Part 16

1571 Words
Malam itu, ketika Anne-Marie memergoki Satria tengah bermesraan dengan Jasmine di atas ranjang, ia langsung lari tanpa bicara sepatah kata pun. Hingga kemudian ia memotong nadinya dan menyepi ke kota ini, ia belum bertemu dengan Satria sama sekali. Begitu pula dengan Jasmine. Sebenarnya Satria mencoba menemuinya beberapa kali setelah kejadian itu, tapi ia sendiri yang menolak. Meski papanya pernah mencoba menyarankan untuk setidaknya bertemu sekali untuk menyelesaikan masalah di antara mereka. Tapi Anne-Marie berkeras tidak ingin bertemu apalagi bicara dengan Satria. Lain halnya dengan Jasmine, sejak kejadian malam itu, ia seolah menarik garis tegas. Sekian tahun persahabatan yang terjalin di antara keduanya benar-benar seolah tidak pernah ada. Dan hal ini membuat Anne-Marie merasa semakin kecewa. Orang bilang persahabatan antara laki-laki seperti sebuah permainan sepak bola yang memiliki aturan dan batasan yang jelas antara yang bisa ditoleransi dan apa yang tidak boleh dilanggar. Tapi seperti apa persahabatan antar perempuan? Barangkali itu seperti sebuah masakan, dimana kesesuaian rasa antara manis, asin, asam, pedasnya tergantung pada lidah orang yang mencecapnya. Anne-Marie mungkin juga berpikir demikian, tapi ia tetap kecewa. Dalam hati ia lebih mengharapkan penjelasan dari sahabatnya Jasmine, tapi ia bahkan tak menunjukkan batang hidungnya satu kali pun. Sementara Satria, jika mengingat bahwa jalinan asmara yang terjalin di antara mereka dimulai dengan permintaan dan ketersediaan, maka hal itu juga sebenarnya cukup dijadikan alasan bagi Anne-Marie untuk dapat membicarakan permasalahan apapun yang ada di antara keduanya. Ia pun sadar sepenuhnya, cepat atau lambat ia memang harus bicara dengan Satria betapapun tidak inginnya dia, betapapun ia menghindarinya. Sekarang, melihat yang bersangkutan telah kembali menemuinya, Anne-Marie merasa seolah ia tak diberi kesempatan lain untuk mengusirnya. Seperti yang dikatakan papanya, juga Ramon, masalah tidak akan selesai jika tidak dihadapi. Anne-Marie menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, mencoba untuk menenangkan diri. "Untuk apa kau datang ke sini lagi?" Tanya Anne-Marie. Sebisa mungkin ia berusaha berbicara dengan nada senormal mungkin meski emosi dalam dirinya bergejolak. "Anne-Marie, ada banyak hal yang perlu kita bicarakan." Jawab Satria. "Benarkah? Kalau begitu katakan." "Bisakah kita pergi makan siang terlebih dahulu sebelum membicarakannya?" "Apa kau pikir aku cukup memiliki nafsu makan setelah melihatmu?" Kata-kata sarkas Anne-Marie mengejutkan Satria. Laki-laki itu tak pernah mengira wanita lembut yang ia cintai dapat mengucapkan hal semacam itu. Seberapa banyak perubahan yang terjadi padanya, Satria bergumam dalam hati. Memang benar, setiap orang dapat berubah. Dan perubahan itu selalu memiliki pemicu. Kesalahan yang ia perbuatlah yang memicu perubahan dalam diri Anne-Marie. Tapi Satria tak pernah menyangka perubahan itu akan sedemikian besarnya. Ia benar-benar tak lagi dapat menemukan Anne-Marie yang dulu. Anne-Marie yang ada di depannya kini seolah orang lain yang sama sekali berbeda. "Makan adalah kebutuhan. Setidaknya, makanlah sedikit meski kau sedang tak nafsu makan. Aku tidak ingin karena kedatanganku, kau sakit." "Jangan khawatir. Setelah kau pergi, nafsu makanku akan segera kembali. Tak masalah sesekali terlambat makan. Karena itu, jika kau benar-benar tidak ingin aku sakit karena tidak makan, segeralah bicara dan kemudian pergi." "Anne-Marie, tidakkah kau merasa kata-katamu itu terlalu kejam untukku?" "Kejam? Jika kata-kata seperti itu saja kau anggap kejam, lalu bagaimana dengan perbuatan yang kau lakukan dengannya di belakangku?" Satria terdiam. Pertanyaan itu tepat mengena di ulu hatinya. Dan ia seolah kehilangan semua kata untuk menjawab pertanyaan itu. "Sebenarnya.., aku tidak akan merasa sesakit ini jika.. kalian jujur padaku. Aku akan mengerti jika kau berkata bahwa kau tidak menginginkanku lagi. Dan aku juga akan berusaha untuk mengerti jika setelah itu kau ingin menjalin hubungan dengan Jasmine atau siapapun itu. Aku tidak akan mengikat seseorang dalam keterpaksaan." "Anne-Marie, aku..." "Tidak. Aku belum selesai. Jangan memotongku." "Maafkan aku." "Kau harus tahu, aku juga manusia biasa. Meski aku mengatakan aku akan berusaha untuk mengerti, tapi aku pasti akan tetap merasa sakit. Aku pikir itu adalah hal yang wajar. Tapi .., ketika kenyataannya kalian mengkhianatiku seperti ini, aku merasa jauh lebih sakit dan.. begitu bodoh. Aku merasa bahwa akulah yang menjadi penghalang di antara kalian berdua..." "Itu tidak benar.." "Diam!" Potong Anne-Marie. Ia lalu melanjutkan, "Aku belum selesai bicara. Seperti yang kau katakan di awal, ada banyak hal yang perlu kita bicarakan. Dan karena kau terlalu berbelit-belit, maka biarkan aku membuatnya jelas." Satria menatap Anne-Marie dengan nanar. Ia ingat, selama hampir tiga tahun hubungan mereka, ia tidak pernah mendengar Anne-Marie bersikap seperti saat ini. Kata-katanya begitu tajam dan tatapan matanya penuh dengan perlawanan. "Aku benar-benar tidak mengerti. Jika kalian memang ingin bersama, kenapa kalian tidak mengatakannya padaku? Kenapa kalian membuatku merasa buruk? Tidak, bukan kalian yang membuatku merasa buruk. Itu semua karena aku memang bukan orang yang pengertian. Bukankah begitu? Aku bahkan tidak melihat tanda-tanda apapun. Aku tidak melihat perubahan tingkah laku kalian, bagaimana kalian memandang satu sama lain. Atau mungkin sebenarnya aku telah melihatnya, hanya saja aku mengingkarinya? Bukankah itu artinya bahwa aku sangat egois? Sepertinya selama ini aku benar-benar hanya memikirkan diriku sendiri." Tak terasa, air mata mulai mengalir dari sudut mata Anne-Marie sekuat apapun ia berusaha membendungnya. Tapi dengan cepat ia segera menyekanya dengan punggung tangannya seolah tak ingin siapapun mendapati bahwa ia telah menangis. Satria yang melihatnya merasa seolah hatinya diremas. Ia mencoba meraih tangan Anne-Marie, berniat menggenggam untuk menguatkannya. Tapi wanita itu tak membiarkan lelaki itu menyentuhnya sedikit pun. Anne-Marie menarik tangannya dan menyembunyikannya di bawah meja, memilih untuk meremas roknya hingga kusut. Satria hanya bisa tersenyum kecut karenanya. "Entah kau akan percaya padaku atau tidak, tapi apa yang kau lihat malam itu benar-benar tidak seperti yang kau pikirkan, begitu juga hubunganku dan Jasmine. Tidak ada romantisme apapun di antara kami." Nampak raut ketidakberdayaan di wajah Satria ketika mengatakannya. "Ha.. Begitukah?" Anne-Marie menatap Satria dengan pandangan tak percaya. "Tidak seperti yang aku pikirkan? Tidak ada romantisme? Yang benar saja. Lalu apa itu? Sekedar..seks? Karena kau tidak bisa mendapatkannya dariku maka kau mencarinya ke tempat lain?" Tanyanya dengan nada getir. Jika memang demikian, maka Anne-Marie tidak akan ragu untuk mengaku bersalah dan bahwa dirinya lah yang bermasalah karena dengan keras kepala memegang prinsipnya untuk tidak melakukan hal semacam itu sebelum menikah. Lalu ia akan dengan senang hati melupakan masa lalu dan menganggapnya tidak pernah terjadi, membiarkan mereka bersama dan bahkan merestui hubungan keduanya. "Anne-Marie, aku memang laki-laki biasa yang punya banyak kekurangan. Tapi apa yang baru saja kau katakan juga tidak benar. Aku mempunyai alasanku sendiri. Hanya saja.. hanya saja aku tidak bisa mengatakannya padamu sekarang. Aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi." "Sulit dipercaya. Sungguh.., sangat sulit untuk dipercaya. Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan? Kau menyangkal perkataanku, kau bilang kau memiliki alasan tersendiri yang tidak bisa kau katakan sekarang? Sesulit itukah untuk mengatakan kebenarannya? Dan kau masih berani memintaku untuk memberimu kesempatan sekali lagi? Atas dasar apa? Tidakkah kau seharusnya memberiku alasan yang masuk akal?" Satu kesalahan, sefatal apapun, tidak serta merta bisa menghapuskan perasaan yang telah terlanjur mendalam. Begitu pula yang dialami Anne-Marie. Jauh di dasar hatinya, ia masih menyimpan kenangan yang terukir bersama Satria. "Masuk akal? Ya, kau benar, Anne-Marie. Kau tahu, aku mungkin adalah orang yang paling masuk akal di antara kita. Aku melakukan segala sesuatu dengan penuh pertimbangan. Termasuk hubunganku dengan Jasmine. Aku benar-benar memiliki alasan yang masuk akal untuk itu." Satria bangkit dari kursi dan berjalan menuju jendela. Pandangannya menerawang jauh. Ia menggertakkan gigi dan keduanya tangannya mengepal erat hingga otot-ototnya nampak menonjol. Ia lalu menoleh pada Anne-Marie. "Jasmine memberiku penawaran. Dengan melakukan apa yang ia minta, ia akan memberi apa yang aku inginkan. Kau tahu apa yang aku inginkan? Aku ingin mengubah garis hidupku. Dan menjadi mahasiswa berprestasi tidaklah cukup. Itu bukan jaminan yang bisa dipakai di dunia kerja. Perlu ada peluang, juga koneksi untuk memastikan supaya orang dari kelas menengah sepertiku bisa menempati posisi yang sesuai dengan harapan. Itulah yang Jasmine berikan untukku. Sementara aku memberinya kepuasan yang ia butuhkan." Ia menjeda sejenak, berjalan ke seberang meja Anne-Marie, menumpukan tangan di atasnya dan sedikit mencondongkan badan. Ia menatap iris mata wanita itu lekat-lekat sebelum melanjutkan, "Dan aku melakukan semua ini hanya untukmu, hanya supaya aku pantas bersanding dengan dirimu. Itulah harga yang harus kubayar karena telah begitu berani mencintai seorang wanita dengan status setinggi dirimu, seorang wanita yang seharusnya tidak ku jangkau." Mendengar apa yang disampaikan Satria, Anne-Marie tidak bisa berkata-kata. Sebelumnya ia memang ingin mendengar penjelasan itu. Tapi setelah mendengarnya, ia kesulitan untuk menerima. Anne-Marie membuang pandangan. Ia sungguh tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Bisakah alasan semacam itu dibenarkan? Lebih dari itu, memangnya ada apa dengan statusnya? Seberapa penting itu? Bukankah dia sendiri tidak pernah membeda-bedakan seseorang hanya karena status? Ia pun tak pernah merasa menuntut Satria macam-macam, batin Anne-Marie. Mungkin seringkali memang akan muncul inferioritas ketika seseorang dengan status lebih rendah berhadapan dengan orang dari status yang lebih tinggi darinya. Terkadang hal itu datang dengan paksaan, tapi tak jarang itu juga datang dengan sendirinya karena sistem masyarakat kelas yang telah berlaku turun temurun sepanjang zaman membentuk mental dan karakter demikian. Mungkin selalu ada pengecualian, tapi itu sepertinya adalah sesuatu yang jarang dijumpai. "Apa kau sudah selesai bicara?" Tanya Anne-Marie tanpa menatap Satria. "Anne-Marie..." "Jika kau sudah selesai, maka pergilah." "Anne-Marie, tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" Tanya Satria penuh pengharapan. "Kau bahkan tidak menyebut namaku satu kali pun." "Sudah cukup bagiku memberimu kesempatan untuk bicara. Perihal apakah aku menerima apa yang kau sampaikan, bukankah itu urusanku sepenuhnya? Aku tidak memiliki apapun untuk dikatakan. Jadi, pergilah." Satria memberi Anne-Marie tatapan kecewa. Dengan mengepalkan tangan, ia berbalik pergi. Setelah punggung lelaki itu tak terlihat lagi, Anne-Marie menghela nafas berat. Ada begitu banyak hal yang tidak ia mengerti. Dalam hidup ini, apa yang paling penting bagi seseorang? **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD