Part 1

2461 Words
"Ada empat hal yang tidak dapat kembali: kata yang terucapkan, anak panah yang terlepas, masa lalu, dan kesempatan yang disia-siakan." (Nn) ** Pagi itu, Jum'at, 26 Februari 2017. Vincent La Chapelle dan Parahita Mahiswara mengantarkan putri semata wayangnya, Anne-Marie, ke Stasiun Gambir. Mengendarai BMW X5 kesayangannya, Vincent mengemudi dengan lincah membelah kemacetan kota Jakarta. Langit pagi itu nampak mendung seolah merepresentasikan perasaan keluarga kecilnya itu. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, dengan berat hati Vincent dan Parahita harus melepas kepergian Anne-Marie untuk tinggal bersama sang nenek, Laksmi Chandra Notokusumo di Purwokerto, sebuah kota di Jawa Tengah yang berjarak lebih dari 350 kilometer jauhnya dari Jakarta. Sebelumnya, pasangan suami istri beda kebangsaan itu tak pernah sekalipun berjauhan dari sang putri. Tapi kali ini, keadaan seolah memaksa mereka untuk mengikhlaskan gadis yang mulai menginjak dewasa itu sementara waktu. Toh ini memang demi kebaikan putri mereka juga. Awalnya Vincent dan Parahita hendak mengantar Anne-Marie ke kota yang dikenal dengan sebutan Kota Satria itu sendiri, mengingat kondisi sang putri yang masih dalam proses recovery. Tetapi sang putri bersikeras ingin pergi sendiri naik kereta. Padahal sebelumnya, meski ia telah berusia 22 tahun, ia sama sekali belum pernah keluar rumah sendirian, apalagi itu adalah perjalanan yang cukup jauh. Menjadi putri tunggal dari pasangan pemilik restoran Perancis La Chapelle yang sangat terkenal dan memiliki cabang di tiap kota besar di Indonesia itu membuatnya diperlakukan seperti seorang putri raja yang selalu dilayani dan dipenuhi segala keinginannya. Anne-Marie bisa dibilang tumbuh menjadi seorang gadis manis yang manja. Tetapi, dengan segala kelebihan dan latar belakangnya itu, ia tak serta merta menjadi gadis sombong ataupun angkuh. Ia tumbuh menjadi pribadi yang ceria dan mudah bergaul, persis seperti sang ayah. Sementara secara fisik, ia ibarat duplikat sang ibu ketika muda, tinggi semampai dengan kulit kuning langsat, wajah tirus dengan dagu runcing, hidung kecil, mata bulat, dan alis yang seperti bulan sabit. Yang berbeda hanyalah pada warna mata dan rambutnya yang menurun dari gen sang ayah, rambut coklat terang dan iris mata hijau. Memiliki perpaduan dua gen menjadikan Anne-Marie sosok yang unik di mata orang-orang di sekitarnya. Ia selalu jadi sosok populer yang dikejar-kejar lawan jenis. Apalagi kepribadiannya yang mudah sekali akrab dengan orang-orang yang baru dikenal, juga membuatnya tak kesulitan menjalin hubungan pertemanan. Di antara sekian banyak temannya, ada Jasmine Liem yang merupakan sahabat terdekatnya sejak sekolah dasar. Seorang gadis keturunan Tionghoa - Inggris, putri dari pengusaha konstruksi yang tengah melebarkan sayap ke manca negara. Anne-Marie dan Jasmine adalah dua sosok yang hampir serba berkebalikan, seperti cermin. Anne-Marie feminim, ceria, mudah bergaul, dan tutur katanya lembut, sedangkan Jasmine cenderung maskulin, pendiam, sulit bersosialisasi, dan sekali bicara nadanya ketus. Anne-Marie memilih jurusan business management, sedangkan Jasmine memilih Teknik Sipil. Tetapi meskipun ada begitu banyak perbedaan di antara keduanya, hal itu justru seolah menjadi pelengkap satu sama lain. Jurusan kuliah yang berbeda tak jadi halangan bagi mereka untuk jalan, nonton dan nongkrong atau belanja bersama. Entah bagaimana caranya mereka selalu bisa mengatur waktu untuk quality time berdua atau kadang bersama beberapa teman yang lain juga. Hanya dua hari dalam sepekan mereka tidak akan nampak bersama, yaitu Selasa, dimana Anne-Marie harus mengikuti kegiatan di UKM Seni Rupa, dan Sabtu, hari bagi Jasmine untuk berkumpul bersama teman UKM Pecinta Alam. Eratnya hubungan persahabatan di antara mereka membuat jarak keduanya seolah terkikis habis, setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Anne-Marie. Gadis itu tak segan menceritakan apapun yang ia alami, rasakan, bahkan juga rahasianya pada sang sahabat, mungkin hampir tak ada satupun yang terlewat. Entah itu persoalan remeh temeh, perkuliahannya, atau kisah asmaranya yang jatuh bangun sejak masa SMA. Memiliki paras yang diidam-idamkan kaumnya memang tak serta merta membuat kisah asmara Anne-Marie seindah dan selancar harapannya. Keluguannya, juga sifatnya yang mudah mempercayai orang lain, tak pernah berpikiran buruk, membuatnya berkali-kali harus merasakan pahitnya dipermainkan dan dikhianati. Selama SMA dulu, empat kali ia berpacaran dan semuanya berakhir tak sampai lebih dari tiga bulan dengan penyebab perselingkuhan sang kekasih atau putus tanpa alasan yang jelas. Prinsip awal yang ia pegang bahwa yang lalu biarlah berlalu, yang membuatnya bisa segera move on, lama-lama terasa getir juga. Hingga akhirnya, Anne-Marie menghabiskan tahun terakhirnya di SMA hanya untuk fokus belajar. Tekadnya itu pun membawa hasil yang memuaskan, ia lulus dengan nilai yang membanggakan dan masuk ke universitas terbaik di negeri ini. Tahun pertama ia berhasil menjaga hatinya supaya tak tergoda rayuan entah berapa banyak teman kampus yang mendekatinya. Namun di tahun kedua, hati Anne-Marie berhasil diluluhkan oleh seorang Satria Kusuma Wijaya, mahasiswa senior satu tingkat di atasnya, satu jurusan dengan Jasmine. Awalnya, Anne-Marie menduga pemuda itu sedang menjalin hubungan dengan sahabat tomboinya itu. Apalagi mereka sering terlihat bersama karena berada dalam satu UKM juga. Karena itulah ketika Satria menyatakan perasaannya, Anne-Marie sempat terkejut dan merasa tak enak hati pada Jasmine. Tapi kemudian, sang sahabat meyakinkannya bahwa selama ini kedekatan mereka tak lebih dari senior-junior dan teman satu UKM. Meski awalnya ragu dan masih terbayang kisah asmara masa SMA-nya yang selalu berakhir menyedihkan, pada akhirnya Anne-Marie tak mampu menolak pesona seorang Satria Kusuma Wijaya. Tak hanya fisiknya yang rupawan, tapi perhatian yang diberikan pemuda itu benar-benar membuat Anne-Marie goyah. Apalagi pada dasarnya gadis itu memang selalu haus perhatian, mengingat kesibukan kedua orang tuanya membuat mereka seringkali tidak bisa berkumpul dan memiliki quality time bersama. Satria yang begitu dewasa, pengertian dan selalu siap sedia saat dibutuhkan menjadikan Anne-Marie dengan mudah bergantung padanya. Untungnya, Satria adalah sosok pemuda baik-baik yang tidak memanfaatkan keberpengaruhannya untuk mengambil keuntungan dari gadis itu. Hubungan mereka pun berjalan mulus tanpa masalah berarti. Dari Satria, Anne-Marie belajar bagaimana untuk bisa lebih memahami kesibukan orang tuanya dan tidak mengeluhkannya. Karena Satria pun sebenarnya bisa dibilang mahasiswa yang cukup sibuk. Selain menjabat sebagai ketua UKM Pecinta Alam, ia juga menjabat sebagai humas BEM universitas yang seringkali harus ke sana kemari apalagi ketika ada kegiatan tertentu. Oleh sebab itulah, Anne-Marie perlahan tak selalu menuntut untuk bisa bertemu setiap hari dengan Satria. Tapi jika memang ada kesempatan, maka mereka akan menghabiskan waktu bersama. Pasangan Anne-Marie dan Satria ibarat pasangan putri dan pangeran yang seakan menjadi role model bagi teman-teman sekampus mereka, tak hanya di kalangan mahasiswa jurusan Business Management dan Teknik Sipil saja, bahkan sampai satu universitas. Tak sedikit dari teman mereka yang terang-terangan menggoda dengan mengatakan bahwa mereka akan segera menikah begitu Satria lulus dan mendapat pekerjaan, atau malah tak lama setelah lulus. Perkataan semacam itu sudah biasa terdengar oleh telinga Anne-Marie maupun Satria. Hal yang membuat pipi Anne-Marie merona dan diam-diam mengaminkannya dalam hati. Apalagi menginjak tahun ke-tiga hubungan mereka dimana mereka sama-sama tengah berjuang untuk menyelesaikan skripsi, perkataan semacam itu makin santer terdengar. Bahkan beredar pula gosip bahwa sebenarnya mereka sudah bertunangan. Tentu Anne-Marie berharap hal itu akan benar-benar terjadi suatu hari nanti. Satria memang pernah mengatakan bahwa ia menjalani hubungan itu bukan untuk main-main atau sekedar pacaran biasa. Tapi Anne-Marie tidak berani menduga-duga, apakah yang dimaksud Satria adalah bahwa ia berniat membawa hubungan itu hingga jenjang pernikahan. Apalagi mereka memang belum pernah membahas persoalan itu dengan lebih serius. Satria memang satu tingkat di atas Anne-Marie, tapi sudah sangat umum bagi mahasiswa jurusannya yang baru bisa lulus setelah lima tahun masa studi karena beratnya materi perkuliahan. Sementara Anne-Marie dapat melalui masa studinya dengan normal dan sudah memulai skripsi begitu masuk tahun ke-empat. Sama-sama disibukkan dengan urusan skripsi, membuat mereka terpaksa harus mengurangi intensitas pertemuan. Meskipun berat, Anne-Marie berusaha untuk tidak mempermasalahkannya. Ia berusaha untuk mengerti walaupun kadang sisi lain dirinya mengatakan bahwa Satria seolah semakin jauh darinya, atau bahkan justru menjauh. Tapi Anne-Marie yang lugu itu memang selalu tak bisa berpikiran negatif pada sang kekasih. Bahkan meski Satria semakin jarang menghubunginya dan membalas panggilan telepon maupun pesan-pesannya, ia selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa pemuda itu benar-benar sedang sibuk dan tak bisa diganggu. Beruntung Anne-Marie memiliki seorang sahabat seperti Jasmine yang selalu ada untuknya dan mendengar segala keluh kesahnya, membuatnya tidak terlalu merasa kesepian. Sahabatnya itu selalu dapat membuat suasana hatinya merasa lebih baik. Rasanya, tanpa Jasmine mungkin akan sulit baginya melewati masa-masa skripsi yang melelahkan dan begitu menguras energi serta pikiran, ditambah lagi masalah Satria. Anne-Marie sangat bersyukur dan berpikir ia harus melakukan apa saja untuk membalas kebaikan sahabatnya itu. Hingga hari itu tiba. Hari dimana segalanya nampak mustahil bagi Anne-Marie andai saja ia tidak mengetahuinya sendiri, melihatnya dengan mata kepala sendiri. Persahabatan yang telah berlangsung bertahun-tahun itu seketika hancur karena satu peristiwa yang sama sekali tidak pernah Anne-Marie duga sebelumnya. Satu peristiwa yang menjadi pukulan terberat selama hidupnya. Satu peristiwa yang membuatnya mengambil keputusan tanpa memikirkan akibat yang dapat ditimbulkan dan kemudian mengubah dirinya secara menyeluruh. Peristiwa yang membuatnya sampai mencoba untuk mengakhiri hidup dengan mengiris nadinya. ** Pukul delapan tepat kereta Argo Dwipangga yang akan membawa Anne-Marie ke pelukan sang nenek akhirnya berangkat. Gadis itu melihat ke arah luar jendela dan melambaikan tangan kanannya yang masih diperban pada kedua orang tuanya yang terlihat berpelukan. Sebisa mungkin ia mencoba untuk tersenyum pada mereka. Tapi ia tak tahu, senyum seperti apakah yang nampak di mata orang tuanya. Yang jelas saat itu, lagi-lagi ia melihat air mata mengalir dari mata indah mereka. Setelah kereta mulai melaju cepat, Anne-Marie memundurkan sedikit sandaran kursi yang ia tempati, lalu merebahkan punggungnya. Meski pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang berseliweran, tapi ia berusaha menikmati perjalanannya kali ini. Merasakan kursinya yang empuk, ruang kaki yang lapang dan suhu udara yang sejuk di kabin kereta eksekutif ini. Ia tidak menyesal telah ngotot untuk pergi dengan kereta. Ia cukup puas dengan fasilitas yang ditawarkan moda transportasi darat yang satu ini. Anne-Marie menatap ke luar jendela menatap deretan bangunan di pusat ibukota yang baginya sebenarnya tak cukup menarik lagi. Tapi ia tak punya pilihan karena kursi penumpang di sebelahnya ternyata kosong sehingga ia tak punya kawan untuk sekedar berbasa-basi. Ia tak terlalu memperhatikan sekitar sebelumnya sehingga tak menyadari bahwa pagi itu gerbong yang ia tempati tak terisi penuh, mungkin hanya sekitar enam puluh persen kursi saja yang terisi. Empat puluh menit berlalu dengan segala hal yang tak pasti di hati Anne-Marie. Gerimis yang turun sejak sepuluh menit lalu kini nampak menderas, membuatnya semakin larut dalam gejolak pikirannya. Getaran di saku jaket yang ia kenakan tiba-tiba seolah menariknya pada kesadaran. Dua buah pesan masuk dari sang ibu yang mengatakan bahwa mereka baru saja sampai di restoran, jalanan macet membuat mereka membutuhkan waktu dua kali lipat lebih lama dibandingkan dalam keadaan normal, sementara dalam pesan lainnya, ibunya mengingatkan padanya untuk hati-hati dan ditutup dengan ucapan sayang lengkap dengan emoticon 'hug'. Beberapa saat Anne-Marie seolah mematung menatap layar ponselnya. Ia sungguh ingin membalas pesan yang ia yakin pasti diiringi air mata saat sang ibu mengetikkannya. Tapi entah mengapa jari-jemarinya seolah kehilangan daya. Tak terasa air mata gadis itu pun mengalir begitu saja. Secepat mungkin ia segera menyekanya dengan punggung tangan. Ia lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku tanpa membalas pesan sang ibu. Anne-Marie bukan bermaksud mengabaikan pesan itu. Ia hanya tidak sanggup membayangkan bagaimana perasaan orang tuanya kini. Ia tahu seberapa besar cinta mereka padanya dan betapa berat mereka melepasnya pergi. Terbayang di benak gadis itu betapa cemasnya mereka, betapa terlukanya mereka akibat perbuatan yang ia lakukan hampir dua minggu yang lalu, sedangkan ia sendiri seolah tak peduli sama sekali. Ia hanya melakukannya begitu saja tanpa memikirkan dampak yang timbul dari perbuatannya itu. Anne-Marie menatap pergelangan tangan kirinya yang masih dibalut perban. Ia merasa sangat bodoh kini. Ia merasa begitu egois. Lalu berbagai pertanyaan berseliweran dalam benaknya, kenapa ia begitu nekat melakukannya, kenapa pula ia selamat, kenapa Tuhan tidak membiarkan saja ia mati, apa yang harus ia lakukan setelah ini sedangkan semuanya sudah hancur, sudah berakhir, apakah Tuhan sedang bercanda dengannya, ataukah ini adalah anugrah Tuhan yang disebut dengan kesempatan kedua? Getaran di dalam gerbong yang bisa dibilang hampir senyap membuat Anne-Marie yang tak henti-hentinya bergulat dengan pikirannya itu akhirnya jatuh tertidur. Ia bahkan tak terbangun saat dua orang prami yang bertugas mengantarkan makanan dan minuman melaluinya dengan mendorong sebuah troli. Ia baru menyadarinya sekitar satu jam kemudian ketika mendapati sebuah kotak makan bento dan sebuah cup stereofoam diletakkan di kursi sampingnya. Anne-Marie memang mulai merasa lapar karena sebelum berangkat tadi ia menolak untuk sarapan dan hanya minum segelas s**u. Diraihnya kotak makan bento itu, nampak nasi dan perpaduan chicken katsu serta beef teriyaki, dilengkapi acar sayuran, selada, mayonaise, dan saus sambal. Dengan setengah hati gadis itu melahapnya hingga tak bersisa meski ia merasa makanan itu cenderung tawar. Tapi ia selalu ingat, orang tuanya selalu mengajarkan untuk tidak menyia-nyiakan makanan. Beruntung porsi nasinya tak terlalu banyak sehingga ia bisa menghabiskannya. Setelah itu, Anne-Marie kembali tenggelam dalam lamunan. Ia tak menyangka perjalanan menuju kota dimana neneknya berada saat ini terasa begitu lama. Padahal dulu sewaktu kecil, ia merasa perjalanan itu sungguh sangat singkat, seolah saat itu ia tak ingin segera sampai dan bertemu nenek yang selalu memaksanya makan sayur-sayuran. Mungkinkah karena saat ini ia benar-benar segera ingin jauh dari Jakarta, bukankah orang bilang semakin kita ingin lekas sampai di tujuan, maka perjalanan itu justru akan terasa semakin panjang dan lama, gadis itu bertanya pada dirinya sendiri. Mungkin itu memang benar, pikir Anne-Marie. Gadis itu merogoh kembali ponselnya, pukul 11.18, itu artinya kurang lebih dua jam lagi baru ia akan sampai di tujuan. Ia hanya menghela nafas pendek dan kembali memasukkan ponselnya. Ia tak berniat menggenggam barang itu lebih lama lagi. Ia sama sekali tidak berminat untuk membuka media sosial ataupun berkirim pesan dengan siapapun. Sejak peristiwa itu, ia memang memutuskan untuk menonaktifkan sementara waktu semua akun media sosialnya, entah sampai kapan nantinya ia pun tak tahu. Mungkin saja ia tidak akan pernah lagi mengaktifkannya dan akan membuat akun baru saja suatu hari nanti. Yang jelas, saat ini ia merasa tidak membutuhkan apapun dari segala hal yang memungkinkan menambah perih luka-lukanya. Masa bodoh jika orang berpikir bahwa ia melarikan diri dari kehidupannya yang tiba-tiba menjadi begitu rumit. Ia tak ambil pusing juga apa penilaian teman-temannya kini setelah berita dari peristiwa itu menyebar. Ya, ia yakin meski hanya dari mulut ke mulut, berita itu tentu sudah menjadi topik utama di kampus. Ia juga yakin pasti saat ini ada lebih banyak orang yang mencela dan menertawakannya dibandingkan mereka yang bersimpati. Tapi ia tak peduli, atau lebih tepatnya pura-pura tak peduli. Toh mereka hanya melihat dari luar, ia sendiri yang mengalaminya, mereka tidak merasakan apa yang ia rasakan. Mungkin selamanya manusia memang akan selalu seperti itu, mudah mengomentari bahkan menghakimi apa yang orang lain lakukan, dibandingkan melihat ke dalam diri dan introspeksi. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD