Aria menatap lesu sebuah gedung di hadapannya saat ini. Matanya yang sembab menambah kesan menyedihkan untuknya. Tidak ada tujuan lain yang dapat ia datangi selain tempat ini. Kakinya melangkah malas, namun pasti. Aria yakin kedatangannya pasti mengejutkan semua temannya. Yap, akhirnya ia mendatangi tempat club yang tadi sahabatnya tawarkan.
Pintu terbuka lebar untuk dirinya. Alunan musik jelas sangat berbeda dari ballroom tadi. Temponya jauh lebih cepat. Tempatnya lebih gelap dan ramai. Segala kesenangan disajikan dengan mantap di tempat itu. Mungkin club adalah tempat terbaik bagi Aria untuk menghapus rasa kesalnya.
"Aria! Kau datang kemari?" seru Sharon Cazzle dengan lantang akibat suara musik yang mengisi ruangan tersebut. Aria mengedikkan bahunya dan duduk bersama dua teman lainnya itu. Rinne dan Alea.
Sharon segera duduk di sebelah Aria karena merasa ada yang tidak beres dengan sahabat terdekatnya itu. "Matamu sembab, ada apa denganmu sebenarnya?"
"Aku bertengkar dengan Frank." Tangis Aria kembali pecah membuat mereka panik. "Frank sungguh aneh hari ini, ia marah karena ada lelaki yang mendekatiku di acara tadi. Kalian tahu bukan, Frank tidak pernah ikut campur atas masalah asmaraku."
"Kau benar, Frank tidak pernah seperti itu. Apa kau tahu penyebabnya?" Aria menggeleng atas pertanyaan Rinne. "Cobalah cari tahu dulu, pasti ada sebab di balik amarahnya itu."
"Tetapi Frank sudah membuatku malu, ia menggertak lelaki itu di tengah-tengah keramaian."
"Hmm, apa kau menyukai lelaki itu?" goda Alea yang segera berhasil membuat kedua pipi Aria memerah. "Terlihat dari reaksi tubuhmu, kurasa aku benar."
"Cukuplah, Al, aku sedang tidak ingin bercanda seperti itu." Aria berusaha menutupi rasa malunya dari mereka.
"Baiklah! Malam ini kau harus bersenang-senang bersama kita! Lupakan masalahmu itu, Ar!" Aria mengangguk semangat dan mulai berpesta bersama teman-temannya. Tubuhnya meliuk mengikuti tempo musik. Segelas alkohol berada di genggamannya. Entah sudah berapa gelas yang ia teguk sedari tadi.
Saat semua teman Aria sudah sibuk dengan sekelilingnya, Aria merasa ada yang menariknya menjauh dari keramaian tersebut. Akibat kesadarannya yang mulai menghilang, Aria melangkah cepat mengikuti orang tersebut. "Hey, siapa kau?"
Suara keras musik yang tadi mengisi indera pendengarannya, kini tidak lagi terdengar. Aria sadar kalau saat ini dirinya berada di luar club. Matanya menangkap seseorang berdiri di hadapannya. Terlihat postur tubuhnya adalah seorang lelaki dan tidak asing baginya.
"Bagaimana kau berakhir di sini, Aria?"
Seketika kesadaran Aria kembali sempurna. Ia memaksa pandangannya untuk fokus kepada lelaki di hadapannya. Dan akhirnya ia tahu siapa yang menarik dirinya itu. "Nate? Kau di sini?"
"Apa kau tidak pulang bersama Frank?" Terkesan khawatir, namun Aria tidak ingin memikirkannya.
"Aku tidak ingin pulang, lagipula aku senang di sini bersama teman-temanku."
"Tetapi kau sudah mabuk, Aria, kenapa kau seperti ini?"
"Bukankah kau ingin mengenal diriku lebih dalam? Inilah diriku yang sebenarnya! Aku menyukai tempat ini bersama teman-temanku!" seru Aria lantang kepada Nate. Tentu saja Nate memilih untuk diam. Apa yang dapat ia harapkan dari seorang gadis yang tengah mabuk ini.
"Mari pulang, biar kuantar." Nate menarik pergelangan tangan Aria dan kembali terputus karena Aria menghempasnya. "Aria?"
"Kubilang aku tidak ingin pulang! Apa urusanmu?!"
"Aku tidak ingin kau kenapa-napa! Apa kau tidak tahu betapa bahayanya dirimu di dalam sana dalam keadaan seperti ini?"
"Kau pikir aku peduli?! Biarkan aku masuk ke dalam!" Aria berniat untuk masuk kembali, namun Nate tetap menahan tubuh Aria yang sudah tidak bertenaga lagi.
"Nate, sedang apa kau?" Nate menoleh ke arah suara yang sangat familiar baginya. Tegas, datar, dan dingin. Pria itu berdiri sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan menatap datar Aria yang tidak dapat berdiri dengan benar.
"Ah, ini temanku. Dia mabuk dan aku mencoba untuk mengantarnya pulang."
Leonardo menaikkan sebelah alisnya kepada Aria. "Aku tahu kalau gadis itu mabuk. Sungguh merepotkan."
"Hey, kau sendiri sedang apa kemari?"
"Untuk apalagi? Aku ingin bersenang-senang." Nate mendecih pelan.
"Kau tidak berubah dari dulu," ucap Nate yang hanya mendapat decakan malas Leonardo. Seketika suara nada dering ponsel Nate berbunyi. Ia ingin meraih ponselnya, namun kesulitan karena harus menahan Aria untuk tidak kembali masuk ke dalam. "Boleh tolong tahan dia sebentar? Aku ingin masuk ke dalam untuk memberikan barang temanku."
Dengan berat hati, Leonardo melangkah dan bergantian menahan tubuh mungil Aria. Ia melingkarkan satu tangannya di perut Aria seperti memeluknya dari belakang. Ia berdiri tidak bergeming. Seakan usaha Aria untuk memberontak itu tidak terasa apa-apa.
"Siapa kau? Tua sekali," oceh Aria tidak jelas. Tetapi Leonardo mendengarnya.
"Apa kau bilang?" geram Leonardo dengan alis berkerut. Aria terdiam mengamati wajah Leonardo dengan senyuman tipisnya. Jemarinya terulur menyentuh wajah Leonardo. Karena situasi sangat sepi dan hanya ada mereka berdua, tubuh Leonardo menjadi kaku. Antara kaku dan pasrah, Leonardo sendiri tidak tahu.
"Sepertinya kau seumuran kakakku, dia mirip denganmu," ucap Aria membuat Leonardo menghela napasnya. "Kau pasti berusia 26 tahun."
"Salah," sahut Leonardo cepat. Ia ingin mengakhiri pembicaraannya dengan gadis remaja labil yang tidak tahu apa-apa ini. Namun keinginannya tidak terwujud. Aria justru memberikan ekspresi cemberutnya.
"Salah? Ku yakin aku benar!"
Leonardo memutar matanya malas. "Ya sudah, kau benar." Beruntungnya senyuman Aria kembali mengembang.
"Apa kau memiliki kekasih?" tanya Aria.
"Kenapa? Kau tertarik padaku?"
"Hmm, mungkin? Apa kau tertarik padaku?"
"Tidak." Leonardo akan merasa gila jika tertarik pada gadis kecil seperti Aria ini. Wanita model seperti ini tidak akan pernah menarik perhatiannya.
"Apa aku kurang cantik? Apa aku terlihat murahan bagimu?" rengek Aria dan tangisnya kembali pecah. Tentu saja Leonardo terkejut dan tidak tahu harus apa.
"Hey, kenapa kau-"
"Aku tahu aku tidak seistimewa keluargaku! Tetapi aku tidak murahan, aku tidak sebodoh itu! Aku ini masih keluarga Caveensky, apa aku terlihat berbeda dengan mereka? Jahat sekali kau!"
Leonardo tertegun saat mendengar nama Caveensky di telinganya. Tentu tidak asing lagi. Sebagai CEO dari Devye Company, Leonardo harus mengetahui siapa rekan mereka. Dan sekarang ia baru sadar kalau gadis yang sedari tadi ada di genggamannya itu adalah Aria Caveensky, adik dari Frank Caveensky.
Pantas saja, mereka sama-sama menyebalkan
Leonardo mendecak sekilas sembari memutar matanya malas. Aria terus memukul d**a Leonardo bertubi-tubi. Walaupun tidak ada rasanya, tetap saja tingkah remaja itu menyebalkan. "Diamlah, kau sama saja seperti Frank!"
Aria terkejut menatap Leonardo. "Kau tahu Frank? Apa kau temannya?"
"Tidak sudi," desis Leonardo sinis. Untung saja Aria tidak mendengarnya. "Hanya tahu saja, tetapi bukan teman."
"Kenapa kau tidak berteman dengannya? Kalian sama-sama tua."
"Stop mengataiku tua, bocah kecil!"
"Aku ini bukan bocah tahu!" Aria tidak kalah kerasnya saat membentak Leonardo. Karena mabuk, emosinya tidak stabil. Dan Leonardo harus mewajarkannya.
"Dimana si b******k Nate?"
Leonardo menahan tubuh Aria dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menelepon Nate. Sayangnya tidak ada jawaban dari sepupunya tersebut. Lagi-lagi bibirnya mendecak kesal. Niat awal ingin senang-senang, justru berakhir menjaga gadis remaja labil seperti ini.
"Kaki ku pegal, tolong bopong aku." Aria mengulurkan kedua tangannya pada Leonardo. Jelas saja tingkahnya itu membuat Leonardo semakin jengkel.
"Dasar aneh."
"Aku serius! Tolong bopong aku!" Leonardo tersentak saat Aria berseru tepat di telinganya. Jika yang ada di hadapannya ini bukan keluarga Caveensky, mungkin akan ia biarkan di depan club sendirian.
Setelah menghela napasnya kesal, Leonardo membopong tubuh Aria ala bridal style. Merasa nyaman, kedua mata Aria tertutup seperti anak bayi. Untung saja tubuh Aria tidak berat, sehingga Leonardo tidak terlalu lelah. Namun rasa jengkelnya belum juga mereda. Mengingat ini semua permintaan Nate, tetapi sedari tadi Nate tidak menunjukkan batang hidungnya. Mungkin sudah ada setengah jam lamanya Leonardo mengurus bocah kecil ini. Tetapi akhirnya pintu club terbuka dan menampilkan Nate yang berlari terburu-buru ke arah Leonardo.
Pandangan Leonardo seperti laser yang mengamati penampilan Nate dari atas sampai bawah. Bukan tanpa alasan. Sepupunya itu sangat menggebu-gebu, rambutnya tidak karuan, bajunya tidak lagi serapih yang Leonardo lihat sebelumnya.
"Mengapa Aria kau bopong? Kau apakan dia?!" seru Nate di tengah-tengah nafasnya yang belum teratur.
Leonardo menaikkan satu alisnya. "Apa kau habis one night stand?"
Seketika wajah kesal Nate bergantian dengan tampang bodohnya yang ia sengaja seperti anak polos. Tetapi terlihat sekali tatapannya tidak fokus dan lebih gugup. "Tidak, kau sembarangan berbicara, Le!"
"Lalu ada apa dengan kerah kemejamu? Apa kau berniat menjadi perempuan sehingga ada noda lipstik di sana?"
Nate terkejut dan segera melihat kerah kemejanya sendiri. Ia mengutuk dirinya karena menggunakan kemeja putih yang ia pakai ke ballroom tadi. Tidak dapat mengelak, Nate menghela nafasnya. "Aku tidak dapat menahannya tadi."
Terjadi keheningan sesaat. Bukan canggung, tetapi lebih ke menyeramkan. Nate dapat merasakan hawa-hawa amarah Leonardo dari tatapan tajamnya itu. Tanpa berbicara saja Nate tahu kalau Leonardo tidak membopong Aria, mungkin wajahnya sudah babak belur sekarang. Ia harus berterima kasih pada Aria.
"Kuharap aku tahu siapa jalang yang bersamamu tadi sehingga aku tidak akan menggunakannya."
Leonardo melangkahkan kakinya meninggalkan Nate yang tidak dapat berkata apa-apa. Percuma menghentikan Leonardo, Nate tahu ia pasti kalah. Untuk kembali membawa Aria saja, Nate tidak berani.