Beberapa hari kemudian di Anne-Marie Florist berlalu dengan kesibukan yang benar-benar menguras tenaga dan pikiran semua orang, tak terkecuali Anne-Marie. Saat itu adalah awal musim orang-orang mengadakan pernikahan. Florist pun seolah menerima kelimpahan berkah dari situasi tersebut. Anne-Marie Florist mendapatkan begitu banyak pesanan buket bunga dan bunga dalam pot pun tak kalah laku terjual. Ada pula pesanan kaktus mini, sukulen, bamboo plants dan tanaman mini lainnya dalam jumlah ratusan untuk souvenir pernikahan.
Karena itulah selain sibuk merangkai bunga dan menemui rekan-rekan dari wedding organizer yang selama ini menjalin kerja sama dengan florist-nya untuk membahas beberapa hal, Anne-Marie juga harus tetap mengurus pekerjaan utamanya dalam mengontrol stok dan memesan sejumlah tanaman yang banyak diminati serta tengah menjadi trend.
Dengan kesibukan itu, persoalan apakah Ramon dapat bekerja di Pawon Ageng pun untuk sementara mau tak mau mesti dikesampingkan. Apalagi, saat itu Anne-Marie berkata pada Ramon bahwa setelah neneknya mencicipi mangut ikan pari masakan Ramon, neneknya tak mengatakan apa-apa kecuali meminta waktu untuk mempertimbangkan beberapa hal. Jadi, memang tak ada pilihan lain bagi Ramon kecuali menunggu dan bersabar.
Suatu sore di hari Jum'at, beberapa saat sebelum florist tutup, Ramon tengah berada dalam greenhouse di belakang, Saka dan Lestari membereskan bagian dalam toko, sementara Ardi tengah menyirami tanaman di kebun depan.
"Selamat sore." Sebuah suara terdengar dan membuat Ardi segera meletakkan penyiram tanaman di tanah dan berbalik ke arah suara.
"Ah, Nona Sophia. Selamat sore." Jawab Ardi dengan sopan. Sophia adalah salah satu pelanggan tetap Anne-Marie Florist sejak awal berdirinya florist tersebut dan ia sudah dikenal oleh semua pegawai tak terkecuali Ardi.
"Saya hanya mampir. Apa Anne-Marie ada?"
"Nona Anne-Marie sudah pergi beberapa saat lalu. Sekarang sepertinya ada di sebelah dengan Nyonya Laksmi. Anda bisa tunggu sebentar biar saya panggilkan."
"Oh, tidak perlu. Bagaimana dengan Ramon? Dia bekerja di sini kan?"
Pertanyaan itu seketika membuat Ardi terkejut, ternyata Bang Ramon dan Nona Sophia saling mengenal, batin Ardi. "Bang Ramon? Ya, itu benar. Ada Anda mau bertemu dengannya? Kalau begitu akan saya panggilkan."
"Ya, maaf merepotkan. Saya akan tunggu di sini saja."
Ardi berjalan setengah berlari melalui kebun samping menuju greenhouse di belakang sampai-sampai hampir menendang pot bougenville karena jalan setapak kebun sebenarnya cukup sempit dipenuhi jajaran pot di kanan kirinya. Ia terlanjur penasaran dan ingin menanyakan bagaimana Sophia dan Ramon bisa saling kenal. Pikiran liar pemuda dengan jiwa penggosip itu pun tak tahan untuk menduga-duga hubungan keduanya.
Begitu memasuki greenhouse, Ardi langsung memberondong Ramon dengan berbagai pertanyaan. "Bang Ramon, apa Abang benar kenal dengan wanita cantik bernama Nona Sophia? Bagaimana bisa kalian saling mengenal? Ada hubungan apa antara kalian berdua? Oh, ya Tuhan, apa kalian sepasang kekasih?"
Ramon menjentikkan jarinya ke dahi Ardi membuat pemuda itu mengaduh dan segera menghentikan ocehannya. "Ngawur!" Kata Ramon. Lalu ia tersadar dan bertanya, "Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal-hal itu?"
Ardi yang masih mengelus-elus dahinya yang sakit tersentak dan teringat kenapa ia buru-buru mencari Ramon. "Hampir saja lupa. Di depan ada Nona Sophia mencari Bang Ramon."
Tanpa menanggapi Ardi lagi, Ramon pun bergegas keluar dari greenhouse dan berjalan cepat untuk menemui Sophia.
Langit saat itu telah berwarna merah dengan semburat kuning keemasan. Sophia tengah menengadahkan kepala menatap keindahan itu. Seberkas cahaya menerpa wajahnya membuatnya terlihat seperti peri di antara bunga-bunga. Pemandangan itulah yang Ramon lihat saat ia sampai di sana.
Lelaki itu menghentikan langkahnya dan sesaat terpana. Tapi sesaat kemudian ia menunduk dan berjalan mendekat. "Nona Sophia?"
Sophia agak tersentak dan langsung menoleh. "Ramon." Gadis itu tersenyum cerah. "Aku datang membawa undangan launching bukuku. Semoga kau bisa datang." Kata Sophia sambil mengulurkan dua buah buku dan kartu undangan seukuran A6 berwarna hitam dengan tinta emas. "Dan aku titipkan undangan untuk Anne-Marie padamu."
Ramon pertama melihat undangan lalu beralih pada buku dengan cover hitam dengan gambar lampu pijar menggantung menyala kuning keemasan. Dalam hati lelaki itu membaca kata-kata yang tertera di cover itu, 'Membaca dalam Gelap'. Entah kenapa hatinya serasa diremas. Tapi ia berusaha untuk tetap tersenyum dan berkata, "Terima kasih untuk buku dan undangannya, Nona Sophia. Saya akan usahakan untuk datang. Akan saya sampaikan juga buku dan undangan untuk Nona Anne-Marie."
"Baiklah. Sampai jumpa hari Minggu nanti di sana. Aku pamit dulu."
"Ya, hati-hati di jalan Nona Sophia."
Sophia tersenyum dan melambaikan tangannya sebelum berbalik dan menuju mobilnya. Ramon berdiri diam dan menunggunya sampai tak terlihat lagi di ujung jalan. Ia menghela nafas berat. Dalam hatinya terasa masih ada sesuatu yang mengganjal tapi juga ada rasa kelegaan melihat gadis itu bisa menjalani kehidupannya dengan lebih baik sekarang.
"Sampai kapan Bang Ramon akan berdiri di sini?" Suara Ardi menyadarkan Ramon dari lamunannya. Entah sudah sejak kapan pemuda iseng itu berdiri di sana, Ramon tak tahu. Ia hanya berbalik dan mengabaikannya.
**
Keesokan harinya, begitu Anne-Marie datang, Ramon segera memberikan buku dan undangan yang dititipkan Sophia padanya. Anne-Marie menerimanya begitu saja dan hanya terlihat sangat terpukau dengan tampilan buku dan undangan itu. Ia tak pernah tahu ataupun terpikirkan bahwa Ramon juga mendapatkan buku dan undangan yang sama.
"Cantik sekali. Benar-benar mencerminkan kepribadian Sophia. Terima kasih Ramon. Apa dia datang setelah aku pergi kemarin sore?"
"Benar, Nona."
"Sayang sekali. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya."
Anne-Marie lalu mempersilahkan Ramon kembali ke pekerjaannya. Tapi baru saja Ramon berbalik, tiba-tiba Anne-Marie menghentikannya. "Aku hampir saja lupa memberitahumu. Nenek akan menemuimu siang nanti."
Ramon tentu saja terkejut tapi ia juga senang. Ia menduga-duga apa yang akan disampaikan Nyonya Laksmi. Mungkin ia masih akan diuji dengan beberapa hal, entah itu memasak lagi atau yang lainnya, pikir Ramon, karena Pawon Ageng benar-benar kuat dalam memegang tradisi, rasanya tak akan mudah untuk bisa bekerja di dapurnya. Apalagi ia tidak memiliki latar belakang pendidikan kuliner ataupun pengalaman kerja di restoran sebelumnya. Ia hanya belajar dari 'orang itu' dengan segala keterbatasan dan pengalaman di dapur kantin Lembaga Permasyarakatan. Saat ini, Ramon tahu ia hanya bisa berpegang pada harapannya semata.
Siang hari tepat saat jam makan siang, Anne-Marie mengajak Ramon ke Pawon Ageng. Mereka langsung menuju ruangan Laksmi. Ketika keduanya masuk, wanita yang rambutnya telah memutih itu tengah duduk di belakang meja kerjanya dan nampak tengah menuliskan sesuatu.
"Nenek." Sapa Anne-Marie.
"Oh, kalian sudah datang. Duduklah." Laksmi menjawab tanpa mengangkat kepalanya. Setelah menuliskan beberapa hal lagi, ia pun akhirnya meletakkan penanya. Ia mendongak dan menatap Ramon, "Jadi kau yang bernama Ramon?"
"Benar, Nyonya."
"Aku sudah mendengar dari cucuku, sebelum akhirnya bekerja di florist, kau awalnya ingin bekerja di Pawon Ageng."
"Itu juga benar, Nyonya."
"Hmm. Aku sudah menanyakan lamaran pekerjaan yang kau tinggalkan di front desk, tapi entah bagaimana itu tidak dapat ditemukan. Tapi tidak masalah, toh itu hanya formalitas. Ngomong-ngomong, aku sudah mencicipi masakanmu tempo hari. Rasanya tidak mengecewakan."
Sebelum Laksmi melanjutkan kata-katanya, terdengar suara ketukan di pintu. Laksmi pun menjawab, "Masuk."
Dua orang pelayan masuk membawa nampan makanan dan minuman. Mereka menatanya di meja di sisi jendela dimana Laksmi biasanya menerima tamu. Setelah selesai, mereka pun langsung undur diri. Laksmi lalu berkata, "Mari kita makan siang bersama."
Ramon bertanya-tanya dalam hati. Ia pikir Nyonya Laksmi akan menyampaikan hal-hal lain terkait masalah sebelumnya, mengenai kepastian apakah ia dapat bekerja di Pawon Ageng atau tidak, atau kemungkinan ia akan harus menjalani tes lagi. Ia tak pernah mengira justru akan diajak makan siang bersama.
Melihat Ramon nampak kebingungan, Anne-Marie pun berkata, "Ayo, kenapa diam saja?"
Ramon tersadar. Ia mengikuti Anne-Marie dan duduk dengan agak canggung. Tapi begitu melihat hidangan di atas meja, ia tertegun. Ia melihat sate lilit daging dengan batang serai, sayur bobor bayam dengan pepaya muda dan oyong, juga nasi dengan wangi pandan. Dari segi tampilan, Ramon dalam hati memuji sang koki, benar-benar terlihat menggoda selera. Lalu setelah mulai gigitan pertama, Ramon hanya bisa mendesah dan bersyukur dapat menikmati makanan selezat itu. Mereka pun makan dalam diam.
Ramon agak memperlambat kecepatan makannya. Karena akan tidak sopan jika ia sebagai orang yang lebih muda dari Laksmi selesai makan terlebih dahulu. Ia memanfaatkan hal itu untuk benar-benar menghayati setiap rasa yang dapat tercecap oleh lidahnya. Tak heran Pawon Ageng begitu terkenal tak hanya di kota itu tapi juga hingga luar kota. Bahkan mendapat penghargaan dari pemerintah karena dinilai telah menjaga warisan kuliner Nusantara. Hidangan yang disediakan restoran tersebut memang begitu khas dan mempertahankan orisinalitasnya.
"Bagaimana menurutmu hidangan kami ini?" Tanya Laksmi pada Ramon setelah menyeka sudut mulutnya dengan serbet makan.
Sebelum menjawab, Ramon berpikir sejenak. "Semuanya lezat, Nyonya. Sate lilit daging kerbau ini misalnya, awalnya saya pikir itu adalah daging sapi karena saya tidak mencium bau khas daging kerbau yang tajam. Saya baru menyadarinya setelah mulai memakannya. Rempahnya menyerap hingga seluruh bagian daging dan teksturnya juga empuk. Pembakarannya sepertinya menggunakan arang dari batok kelapa karena bau asapnya tipis dan bagian luar daging tidak terlalu kering atau gosong."
Mendengar jawaban Ramon, diam-diam Anne-Marie mendesah lega. Untung saja Ramon dapat memperhatikan hal-hal itu. Sebelumnya ia khawatir Ramon tidak akan menyadari bahwa neneknya akan mengujinya saat ini.
Ia teringat saat ia meminta neneknya mencicipi mangut ikan pari masakan Ramon dan mempertimbangkan lelaki itu untuk bisa bekerja di Pawon Ageng. Saat itu neneknya begitu menentang karena Anne-Marie mengatakan bahwa Ramon tidak memiliki latar belakang pendidikan kuliner ataupun pengalaman kerja yang membuatnya layak diperhitungkan. Baru setelah neneknya mencoba mangut ikan pari itu lalu beliau berkata akan memikirkannya. Sekarang, Anne-Marie semakin berharap bahwa neneknya akan segera mengambil keputusan.
Sementara itu, Laksmi nampak menganggukan kepala dan cukup puas dengan jawaban Ramon. Ia lalu menatap Anne-Marie dan beralih kembali pada Ramon. "Karena sepertinya kau cukup mampu menilainya, maka aku harap kau juga bisa membuatnya."
**