Perlahan, pada akhirnya, entah itu karyawan Pawon Ageng maupun Anne-Marie Florist tahu bahwa ada seorang laki-laki bernama Ramon yang akan segera menjadi 'murid' dari Laksmi Chandra Notokusumo. Sebelumnya, sudah bukan rahasia umum lagi jika Laksmi tidak mudah untuk didekati. Ia juga tidak pernah secara langsung mengangkat murid.
Selama empat puluh tahun lebih sejak Pawon Ageng berdiri, konon hanya ada dua murid yang dikenal. Salah satunya adalah Chef Cokro, yang menjabat sebagai chef utama saat ini, sedangkan satu yang lain tidak diketahui dengan jelas. Menurut kesaksian beberapa mantan karyawan, murid tersebut telah melakukan kesalahan dan kemudian diusir keluar dari Pawon Ageng. Tapi setelah beberapa waktu, cerita itu tidak pernah terdengar lagi dan murid tersebut akhirnya terlupakan.
Namun meski di bawah permukaan kabar tentang Ramon sudah ramai diperbincangkan, tak ada satupun orang yang berani membicarakannya secara terang-terangan. Semua orang di lingkaran itu tahu persis seperti apa temperamen Laksmi. Ia dikenal sebagai seorang yang keras dan tak pandang bulu. Meski sebenarnya dalam beberapa hal ia juga punya sisi kelemahan. Tapi kharismanya memang tak perlu dipertanyakan lagi, orang-orang sangat menghormatinya.
Begitu Laksmi mengatakan bahwa ia akan melatih Ramon secara pribadi, orang yang paling merasa senang setelah Ramon adalah Anne-Marie. Apalagi ia lah yang secara tidak langsung 'menemukan' bakat lelaki itu. Ditambah lagi, sejak awal ia sudah mendapatkan kesan yang baik darinya. Selain Anne-Marie, ketiga karyawan florist, Saka, Ardi dan Lestari juga tak kalah gembira. Meski mereka beberapa kali merasakan masakan Ramon, mereka semua tak menyangka bahwa ia seahli itu dalam memasak. Karena yang mereka tahu hanya makan dengan kata enak atau tidak, detail dari dua kata itu mereka tidak mengerti.
Program pelatihan yang diterapkan Laksmi untuk Ramon akan dimulai pekan berikutnya dengan jadwal setiap Sabtu dan Minggu. Di hari selain itu, ia masih diperbolehkan bekerja di florist dan belajar mandiri. Laksmi memberinya beberapa buku dan modul tentang perlakuan pada bahan makanan, teknik memotong, bumbu dan rempah-rempah, dasar-dasar kuliner, sampai dasar ilmu gizi. Selain itu, ada pula setumpuk majalah kuliner Nusantara dan kuliner asing.
Ramon menerima buku dan modul itu dengan senang hati dan tidak memikirkan hal lain dibaliknya kecuali bahwa ia harus tekun mempelajari semuanya. Tapi ketika Anne-Marie melihat tumpukan buku dan modul itu, matanya melebar, entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang tak biasa tengah terjadi pada neneknya. Lalu ia pun mencoba membuat hipotesa, hanya saja ia tak terlalu yakin. Karena itulah ia segera menemui sang nenek.
"Nenek, bisakah kita bicara tentang pelatihan Ramon? Maaf, saya tahu itu adalah wilayah dimana saya tidak bisa ikut campur. Tapi, saya hanya ingin memastikan sesuatu. Karena jika dugaan saya tepat, maka itu akan sangat berpengaruh pada strategi pengelolaan yang sedang saya susun." Anne-Marie berusaha untuk bicara sehati-hati mungkin.
"Nenek tahu kau akan menanyakannya. Seperti yang sudah nenek perkirakan." Laksmi merasa puas karena cucunya itu menyadari tindakannya. Tak salah jika ia memutuskan untuk segera melimpahkan Pawon Ageng padanya, ia sangat yakin.
"Jadi, apakah apa yang saya pikirkan saat ini benar?"
"Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?" Laksmi tersenyum.
"Oh, ayolah nenek. Nenek pasti tahu itu."
"Ya. Nenek sudah lama memikirkannya. Dulu saat pertama kali kau mengatakan tentang fusion food, nenek sangat tersinggung. Itu terasa melukai harga diri keluarga Notokusumo yang selalu mempertahankan orisinalitas. Tapi kenyataannya, sebenarnya kita tidak sepenuhnya orisinil. Nyatanya dalam kitab warisan keluarga ada juga beberapa menu fusion, meski itu hanya yang disukai para sultan terdahulu, seperti bistik dan sup makaroni."
Note: Fusion adalah istilah untuk kombinasi dari beberapa bahan, tampilan, bentuk, dan teknik pengolahan makanan. Fusion Food adalah sebuah inovasi dalam bidang makanan yang menggabungkan beberapa unsur tradisi kuliner berbeda dari dua negara atau lebih sehingga tercipta masakan baru dengan cita rasa yang lebih inovatif.
Laksmi ingat betapa kerasnya ia menghardik Anne-Marie karena mengusulkan untuk menyajikan menu fusion food di Pawon Ageng untuk lebih banyak menarik pelanggan, terutama generasi muda. Karena selama ini, pelanggan yang datang mayoritas adalah para generasi pertengahan dan 'senior'. Generasi di bawah itu jumlahnya sangat sedikit dan rata-rata datang karena menemani orang tua atau bahkan kakek neneknya.
Setelah dipikir-pikir, zaman terus berubah, orang-orang juga berubah, termasuk selera mereka terhadap makanan. Sebagian atau mungkin kebanyakan orang sekarang mungkin menganggap kuliner asli seperti yang ditawarkan Pawon Ageng tidak lebih dari sekedar tempat wisata yang cukup dikunjungi sesekali. Atau mungkin juga sebagai kenangan manis kala remaja untuk diingat saat lelah dengan rutinitas kehidupan yang monoton.
Karena itulah Laksmi merasa mungkin sudah saatnya bagi Pawon Ageng untuk berbenah. Jika tidak, bisa jadi akan sulit bagi mereka untuk bertahan. Apalagi di tengah masyarakat modern yang semakin lupa untuk menghargai apa yang disebut warisan budaya, dimana kuliner adalah salah satunya.
"Nenek..." Anne-Marie tak bisa berkata-kata. Ia tak menyangka apa yang ia ucapkan sambil lalu dulu ternyata begitu melekat di benak neneknya. Saat itu, ketika belum lama tinggal dengan neneknya, ia mengatakan perihal fusion food karena belum terbiasa dengan masakan Jawa. Memang setiap kali berkunjung ke kota itu ia pasti makan masakan Jawa, tapi karena adanya rentang waktu kunjungan ia tak pernah merasa bosan. Lalu ketika tinggal bersama sang nenek dan dalam hari-harinya selalu menjumpai jenis masakan itu, ia mulai bosan karena sudah mencicipi semua menu dan tidak ada kreasi baru.
Berbeda ketika tinggal bersama orang tuanya, mereka adalah chef dengan jiwa bebas yang sangat produktif dalam menciptakan menu-menu baru, meski tetap mempertahankan beberapa ciri khas dari masakan Perancis yang menjadi fokus utama. Karena itu Anne-Marie tidak pernah merasa bosan dengan masakan keduanya.
"Apa? Sekarang pikiran nenekmu ini sudah terbuka. Jangan bilang bahwa kau berniat untuk mundur." Kata Laksmi sambil menunjuk hidung Anne-Marie, berpura-pura marah.
Anne-Marie terkekeh melihat tingkah neneknya, tapi sebenarnya ia merasa sangat terharu. "Tentu saja cucu ini tidak berani melakukannya. Karena saya sudah bersedia sebelumnya. Apalagi saya juga sudah bersusah-payah memikirkan strategi bisnis untuk kemajuan restoran ini. Mana mungkin saya menyia-nyiakan usaha yang sudah dilakukan selama ini. Jadi, nenek tenang saja. Cucumu ini akan berusaha semaksimal mungkin untuk Pawon Ageng, untuk kebesaran nama Notokusumo, juga untuk..untuk..."
"Kau ini, banyak pandai berkata-kata. Untuk apa lagi? Lakukan saja untuk dirimu sendiri. Nikmati setiap prosesnya. Nenek akan merasa lebih bahagia jika kau melakukannya dengan bahagia. Masalah hasil akhirnya akan jadi bagaimana nanti, kita tidak perlu terlalu mencemaskannya. Hasil tidak akan pernah mengkhianati seberapa besar usahamu."
**
Sebagai project manager, Satria cukup sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi ini adalah kali pertama ia menjabat sebagai project manager setelah sebelumnya hanya sebagai konsultan konstruksi. Karena itu ia benar-benar berhati-hati dan berusaha keras supaya pekerjaannya sempurna tanpa kesalahan apapun.
Dengan kesibukan itu, pikirannya tentang Anne-Marie pun sedikit teralihkan. Meski saat malam dan sendiri, ia akan terus terbayang kejadian di tempat parkir restoran. Sudah empat tahun berlalu dan dari sikapnya, Anne-Marie jelas-jelas masih belum dapat menerimanya kembali. Sementara dirinya terus dihantui rasa bersalah dan rindu yang diam-diam ia simpan.
Satria merasa kesal dengan dirinya karena telah bersikap terlalu impulsif sebelumnya. Ia hanya terlalu senang dapat berjumpa kembali dengan Anne-Marie dan tidak sabar untuk segera memperbaiki hubungan di antara mereka. Tapi ia terlalu egois dan tidak memperhatikan bagaimana perasaan wanita itu. Ia sadar ia telah salah langkah.
Lalu, bagaimana caranya untuk memperbaiki semua itu, Satria terus memikirkannya dan merasa agak frustasi.
Ia berpikir hal utama yang harus secepatnya ia lakukan adalah meminta maaf padanya. Tapi ia khawatir dengan reaksi Anne-Marie ketika melihatnya lagi. Apakah wanita itu akan menolaknya lagi. Ataukah akan mempertimbangkan untuk memberinya kesempatan bicara. Bagaimanapun, ia tak akan pernah tahu seperti apa hasilnya jika tidak mencoba bukan? Satria menetapkan hati.
Keesokan harinya, menjelang jam makan siang tiba, Satria bermaksud pergi ke restoran milik nenek Anne-Marie. Pawon Ageng, ia ingat betul nama restoran itu. Ia pergi mengendarai mobil seorang diri dengan berbekal GPS, juga ingatan sebelumnya ketika pergi dengan Dimas. Beruntung kota itu juga tak terlalu besar jadi tidak akan terlalu sulit untuk menemukannya.
Pukul dua belas lewat tiga puluh menit, Satria sampai di Pawon Ageng. Setelah memarkirkan mobilnya, ia tak langsung masuk ke restoran. Tapi berjalan memutar keluar dan berbelok ke samping menuju gerbang depan Anne-Marie Florist. Ia ingat cerita Dimas tentang florist itu dan setelah melihat papan nama yang tertera, ia yakin bahwa cerita itu benar.
Sesaat Satria hanya berdiri diam menatap papan nama itu. Hatinya merasa hangat, sekaligus dingin. Hangat karena rasa syukur Anne-Marie akhirnya memilih melanjutkan hidupnya. Dingin karena teringat dengan kesalahan yang telah ia lakukan dan menjadi penyebab tindakan ekstrim dari orang yang dicintainya itu. Satria menghela nafas berat. Terasa ada sesuatu yang seolah menyumbat jalan nafasnya, membuat dadanya sesak.
"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa dibantu?" Saka tengah mondar-mandir menaikkan pot-pot bunga yang akan diantar ke pelanggan ke dalam mobil box. Ia melihat seorang laki-laki berdiri diam di depan florist sekian lama seolah tengah melamun. Ia berpikir mungkin orang tersebut tengah memastikan apakah ia telah datang ke alamat yang tepat atau tidak, maka ia pun bertanya.
Satria tersadar dan kembali dari renungannya setelah mendengar pertanyaan itu. Ia tersenyum dan berkata, "Apa benar pemilik florist ini adalah Anne-Marie?"
Saka yakin belum pernah melihat laki-laki di hadapannya itu. Ia juga tak tahu bahwa laki-laki itulah yang menyebabkan bosnya pingsan beberapa hari lalu karena Ramon juga tak menceritakan apa yang terjadi secara detail. Jadi, ia hanya berpikir mungkin orang ini adalah kenalan Anne-Marie atau salah satu pelanggan baru.
"Itu benar. Apakah Anda ingin memilih atau memesan bunga?" Tanya Saka.
"Saya ingin bertemu dengan Anne-Marie. Apa dia ada?"
Mempertimbangkan bagaimana laki-laki di depannya itu menyebut nama bosnya tanpa embel-embel 'nona', Saka menyimpulkan bahwa sepertinya orang ini adalah seorang kenalan dekat. "Ya, Nona Anne-Marie ada di kantornya. Mari saya antar, Tuan."
"Terima kasih." Ucap Satria. Ia lalu mengikuti pemuda berseragam biru langit dan bertopi bisbol hitam yang nampak lebih muda darinya itu. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling florist, melihat ragam tanaman bunga berwarna-warni untuk menenangkan perasaannya yang bergejolak. Hingga tak terasa, ia sudah memasuki bangunan toko yang terkesan cozy. Melewati ruang tunggu, pemuda yang mengantarkannya berhenti di depan sebuah pintu dan mengetuk tiga kali.
"Nona, ada tamu untuk Anda."
Lalu, suara merdu terdengar dari dalam ruangan. "Biarkan dia masuk."
**