Dalam sebuah keputusan tidak ada hal yang pasti, terutama terkait dengan kehidupan di masa yang akan datang. Kita hanya bisa memprediksi dengan berpatokan pada apa yang sudah menjadi kepastian di masa kini. Tapi, tidak semua hal bisa diprediksi. Karena apa yang terjadi di dunia ini tak pernah lepas dari kehendak Yang Maha Kuasa.
Meski demikian, memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi sedikit banyak tentu dapat membantu dalam mempersiapkan diri dan meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. Kurang lebih seperti itulah yang ada dalam pikiran Ramon saat ini.
Setelah menjalani dua per tiga masa hukuman, karena dinilai berkelakuan cukup baik selama di tahanan, akhirnya Ramon dinyatakan bebas bersyarat. Meski tentu merasa senang dengan kebebasan tersebut, ia kini harus menghadapi kenyataan betapa tidak mudahnya menyandang status mantan narapidana.
Telah hampir satu bulan sejak ia keluar dari tahanan, ia belum juga mendapatkan pekerjaan di kota ini. Ya, ia memutuskan untuk tetap tinggal di kota ini karena pulang ke kampung halamannya pun ia pikir tidak akan mudah. Saat ini, dengan statusnya, menghadapi orang di kampung yang masih menaruh perhatian pada lingkungan sekitar terasa lebih sulit. Mereka pasti akan mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan dan ia belum siap untuk menjawabnya saat ini. Sementara orang-orang di perkotaan ia pikir akan cenderung masa bodoh dan tak peduli.
Karena itulah ia pikir ia akan lebih mudah mendapatkan kesempatan di sini. Kesempatan untuknya menjalani satu kehidupan yang baru setelah kehidupan lamanya yang kelam. Biarlah ia kembali harus berjauhan dengan ibu dan juga putranya, yang penting ia bisa mencari nafkah demi menghidupi mereka berdua.
Ia berniat untuk bekerja sekeras mungkin dan menabung supaya bisa membuka usaha sendiri di kampung nantinya. Tentu dengan catatan, selama masa itu, ia harus terus belajar menguatkan hati untuk menghadapi penolakan-penolakan yang mungkin akan ia hadapi.
Lagi pula ia tidak ingin terus bergantung pada Tuan Handoyo, mantan bosnya, yang tak pernah berhenti memberikan tunjangan, termasuk untuk pengobatan putranya. Mengingat kebaikan lelaki tua itu, Ramon hanya bisa menghela nafas panjang, penuh keprihatinan. Lelaki tua baik hati itu sebenarnya telah berulangkali mengatakan pada Ramon untuk kembali bekerja padanya. Tapi Ramon sudah memutuskan bahwa ia ingin memulai satu kehidupan yang benar-benar baru.
Tiga tahun yang berharga di tahanan. Ramon merasa ia harus terus bersyukur bahwa ia dipertemukan dengan orang-orang baik di dalam sana, seperti menemukan mutiara dalam lumpur. Orang-orang yang membuatnya meraih kembali kepercayaan dirinya bahwa ia pantas mendapatkan kesempatan. Meski hingga hari ini, ia masih belum dapat meraih kesempatan itu. Tapi Ramon berusaha terus meyakinkan dirinya supaya ia bisa bersabar sedikit lagi, lagi dan lagi.
Mungkin memang kondisi pandemi yang naik turun tak jelas ini membuat orang cukup sulit menemukan pekerjaan. Banyak tempat usaha ditutup, bahkan sekian ribu buruh harus mengalami pemutusan hubungan kerja. Tapi Ramon tentu tak punya pilihan lain kecuali terus mencoba dan berusaha.
Ia kini berdiri di samping sebuah papan nama besar di pinggir jalan bertuliskan Pawon Ageng. Ia menatap apa yang kini ada di hadapannya dengan takjub, sebuah bangunan klasik khas Jawa, joglo, yang cukup besar. Pilar-pilar di pendoponya nampak berasal dari kayu jati tua dan berkualitas. Halaman depannya nampak cantik dengan barisan bunga melati yang tumbuh subur. Sementara di sisi kiri bangunan terdapat lahan parkir yang cukup luas.
Lelaki itu menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha meyakinkan diri dan berdoa dalam hati semoga kali ini ia cukup beruntung. Dengan langkah tegap ia berjalan menuju bangunan itu. Suasana siang itu tak terlalu ramai meski sudah memasuki jam makan siang. Tak jauh berbeda dengan restoran-restoran sebelumnya yang pernah ia datangi.
Separah ini ternyata dampak pandemi yang entah sampai kapan akan berakhir, batin Ramon. Selama ini ia hanya sesekali dan sekilas saja membaca berita di surat kabar yang ia pinjam dari Paman Haryo, teman satu selnya. Ia tak pernah menyangka, kenyataannya akan lebih buruk dari apa yang ada dalam bayangannya selama ini.
"Permisi. Saya ingin melamar pekerjaan. Apakah saya bisa menemui manager restoran ini?" Ramon bertanya to the point pada resepsionis di bagian depan pendopo.
"Maaf, tapi setahu saya restoran ini sedang tidak membutuhkan tenaga kerja baru."
Gadis berusia awal dua puluhan itu berkata dengan ramah disertai senyum yang menampakkan rasa tak enak hatinya. Ini bukan kali pertama ia mengatakan hal serupa. Belakangan ini entah berapa banyak orang yang datang dan berniat melamar pekerjaan di restoran itu. Tapi gadis itu tahu betul, karena pemilik restoran berpesan langsung padanya, bahwa restoran ini memang tidak menerima lamaran pekerjaan untuk posisi apapun. Bahkan ia, dan tentu karyawan lainnya, merasa harus banyak-banyak bersyukur tak mengalami pemutusan hubungan kerja di situasi yang tengah sulit ini. Sementara begitu banyak orang di luar sana kini harus luntang-lantung entah bagaimana nasib ke depannya.
"Bagaimana kalau saya tinggalkan surat lamaran saya di sini. Barangkali suatu hari nanti tempat ini membuka lowongan."
Ramon refleks mengatakan hal tersebut setelah mendengar perkataan sang resepsionis. Ia mungkin hanya mencoba peruntungan kali ini. Ya, hanya berharap pada keberuntungan atas nasibnya. Entah mengapa ia merasa sesak dan begitu tak berdaya. Ia hanya berharap ia tak putus asa mengingat uangnya sudah hampir habis sekarang. Uang yang ia peroleh dari Paman Haryo yang memaksanya untuk menerimanya meski berulangkali menolak. Ia sadar sekarang, mungkin lelaki tua itu sudah memperkirakan hal seperti ini akan terjadi pada dirinya.
Dengan wajah lesu yang tak dapat ditutupi, Ramon keluar dari Pawon Ageng. Meski resepsionis itu menerima surat lamaran yang ia tinggalkan setelah bicara dengan penuh permohonan, ia sadar kemungkinannya sangat kecil baginya untuk mendapat panggilan dari restoran ini dalam waktu dekat.
Ia lelah dan merasa kepalanya mulai sedikit pusing karena telah berkeliling sepanjang hari itu. Cuaca tengah hari itu sangat terik, ditambah lagi ia tak sempat sarapan pagi tadi. Selain memang harus berhemat, ia juga terburu-buru pagi tadi dan tak sempat masak.
Setelah melihat sekeliling, Ramon memutuskan untuk beristirahat sejenak. Ia berjalan menuju sebuah gazebo di sudut lapangan parkir di sisi kiri Pawon Ageng. Gazebo itu dinaungi pohon cemara yang tinggi dan rindang membuatnya cukup teduh.
Di saat yang sama, seorang gadis muda dengan kemeja putih berlengan panjang dan rok denim setengah betis juga nampak tengah menuju gazebo itu. Gadis itu melangkah perlahan dengan kepala tertunduk.
Seketika Ramon merasa bimbang, apakah ia akan tetap menuju gazebo itu atau haruskah ia mencari tempat lain untuk beristirahat. Tapi lelah dan kepala yang makin berdenyut rasanya seakan memaksanya untuk mengabaikan keberadaan gadis itu. Ia harap kehadirannya nanti tak membuat gadis itu risih apalagi takut padanya.
Badannya yang tinggi besar dan masih tegap di usia menjelang kepala empat ini sedikit banyak memang cukup mengintimidasi siapa saja di sekitarnya. Di kehidupannya yang lalu dimana ia menjadi seorang bodyguard mungkin hal ini sangat menguntungkan. Tapi sekarang, ketika ia hendak memasuki kehidupan baru yang jauh berbeda, hal ini justru mungkin membuat orang-orang takut dan menghindar.
"Maaf, Nona. Apakah boleh saya ikut duduk di sini sebentar?" Tanya Ramon pada gadis yang dilihatnya tadi sampai terlebih dahulu di gazebo yang ia tuju.
"Oh, silakan. Tidak masalah." Jawab gadis itu singkat sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih."
Ramon segera duduk di seberang gadis itu dan mengeluarkan sebuah botol air minum dan roti yang ia beli di warung pinggir jalan tadi ketika berkeliling melamar pekerjaan. Lelaki itu berusaha tidak membuat terlalu banyak gerakan maupun suara supaya tak membuat gadis di hadapannya itu terganggu dengan kehadirannya. Ia makan dalam hening dengan kepala tertunduk menatap sepatu pantofelnya yang usang.
Mungkin hanya sepatu itu, benda yang tersisa dari kehidupan lamanya. Benda yang menjadi saksi kemana saja kakinya melangkah dalam tiap tugas-tugasnya. Satu-satunya benda dari masa lalunya yang enggan ia singkirkan, sebagai pengingat bahwa ia tak boleh lagi salah jalan sekarang dan nanti.
Setelah menghabiskan roti dan air dalam botol minumnya hingga tandas, Ramon berniat segera beranjak dari tempat itu. Jujur saja ia merasa canggung berdua saja di gazebo itu dengan seorang gadis dengan iris hijau yang nampak bak malaikat itu. Tapi baru saja ia berdiri, nyeri di kepalanya semakin menjadi, pandangannya berkunang-kunang. Ia pun memutuskan untuk kembali duduk. Dipejamkannya matanya sambil memijit pelan pangkal hidungnya.
"Anda tidak apa-apa? Apa Anda sakit?"
"Ah, tidak apa-apa, Nona. Mungkin karena cuaca hari ini yang terlampau terik membuat saya sedikit pusing."
"Anda yakin? Apa Anda perlu obat atau pergi ke dokter? Saya bisa mengantar Anda."
"Tidak perlu, Nona. Terima kasih. Sungguh saya tidak apa-apa. Saya hanya merasa sedikit lelah karena seharian ini berkeliling kota. Kalau Nona tidak keberatan, saya akan duduk di sini beberapa saat lagi untuk beristirahat."
"Tidak masalah. Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, apa Anda berkeliling untuk mencari alamat?"
"Oh, itu, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan. Hanya saja saya belum beruntung."
"Emh.., ya, situasi saat ini bisa dibilang cukup sulit memang." Gadis itu terdiam sesaat dan nampak memikirkan sesuatu sambil mengamati orang di depannya. "Apa Anda tidak masalah dengan jenis pekerjaan apapun?"
"Ya, asalkan pekerjaan itu bukan melakukan sesuatu yang melanggar hukum tentunya."
"Begini, mungkin ini bukan pekerjaan yang benar-benar Anda harapkan, tapi setidaknya bisa sedikit membantu Anda untuk sementara waktu. Saya mempunyai sebuah toko bunga tepat di samping kanan restoran ini, di sana." Gadis itu berkata sambil menunjuk ke arah yang ia maksud. "Anda mungkin bisa membantu bagian pengiriman atau mungkin nanti Anda bisa juga belajar pembibitan dan perawatan tanaman serta hal lainnya. Bagaimana? Apa Anda tertarik?"
Ramon mengikuti arah yang ditunjuk oleh gadis itu sebelum menjawab dengan perasaan membuncah. "Itu sungguh jauh lebih baik dari pada saya menganggur lebih lama lagi, Nona. Terima kasih banyak. Jadi, kapan saya bisa mulai bekerja?"
"Segera setelah Anda merasa lebih baik."
"Kalau begitu besok saya bisa langsung bekerja, Nona."
"Anda yakin tidak perlu istirahat beberapa hari lagi?"
"Saya yakin, Nona."
"Baiklah kalau begitu. Tapi jika besok pagi Anda merasa masih kurang enak badan, Anda bisa mulai masuk lusa."
"Baik, Nona. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan. Saya Ramon."
Ramon mengulurkan tangannya dengan wajah yang jauh lebih cerah dan bersemangat dibandingkan beberapa saat yang lalu. Benar memang bahwa pekerjaan yang baru saja ditawarkan padanya itu bukanlah pekerjaan yang benar-benar ia inginkan. Tapi ia tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan itu apalagi di saat kondisi terdesak seperti saat ini. Setidaknya pekerjaan itu dapat membuatnya bertahan sementara waktu sebelum tabungannya yang tak seberapa itu benar-benar habis.
"Saya Anne-Marie."
**
Matahari baru saja kembali ke peraduannya ketika Anne-Marie selesai memasak untuk makan malamnya. Meski tak seahli kedua orang tua maupun neneknya, gadis itu cukup berbakat dalam mengolah bahan-bahan makanan menjadi suatu hidangan yang lezat. Kali ini ia membuat sup asparagus yang dimasak dengan plain yoghurt, telur dan potongan daging ayam. Salah satu hidangan favoritnya. Sayangnya malam ini ia harus makan sendiri karena neneknya pergi ke Yogyakarta siang tadi setelah mereka bicara membahas pelimpahan restoran.
Sambil menikmati suap demi suap supnya, pikiran Anne-Marie menerawang pada kejadian siang tadi. Bukan pada pembicaraannya dengan sang nenek, melainkan pada pertemuannya dengan lelaki bernama Ramon itu. Entah mengapa seperti ada sesuatu yang berbeda pada lelaki itu, pikir Anne-Marie.
Ia ingat betul bagaimana lelaki itu memasukkan plastik bungkus rotinya ke dalam saku ransel setelah menengok ke sana kemari dan tak menemukan tempat sampah di dekatnya. Mungkin bagi sebagian orang itu hanya hal sepele soal selembar sampah plastik. Tapi baginya, hal itu mencerminkan satu sikap yang patut diapresiasi.
Karena itulah Anne-Marie tanpa ragu langsung menawarkan pekerjaan setelah mendengar cerita lelaki itu. Meski pada pandangan pertama, fisik Ramon yang tinggi besar dengan ekspresi wajahnya yang cenderung tegas dan kaku cukup membuat Anne-Marie terintimidasi. Tapi hatinya berkata bahwa lelaki itu adalah orang baik-baik dan ia tak akan menyesal mempekerjakannya.
Lagi pula ia pun saat itu benar-benar merasa tidak tega ketika melihat lelaki itu nampak pucat dan hampir pingsan. Ia yakin itu bukan hanya karena cuaca panas dan kelelahan. Ia yakin bahwa lelaki itu kurang mendapat asupan gizi, entah hanya hari itu atau malah telah berhari-hari. Mana ada orang yang hanya makan roti padahal di sampingnya ada sebuah restoran yang menghidangkan berbagai macam menu dengan harga yang terjangkau kecuali orang itu memang benar-benar tak cukup memiliki uang, duga Anne-Marie.
Memikirkan hal itu membuat ia merasa sedikit menyesal. Ia kini dapat makan enak dan bergizi tapi entah bagaimana nasib orang itu, juga sekian banyak orang di luar sana yang mungkin merasa semakin tercekik dengan keadaan saat ini.
Dering ponsel yang mendendangkan lagu 'Look for the good' menyadarkan Anne-Marie dari lamunannya. Segera diraihnya benda pipih warna putih yang tergeletak tak jauh di depan mangkuk supnya dan diusapnya tombol hijau ke atas.
"Hai, Mama." Sapa Anne-Marie sambil memainkan sendoknya mengaduk-aduk sup asparagusnya.
"Are you okay, Sweetheart? Kenapa suaramu terdengar lesu?"
"Hmm. Nenek pergi ke Yogya siang tadi dan sekarang aku terpaksa makan malam sendiri."
"Oh, Sayang. Kau pasti merasa kesepian. Apa nenek akan lama di Yogya? Apa Mama harus segera ke sana untuk menemanimu, Sayang?" Tanya Parahita dengan nada khawatir. Ia pernah kecolongan empat tahun lalu dan ia tak ingin menemukan putri semata wayangnya itu kembali dalam kondisi yang hingga kini seringkali mengganggu tidurnya.
"Tidak perlu, Mama. Kalian pasti sibuk di sana. Nenek bilang tidak akan lama di sana. Hanya ingin mengunjungi makam kakek saja katanya."
"Ah, nenekmu itu masih saja seperti dulu. Cintanya pada kakekmu membuatnya lupa bahwa tubuhnya semakin renta dan lemah. Apa nenek pergi sendiri lagi?"
"Ya, Mama. Seperti biasa nenek tidak mau ditemani." Jawab Anne-Marie sambil meletakkan sendoknya. Diraihnya gelas berisi air putih di hadapannya dan meminumnya beberapa teguk.
"Huft, kita do'akan saja semoga nenek baik-baik saja."
"Hmmm. Ngomong-ngomong, siang tadi sebelum nenek pergi kami kembali membicarakan masalah pelimpahan Pawon Ageng. Rasanya kali ini aku tidak bisa mengelak lagi, Mama."
"Bagaimana lagi, Sayang. Cepat atau lambat hal itu akan tetap terjadi. Termasuk La Chapelle juga nantinya. Mama yakin kau pasti bisa menanganinya, Sayang. Bukankah selama di sana, selain mengurus Anne-Marie Florist, kau juga belajar banyak hal dengan nenek?"
"Ya, itu memang benar. Hanya saja, aku takut tidak bisa menjadi seperti yang nenek harapkan dan pada akhirnya membuatnya kecewa."
"Sweetheart, bukankah kita sudah sepakat mengenai satu hal itu? Tidak ada yang memintamu menjadi seperti itu, entah seperti yang nenek inginkan ataupun Mama dan Papa inginkan. Kau cukup menjadi dirimu, seperti diri yang kau inginkan, Sayang. You need not to push yourself too hard. Pelan-pelan nikmati semua prosesnya. Kami selalu ada untukmu, Sayang, kami selalu mendukungmu. Jika nanti kau butuh bantuan, kami selalu siap. Kau mengerti itu kan, Sayang?"
Anne-Marie menghirup nafas dalam-dalam sampai batas rongga dadanya tak mampu lagi menampung apa-apa. Ia lalu menghembuskannya dengan sangat perlahan mencoba membuang serta segala kecemasan yang ada di dalamnya. Lagi-lagi ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia kini telah berada di kehidupannya yang baru. Maka sudah semestinya tak ada hal sekecil apapun dari masa lalunya yang dapat mengganggunya sekarang.
Empat tahun berlalu sudah dan ia tak ingin semuanya jadi sia-sia. Empat tahun perjuangannya dengan segala pengorbanannya, membiarkan skripsinya terbengkalai, mengabaikan tawaran kesempatan S2 di Harvard, dan harus hidup jauh dari kedua orang tua dan teman-teman.
Teman? Anne-Marie hanya bisa meringis menahan nyeri di dadanya mengingat satu kata itu. Entah, ia merasa tak tahu lagi definisi kata yang satu itu. Entah selama ini ia benar-benar memiliki seseorang yang memang layak disebut teman atau tidak.
**