Part 2

2350 Words
Siang itu di sebuah ruangan bernuansa klasik dengan perabotan dari kayu jati kualitas super, satu set meja kerja yang dipenuhi dokumen di atasnya, lemari kayu di sisi kiri, dan satu set kursi rotan dengan ukiran khas Jepara di bingkai sandaran dan lengannya di sisi kanan ruangan tepat di sebelah jendela kaca besar menghadap langsung ke taman, seorang wanita tua berpakaian kebaya nampak tengah berbincang serius dengan gadis yang dari raut mukanya bisa disimpulkan bahwa ia merasa tidak terlalu nyaman di sana. Meski masih bisa duduk dengan punggung tegak, tapi kedua tangannya yang saling meremas dan mulai berkeringat itu tak dapat menutupi kegelisahannya.  "Bukankah nenek tahu sekarang saya sudah punya toko bunga dan masih mengerjakan sendiri rangkaian bunga tertentu yang tidak bisa dikerjakan karyawan? Kalau saya juga yang memegang restoran ini, lalu bagaimana nasib usaha yang saya bangun dari nol itu? Anne-Marie Florist ibarat darah daging saya sendiri, Nek. Saya mohon nenek bisa mengerti. Lagi pula, kenapa terburu-buru begini? Bukankah masih banyak yang harus saya pelajari?" "Nenek tidak memintamu untuk menutup usaha itu, Anne-Marie. Jika kau khawatir dengan pelanggan eksklusif yang selalu meminta rangkaian bunga karya tanganmu sendiri, latih saja Saka. Nenek lihat dia sangat berbakat dan nalurinya dalam seni merangkai bunga cukup bagus. Kamu ingat kan bagaimana dia merangkai bunga-bunga sisa yang sebagian sebenarnya sudah tidak layak jual menjadi satu rangkaian bunga yang sungguh cantik? Dia hanya perlu dibimbing sedikit, Anne-Marie, tidak perlu waktu lama dan ia bisa mengerjakan pesanan dari pelanggan-pelanggan eksklusif itu. Kau hanya perlu melihatnya dan menilai apakah rangkaian itu layak atau tidak sebelum mengirimkannya. Nenek mohon, Sayang, pikirkanlah sekali lagi! Ini adalah waktu yang tepat. Nenek tidak bisa menunggu lebih lama lagi."  Nyonya Laksmi meraih kedua tangan sang cucu dan menggenggamnya erat. Matanya yang sayu menatap gadis itu lekat-lekat, penuh permohonan. Ia bertekad untuk tidak menyerah dalam membujuk cucu semata wayangnya itu. Ia tak punya harapan lagi selain pada gadis yang selama empat tahun ini selalu saja menolak permintaannya untuk segera mengambil alih restoran yang ia dirikan bersama almarhum suaminya puluhan tahun lalu. Bagi Nyonya Laksmi, restoran itu adalah mimpi sekaligus kenangan yang begitu berharga yang tidak mungkin ia biarkan hancur. Ia pun rasanya tak akan pernah rela untuk membiarkan orang lain selain Anne-Marie, penerusnya satu-satunya, untuk mengelolanya. Sebenarnya, bertahun-tahun lalu ketika suaminya masih hidup, restoran itu hendak dilimpahkan pada putri tunggal mereka, Parahita Mahiswara, ibu dari Anne-Marie. Tapi Parahita menolak karena ia sendiri telah cukup sibuk membantu mengembangkan restoran suaminya. Ditambah lagi ia adalah seorang koki western food, sementara restoran Nyonya Laksmi adalah restoran khas Jawa.  Restoran dengan nama Pawon Ageng itu didirikan ketika Parahita baru masuk sekolah dasar. Berawal dari sebuah warung makan kecil yang kemudian terus berkembang. Ia dan suaminya telah berjuang begitu keras dari nol, merintis dan membesarkan restoran itu dengan jatuh bangun yang entah berapa kali sampai akhirnya bisa sebesar sekarang.   Krisis moneter di akhir tahun 90'an adalah salah satu keadaan paling sulit bagi mereka. Mereka bahkan hampir saja gulung tikar andai Nyonya Laksmi tak berkeras untuk tetap bertahan dengan menjual sebidang tanah warisan dari orang tuanya di Yogyakarta demi mendapatkan suntikan modal. Karena itulah, ketika keadaan sekarang pun terasa serupa dengan krisis saat itu, Nyonya Laksmi berkeras untuk tidak akan membiarkan restoran itu jatuh. Pandemi Covid-19 yang semakin mempengaruhi aktivitas perekonomian di masyarakat ini tentu juga berdampak pada Pawon Ageng. Selama kurang lebih satu tahun masa pandemi, pendapatan restoran ini jauh berkurang bahkan hampir mencapai 50%. Sempat terpikir oleh Nyonya Laksmi untuk mengurangi beberapa pegawai, entah itu pramusaji ataupun asisten dapur yang tak terlalu fatal posisinya, tapi ia merasa tak sampai hati melakukannya. Ia lebih memilih untuk menanggung resiko kerugian sementara ini dan berharap bahwa keadaan akan segera membaik.  Lalu Nyonya Laksmi berpikir bahwa mungkin saat ini adalah saat yang paling tepat untuk, katakanlah, meminta bantuan pada sang cucu. Ia yang semakin tua merasa semakin sulit untuk menghadapi masalah ini sendiri, apalagi kondisi fisiknya juga semakin menurun. Ia sangat yakin jika Anne-Marie bisa menemukan solusi untuk mempertahankan restoran ini. Ia percaya bahwa gadis itu mampu.  "Saya rasa Chef Cokro lebih pantas. Lagi pula dia sudah belasan tahun bekerja pada Nenek. Dia cukup berpengalaman dan jauh lebih tahu seluk-beluk restoran ini dibandingkan dengan saya yang masih sangat awam." "Nenek rasa kau sudah cukup siap, Sayang. Tak perlu khawatir, nenek masih akan mendampingimu sampai pada akhirnya kau siap untuk memegang kendali restoran ini secara penuh. Restoran ini hanya restoran kecil jika dibandingkan dengan restoran orang tuamu. Ini tidak akan sesulit yang kau bayangkan. Kau hanya perlu mempelajari tentang beberapa hal lagi. Lagi pula, kau sudah cukup tahu mengenai tradisi yang menjadi penyangga restoran ini, seperti apa sistem yang digunakan, bagaimana standard kualitas dan mutu yang kami terapkan. Kau hanya perlu menemukan semacam inovasi mungkin atau beberapa hal lain untuk kemudian kau jadikan dasar menentukan langkah-langkah terbaik untuk menjalankan restoran ini. Kemampuanmu dalam business management sudah cukup menjadi dasar yang dibutuhkan di sini. Bukankah itu sesuai dengan jurusan yang kau ambil?" "Saya berhenti di tengah skripsi. Saya belum lulus. Nenek perlu ingat itu." "Lupakan soal lulus ataupun gelar sarjana itu. Yang pasti nenek tahu persis kualitasmu."  Anne-Marie mendengus pelan. Rasanya melelahkan sekali berdebat dengan wanita tua satu itu. Ia benar-benar keras kepala seolah tidak mau menyerah dengan keinginannya untuk memintanya segera mengambil alih restorannya, lebih tepatnya memaksa.  Di satu sisi Anne-Marie kasihan melihat neneknya yang sudah berusia lebih dari tujuh puluh tahun itu masih harus dibebani urusan seperti ini. Tapi di sisi lain ia sama sekali tak pernah menyangka harus menggantikan sang nenek secepat ini, di saat ia merasa belum siap. Padahal neneknya itu memiliki tangan kanan yang sudah bekerja padanya bertahun-tahun. Tentu ia lebih memahami restoran ini dan tahu apa yang harus dilakukan. Seharusnya nenek mempercayakan saja restoran ini padanya.  Meski jika mengingat dari keluarga mana Anne-Marie berasal, tentu hal semacam pelimpahan kekuasaan, bisnis dan warisan, tak terlalu mengagetkan. Ia putri tunggal dari orang tua yang juga sama-sama anak tunggal, yang tentu suatu hari nanti akan mewarisi bisnis orang tuanya. Sekarang, ditambah lagi bahwa ia akan segera mewarisi restoran sang nenek.  Orang yang melihat mungkin hanya akan mengatakan bahwa Anne-Marie adalah gadis yang sangat beruntung. Memiliki fisik rupawan, kaya secara otomatis tapi tetap mandiri merupakan satu paket kesempurnaan yang tentu membuat orang-orang mudah merasa iri padanya. Tapi kenyataannya, belum apa-apa ia sudah ingin berteriak rasanya. Betapa ia akan menghadapi hari-hari yang keras setelah ini jika ia menerima tawaran neneknya. Padahal selama empat tahun ini ia baru saja kembali belajar untuk menikmati hidupnya yang sebelumnya pernah ingin ia akhiri.  "Baiklah. Tapi beri saya waktu untuk mempertimbangkan beberapa hal. Saya perlu memikirkan apa yang harus saya lakukan supaya semua ini bisa benar-benar berjalan dengan baik. Yang jelas saya tidak ingin mengorbankan Anne-Marie Florist."  "Tentu. Pikirkanlah baik-baik semua ini. Tapi nenek harap tidak terlalu lama. Kau tahu sendiri seperti apa keadaannya sekarang." "Ya. Saya paham. Tapi jika saya menerimanya, apakah nenek mau berjanji satu hal?" "Apa itu, Sayang? Katakan saja!" "Jika saya menerimanya, saya harap nenek bisa menghormati dan mendukung setiap keputusan yang mungkin akan saya ambil nantinya. Nenek harus percaya, apapun itu semata-mata adalah demi kebaikan Pawon Ageng. Apa nenek bersedia?" Nyonya Laksmi terdiam. Ia telah memutuskan untuk melimpahkan restoran ini pada Anne-Marie. Bukankah itu artinya bahwa ia seharusnya percaya penuh pada cucu semata wayangnya itu, batin Nyonya Laksmi. Jika memang demikian, maka sudah semestinya ia tak lagi meragukan apapun bukan?  "Baiklah. Tentu. Nenek akan menyerahkan segalanya padamu. Nenek hanya akan mendampingimu sekedar untuk memberitahumu apa-apa saja yang memang perlu kau ketahui mengenai profil Pawon Ageng." Nyonya Laksmi yang merasa begitu bahagia dengan keputusan Anne-Marie itu segera beranjak dari kursinya. Ia lalu mendekati sang cucu dan memeluknya. Berulangkali wanita tua itu mengecup kening Anne-Marie dan mengucapkan terima kasih membuat gadis itu terenyuh.  Mungkin neneknya itu memang sudah merasa lelah, batin Anne-Marie. Selama ini, sejak muda hingga usianya kini yang telah lebih dari tujuh puluh tahun itu, ia selalu bekerja keras. Ia seharusnya menikmati masa tua dengan damai, banyak bersantai di rumah atau berkumpul dengan teman-temannya untuk minum teh dan berbincang ringan.  Mungkin sekaranglah saatnya bagi Anne-Marie untuk mengambil alih tanggung jawab yang selama ini dipikul sang nenek. Ia sadar usianya semakin dewasa. Maka sudah semestinya sikapnya pun semakin dewasa. Mungkin saat untuk bermanja-manja baginya telah habis. Benarkah ia telah siap untuk kehidupan yang lebih rumit, tanya Anne-Marie pada dirinya sendiri.  Tak menyangka, ketika kecil dulu ia selalu berkata pada kedua orang tuanya bahwa ia ingin segera menjadi dewasa. Bahkan selalu bersikap sok dewasa. Tapi ketika dihadapkan pada kenyataan, betapa rumitnya kehidupan yang harus dilalui orang dewasa, ia merasa ingin kembali menjadi anak kecil lagi. Seperti ketika peristiwa itu terjadi, peristiwa yang membuatnya pada akhirnya berada di kota ini, saat itu pun ia rasanya ingin tetap menjadi anak kecil yang hanya tahu bermain dan bersenang-senang, menangis hanya karena luka di lutut ketika terjatuh, bukan menangis karena luka di hati yang entah bagaimana caranya menyembuhkannya. ** "Jadi, apa kamu benar-benar yakin dengan pilihanmu, Sayang?"  "Iya, Mama. Aku yakin." "Tidak tertarik dengan..., Le Cordon Bleu?" "Le Cordon Bleu? Supaya jadi chef seperti Mama dan Papa?" "Tentu tidak harus jadi chef. Di sana juga ada jurusan bisnis khusus bidang kuliner, Sayang. Kau anak kami satu-satunya. Semua yang kami miliki sekarang tentu akan menjadi milikmu nantinya. Kau adalah pewaris La Chapelle." "Itu benar. Tapi itu tidak adil untuk nenek. Dulu Mama menolak untuk menjadi pewaris Pawon Ageng, padahal Mama anak nenek satu-satunya. Setelah itu, seperti yang kalian tahu, nenek selalu berusaha membuatku bersedia mewarisi Pawon Ageng dan semua tradisi yang menyertainya itu."   Parahita tak dapat mengelak. Tak dapat ia pungkiri bahwa sampai saat ini masih ada rasa bersalah yang bercokol di hatinya. Karena ia menolak mewarisi Pawon Ageng, ibunya kini masih harus bekerja keras hingga di usia senjanya. Pendiriannya begitu teguh dalam menjaga tradisi yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Hal itulah yang menyebabkan sang ibu tidak mau menyerahkan pengelolaan restoran itu pada orang selain ahli warisnya.  Sebelumnya, nenek moyang mereka merupakan koki istana dan secara turun-temurun secara tidak langsung mewariskan profesi itu pada generasi di bawahnya. Mereka selalu menjaga originalitas resep setiap hidangan yang juga diwariskan secara turun-temurun. Meski Sultan silih berganti, keluarga mereka berhasil bertahan memegang jabatan kepala koki istana. Namun keadaan mulai berubah ketika Belanda mulai menjajah tanah Nusantara. Apalagi ketika pengaruh mereka semakin kuat tak hanya secara politik tetapi juga budaya. Seperti diketahui, ada sebagian kalangan saat itu yang justru seolah secara suka rela menjadi boneka para penjajah. Mereka tak hanya antek-antek yang siap menuruti perintah, tapi kemudian juga bertingkah dan meniru gaya hidup bangsa itu yang digadang-gadang jauh lebih beradab dari bangsa manapun di dunia.  Saat itulah hidangan Eropa turut serta secara perlahan mulai menggoda minat para bangsawan bahkan kalangan elit kerajaan. Bahkan istana saat itu menambah satu dapur khusus yang digunakan untuk memasak hidangan Barat dan mempekerjakan koki asli dari Negeri Kincir Angin.  Hal tersebut tentu melukai harga diri para koki istana, terutama Raden Ayu Adiningrum, nenek dari Nyonya Laksmi. Hingga pada akhirnya keputusan besar pun diambil, ia mengundurkan diri dan keluar dari istana serta melepaskan semua gelar kehormatan yang pernah diberikan Sultan. Mereka lalu menyepi dan tinggal di daerah pinggiran sebagai rakyat biasa.  Meskipun demikian, tradisi menurunkan keahlian dalam memasak dengan resep-resep hidangan kuno istana tetaplah berjalan, hingga Nyonya Laksmi. Ia adalah generasi penerus terakhir yang memegang resep-resep kuno itu. Karena putrinya, Parahita Mahiswara, yang tak lain adalah ibu dari Anne-Marie, menolak menerima warisan resep itu.  Parahita menolak mempelajari apa yang selama ini dijaga kelestariannya oleh keluarganya. Meski ia tetap menuruni bakat dan minat dalam dunia tata boga, ia memilih untuk mempelajari kuliner Barat. Ia beralasan bahwa semua tradisi itu adalah masa lalu, mereka tidak lagi hidup di bawah atap istana, tidak lagi mengemban tugas dari istana, lalu untuk apa mempertahankan tradisi itu. Ditambah lagi dengan satu aturan yang tetap mereka pegang, bahwa hidangan-hidangan itu tetap tidak boleh disajikan kecuali untuk kalangan istana. Hal itulah yang membuat Parahita semakin menolak untuk meneruskan tradisi tersebut.  Saat itu ia benar-benar tak habis pikir, untuk apa belajar memasak satu hidangan yang pada akhirnya tidak akan pernah dapat ia sajikan pada siapapun. Karena itulah kemudian ia memantapkan diri untuk pergi ke Perancis demi menjadi seorang koki western food seperti yang ia cita-citakan meski harus susah payah mencari beasiswa dan hidup pas-pasan di sana. Hingga kemudian ia bertemu Vincent La Chapelle, seorang chef yang telah mencapai gelar Michelin bintang tiga di usianya yang terbilang masih muda, 27 tahun.  "Baiklah. Papa setuju dengan pilihanmu. Kau berhak menentukan jalanmu sendiri. Business management pun jurusan yang bagus. Apalagi kau memang menyukai segala hal tentang bisnis." "Tapi, Vincent, bisnis kita sudah jelas adalah bisnis kuliner. Bukankah akan lebih bagus jika Anne-Marie sekalian fokus dengan mengambil jurusan culinary business?"  "Anne-Marie berhak memilih jalannya sendiri, Sayang, dan jalannya itu masih panjang. Siapa tahu nanti dia ingin mendirikan bisnis di bidang lain. Toh prinsipnya sama saja. Mengenai La Chapelle, kita bisa mengenalkannya secara perlahan. Juga Pawon Ageng, suatu hari nanti pasti akan tiba saatnya bagi Anne-Marie untuk mengambil alih tanggung jawab itu dari ibu. Jadi untuk saat ini, biarkan dia berada di jalannya sendiri." Vincent berusaha menengahi. Bagaimanapun, Anne-Marie adalah putri semata wayang yang sangat ia sayangi. Ia tak ingin membuat sang putri merasa tertekan apalagi terpaksa mengikuti keinginan yang tidak disukainya.  Ia sendiri juga anak tunggal. Ayahnya seorang diplomat yang seringkali dipindahtugaskan ke berbagai negara. Ia pun dulu seperti tak punya pilihan selain turut serta kemanapun ayahnya ditugaskan. Hal itu membuatnya kesulitan dalam bergaul. Ia bahkan tidak memiliki teman yang benar-benar dekat.   Hingga pada akhirnya ia mulai tertarik dengan dunia kuliner ketika mulai masuk Junior High School. Setiap berpindah dari satu negera ke negara lain, ia selalu mencari tahu dan mempelajari makanan khas negara itu. Hal yang awalnya ia lakukan sekedar sebagai pengalihan atas kesepiannya, perlahan berubah menjadi satu obsesi yang tak terbantahkan.  Vincent yang penurut untuk pertama kalinya menentang sang ayah yang sebelumnya hendak mendaftarkannya untuk masuk jurusan hubungan internasional. Ayahnya selalu mengatakan padanya untuk menjadi seperti dirinya, menjadi diplomat yang mengambil peranan penting untuk negara. Beruntung sang ibu mendukung keputusannya untuk mengambil jurusan cuisine di Le Cordon Bleu dan membantunya membujuk sang ayah. Meski pada akhirnya ayahnya tetap tak memberinya restu, tapi setidaknya laki-laki itu tidak juga menghalanginya.  **  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD