Part 12

1653 Words
Gedung Kesenian di kompleks Taman Budaya Purwokerto pada Minggu pagi hari itu nampak ramai, terutama di ruang auditorium. Dari dua ratus kursi yang tersedia, separuhnya sudah terisi oleh tamu dari berbagai kalangan dan usia, mulai dari masyarakat umum, penggiat sastra, pecinta budaya, dan tak sedikit pula siswa maupun mahasiswa dari beberapa sekolah serta universitas di kota tersebut. Berbagai rangkaian kegiatan akan dilaksanakan mulai dari pagelaran tari tradisional, pembacaan puisi, orasi budaya, dan acara utama yaitu peluncuran buku 'Membaca dalam Gelap' karya Sophia. Buku itu merupakan novel ke-tiga dari trilogi 'Suara-suara di Keheningan'. Dan Sophia sendiri merupakan penulis muda yang cukup bersinar dalam tiga tahun terakhir sejak pertama kali meluncurkan buku antologi puisinya, 'Cerita Cinta Sebatang Kamboja'. Ramon duduk di salah satu kursi di antara keramaian dengan buku dan sebuah pot kaktus mini ariocarpus dengan bunga ungu di pangkuan. Sosoknya yang tinggi besar dan berotot itu nampak agak menonjol. Apalagi kemeja dan celana hitam yang ia kenakan serta ekspresi dingin di wajahnya menambah kesan misterius dengan daya tarik tersendiri. Meski tiga tahun lagi usianya akan mencapai kepala empat, tapi ia nampak beberapa tahun lebih muda, menampilkan kesan lelaki matang dengan kepribadian yang tenang. Sebelumnya Ramon tidak pernah mengikuti acara semacam itu meski sejak muda ia memang cukup gemar membaca. Masa muda di sekolah ia habiskan dengan belajar dan bekerja paruh waktu. Lalu setelah bergabung dalam tim bodyguard Handoyo Prayoga, ia seolah semakin tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Karena itu, hari ini sebenarnya Ramon sangat antusias menghadiri peluncuran buku Sophia. Ia meluangkan waktunya meski ia masih harus menemukan solusi untuk masakannya dua hari lagi. Berbeda dengan Ramon, Anne-Marie cukup sering menghadiri acara-acara kesenian maupun peluncuran buku. Apalagi kali ini adalah buku Sophia. Tiga tahun menjalin persahabatan membuat mereka cukup dekat dan Anne-Marie sangat menghargai karya-karya Sophia. "Ramon?" Anne-Marie datang sepuluh menit sebelum pukul sembilan. Kursi yang tersedia sudah hampir penuh. Saat mencari-cari kursi kosong, ia tak sengaja melihat sosok yang ia kenal. Kebetulan dua kursi di sisi kirinya kosong. Maka ia pun mendekat dan cukup terkejut mendapati Ramon di sana. "Nona Anne-Marie?" Jawab Ramon yang juga cukup terkejut. Ia berdiri dan berniat memberinya sedikit ruang lebih lebar supaya wanita itu bisa lewat ke sisi kirinya. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini." Kata Anne-Marie setelah duduk. "Ya, sebelumnya saya sendiri juga tidak terpikirkan akan bisa hadir di acara semacam ini. Tapi sekitar sepuluh hari lalu saya tidak sengaja bertemu dengan Nona Sophia di minimarket, lalu kami sedikit berbincang. Saat Nona Sophia datang mengantarkan undangan untuk Anda tempo hari sebenarnya dia juga memberi saya undangan." Dengan penjelasan Ramon, terjawab sudah pertanyaan Anne-Marie tentang keberadaan lelaki itu. Meski kemudian timbul sedikit keterkejutan karena ia tak menyangka bahwa Ramon dan Sophia saling mengenal. Anne-Marie melirik kaktus mini di pangkuan Ramon dan menduga bahwa keduanya sepertinya cukup dekat. Ia tahu persis bahwa Sophia paling suka tanaman kaktus. Tapi saat Anne-Marie hendak bertanya lebih banyak, acara dimulai. Dibuka dengan Tari Gambyong dengan lima orang penari mengenakan kemben kain jarik batik dilengkapi selendang kuning, suasana khidmat melingkupi auditorium. Dilanjutkan dengan pembacaan puisi tentang semakin kaburnya batas antara fakta dan berita bohong dalam masyarakat oleh seorang mahasiswa dan orasi budaya yang disampaikan oleh seorang budayawan senior tentang keprihatinannya pada menurunnya minat generasi muda pada kesenian tradisional. Sampai di acara utama yaitu peluncuran buku, suasana menjadi lebih hidup ketika masuk pada sesi tanya jawab. Beberapa pertanyaan terlontar adalah tentang alur novel dan karakter di dalamnya. Tapi layaknya peluncuran novel-novel lain, akan selalu ada pertanyaan mengenai latar belakang penulisan novel tersebut. Seseorang bertanya, "Sophia, setelah membaca sekuel terbaru ini saya seolah dapat merasakan emosi yang fluktuatif ketika tokoh utama berjuang dalam menghadapi traumanya. Seolah-olah saya mengalaminya sendiri. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Anda ketika menulisnya. Apakah cerita dalam novel ini diangkat dari kisah pribadi Anda atau mungkin orang dekat yang Anda kenal?" Saat mendengar pertanyaan itu, Ramon menegang. Ia sendiri telah menamatkan 'Membaca dalam Gelap' dalam dua hari. Ia tahu persis apa yang diceritakan dalam novel itu sebagian besar memang sesuai dengan pengalaman hidup Sophia. Apalagi ia adalah salah seorang pelaku yang turut menyumbangkan trauma pada dirinya. "Apakah cerita dalam novel ini diangkat dari kisah saya pribadi atau bukan, saya pikir itu tidak terlalu penting. Tapi yang jelas, di luar sana ada begitu banyak orang yang berjuang menghadapi traumanya. Sebagian mungkin beruntung karena dapat berkonsultasi dengan ahli seperti psikolog maupun psikiater, juga memiliki keluarga dan teman di sekitar yang memberi dukungan. Tapi kita harus tahu juga bahwa tak sedikit dari mereka yang harus berjuang sendiri dalam diam karena tak tahu pada siapa harus berbicara, orang-orang di sekitar yang tidak peka, ataupun karena sebab-sebab lainnya. Karena itulah melalui buku ini saya ingin menyampaikan pada semua untuk setidaknya melihat orang-orang di sekitar kita, mereka yang terdekat dengan kita, adakah di antara mereka yang butuh bantuan. Mungkin memang tidak mudah membantu seseorang keluar dari traumanya, perlu waktu, energi dan kesabaran, tapi sekecil apapun bantuan itu pasti akan tetap berguna." Suara riuh tepuk tangan bergema ke seluruh penjuru ruangan pada akhir sesi. Acara kemudian ditutup dengan fansign. Anne-Marie dan Ramon pun larut dalam euforia tersebut tapi sama-sama memilih untuk menunggu hingga akhir antrean supaya bisa sedikit mengobrol dengan Sophia. "Aku senang sekali kalian datang. Terima kasih banyak." Kata Sophia. "Harusnya akulah yang berterima kasih karena selalu mendapatkan buku gratis darimu." Jawab Anne-Marie sambil terkekeh. Ramon pun ikut tersenyum tipis karenanya. "Itu benar, Nona Sophia. Ini pertama kalinya saya terlibat dalam acara semacam ini. Benar-benar pengalaman yang mengesankan. Terima kasih banyak." "Kalau begitu, kau harus datang jika suatu hari nanti aku meluncurkan buku baru." Jawab Sophia. Setelah mengobrol beberapa saat, Anne-Marie dan Ramon pun segera pamit karena Sophia telah dipanggil oleh editornya untuk membahas suatu hal. Mereka berjanji akan makan siang bersama di lain kesempatan. Begitu keluar dari gedung, Anne-Marie menawarkan tumpangan pada Ramon. Saat itu sudah tengah hari dan cuaca cukup terik. Ramon awalnya hendak pulang naik angkutan umum tapi Anne-Marie mendesaknya. "Tidak ada angkutan umum yang melewati jalan ini. Kau harus berjalan kaki sampai di perempatan di depan sana. Ayo, ikut saja denganku, tak perlu sungkan." Ramon tak dapat menolak lagi dan berkata, "Kalau begitu saya ucapkan terima kasih, Nona Anne-Marie. Maaf merepotkan." Sebenarnya alasan mengapa ia menolak tumpangan dari Anne-Marie adalah karena ia tidak ingin ditanya macam-macam terkait hubungannya dengan Sophia. Karena itu ia berusaha menghindar. "Merepotkan apa? Toh kita kembali ke arah yang sama." Anne-Marie tertawa kecil. "Ngomong-ngomong, bagaimana persiapanmu untuk lusa?" Tanyanya kemudian setelah mobil mulai melaju. Sejenak Ramon tertegun. Ia pikir hal pertama yang akan ditanyakan Anne-Marie adalah tentang bagaimana ia mengenal Sophia. Tak disangka, yang ia tanyakan justru tentang hal lainnya. Ramon menjawab, "Saya sudah memikirkan tentang beberapa cara mengatasi bau khas dari daging kerbau. Tapi saya masih mempertimbangkan mana satu yang terbaik. Selain dari itu, saya kira tidak ada masalah lain." "Baik-baik saja kalau begitu. Nenek sepertinya juga cukup menyukaimu. Jadi, aku harap kau berhasil." Anne-Marie sendiri tengah menyusun strategi marketing baru untuk Pawon Ageng. Juga beberapa hal lain terkait sistem managerial restoran yang ia rasa perlu penyesuaian supaya tetap bisa bertahan di situasi perekonomian yang tengah menurun ini. Ia juga sudah memperkirakan kemungkinan akan adanya pertentangan terkait strategi yang ia susun. Tapi zaman terus berubah, orang-orang pun berubah, maka mereka juga harus berubah dan menyesuaikan diri. ** "Bang Satria, kenapa setiap kali kita makan di luar, Abang selalu minta pergi ke restoran Jawa? Apa tidak bosan? Kota ini juga sudah banyak berkembang dibandingkan terakhir kali Abang datang. Ada banyak kafe dan restoran lain yang bisa kita datangi. Ada yang menyajikan menu Western, Chinese, Japanese, bahkan Thailand. Kenapa harus masakan Jawa terus?" Gerutu Dimas pada Satria. "Aku bukannya sering datang ke kota ini. Terakhir kali itu enam tahun lalu waktu kau masih memakai seragam putih biru. Jadi, sekarang ingin benar-benar memuaskan diri dengan masakan Jawa untuk nostalgia." Jawab Satria tanpa mempedulikan muka cemberut sepupunya itu. "Tapi di Jakarta kan juga banyak restoran yang menyajikan makanan Jawa. Lagi pula salah Abang sendiri kenapa jarang berkunjung ke sini." "Rasanya beda makan makanan Jawa di Jakarta dan di tempat aslinya sini." Jawab Satria asal. Tentu saja alasan ia beberapa hari ini selalu menyempatkan diri di antara kesibukannya mencari restoran Jawa bukanlah karena apa yang ia sebutkan pada Dimas. Ia punya tujuan lain yang lebih penting dari sekedar menikmati kuliner. Ia ingin mencari Anne-Marie. Informasi yang ia dapatkan dari mantan teman sekelas Anne-Marie tidak spesifik apa nama restoran nenek gadis itu, hanya disebutkan restoran khas Jawa. Jadi terpaksa ia harus memeriksanya satu demi satu. Baginya itu bukan masalah sulit. Toh kota ini juga tak terlalu besar. Lagi pula, ia sadar diri dengan betapa besar kesalahan yang pernah ia perbuat di masa lalu pada Anne-Marie. Karena itu, jika harus sedikit bersusah payah dalam menemukannya, ia tidak keberatan sama sekali. Ia tidak akan menyerah dengan mudah. "Kita sudah sampai." Suara Dimas menyadarkan Satria bahwa mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki area parkir. Satria melongok ke luar jendela dan melihat ke sekeliling sekilas. Ia segera melepaskan sabuk pengaman dan mengikuti Dimas yang sudah keluar terlebih dahulu. "Tempat ini adalah favorit Eyang. Beliau bilang rasa dari makanan di restoran ini mengingatkan Eyang pada masa-masa muda dahulu. Eyang selalu ke sini paling tidak satu kali dalam seminggu. Oh, satu hal lagi, pemilik restoran ini juga punya cucu yang sangat cantik. Aku pernah melihatnya beberapa kali waktu menemani Eyang. Sepertinya blasteran. Benar-benar cantik. Dia adalah pemilik florist di sebelah." Kata Dimas sedikit berbisik dan mengarahkan jari telunjuknya. Satria yang berdiri di samping Dimas mendengarkan penjelasan pemuda itu. Ia juga menolehkan kepala ke arah yang ditunjuk. Sayangnya dari arah mereka berdiri, tidak terlihat papan nama florist itu. Sebaliknya, ia dapat melihat dengan jelas apa nama restoran dengan bangunan berbentuk joglo di depan mereka. Papan nama besar itu bertuliskan Pawon Ageng. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD