Pepatah mengatakan bahwa cinta itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Mungkin itu adalah prinsip yang dipegang Satria. Setelah pembicaraan dengan Anne-Marie sebelumnya ia masih belum diterima kembali, ia tak menyerah begitu saja.
Kali ini ia mengubah strategi. Alih-alih berusaha meyakinkan Anne-Marie, ia hanya datang untuk makan di Pawon Ageng, entah itu sendiri atau bersama kolega-koleganya. Tak jarang pula ia datang ke florist untuk membeli bunga, tanaman hias atau bahkan potpourri. Tapi ia benar-benar tidak menyengajakan diri bertemu dengan Anne-Marie. Jadi kesan yang muncul dari pertemuan mereka selanjutnya tak lebih dari sekedar kebetulan. Sikapnya pun cenderung lebih terkontrol dan tidak terlalu menggebu-gebu seperti sebelumnya.
Hal tersebut tentu saja mau tak mau membuat Anne-Marie cukup terpengaruh. Hari demi hari semakin sering melihat Satria membuat ketenangan wanita itu terusik bagaimanpun ia berusaha bersikap acuh tak acuh. Ia gelisah dan kesal. Tapi ia juga enggan untuk menanggapi atau menunjukkan reaksi apapun terkait tingkah Satria yang membingungkannya itu.
"Ada apa denganmu? Apa belakangan ini kau tidak tidur dengan nyenyak?" Tanya Aditya saat melihat lingkaran hitam di bawah mata Anne-Marie. Keduanya tengah duduk-duduk di gazebo belakang restoran tempat dimana para karyawan biasanya melepas penat saat waktu istirahat.
"Hmm. Begitulah kurang lebih." Jawab Anne-Marie dengan lesu.
Angin malam berhembus lembut tapi cukup dingin dan membuat Anne-Marie merapatkan sweater-nya. Langit cerah dengan bintang-bintang bertebaran dan kerik jangkrik menambah suasana jadi makin syahdu.
"Kalau begitu tunggu di sini sebentar. Biar aku buatkan kau teh valerian." Anne-Marie hanya mengangguk dan Aditya pun segera berbalik.
Hubungan keduanya cukup baik. Mereka terkadang mengobrol dan saling berbagi cerita satu sama lain. Aditya adalah pendengar yang baik. Ia juga cukup bijaksana dan selalu memberi masukan tanpa terkesan menggurui. Karena itulah Anne-Marie merasa nyaman bersahabat dengannya.
"Wow, kau juga membuatkanku cemilan?" Tanya Anne-Marie saat Aditya kembali membawa nampan berisi teh dan sepiring pisang keju.
"Ya. Makan pisang juga bagus untuk membantu mengatasi insomnia." Jawab Aditya sambil meletakkan cangkir teh dan piring pisang keju di hadapan Anne-Marie. Ia lalu duduk kembali di tempatnya semula dan mendongakkan kepala menatap bintang-bintang.
Anne-Marie menghela nafas pendek. "Terima kasih. Semoga aku bisa tidur nyenyak malam ini." Ia lalu mulai menyantap salah satu cemilan favoritnya itu.
"Apa kau mau cerita tentang hal yang membuatmu merasa terganggu belakangan ini?" Aditya bertanya.
Tanpa ragu Anne-Marie segera menjawab, "Kau pasti sudah menduganya bukan?"
Aditya mengangguk dan menolehkan kepala untuk menatap wanita di hadapannya. Memang benar bahwa ia telah menduga tentang hal itu. Apa lagi jika bukan karena Satria.
Anne-Marie sudah pernah menceritakan perihal hubungan dan masalahnya dengan Satria pada Aditya dulu. Dan apa yang terjadi beberapa waktu belakangan juga telah sampai di telinga Aditya.
"Nampaknya laki-laki itu masih enggan melepaskanmu."
Anne-Marie tak menjawab. Ia menyesap tehnya perlahan dan memandang ke kejauhan. Setelah beberapa saat terdiam, ia berkata, "Dia mengatakan beberapa hal yang membuatku sakit kepala. Sangat tidak masuk akal."
"Memangnya apa yang dia katakan?" Tanya Aditya.
Anne-Marie pun lalu menceritakan pembicaraannya sebelumnya dengan Satria secara ringkas. Termasuk alasan yang dikemukakan yang secara tidak langsung dijadikan pembenaran oleh lelaki itu atas tindakannya dulu bersama Jasmine.
Aditya agak terperangah mendengar apa yang disampaikan Anne-Marie. "Manusia memang sungguh serakah dan banyak maunya." Gumamnya lirih.
Keduanya lalu terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aditya mencoba menempatkan dirinya di sisi Satria. Akankah ia berbuat hal yang sama atau serupa jika ia ditempatkan dalam posisi lelaki itu. Tapi ia mengakui, untuk bisa merasa aman dan pantas ketika bersanding dengan Anne-Marie, sebagai laki-laki ia juga merasa memerlukan status atau kedudukan yang lebih tinggi dari saat ini. Ia tertawa kecut dalam hati.
"Sebenarnya, Anne-Marie... Jika aku menjadi Satria, aku mungkin juga akan merasa rendah diri di hadapanmu." Kata-kata itu berhasil membuat Anne-Marie menoleh dengan dahi mengernyit dalam. Aditya lalu juga menolehkan kepalanya, menatap mata wanita itu lekat-lekat. "Sekalipun kau tidak pernah mempedulikan masalah status ataupun kelas sosial, tapi akan ada banyak orang yang menyoroti dan tentu saja orang-orang dari kelas serta status yang setingkat denganmu tidak akan menerima begitu saja kehadiran orang-orang seperti kami. Andaipun bukan penolakan, hal paling ringan yang mungkin kami peroleh adalah tatapan sinis. Menurutmu, seberapa lama seseorang bisa bertahan dalam kondisi seperti itu?"
Pendapat dan pertanyaan Aditya membuat Anne-Marie tak dapat berkata-kata. Itukah yang dirasakan Satria, tanyanya dalam hati. Tapi apakah itu cukup masuk akal untuk dijadikan alasan perbuatannya dulu, batin Anne-Marie masih tidak dapat menerimanya.
"Dengar, aku bukannya membenarkan perbuatan Satria." Kalimat yang terucap dari bibir Aditya ini seolah sedikit mengkonfirmasi ketidaksetujuan dalam benak Anne-Marie. Ia lalu kembali menjelaskan, "Apa yang aku sampaikan hanyalah pendapat. Karena kebetulan aku juga laki-laki dan kami berasal dari status dan keadaan yang kurang lebih sama."
"Aku mengerti." Jawab Anne-Marie singkat.
"Kau tahu, laki-laki selalu punya ambisi untuk menjadi superior, menjadi lebih baik dan hebat di depan orang yang dicintainya. Ia punya standard kepantasan tersendiri. Ia juga selalu ingin berperan sebagai seseorang yang kuat dan menaungi pasangannya, sebagai tempat bergantung." Tambah Aditya.
"Tapi tidakkah kalian sebagai laki-laki tahu, terkadang kami kaum perempuan hanya menginginkan cinta dan kesetiaan?" Tanya Anne-Marie setengah berbisik seolah hanya berbicara untuk dirinya sendiri.
"Lalu untuk menjalani hidup ini, apakah dua hal itu, cinta dan kesetiaan, saja sudah cukup? Romantisme semacam itu hanyalah bumbu dalam sebuah hubungan, Anne-Marie. Tapi hidup penuh dengan kenyataan yang seringkali tidak bisa kita bayangkan. Untuk itu, kita membutuhkan banyak hal lain untuk tetap bisa bertahan hingga akhir. Jika hanya cinta dan kesetiaan yang dibutuhkan, lalu mengapa begitu banyak kasus perceraian terjadi dikarenakan alasan ekonomi? Dan mereka yang berpisah itu bukanlah pasangan yang tidak memiliki cinta dan kesetiaan sebelumnya."
Anne-Marie membuang muka dan melihat ke kejauhan. Gelap malam makin pekat. Dan dalam benaknya semakin banyak hal berseliweran ke sana kemari, saling berkejaran dan berputar-putar.
"Nona Anne-Marie." Seorang pelayan restoran Pawon Ageng nampak berjalan mendekat ke gazebo tempat Anne-Marie dan Aditya tengah duduk.
"Ada apa?" Tanya Anne-Marie.
"Nyonya Laksmi memanggil Anda, Nona."
"Oh, baiklah. Aku akan segera ke sana." Setelah pelayan itu berbalik dan tak terlihat lagi, ia berkata pada Aditya, "Mungkin aku memang terlalu naif dalam melihat dunia dan kehidupan ini. Tapi aku lebih menghargai orang yang bersedia bersusah-payah berjalan satu demi satu langkah, meski terseok-seok bahkan hingga jatuh bangun dalam meraih ambisinya dari pada mereka yang memanfaatkan jalan pintas, apalagi jika jalan itu harus mengorbankan cinta dan kesetiaannya." Nada bicaranya terkesan tegas dan penuh keyakinan.
"Terima kasih untuk malam ini, teh dan cemilannya juga. Aku pergi dulu." Pamit Anne-Marie pada Aditya. Lelaki itu hanya menjawabnya dengan senyuman.
Kata-kata Anne-Marie terus terngiang dalam benak Aditya. Meski mungkin kata-kata itu terutama dimaksudkan untuk menanggapi sikap Satria, tapi secara tidak langsung itu juga mengena pada dirinya. Jalan pintas, batin Aditya. Ia sendiri diarahkan untuk menempuh jalan pintas itu oleh pamannya. Aditya menghela nafas berat.
**
"Nenek memanggil saya?" Anne-Marie duduk di seberang meja neneknya.
Laksmi menatap wajah cucunya itu sesaat sebelum menjawab. "Ya. Ada hal penting yang perlu kita bicarakan."
"Apa itu?" Tanya Anne-Marie penasaran.
"Ini tentang Ramon. Setelah evaluasi yang nenek lakukan, sepertinya ia melebihi ekspektasi. Jika sekedar untuk bisa bekerja di dapur Pawon Ageng, besok pun ia bisa melakukannya. Tapi seperti yang kau tahu, tujuan kita lebih dari itu. Karena itulah, nenek menghubungi orang tuamu."
"Maksud nenek?"
"Nenek ingin Ramon ke Jakarta dan mempelajari sesuatu di La Chapelle." Laksmi menjeda beberapa saat untuk melihat reaksi cucunya sebelum kembali berkata, "Awalnya nenek pikir akan cukup bagus untuk mengirimnya ke salah satu cabang, entah itu Yogyakarta atau Surabaya. Tapi setelah dipikir-pikir, akan lebih bagus jika Ramon belajar langsung pada papa atau mamamu." Jelas Laksmi.
Anne-Marie masih tertegun dan hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Benarkah Ramon sehebat itu?" Tanyanya dengan mata berbinar dan mulut ternganga lebar. Pertanyaan itu sesungguhnya bukanlah keraguan, tapi benar-benar kekaguman yang bercampur dengan rasa syukurnya karena telah menemukan bakat terpendam.
"Sepertinya orang yang mengajarinya sebelum ini cukup handal. Mungkin seorang koki senior." Sebenarnya hal ini cukup mengusik Laksmi. Ia menemukan begitu banyak hal mengejutkan selama melatih Ramon. Pengetahuan dan keterampilan laki-laki itu membuatnya berpikir seolah-olah ia telah dilatih dengan metode Notokusumo sebelumnya. Karena itulah Laksmi tidak perlu repot mengajarinya banyak hal sebab Ramon telah menguasai apa yang hendak ia ajarkan.
"Bukankah kau bilang Ramon tidak memiliki latar belakang pendidikan kuliner sama sekali? Lalu, apa dia pernah bercerita tentang orang yang mengajarinya memasak, gurunya itu?" Tanya Laksmi.
"Oh, soal itu. Saya ingat dia pernah bercerita tentang itu. Tapi dia tidak menyebutkan siapa orangnya. Dia hanya bilang belum bisa mengatakannya sekarang." Jawab Anne-Marie.
"Belum bisa mengatakannya sekarang? Memangnya apa masalahnya?" Kening Laksmi semakin dalam mengerut. Ia semakin penasaran jadinya.
"Saya sendiri tidak tahu. Saya hanya berpikir dia pasti punya alasan tersendiri untuk itu. Dan saya merasa hal itu juga tidak terlalu penting." Anne-Marie melihat ekspresi aneh neneknya dan bertanya, "Kenapa nenek begitu penasaran dengan guru Ramon sebelumnya? Apa nenek punya gambaran tentang siapa orang itu?"