"Mungkin di luar sana sudah ada banyak restoran lain yang menyediakan menu makanan ini. Bahkan beberapa mungkin juga melakukan modifikasi, menggantinya dengan daging lain seperti sapi, kambing atau ikan. Tidak terlalu sulit untuk membuatnya sampai ibu rumah tangga biasa juga bisa menirunya. Tapi pada mulanya, sate lilit daging kerbau ini bernama Hadangan Harang. Makanan ini merupakan hasil interpretasi dari relief yang ada di Candi Borobudur. Tapi apa kau tahu, ternyata resep untuk membuat makanan ini juga termuat dalam kitab warisan keluarga kami yang diturunkan dari generasi ke generasi. Apa yang baru saja kau makan, adalah Hadangan Harang sesuai resep asli keluarga kami. Visi dari Pawon Ageng adalah mempertahankan orisinalitas. Karena itu, yang aku harapkan darimu adalah bisa meniru sama persis Hadangan Harang yang baru saja kau santap. Atau setidaknya, 95% mendekati rasa aslinya. Bagaimana?"
Pawon Ageng saat itu sebenarnya sudah memiliki chef utama dan asisten chef yang cukup handal serta kru dapur yang solid. Menambahkan satu orang baru ke dapur untuk saat ini sebenarnya adalah suatu kemubadziran. Tapi Laksmi menyadari adanya satu kekurangan dalam dapur Pawon Ageng, yaitu tidak adanya regenerasi.
Chef Cokro sebagai chef utama adalah seorang senior yang terlalu mendominasi. Ia memang bekerja sesuai visi Pawon Ageng dan sudah membuktikan dedikasinya selama lebih dari belasan tahun. Tapi sikapnya seringkali nampak bias terhadap para bawahannya.
Awalnya Laksmi tidak menyadari hal ini, tapi beberapa tahun belakangan ia terus mengamati dan dapat menilai dengan jelas bahwa Cokro terkesan membatasi perkembangan asisten lain kecuali Aditya yang merupakan keponakannya. Padahal mayoritas asisten lain sudah bekerja bersamanya bertahun-tahun jauh lebih lama dari Aditya dan juga tak kalah berpotensi. Karena itulah Laksmi merasa kecewa. Hanya saja ia tidak dapat menyinggungnya sama sekali karena khawatir akan terjadinya gejolak yang lebih buruk atau bahkan perpecahan di dapur Pawon Ageng.
Harapan Laksmi kini diam-diam mulai tumbuh karena kemunculan Ramon. Meski mungkin laki-laki itu masih jauh dari standardnya, tapi entah mengapa firasat Laksmi mengatakan bahwa Ramon sebenarnya memiliki keistimewaan tersendiri. Karena itu ia berniat menggemblengnya sendiri demi masa depan Pawon Ageng.
"Saya dengan senang hati akan mencobanya, Nyonya. Saya akan berusaha sebaik mungkin." Jawab Ramon. Ini adalah kesempatan baginya, bagaimana mungkin ia menyia-nyiakannya. Ditambah lagi, dulu ia sudah mempelajari resep sate lilit ini. Hanya saja saat itu ia menggunakan daging sapi. Sekarang yang harus ia lakukan adalah mencari tahu bagaimana mengatasi masalah bau khas daging kerbau dan tekstur seratnya yang lebih besar dan padat dibandingkan daging sapi. Tentu kedua hal tersebut memerlukan perlakuan khusus.
"Baiklah. Aku memberimu waktu tiga hari. Besok aku akan memerintahkan seseorang untuk melengkapi dapur di florist dengan bahan-bahan yang diperlukan dan hal lainnya." Laksmi lalu mengalihkan pandangannya pada Anne-Marie dan berkata, "Lalu untukmu, karena kau sudah memutuskan untuk memberi Ramon kesempatan, maka kau tidak bisa membebaninya dengan pekerjaan di florist. Kau mungkin juga perlu mengatakan pada pegawai lainnya supaya tidak timbul kesalahpahaman. Jika nanti pada akhirnya Ramon tidak bisa memenuhi ekspektasiku, itu terserah padanya akankah ia kembali pada tugasnya di florist atau mencari kesempatan lain di lain tempat."
"Saya mengerti, Nenek. Saya juga tidak akan menahannya jika memang ia tidak ingin. Tapi kita bisa membicarakan nanti. Bukankah kita masih harus menunggu apakah Ramon sesuai ekspektasi nenek atau tidak?" Jawab Anne-Marie sambil memijit lengan sang nenek.
"Ya, ya. Itu benar. Aku hanya mengatakannya sedari awal untuk menyamakan persepsi saja."
**
Keesokan harinya dapur Anne-Marie Florist benar-benar mengalami perubahan. Tak hanya memenuhi lemari es dan kabinet dengan bahan-bahan masakan, beberapa peralatan dapur juga ditambahkan. Dalam sehari, dapur itu nampak seperti versi mini dari dapur Pawon Ageng.
Hal itu bagi sebagian karyawan Pawon Ageng mungkin bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan. Karena setahu mereka, Anne-Marie juga cukup pandai dan suka memasak meski konon tidak pernah berniat menjadi seorang chef. Jadi mereka kira perubahan di dapur florist adalah untuk memenuhi kebutuhannya saja.
Tapi Cokro tidak berpikiran sama dengan orang-orang itu. Selama ini ia selalu waspada dan memiliki akses untuk informasi apapun yang berkaitan dengan Pawon Ageng ataupun hal-hal lain terkait Laksmi dan Anne-Marie. Karena ia adalah seseorang dengan ambisi yang akan selalu berusaha mengawasi apa-apa yang terkait dengan ambisi itu supaya selalu dalam kendalinya.
Sejak kedatangan Anne-Marie ke kota itu, Cokro sudah memiliki dugaan awal mengenai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, termasuk pelimpahan pengelolaan Pawon Ageng. Ia bahkan telah mengetahui bahwa Laksmi sudah membicarakan hal tersebut dengan Anne-Marie. Dan hal itu membuatnya benar-benar muntab.
Baginya, Anne-Marie tidak memiliki kualifikasi sedikitpun untuk menerima kuasa penuh atas pengelolaan Pawon Ageng. Ia mendapatkannya hanya karena ia adalah cucu Laksmi, pewaris tunggal keluarga Notokusumo. Bahkan dengan identitasnya dan budaya patriarki yang berlaku di negeri ini, pewaris keluarga Notokusumo sebenarnya sudah lenyap.
Laksmi mungkin memang layak untuk menyandang nama besar dan menjadi pewaris Notokusumo meski ia seorang wanita karena kemampuannya sangat mumpuni. Tapi Anne-Marie sungguh jauh berbeda. Ia hanya seorang anak yang lahir dengan sendok perak di mulutnya. Bagaimana mungkin orang seperti itu bisa dibandingkan dengan dirinya yang telah bekerja keras dan mengabdi belasan tahun? Hal itulah yang membuat Cokro geram.
Note: 'Anak yang terlahir dengan sendok perak di mulutnya' adalah suatu ungkapan untuk menggambarkan seseorang yang terlahir dari keluarga kaya dan terbiasa dengan kehidupan yang serba berkecukupan/ nyaman sehingga dikhawatirkan tidak akan mampu menanggung beban, tekanan ataupun permasalahan dalam kehidupan yang keras ini.
"Sialan!" Cokro memukul meja dengan penuh amarah. Ia tidak lagi dapat terus bersabar menghadapi apa yang ia sebut penghinaan. Apa lagi jika bukan perkara pelimpahan pengelolaan Pawon Ageng yang mungkin akan segera terjadi dalam waktu dekat. Juga kemunculan Ramon, orang asing yang berpotensi menjadi batu sandungan baginya, yang nampaknya disambut cukup baik oleh Laksmi.
"Paman, apa yang sebenarnya terjadi mungkin tidak seperti apa yang paman khawatirkan. Bukankah resiko yang diambil Nyonya Laksmi terlalu besar jika beliau benar-benar membiarkan Nona Anne-Marie mengelola Pawon Ageng? Rasanya ini sulit dipercaya. Apalagi Nyonya Laksmi menghargai Pawon Ageng seperti hidupnya."
"Apa kau tidak pernah melihat seseorang bertindak bodoh di luar nalar? Lalu bagaimana dengan laki-laki bernama Ramon itu?"
Aditya terdiam. Pemuda yang dua tahun lebih tua dari Anne-Marie itu sebenarnya cukup sadar dan tahu apa yang terjadi mungkin memang sesuai dengan perkiraan Cokro. Tapi ia tidak memiliki ambisi yang sama dengan pamannya itu. Bagaimanapun Pawon Ageng akan tetap jatuh ke tangan Anne-Marie karena ia adalah satu-satunya pewaris. Perihal bagaimana masa depan Pawon Ageng setelahnya, Aditya pikir ia tidak perlu memusingkannya. Karena toh itu adalah sesuatu yang belum terjadi. Maka ia hanya perlu menjalankan apa yang menjadi tugasnya di dapur sebaik mungkin. Demikianlah pemikiran sederhana Aditya.
Namun ia kenal betul perangai pamannya itu. Ambisinya begitu besar dan secara tidak sadar muncul pemikiran yang tidak semestinya, sesuatu yang melewati batas. Mungkin pamannya bahkan berpikir bahwa pewaris Pawon Ageng seharusnya adalah dirinya.
"Dengarkan aku, Aditya. Kita tidak bisa membiarkan hal ini begitu saja. Kau tahu, jika Nyonya Laksmi benar-benar melimpahkan kuasanya pada Anne-Marie, Pawon Ageng pasti akan jatuh. Lalu, kitab resep warisan keluarga Notokusumo yang legendaris itu hanya akan menjadi hiasan saja, suatu kesia-siaan. Bukankah akan lebih baik jika kita yang memilikinya? Dengan kemampuan kita, kita akan memperoleh kejayaan."
Aditya tidak tahu harus bagaimana menanggapi Cokro. Ia kesal karena begitu tidak berdaya di hadapan pamannya itu. Setiap kali ingin membantah atau mengutarakan ketidaksesuaian pemikirannya, ia akan langsung dibungkam dengan kenyataan masa lalu bahwa pamannya lah yang merawat dan membesarkannya. Tanpa pamannya, ia mungkin tidak akan menjadi apa-apa.
"Sebenarnya ada cara mudah untuk mengatasi masalah ini." Kata Cokro lagi.
Aditya seketika mendongak dan menatap pamannya dengan rasa penasaran sekaligus kekhawatiran. "Cara mudah? Apa maksud paman?"
Cokro tak langsung menjawab. Ia menatap Aditya dengan seringaian di sudut mulutnya. Ia berkata, "Bukankah kau cukup dekat dengan Anne-Marie? Itu adalah solusi yang paling tepat dan mudah. Kau tentu mengerti maksudku bukan?"
Mendengar hal tersebut, Aditya tanpa sadar merona, jantungnya berdegup kencang. Tentu saja ia mengerti apa yang dimaksud pamannya. Ia tak dapat memungkiri bahwa sejak pertama kali mengenal Anne-Marie, ia sudah jatuh dalam pesona gadis itu.
Meski saat pertama kali datang ke kota itu Anne-Marie selalu nampak mendung dan tak tersentuh. Tapi pesona yang ia miliki tetap memancar dan menarik perhatian Aditya. Kesedihan yang selalu melingkupi gadis itu membuat Aditya selalu ingin menghibur dan mengisi hari-harinya dengan keceriaan. Pemuda itu telah benar-benar berusaha keras untuk bisa menjalin hubungan persahabatan yang baik dengannya.
Hanya saja, apakah mungkin hubungan itu dapat berkembang ke tahap yang lebih lanjut? Aditya tidak pernah berani untuk berharap. Meski terkadang pemikiran itu muncul di antara lamunannya.
Melihat keponakannya tak kunjung menanggapi, Cokro merasa tidak puas. Dengan nada penuh kekesalan ia berkata, "Kau harus ingat apa yang pamanmu ini katakan tadi kalau kau ingin kehidupan yang baik di masa mendatang. Dekati gadis itu dan yakinkan dia bahwa kau adalah satu-satunya yang terbaik bagi masa depannya. Kau mengerti?"
Aditya menelan ludah seolah menelan batu. "Baik, Paman. Saya mengerti."
**