"Apa menurutmu Satria berbeda dari mereka?"
Suasana La Chapelle di jam makan siang hari itu nampak ramai seperti hari-hari biasanya. Terletak di pusat kawasan bisnis ibukota menjadikannya salah satu restoran alternatif favorit mulai dari karyawan kelas menengah hingga para eksekutif. Selain menawarkan berbagai macam menu khas Perancis, La Chapelle juga memikat karena tempatnya yang nyaman, dengan interior didominasi perabotan dari kayu dengan tata ruang yang membuat pengunjung serasa makan di rumah sendiri.
Di satu meja VIP yang terletak di sudut ruangan di lantai dua, Anne-Marie duduk menopang dagu dengan tangan kirinya, nampak lesu dan tangan kanannya tak henti-hentinya mengetuk-ngetukkan jari pada meja, menyalurkan kegelisahan yang mengganggu. Sementara itu, Jasmine yang duduk di seberangnya seperti biasa nampak santai dan acuh tak acuh, tengah memainkan ponselnya. Ia nampak tengah mengetikkan sebuah pesan ketika seorang pelayan datang membawa nampan berisi beberapa macam hidangan datang menghampiri.
"Aku tidak berhak mengatakan apapun soal itu. Karena aku tidak ingin kau anggap aku membelanya. Tapi selama ini, apa kau pernah dengar gosip buruk tentangnya?" Jasmine meletakkan ponselnya dan menatap Anne-Marie.
Anne-Marie menghela nafasnya pendek. Dalam hati ia membenarkan apa yang dikatakan Jasmine. Selama ini dia tidak pernah sekalipun mendengar gosip bernada negatif tentang Satria. Kabar yang ia dengar tentang pemuda itu selalu seputar prestasi, keaktifannya di organisasi dan bagaimana ia dipuja gadis-gadis di seluruh penjuru universitas.
"Mengenai apa yang terjadi di masa lalu, bukankah akan lebih baik jika kau melupakannya, Anne-Marie? Mereka, mantan-mantanmu itu, memang telah berlaku buruk padamu. Tapi jangan kemudian hal itu membuatmu berpikir bahwa semua laki-laki sama buruknya dengan mereka." Tambah Jasmine membuat Anne-Marie semakin bimbang.
"Satria memang menarik. Tidak mungkin ada gadis yang akan menolaknya aku rasa. Tapi jika aku menerimanya, pasti akan ada banyak gadis yang tidak senang lalu memusuhiku setelahnya."
"So what? Bukan salahmu jika Satria memilihmu. Juga bukan urusanmu jika mereka tidak bahagia dengan kebahagiaanmu. Kebahagiaan selalu menjadi hal paling egois yang diinginkan manusia. Kau harus ingat juga, bahwa tidak mungkin bisa membuat semua orang menyukaimu. Sebaik apapun seseorang, tentu akan ada saja orang yang tidak menyukainya. Apa kau akan menyia-nyiakan waktu dan energimu untuk menghadapi orang-orang itu?"
"Jasmine, aku heran bagaimana bisa kau memiliki pemikiran yang hebat seperti itu. Kau memang luar biasa. Kau sangat dewasa dan bijaksana."
Jasmine hanya tersenyum miring mendengar pujian Anne-Marie dan mulai menyantap hidangan di depannya.
"Hey, aku serius. Aku merasa sungguh beruntung memiliki sahabat sepertimu, Jasmine. Aku tidak tahu bagaimana aku jika kau tidak ada di sampingku."
"Berhenti membuatku muak dengan kata-kata seperti itu. Lebih baik kau sering-sering saja mentraktirku makan enak dan nonton karena aku sudah bersedia menjadi sahabatmu."
"Kau lebih kaya dariku, Jasmine."
"Tapi aku tidak mau menghambur-hamburkan uangku. Aku akan menggunakan uangku setelah uangmu habis."
"Wow, kau sungguh licik, Jasmine."
Mereka pun terus bercanda dan tertawa di antara santap siang itu. Sekilas mungkin terdengar bahwa mereka tengah saling ejek. Tapi sebenarnya hal itu tak lebih dari sekedar gurauan dua orang sahabat.
Ikatan persahabatan yang terlihat begitu erat bagi siapapun di sekitar mereka. Tanpa sadar ikatan itu membuat beberapa teman yang ingin mendekat merasa sungkan dan menjaga jarak. Aneh memang. Pada akhirnya, ikatan itu tanpa sadar seolah-olah juga mengasingkan mereka dari sekian banyak orang yang kemudian hanya bisa disebut teman asal kenal.
Bagi sebagian orang yang telah begitu dekat dengan sahabatnya, ketika ada orang lain yang berusaha memasuki kehidupannya dan hendak menjalin pertemanan bahkan persahabatan lain mungkin akan mengalami dilema. Ada saat dimana kekhawatiran muncul jika persahabatan sebelumnya akan merenggang yang disebabkan oleh pertemanan atau persahabatan barunya. Tentu salah satunya karena ia harus membagi perhatian pada lebih banyak orang. Juga kemungkinan jika ia tidak dapat merekatkan antara teman atau sahabat yang lama dengan yang baru.
Hal lain yang bisa merenggangkan hubungan persahabatan dan telah ada begitu banyak contoh yang terjadi adalah asmara. Ya, seperti yang dikatakan pepatah, tidak ada persahabatan yang benar-benar murni antara seorang laki-laki dan perempuan. Meski tak sedikit pula bukti yang menunjukkan bahwa perbedaan jenis kelamin itu tidak menghalangi eratnya persahabatan tanpa dibumbui kisah asmara di dalamnya. Tapi bukankah dalamnya hati seseorang tidak ada yang tahu?
Anne-Marie akhirnya mendapatkan suatu pemahaman tentang hal itu di kemudian hari.
Malam itu, setelah hampir tiga tahun menjalani hubungan dengan Satria sebagai sepasang kekasih, Anne-Marie berniat membuat kejutan. Ia pergi ke apartemen Satria membawa kotak makan tiga tumpuk tahan panas berisi makanan hasil masakannya sendiri. Belakangan mereka berdua sama-sama sibuk dan tahu-tahu hari valentine tiba. Karena itulah Anne-Marie mempersiapkan kejutan dan melepas rindu dengan sang pujaan hati.
Ia memiliki kartu akses ke apartemen Satria dan sebelumnya ia juga sudah sering datang ke sana. Jadi tidak masalah meski kali ini ia datang tanpa memberitahu Satria terlebih dahulu. Suasana hatinya sangat baik dan terlalu antusias sehingga ia malah jadi agak gugup saat membuka pintu.
Ia berjalan dengan sangat perlahan berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun. Sepi. Lampu di lantai satu menyala terang sehingga dari ruang tamu ia terus melangkah ke dapur. Diletakkannya kotak makan yang ia bawa di meja makan. Sesaat ia tiba-tiba merasa perasaannya tidak enak. Apartemen itu benar-benar terasa terlalu sepi.
Anne-Marie melirik jam tangannya. Belum sampai jam delapan malam, jadi seharusnya Satria belum tidur, pikirnya. Setelah memastikan Satria tidak ada di lantai bawah, ia lalu berjingkat menaiki tangga. Di ujung tangga ia mendengar suara yang seketika itu membuat langkahnya terhenti. Jantungnya berdegup beberapa kali lebih cepat dari biasanya. Tangan dan kakinya mulai gemetar tak terkendali.
Tidak, tidak mungkin. Ia terus mengucapkan itu dalam hati dan meyakinkan diri bahwa ia salah dengar. Tapi suara-suara itu semakin jelas terdengar ketika ia semakin dekat dengan pintu kamar Satria yang tidak sepenuhnya tertutup. Kepalanya mulai berdenyut nyeri.
Dengan mengepalkan kedua telapak tangannya, Anne-Marie nekat melanjutkan langkahnya. Apapun kenyataan yang akan ia jumpai, lebih baik ia ketahui saat ini meski hati dan pikirannya terus berusaha menyangkal kemungkinan buruk yang terlintas. Tapi tanpa melihat pun ia sebenarnya sudah dapat memperkirakan apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik dinding kamar itu. Desahan dan lenguhan yang bersahut-sahutan antara lelaki dan perempuan itu jelas menggambarkan betapa panas gairah yang membakar mereka.
"Aah.., Satria."
"Hmm.., ughh..."
Dari celah pintu Anne-Marie dapat melihat dua sosok telanjang di atas tempat tidur, saling bertaut dan memacu dengan keras. Beberapa detik ia terpaku dan pikirannya kosong. Entah sadar atau tidak, tangannya mendorong daun pintu menyebabkan pemandangan di depannya jauh lebih jelas. Lampu kamar yang menyala membuatnya semakin terpukul setelah memastikan sosok perempuan yang tengah ditindih itu.
Sosok perempuan yang nafasnya tersengal-sengal itu tiba-tiba menolehkan kepala ke arah pintu yang kini terbuka lebar.
"Anne-Marie." Gumamnya lirih tapi cukup dapat didengar oleh lelaki di atas tubuhnya. Seketika itu juga lelaki itu membeku. Saat ia menyadari apa yang terjadi, ia hanya mendengar derap langkah kaki menjauh. Terburu-buru ia melepas ketegangannya dari lembah basah yang memabukkannya selama ini. Ia bangkit, turun dari tempat tidur dan meraih celana pendeknya di lantai. Ia berlari keluar dan menuruni tangga berharap dapat mengejar sang kekasih.
"Anne-Marie! Tunggu!! Biar aku jelaskan semuanya. Anne-Marie!" Seberapa keras pun ia memanggil, gadis itu tak juga berhenti atau bahkan menoleh.
Anne-Marie terus berlari seolah andai dia berhenti ia akan mati. Ia terus berlari melewati pintu depan, berbelok dan menyusuri lorong menuju lift. Dengan tangan gemetar dan pandangan memburam ia berusaha menekan tombol berkali-kali. Tapi sialnya pintu lift tak kunjung membuka.
"Anne-Marie!!" Satria meraih lengan Anne-Marie tapi gadis itu menyentaknya dengan kuat.
"Anne-Marie, kumohon dengarkan aku dulu!"
"Diam!! Jangan menyentuhku dengan tanganmu yang kotor itu!"
Pintu lift terbuka dan Anne-Marie segera memasukinya, menekan tombol lantai satu dan menatap pemuda di hadapannya dengan penuh luka. Begitu pintu tertutup, gadis itu kehilangan kekuatannya dan luruh ke lantai. Tak ada isakan, hanya air mata yang terus-menerus mengalir tanpa henti.
Yang paling menyakitkan dari sebuah kisah cinta barangkali bukanlah putusnya hubungan, melainkan pengkhianatan. Apalagi itu adalah orang-orang yang paling dipercaya. Orang-orang yang tak pernah disangka akan menorehkan luka padanya. Orang-orang yang selama ini mengisi kesepian dan kekosongan hatinya.
Anne-Marie kembali ke rumah dengan hati kaca yang hancur berkeping-keping. Sepanjang jalan kilasan-kilasan adegan panas dalam kamar itu berputar dalam kepalanya. Dan yang paling ia tidak bisa mengerti adalah tatapan Jasmine padanya. Entah mengapa ia tidak melihat rasa bersalah di mata sahabatnya itu, bahkan tak ada sedikitpun rasa gugup akibat tertangkap basah olehnya. Juga seringaian yang nampak olehnya, membuatnya merinding dan linglung. Apakah itu nyata atau hanya halusinasinya saja?
"Nona.. Nona Anne-Marie?!"
Terdengar ketukan pintu yang lama-kelamaan berubah menjadi gedoran, bersahutan dengan suara beberapa orang memanggil. Anne-Marie terhenyak, sadar dari lamunannya dan bergegas ke pintu.
"Hah, syukurlah. Akhirnya. Apa Anda baik-baik saja? Kami khawatir sesuatu telah terjadi karena Nona tak kunjung membuka pintu." Seorang pemuda berseragam biru langit bertanya dan nadanya nampak menunjukkan kecemasan.
"Ah, aku baik-baik saja. Maaf, apa kalian sudah lama menunggu?"
"Saya baru saja tiba. Tapi Lestari dan Ardi bilang sudah sampai sejak lima belas menit lalu. Mereka bilang sudah mengetuk pintu tapi tak kunjung mendengar jawaban, bahkan Anda juga tidak menjawab telepon. Lestari sampai hampir menangis takut terjadi apa-apa." Pemuda dengan jaket dan topi hitam menjelaskan.
"Masalahnya kami tak hanya mengetuk pintu depan saja, bahkan pintu samping dan jendela juga. Semua tirai masih tertutup dan kami tidak bisa melihat apapun ke dalam. Siapa yang tidak khawatir kalau begitu." Lestari, seorang gadis yang nampak masih belasan tahun itu menimpali. "Ditambah lagi, waktu saya datang pertama kali, saya melihat laki-laki asing tinggi besar yang menyeramkan mondar-mandir di depan." Tambahnya.
"Laki-laki asing? Tinggi besar? Apa namanya Ramon?" Tanya Anne-Marie.
Tiga orang yang masih berdiri di depan pintu itu saling pandang. "Kami belum sempat menanyakan namanya. Tapi dia bilang dia adalah karyawan baru yang baru akan mulai bekerja hari ini." Pemuda bertopi menjawab.
"Ya, itu mungkin Ramon. Dimana dia sekarang?"
"Sepertinya dia masih menunggu di depan."
"Ardi, panggil dia kemari."
Pemuda dengan seragam biru langit segera beranjak meski kepalanya masih dipenuhi kebingungan. Beberapa saat kemudian ia telah kembali dengan seorang lelaki berkemeja flannel kotak-kotak merah-hitam.
"Selamat pagi, Nona Anne-Marie." Sapa lelaki itu.
"Selamat pagi, Ramon. Bagaimana kesehatanmu? Apa kau yakin sudah sehat?"
"Ya, itu hanya sakit kepala biasa dan sekarang sudah tidak terasa lagi. Saya baik-baik saja. Terima kasih atas perhatian Anda."
"Baiklah kalau begitu. Nah, Ramon. Mereka bertiga adalah rekan kerjamu di sini. Yang tadi memanggilmu adalah Ardi, ini Saka dan ini Lestari."
"Salam kenal semuanya, saya Ramon Luis Suarez. Kalian bisa panggil Ramon saja. Mohon bantuannya dan semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ke depannya."
"Wah, namamu keren sekali, Bang Ramon, seperti pemain sebak bola." Ardi tertawa kecil dan menepuk-nepuk lengan Ramon. Lalu tiba-tiba ia tertegun. "Wah, otot apa ini?" Tanyanya konyol merasakan kerasnya lengan rekan kerjanya yang baru itu.
"Bisep dan trisep." Jawab Ramon dengan wajah datar. Membuat Saka tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Lestari hanya terbengong tidak mengerti kenapa Saka tertawa. Sementara Anne-Marie hanya menggelengkan kepala atas kekonyolan Ardi.
Pelaku utama penyebab situasi aneh itu, Ardi, mengerjap-erjapkan matanya tak yakin dengan apa yang baru didengarnya.
**