Part 13

1623 Words
Memasuki restoran, Satria melihat sekeliling, diam-diam memuji konsep interior vintage yang homy. Lantai dengan ubin hitam mengingatkan Satria pada rumah tua Eyangnya. Juga meja dan kursi kayu yang divernis cokelat tua dengan dudukan anyaman rotan. Jarak antar meja cukup renggang, mungkin pengaturan itu terkait pandemi sebelumnya. Satria lalu mengajak Dimas untuk memilih meja di dekat jendela. Jendela itu adalah jendela zaman dulu, tanpa kaca, dengan papan mendatar yang ditata miring dengan sudut tertentu bertumpuk vertikal pada bingkai dengan jarak beberapa centimeter untuk celah. Karena jendela-jendela dibuka lebar, ruangan jadi nampak terang secara alami dan sirkulasi udaranya begitu baik. Setelah duduk di kursinya, Satria memesan selat user sebagai makanan pembuka, nasi liwet dan empal daging, juga pecel untuk sayurnya. Dimas yang sudah hampir bosan karena terus menemani Satria pergi ke restoran Jawa tiba-tiba menyeletuk, "Apa ada menu yang tidak terlalu Jawa?" Note: Selat user adalah sejenis salad berupa mentimun, tomat dan telur rebus. Pelayan itu tersenyum dan menjawab, "Mungkin Anda dapat mencoba bistik komplit kami. Juga ada sup ayam makaroni yang konon kabarnya sangat disukai Sri Sultan Hamengkubuwono IX." "Benarkah? Kalau begitu saya pesan itu. Oh, saya mau puding manuk nom juga, minumnya adu limo dingin." "Apa itu?" Tanya Satria merasa tertarik dengan nama puding dan minuman yang disebutkan Dimas. "Bang Satria coba saja, nanti juga pasti tahu." "Boleh juga. Saya mau puding dan minuman yang sama." Kata Satria. Setelah pelayan pergi, mereka menunggu sambil mengobrol mengenai perkembangan kota itu. Hingga kemudian ponsel Satria berdering. Ia pun langsung menjawab panggilan itu ditempat. Dari apa yang terdengar, Dimas tahu itu adalah masalah pekerjaan. Maka ia pun membuka aplikasi game yang biasa ia mainkan karena topik pekerjaan Satria tidak menarik minatnya untuk mencuri dengar. Tak berapa lama kemudian saat Satria masih berbicara di telepon dan Dimas baru saja menyelesaikan satu babak permainannya, pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Dimas segera memberi kode pada Satria supaya cepat-cepat mengakhiri pembicaraannya. Maka, Satria mengatakan beberapa hal lagi lalu menutup telepon. Keduanya pun makan dengan khidmat. Dimas yang biasanya berisik menjadi sangat tenang saat makan. Nampak benar-benar menikmati kelezatan makanannya. Satria mendengus melihat perubahan tingkah sepupunya itu, tapi tak mengatakan apapun. Ia lalu juga makan dalam diam. Apalagi rasa empal daging yang tengah ia santap memang terasa berbeda dari empal daging yang pernah ia makan sebelumnya. Setelah selesai makan, Dimas menjelaskan, "Minuman adu limo ini dibuat dengan mengkombinasikan lima macam rempah. Coba Bang Satria rasa, apa saja rempah itu." Satria pun menyeruput adu limonya, berpikir sejenak lalu mencoba untuk menebak, "Yang pasti ada kunyit, cengkeh dan entah jeruk nipis atau lemon?" "Itu jeruk nipis. Benar ada kunyit dan cengkeh. Dua yang lain adalah kencur dan kayu manis. Minuman ini juga kegemaran para raja di keraton." Dimas menjelaskan dengan bangga, merasa senang karena bisa memberi tahu sesuatu yang tidak diketahui oleh Satria. "Oh, hampir saja lupa." Dimas lalu memanggil pelayan lagi dan memesan beberapa porsi bendul dan adu limo untuk dibawa pulang. Note: Bendul adalah jajanan tradisional yang terbuat dari singkong dan kelapa parut yang dibakar. Bentuknya seperti bakpia yang bulat lalu dipipihkan. Perbedaannya dengan bakpia yaitu bahan-bahan yang digunakan dan cara penyajiannya. Bendul di sajikan dengan tusukan kayu yang dililit dengan daun pandan hingga berbentuk seperti permen lolipop. Makanan ini adalah kegemaran Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. "Pesanan mama." Kata Dimas sebagai penjelas untuk Satria. Satria hanya mengangguk. Tak sampai sepuluh menit lagi menunggu, pelayan datang membawa bungkusan. Saat Satria membayar tagihan, ia menyampaikan beberapa komentar positif tentang restoran itu pada pelayan yang bertugas. Tak lupa dengan misinya, ia juga menanyakan nama pemilik restoran tersebut. "Terima kasih sudah mengunjungi restoran kami dan juga untuk feedback yang Anda berikan. Kami akan berusaha untuk terus mempertahankan kualitas." "Saya harap begitu. Lain kali saya pasti akan datang lagi." Kata Satria. Ia lalu berjalan keluar dengan perasaan yang membuncah. Saat pelayan itu menyebutkan nama Laksmi Chandra Notokusumo, ia seolah tidak dapat menahan kegembiraannya. Akhirnya, ia telah sampai pada ujung pencariannya. Sementara itu, Dimas yang mengikutinya di belakang mengerutkan kening. Sejak beberapa hari ini selalu makan siang ataupun makan malam di beberapa restoran Jawa yang ada di kota itu, ia sudah memperhatikan kebiasaan aneh sepupunya yang selalu menanyakan nama pemilik restoran. Tapi reaksi setelah mendengar satu nama yang disebut sungguh berbeda kali ini. Sebelumnya, Satria nampak biasa atau malah cenderung memaksakan senyum. Tapi kali ini ia benar-benar melihat kakak sepupunya akhirnya dapat tersenyum lebar dengan natural, tidak terlihat terpaksa sama sekali. Karena terlalu banyak berpikir, Dimas tak sadar ia sudah tertinggal beberapa langkah. Ia hampir lupa bahwa sepupunya memiliki sepasang kaki yang panjang. Ia pun mempercepat langkahnya untuk menyusul. Satria baru saja sampai di area parkir. Langkahnya tiba-tiba terhenti melihat sosok perempuan yang baru saja turun dari sebuah mobil lalu berjalan sambil berbicara dengan seorang laki-laki. Ia tertegun sejenak. Seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat, ia sampai mengucek matanya. Tapi kemudian, pemandangan itu bukannya menghilang justru semakin jelas. Laki-laki itu tiba-tiba menoleh ke arah Satria. Hal itu membuat perempuan di sampingnya mengikuti arah pandangnya. Jelas terlihat keterkejutan di raut wajah perempuan itu. Satria tak sabar dan bergegas mendekat. Dengan agak linglung, ia langsung meraih bahu perempuan itu dan menariknya dalam pelukan. "Anne-Marie, akhirnya aku bisa bertemu denganmu." Anne-Marie seketika menegang. Ia merasa otaknya berhenti bekerja sehingga ia tidak dapat memberikan respon apapun. Ia juga tidak yakin apakah orang yang memeluknya kini adalah orang yang ia kenal di masa lalu. Rasanya ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Anne-Marie, Aku sangat merindukanmu." Kata-kata itu seperti sakelar yang menyalakan lampu di kepala Anne-Marie. Refleks ia mendorong dengan sekuat tenaga. Tapi entah mengapa tenaganya seolah terkuras habis. Ia pun menggemeretakkan gigi dan sekali lagi mendorong. "Lepaskan!" "Tidak, tidak. Biarkan aku memelukmu, Sayang." Satria mempererat pelukannya. "Lepaskan!" Jerit Anne-Marie. Ia merasa darahnya mendidih mendengar kata sayang itu. Ramon yang melihat adegan ganjil itu pun tak tahan lagi jika harus terus terdiam. Ia menarik lepas lengan Satria yang mengungkung Anne-Marie. Ia berkata dengan nada dingin, "Maaf, Tuan. Bukan suatu hal yang bijaksana untuk memaksa perempuan seperti ini." Anne-Marie yang terlepas dari pelukan Satria segera mundur dan hampir terjatuh jika Ramon tidak segera merengkuhnya. Ia merasa lututnya lemas dan ia hanya bisa bersandar dalam pelukan lelaki tegap itu. Tangannya yang gemetar mencengkram kemeja Ramon kuat-kuat. "Anne-Marie, kita perlu bicara." Satria benar-benar gelisah. Ia kehilangan ketenangannya. Apalagi melihat perempuan yang ia cintai selama ini berada dalam pelukan laki-laki lain. "Tidak... Tidak ada apapun untuk dibicarakan." Ucap Anne-Marie. Ia membenamkan kepala di d**a Ramon, enggan untuk melihat wajah Satria. Anehnya, aroma maskulin pria itu membuatnya merasa aman. Anne-Marie tak tahu bahwa aksinya itu membuat perasaan Ramon campur aduk. Sudah begitu lama ia tidak melakukan kontak fisik seintim itu dengan lawan jenis. "Tapi kita harus meluruskan kesalahpahaman yang ada selama ini. Kumohon, Anne-Marie. Beri aku kesempatan untuk bicara." Anne-Marie tak tahan lagi. Ia tidak ingin mendengar apapun. Apa yang ia lihat dulu sudah sangat jelas. Tidak ada yang namanya kesalahpahaman. Semuanya sudah sangat jelas di mata Anne-Marie. "Ramon, ayo kita pergi." Ucapnya lirih. "Baik." Jawab Ramon. Satria panik dan meraih lengan Ramon. "Tunggu. Kau tidak bisa membawanya begitu saja. Aku harus bicara dengannya. Anne-Marie, kumohon jangan seperti ini." "Maaf, apa Anda tidak mendengar apa yang dikatakannya? Dia tidak ingin bicara dengan Anda. Jadi, harap jangan halangi kami sebelum saya bertindak kasar." Ramon berkata dengan tegas. Otot rahangnya mengeras. Ia merasa geram dengan tingkah laki-laki di depannya itu. "Jangan ikut campur! Kau tidak ada hubungannya dengan masalah ini!" Kerasnya suara Satria mulai menarik perhatian beberapa orang di sekitar area parkir itu. Beberapa orang menghentikan langkah dan melihat ke arah mereka. "Bang Satria!! Sudah cukup. Bukan seperti itu caranya bicara dengan perempuan." Dimas menarik lengan Satria. Ia merasa akan terjadi perkelahian jika ia tidak bergegas membawa sepupunya itu. Melihat seperti apa tampang dan kekarnya tubuh lawan, Dimas otomatis mengkerut. Ia yakin sepupunya pasti akan tumbang hanya dengan beberapa pukulan. Satria benar-benar muntab. Ia menyentak tangan Dimas dengan kuat. "Tahu apa kau, hah?!" "Aku jelas tahu bahwa dengan sikapmu yang pemaksa seperti ini dia akan semakin membencimu! Dasar bodoh!" Pekik Dimas kesal karena kata-kata Satria. Sejak awal ia sudah melihat saat Satria tiba-tiba memeluk Anne-Marie dan tidak mau melepaskannya. Tentu Dimas masih ingat betul siapa Anne-Marie. Ia hanya tidak menyangka bahwa Satria juga mengenalnya dan bahkan bersikap begitu impulsif. Tanpa pikir lagi, Ramon segera memapah Anne-Marie menuju pintu di pagar samping florist yang terhubung dengan area parkir Pawon Ageng. Tak mempedulikan lagi panggilan di belakangnya. Ia hanya mencemaskan perempuan dalam pelukannya itu yang nampak semakin pucat. Ia bahkan dapat merasakan tubuh ramping itu gemetar dan mendingin. Begitu memasuki area kebun samping florist, Anne-Marie meluruh dan jatuh pingsan. Ramon dengan sigap membopongnya dan bergegas membawanya masuk melalui pintu dapur yang terbuka. Saka sedang makan siang dan hampir tersedak karena hal itu. Setelah minum untuk melonggarkan kerongkongannya, ia segera menyusul Ramon. "Ada apa, Bang?" Tanya Saka panik. Saat itu Ramon tengah meletakkan Anne-Marie di sofa dalam ruang kerjanya. "Nanti saja ceritanya. Tolong ambilkan botol minyak sereh di kamar." "Oh, baik. Tunggu sebentar." Saka segera berlari ke lantai atas secepat kilat. Sementara itu, Ramon segera melepaskan sepatu Anne-Marie dan meletakkan dua bantal sofa di bawah kakinya. Ia lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi dan leher wanita itu. Begitu dingin, batin Ramon. Untungnya Saka segera kembali membawa botol minyak sereh yang diminta Ramon. Lelaki itu pun dengan cekatan mengoleskan minyak tersebut ke pelipis, leher, dan telapak kaki Anne-Marie sambil melakukan pijatan ringan. Ia berusaha menekan perasaan. Sebelumnya, lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ia telah bersumpah tidak akan menyentuh wanita lagi dengan alasan apapun. Tapi sekarang ia telah melanggar sumpahnya. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD