Part 14

1506 Words
"Aku pikir semuanya sudah berakhir. Semua rasa sakit dan kekecewaan yang dulu pernah menghinggapiku. Aku kira itu sudah terkuras habis saat aku memotong nadiku. Tidak ku sangka, hanya dengan melihatnya saja semua itu kembali lagi. Bayangan-bayangan yang dengan susah payah ku lupakan, sekarang berkelebatan di depan mataku. Upaya yang dilakukan selama empat tahun seolah sia-sia belaka." Kata Anne-Marie. Wajahnya sendu, tapi tak ada air mata. Hanya jejak kepedihan yang begitu mendalam. Anne-Marie baru saja sadar dari pingsannya. Dan setelah sekian waktu berlalu dalam lamunan, hal itulah yang pertama kali ia katakan pada Ramon. Wanita yang kini tengah duduk memeluk lutut itu nampak benar-benar berbeda dibandingkan dengan ia di hari-hari biasanya selama Ramon mengenalnya. Lelaki itu akhirnya dapat melihat kerapuhan dan sisi gelapnya. Kata-kata memotong nadi bergema dalam benak Ramon. Benaknya menduga-duga hal apakah yang membuat Anne-Marie sampai melakukan kenekatan semacam itu. Tapi apapun itu, sepertinya ini jelas berkaitan dengan lelaki di tempat parkir sebelumnya, pikir Ramon. Satria, ya ia ingat nama itu. "Anda pasti sangat marah karena hal itu." "Tidak. Entah bagaimana aku justru tidak marah. Itu lebih kepada kecewa saja." "Lalu kemudian Anda mulai menyalahkan diri sendiri karena kekecewaan itu, bukan? Karena sebelumnya Anda mungkin berpikir bahwa dia tidak akan pernah menyakiti Anda. Tapi kenyataannya, dia melakukannya. Dia melanggar kepercayaan yang Anda berikan. Setelah itu Anda mulai mempertanyakan diri Anda sendiri, mengapa Anda mempercayainya sebelumnya, dan Anda merasa hal itu terjadi karena kesalahan Anda sendiri. Kesalahan itu terjadi karena kebodohan Anda. Itulah yang Anda pikirkan?" Melihat Anne-Marie tak menjawab, Ramon meneruskan. "Marah ketika seseorang menyakiti kita adalah hal yang wajar. Ketika kita dipukul, adalah manusiawi jika kita merasa sakit dan ingin membalasnya dengan pukulan serupa. Tapi menimpakan kesalahan orang itu pada diri sendiri, menahannya begitu saja, menyangkal bahwa rasa sakit itu ada, itu hanya akan membuat kita semakin menderita." "Aku hanya merasa apa yang dia lakukan sangat sulit untuk dipercaya. Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan hal itu." "Apapun itu, sudahkah Anda bicara dengannya?" Tanya Ramon dengan hati-hati. Memutar kembali apa yang terjadi dan dikatakan lelaki bernama Satria itu, sepertinya mereka memang belum bicara sama sekali, duga Ramon. "Itu adalah salah satu solusi yang disarankan psikiater yang aku temui dulu. Tapi sampai saat ini.. aku selalu merasa tidak siap." Anne-Marie membenamkan kepala di lututnya. "Apa yang membuat Anda selalu merasa tidak siap? Apakah itu kebenaran yang tidak ingin Anda dengar? Atau Anda khawatir akan jadi terlalu lemah di depannya dan kemudian kembali terperdaya oleh kata-katanya?" Pembicaraan ini mengingatkan Ramon pada apa yang terjadi di masa lalunya, bagaimana Sophia menghadapi trauma yang disebabkan dirinya dan juga Bara. Anne-Marie masih tak bereaksi. Hingga kemudian terdengar suara isak tangis yang teredam. Mungkin ia mencoba menahannya. Karena menangis membuatnya berpikir bahwa ia terlalu lemah. Ramon tertegun sejenak dan menghela nafas berat setelahnya. Ia tidak pandai menangani wanita. Apalagi wanita yang sedang menangis. Ia jadi agak khawatir memikirkan apa saja yang telah ia katakan pada Anne-Marie. Ia hanya menyampaikan begitu saja apa yang ada dalam kepalanya. Tapi tidak menimbang apakah hal itu akan menyakitkan jika didengar. Ia takut bahwa ia sudah terlalu gegabah. Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang, Ramon bertanya kepada dirinya sendiri. "Ramon.." Anne-Marie mengangkat kepalanya dan nampaklah wajahnya yang basah oleh air mata. "Benarkah aku harus memberinya kesempatan untuk bicara?" "Itu adalah hak Anda untuk memutuskan. Tapi menurut saya pribadi, itu mungkin memang solusi paling tepat supaya Anda dapat memahami keseluruhan permasalahan yang ada di antara kalian. Lagi pula, bukankah setiap orang berhak untuk membela diri dan memberi penjelasan? Perihal apakah Anda akan menerimanya atau tidak, Anda bisa memutuskannya nanti." Jawab Ramon. Ia berpikir sejenak lalu menambahkan, "Juga, Anda bisa mengatakan semua yang Anda rasakan selama ini padanya. Supaya dia tahu betapa besar kekecewaan Anda, rasa sakit, dan jenis emosi lain yang ada. Anda juga bisa mengumpatnya sesuka hati sampai Anda puas jika Anda mau. Anda bisa menampilkan sisi lain diri Anda yang selama ini Anda tekan. Saya rasa itu akan lebih berguna dari pada terus menghindar dan membiarkan masalah tidak pernah terselesaikan." Anne-Marie tertawa kecil mendengar kata-kata Ramon. Ia berkata, "Ya, aku memang ingin meneriakinya dengan berbagai macam u*****n. Aku bahkan ingin memukulinya sampai babak belur." Setelah berkata demikian, ia tersenyum dan menyeka sendiri air mata di pipinya dengan punggung tangan. "Terima kasih, Ramon. Bicara denganmu membuatku merasa lega." Kata Anne-Marie dengan tulus. "Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan. Senang rasanya jika Anda merasa lebih baik." Jawab Ramon. "Emh.. Ngomong-ngomong, apa kau yang mengoleskan minyak padaku tadi?" "Oh, itu.. Saya.., maaf karena saya sudah lancang." Jawab Ramon gelagapan. Ditundukkannya kepalanya merasa bersalah karena telah menyentuh wanita itu. "Kenapa kau malah meminta maaf? Kau sudah menyelamatkanku. Aku hanya ingin bertanya karena minyak yang kau oleskan sangat harum. Seperti bau sereh? Apa itu minyak sereh? Aku belum pernah menggunakannya sebelumnya." "Ya, itu benar, Nona. Karena saya pikir Anda pingsan karena syok dan perasaan tertekan, jadi saya memilih untuk menggunakan minyak sereh dari pada minyak kayu putih. Wangi dari sereh ini memiliki efek menenangkan sistem saraf, meringankan sakit kepala, juga meredakan stres dan gangguan kecemasan." "Benarkah? Itu berarti akan bagus untuk menambahkan aroma sereh dalam potpourri." Perlahan tapi pasti, suasana hati Anne-Marie menjadi ringan kembali. Ia mengobrol beberapa hal lagi dengan Ramon dan menyadari bahwa lelaki itu ternyata mempunyai pengetahuan yang luas. Diam-diam ia dibuat penasaran tentang latar belakang Ramon. Apalagi jika mengingat bahwa Sophia juga mengenalnya bahkan memberinya undangan peluncuran buku. Jika membandingkan keadaannya saat ia pertama kali melihatnya dan tampilannya sekarang, Ramon terlihat begitu berbeda. Meski usianya menjelang kepala empat, tapi yang nampak menonjol adalah kematangan yang menawan, bukan tanda-tanda penuaan. Entah mengapa Anne-Marie merasa lelaki itu.. menarik. ** Hari Selasa saatnya Ramon membuat Hadangan Harang akhirnya tiba. Sebelumnya ia telah memikirkan solusi untuk mengatasi bau tajam pada daging kerbau dan treatment khusus untuk tekstur daging yang lebih keras. Ia juga sudah mencoba mempraktekkannya kemarin dan cukup puas dengan hasilnya. Siang itu, Ramon benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya. Ia memasak hidangan itu dengan sepenuh hati. Fokusnya bukanlah supaya dapat memenuhi kriteria untuk bisa bekerja di dapur Pawon Ageng, tapi bagaimana ia dapat menyajikan satu hidangan yang dapat memuaskan penikmatnya. Membawa kembali orisinalitas dan kenangan yang berharga di masa silam seperti visi Pawon Ageng. Ketika jam makan siang tiba, Ramon sudah selesai memasak. Laksmi telah datang ke florist beberapa saat yang lalu dan sempat melihat bagaimana lelaki itu memasak. "Silakan, Nyonya, Nona." Laksmi duduk di ujung meja makan di dapur dan Anne-Marie di sisi kanannya. Di depan mereka sudah tertata rapi beberapa hidangan yang Ramon masak. Selain Hadangan Harang yang menjadi topik utama, ada pula nasi liwet dan urap sayur. Komposisi ini berbeda dari yang Laksmi sajikan untuknya sebelumnya beberapa hari yang lalu. Tapi baik Laksmi maupun Anne-Marie tidak memberi komentar apapun. Mereka mulai mencicipi rasa hidangan itu satu demi satu. Setelahnya, baru memakannya bersama. Hal pertama yang ditanyakan Laksmi adalah, "Kenapa kau memilih nasi liwet dan urap sayur sebagai paduan dari Hadangan Harang ini?" "Hal itu memang sengaja saya lakukan. Karena saya berpikir bahwa hidangan yang paling ingin Anda coba untuk menilai saya adalah Hadangan Harang. Jika saya memilih nasi wangi pandan, maka wangi Hadangan Harang itu sendiri akan tertutupi. Padahal bau masakan sangat berpengaruh pada indera pengecap kita. Dengan pertimbangan itu, saya akhirnya memilih nasi liwet dan membuatnya sedikit lebih ringan dengan tidak menggunakan terlalu banyak santan. Dan urap sayur juga akan terasa lebih segar di siang hari jika dibandingkan dengan bobor bayam." Jawab Ramon. "Hmmm, lalu coba jelaskan bagaimana kau menghilangkan bau tajam pada daging kerbau ini, juga apa yang kau lakukan untuk membuat teksturnya terasa lebih empuk?" Tanya Laksmi. "Itu.. saya menggunakan parutan jahe untuk merendam daging yang sudah saya cincang terlebih dahulu. Lalu saat memanggang, saya juga menggunakan arang batok kelapa tapi dengan bara api yang lebih kecil dan memasaknya sedikit lebih lama." "Memanfaatkan kestabilan bara api batok kelapa dan menggunakan waktu lebih lama untuk memanggang, itu solusi yang tepat. Daging juga tidak akan gosong. Hanya perlu kesabaran lebih dan lebih sering membolak-balikkannya. Lalu, karena di awal kau sudah menggunakan jahe untuk merendam daging, itu artinya kau mengurangi takaran jahe untuk bumbu halusnya?" "Itu benar, Nyonya. Untuk keseimbangan rasa, karena di awal saya sudah menggunakan jahe untuk merendam daging, jadi saya memakai jahe lebih sedikit untuk membuat bumbu halusnya." Laksmi menganggukkan kepala. Alih-alih mengomentari rasa dari hidangan yang dibuat Ramon, ia hanya menanyakan beberapa hal mengenai proses memasaknya. Ia termenung beberapa saat setelah jawaban terakhir Ramon. Seolah tengah memikirkan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, Anne-Marie yang mengamati neneknya juga tak berkomentar apa-apa ataupun mendesak sang nenek untuk memberi keputusan. Ia hanya merasa bahwa sepertinya sang nenek diam-diam mengakui keterampilan Ramon dan cukup puas dengan kinerjanya. Ia sendiri juga turut menyantap hidangan yang dibuat Ramon dan dapat menilai bahwa rasa dari hidangan itu nyaris sama dengan masakan dari Pawon Ageng. "Baiklah. Aku sudah membuat keputusan." Kata Laksmi. Suara tuanya memecah keheningan di antara mereka. "Aku akan melatihmu secara pribadi." Tambahnya. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD