki seperti dirimu mendekati adikku. Apa kau paham?"
"Kak, ada apa denganmu?" tegur Aria setengah berbisik.
"Kau tidak perlu ikut campur, ayo kita pulang sekarang." Frank merebut piring makanan Aria dan menaruhnya di meja sembarang. Tangannya menarik Aria untuk pergi menjauh dari Nate serta beberapa tamu yang menonton perdebatan mereka.
Aria sungguh malu akan sikap kekanak-kanakan Frank itu. Dapat dibilang, ini adalah pertama kalinya Frank menjadi posesif seperti ini. Jika semua ini karena ucapannya tadi, Aria tidak yakin Frank menganggap candaannya itu serius. Frank cukup pintar membedakan hal yang serius dan yang bercanda.
Saat Aria dan Frank sudah masuk ke dalam mobil, Aria menatap kesal kakaknya itu. "Ada apa denganmu, Kak? Aku hanya bercanda tadi. Nate tidak menggombal, ia hanya mengajakku mengobrol biasa. Kau sungguh berlebihan!"
"Kau tidak tahu apa-apa, Aria. Aku memiliki alasanku sendiri yang tidak perlu kau ketahui."
"Jelas aku harus tahu, kau membuatku malu di hadapannya!"
"Mengapa kau harus malu? Kau menyukainya?" tebak Frank galak membuat Aria terdiam. Aria tidak menyukainya, tetapi ia rasa Nate tidak perlu digertak sedemikian rupa oleh Frank.
"Bagaimana jika aku memang menyukainya?"
"Kau terlalu murahan jika itu benar terjadi."
Aria menatap Frank tidak percaya. Jelas hatinya sakit oleh perkataan Frank. Tidak pernah ada orang yang menghinanya seperti yang Frank katakan barusan. Bahkan orang tuanya saja tidak peduli apa yang ia lakukan sehari-hari. Mengapa Frank berubah menjadi seperti ini hanya karena Nate?
"Ya aku memang murahan! Tidak sepertimu yang dapat jual mahal dan tetap digilai oleh para wanita! Tidak juga seperti mom dan dad yang memiliki kuasa atas segalanya! Aku memang hanya seorang gadis murahan!"
Aria meraih tasnya dan berseru kepada Bram, "Turunkan aku sekarang juga! Aku tidak pantas satu mobil dengan lelaki sempurna seperti dia!"
Bram ragu untuk memberhentikan mobilnya sampai akhirnya Frank mengangguk setuju. Mobil Frank berhenti di pinggir jalan yang masih ramai. Malam minggu memang tidak kenal sepi. Aria turun dari mobil dengan perasaan meluap-luap. Mobil Frank pun segera melaju cepat meninggalkan Aria. Ia berdiri di pinggir jalan dan segera memberhentikan taksi. Setelah menyebutkan tujuannya, Aria kembali bungkam dengan air mata yang menumpuk di matanya.