Selama menjadi bodyguard dulu, Ramon dilatih untuk selalu waspada dan instingnya pun terasah tajam. Seluruh inderanya jauh lebih sensitif dari orang kebanyakan. Lalu ketika ia dilatih untuk menjadi seorang koki, intuisinya pun seolah bangkit dan menjadikannya sangat detail dalam keseluruhan proses memasak.
Hal tersebut pertama kali disadari oleh 'orang itu' secara tidak sengaja. Karena suatu peristiwa yang melibatkan 'dirinya' dan petugas lapas tentang kualitas makanan di lapas tempat mereka ditahan. Saat itu, 'dia' membuat keributan di kantin dengan mengatakan bahwa makanan dari kantin lapas tidak layak makan dan berasal dari bahan-bahan yang buruk bahkan hampir busuk. Sontak hal tersebut membuat marah tak hanya petugas kantin tapi juga para sipir lainnya. Beberapa orang dari mereka bahkan memukulinya untuk membuatnya diam.
"Kalian pikir aku takut hah? Kalian memukuliku supaya aku tetap diam dan membuat masalah ini tidak terungkap bukan? Sudah berapa banyak orang yang kalian bungkam dengan cara seperti ini? Kalian sangat menjijikkan! Katakan pada atasan kalian itu, aku pasti akan menemukan cara membongkar semua ini." Orang itu terus bicara sambil menahan pukulan demi pukulan.
Saat itulah Ramon tiba-tiba berdiri dari berteriak keras, "Cukup!"
Sosoknya yang tinggi besar dan berotot serta auranya yang mengintimidasi membuat keributan itu terhenti. Ia baru beberapa hari menghuni lapas itu dan biasanya selalu menyendiri dan pendiam. Para narapidana lain pun tak ada yang berani mendekatinya. Saat itu, mereka hanya diam dan pura-pura tidak terjadi apa-apa meski salah satu 'teman' mereka dipukuli karena mencoba menyuarakan pendapatnya. Tapi Ramon tidak dapat menahannya.
Sudah beberapa hari ini dia mendapati keributan yang sama di kantin tersebut dan ia sadar betul bahwa protes yang disampaikan 'orang itu' bukan tak berdasar sama sekali. Ia pun dapat merasakan bahwa makanan di kantin itu memang bermasalah. Ia juga sepakat bahwa meski mereka menghuni lapas itu karena bersalah atas suatu kasus pelanggaran hukum tapi bukan berarti mereka bisa diperlakukan secara tidak manusiawi, seperti yang dikatakan 'orang itu'.
"Apa kalian akan memukulinya sampai mati? Dia hanya bicara." Kata Ramon dengan nada acuh tak acuh.
"Di sini tidak diperlukan orang yang banyak bicara." Jawab salah seorang sipir.
"Oh, begitukah? Apa itu artinya kami harus menjadi bisu di sini?" Balas Ramon.
"Baru berapa hari kau mendekam di sini dan sudah mau membuat ulah?" Tanya sipir lain sambil mendekati Ramon dengan dagu terangkat dan mengayun-ayunkan tongkat pemukul.
"Membuat ulah? Saya hanya penasaran dengan bagaimana tempat ini memperlakukan seseorang yang menyuarakan pendapatnya. Alih-alih memukulinya, bukankah seharusnya kalian memeriksa apakah yang dikatakannya benar atau tidak? Apakah makanan ini layak ataukah benar-benar busuk?"
"Untuk apa repot-repot? Semua orang di sini tahu bahwa yang dikatakannya hanya omong kosong. Dia hanya mengganggu kedamaian lapas ini. Karena itulah kami perlu mendisiplinkannya." Sipir di hadapan Ramon mengetuk-ngetukkan tongkat pemukul di tangannya pada meja.
Ekspresi Ramon tidak berubah. "Omong kosong? Bagaimana jika saya juga mengatakan bahwa makanan ini benar-benar seperti pakan ternak, busuk, dan tak layak makan sama sekali?"
"Apa katamu? Katakan sekali kalau kau berani!" Sipir itu mencengkeram kerah seragam tahanan Ramon. Matanya menatap tajam penuh ancaman.
"Kenapa tidak? Saya hanya bicara kenyataan. Makanan ini benar-benar tidak layak untuk dimakan sama sekali. Nasinya dari beras yang sudah apak dan saya yakin warnanya pasti sudah kekuningan. Meski dimasak dengan menambahkan perasan air jeruk nipis supaya nasi menjadi lebih putih tapi rasanya apaknya tetap terasa di lidah. Sayuran yang digunakan bahkan tak cukup disebut sayuran layu. Ini lebih seperti sayuran buangan yang hanya akan dipungut untuk memberi pakan ternak. Apa saya masih harus bicara lebih jauh tentang dari mana ayam ini berasal?"
Selama Ramon berbicara, wajah para petugas kantin dan sipir yang ada di tempat itu sudah memerah, terbakar oleh amarah. Andai mereka tidak tahu latar belakang Ramon, mereka mungkin sudah akan langsung memukulinya sampai dia tidak akan lagi mampu bicara sepatah kata pun. Tapi mereka terpaksa harus menahan diri karena meski Ramon juga narapidana, ia telah cukup mendapat simpati karena tindakan heroiknya ketika menghadang peluru untuk melindungi target penembakan. Juga orang-orang di belakangnya yang merupakan orang-orang berpengaruh di negeri ini. Jika sampai terjadi apa-apa padanya di dalam penjana tersebut, hal itu pasti hanya akan merugikan mereka.
"Rupanya kau benar-benar pemberani hah?"
"Tidak juga. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya hanya bicara dan itu sesuai fakta yang ada. Dari pada berbelit-belit, bagaimana jika kalian para petugas yang terhormat mencoba makanan yang kami makan ini dan katakan pendapat kalian, apakah yang saya dan pria tua itu katakan tak lebih dari sekedar omong kosong untuk membuat keributan dan mengganggu kedamaian atau justru adalah kebenaran semata?" Tantang Ramon.
"Kalau yang kalian berdua katakan itu benar, kenapa mereka yang ada di sini tak ada satu pun yang mengatakan hal serupa? Itu saja sudah cukup membuktikan bahwa yang kalian katakan memang omong kosong. Kalian hanya orang-orang kesepian pembuat onar yang tidak bisa menerima nasib bahwa kalian sekarang adalah pesakitan dan mencoba mengganggu kedamaian yang ada di lapas ini." Sipir lain turut bicara.
"Mayoritas tidak dapat mewakili kebenaran sesungguhnya. Meski mereka diam selama ini, itu bukan berarti mereka tidak mempunyai keluhan sama sekali. Mungkin mereka hanya ingin menjalani masa hukuman dalam kedamaian." Ramon menghela nafas pendek lalu melanjutkan kembali, "Sebenarnya saya juga ingin seperti mereka, petugas, menjalani masa hukuman dengan damai. Tapi kenyataannya, kedamaian yang ditawarkan di tempat ini hanyalah fatamorgana. Apakah kedamaian itu adalah dengan membungkam mulut kami dan menyebarkan ketakutan? Meski status kami adalah narapidana, bukankah kami masih memiliki hak untuk diperlakukan dengan manusiawi?"
"Banyak bicara!" Seorang sipir paruh baya yang telah hilang kesabaran tiba-tiba menerjang dan mendorong Ramon hingga lelaki itu terjungkal dan kepalanya membentur meja.
Jika dipikir-pikir, agak aneh Ramon bisa jatuh begitu saja meski luka tembak di punggungnya saat itu ia masih dalam proses recovery. Di kemudian hari baru orang-orang sadar apa alasannya. Hanya beberapa hari setelah insiden itu, Kementrian Hukum dan HAM mengadakan inspeksi mendadak ke sejumlah lapas yang ada di seluruh penjuru negeri termasuk tempat dimana Ramon di tahan. Saat itu, terbongkarlah penyelewengan dana operasional lapas dan sejumlah pelanggaran lain seperti pemukulan serta pelecehan yang dilakukan petugas pada para narapidana dengan dalih pendisiplinan.
Tak ada yang tahu bahwa saat Handoyo Prayoga datang berkunjung, Ramon menceritakan masalah yang terjadi dan meminta pendapat untuk menemukan solusi terbaik demi seluruh narapidana yang ada. Masalah semacam itu bagi seorang Handoyo Prayoga bukanlah hal yang sulit diatasi. Ia memiliki begitu banyak relasi dan cukup pengaruh. Begitu ia mendengar cerita Ramon, ia sendiri juga merasa geram.
Putri tunggal pengusaha multinasional itu juga tengah menjalani masa hukuman di lapas lain. Meski dia tidak meminta hak istimewa untuknya, tapi ia juga tidak akan tega seandainya putrinya itu mengalami hal serupa seperti yang dialami Ramon dan narapidana lainnya di lapas itu. Karena itu, ia tanpa ragu menghubungi beberapa pihak terkait untuk meminta tindak lanjut secepat mungkin. Dan dengan beberapa kata saja darinya, itu cukup untuk membuat banyak pihak kalang kabut.
Kementerian Hukum dan HAM segera melakukan reformasi besar-besaran terkait lembaga pemasyarakatan yang ada di bawah naungannya. Selain memperbaiki dan memperketat sistem monitoring untuk mencegah pelanggaran-pelanggaran dalam lapas, pelaksanaan beberapa program rehabilitasi juga ditinjau ulang.
Sebelum inspeksi mendadak itu, program pembinaan narapidana di lapas tempat Ramon menjalani masa hukuman bisa dibilang sangat tidak sesuai antara kenyataan dan laporan yang dibuat petugas. Setelah 'keributan' itu dan petugas baru ditempatkan, program pembinaan benar-benar disusun ulang dan dilaksanakan dengan serius. Beberapa program dibuat berdasarkan minat narapidana. Salah satunya adalah kelas memasak yang diusulkan oleh 'orang itu' dengan didukung beberapa narapidana lain yang memiliki sedikit keterampilan dalam bidang itu dan berpikir bahwa mereka akan membuka warung makan atau sekedar angkringan setelah bebas nanti. Karena itu mereka berniat untuk mengasah keterampilan itu selama menjalani masa hukuman.
Awalnya Ramon tidak berminat untuk mengikuti kelas tersebut. Ia bahkan tidak memiliki minat pada program lainnya. Ia baru saja dipenjara dan masih belum mempunyai gambaran apapun tentang apa yang akan ia lakukan setelah ia bebas nanti. Benaknya masih dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam.
Namun kemudian 'orang itu' dengan pantang menyerah selalu berusaha mendekatinya dan mengajaknya bergabung dalam kelas memasak. 'Dia' mengatakan bahwa Ramon mungkin memiliki bakat terpendam. "Saat itu kau bahkan tahu bahwa pihak kantin menggunakan jeruk nipis untuk membuat nasi terlihat lebih putih. Orang biasa tidak akan tahu hal itu. Bukankah itu artinya kau sebenarnya berbakat?" Katanya. Tapi Ramon tidak bereaksi. Ia diam dan terus mengabaikannya.
"Baiklah. Katakan saja kau tidak berminat dan tidak merasa memiliki bakat itu sehingga tidak perlu mengembangkannya, ataupun berniat menguasai keterampilan itu untuk melanjutkan hidupmu setelah bebas nanti. Tapi tidakkah kau ingin mengisi waktu yang berjalan dengan lambat ini dengan sesuatu hal apapun?"
Ramon terus terdiam seolah tidak mendengar kata-kata itu. Tapi sebenarnya, pikirannya terus berputar.
Melihat Ramon tak kunjung menanggapi, 'orang itu' terus bicara, "Dengar ya, aku beri tahu kau satu rahasia." Ia lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Ramon dan berbisik, "Aku ini dulunya adalah seorang koki profesional. Bukan sembarang koki. Aku mewarisi banyak resep rahasia leluhur yang pasti akan mendatangkan keuntungan jika kau berhasil menguasainya. Aku jamin jika kau membuka restoran atau ya..warung makan dengan mengandalkan resep itu, kau akan bisa mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluargamu. Kau bahkan akan bisa menabung untuk hari tuamu."
Mendengar kata keluarga, Ramon merasa hatinya tergelitik. Saat itu, hal yang paling memberatkan hati dan pikirannya adalah keluarganya, yaitu ibunya yang semakin tua dan putrinya yang sakit di kampung. Karena itu, setelah beberapa hari merenungkan kata-kata 'orang itu', Ramon akhirnya memutuskan untuk memanfaatkan waktunya di lapas untuk mendapatkan keterampilan apapun yang bisa ia gunakan untuk melanjutkan hidupnya setelah bebas nanti.
Tiga tahun yang ia jalani pada akhirnya terasa lebih singkat dan tidak terlalu berat. Ia mengikuti kelas memasak dan 'orang itu' benar-benar memberikan seluruh pengetahuan dan keterampilannya pada Ramon. 'Dia' yang berusia sedikit lebih muda dari ayahnya, andai masih hidup, memperlakukan Ramon dengan sangat baik dan membuat lelaki itu merasakan kehadiran sosok ayah yang tidak pernah ia ketahui.
Saat ini, ketika Ramon harus mempelajari hal-hal baru lainnya dalam dunia kuliner di bawah bimbingan Laksmi, ia mau tak mau mengingat 'orang itu' dan hari-harinya ketika pertama kali mempelajari sesuatu yang awalnya benar-benar asing di matanya. Anehnya, entah mengapa ia merasakan adanya kemiripan metode yang digunakan keduanya dalam mengajar.
**