"Bukankah kau bilang Ramon tidak memiliki latar belakang pendidikan kuliner sama sekali? Lalu, apa dia pernah bercerita tentang orang yang mengajarinya memasak, gurunya itu?" Tanya Laksmi.
"Oh, soal itu. Saya ingat dia pernah bercerita tentang itu. Tapi dia tidak menyebutkan siapa orangnya. Dia hanya bilang belum bisa mengatakannya sekarang." Jawab Anne-Marie.
"Belum bisa mengatakannya sekarang? Memangnya apa masalahnya?" Kening Laksmi semakin dalam mengerut. Ia semakin penasaran jadinya.
"Saya sendiri tidak tahu. Saya hanya berpikir dia pasti punya alasan tersendiri untuk itu. Dan saya merasa hal itu juga tidak terlalu penting." Anne-Marie melihat ekspresi aneh neneknya dan bertanya, "Kenapa nenek begitu penasaran dengan guru Ramon sebelumnya? Apa nenek punya gambaran tentang siapa orang itu?"
Laksmi menghela nafas pendek. Ia membatin, andai saja 'dia' masih hidup. Ditatapnya Anne-Marie dan ia pun berkata, "Jika dilihat dari keterampilan Ramon saat ini dan kekhasan caranya dalam memasak, hanya ada satu orang yang mungkin bisa menjadi gurunya. Hanya saja nenek tidak tahu pasti dimana keberadaannya saat ini. Entah masih hidup atau tidak."
"Siapa yang nenek maksud?" Anne-Marie penasaran.
"Mahesa Wulung. Murid nenek dulu. Dia adalah.. pemuda dengan bakat luar biasa saat itu. Tuhan juga memberinya anugerah dengan indera pengecap yang sangat sensitif. Dengan sekali gigitan, ia dapat mengetahui bahan dan bumbu suatu masakan dengan tepat, hampir tidak pernah meleset, juga gambaran bagaimana proses memasak makanan itu. Sayangnya, suatu hari dia tiba-tiba menghilang begitu saja." Tutur Laksmi.
"Jadi namanya Mahesa Wulung? Apakah benar dia adalah satu-satunya murid nenek selain Chef Cokro?" Tanya Anne-Marie.
"Oh, kau pasti sudah mendengar kisahnya dari para pegawai di sini kan?"
Anne-Marie terkekeh. "Ya. Saya sudah lama mendengar cerita itu. Hanya saja tidak ada seorang pun yang menyebutkan namanya. Orang-orang hanya mengatakan bahwa dia lebih hebat dari Chef Cokro dan nenek mungkin saja bisa menjadikannya chef utama atau bahkan pewaris Pawon Ageng."
Laksmi tak langsung menjawab. Memang itulah yang ada di dalam pikirannya dulu. Meski Mahesa Wulung bukan darah dagingnya, tapi ia sangat pantas untuk mewarisi Pawon Ageng. Ia benar-benar memiliki kualifikasi sebagai chef utama sekaligus pemimpin. Laksmi sangat yakin waktu itu bahwa di bawah kepemimpinan Mahesa Wulung, Pawon Ageng akan dapat terus berjaya.
"Sayang sekali keberadaannya saat ini tidak diketahui." Laksmi menghela nafas berat.
"Nenek, jangan khawatir. Kita akan bekerja bersama untuk mempertahankan Pawon Ageng." Bagi Anne-Marie, sebenarnya tidak masalah pada siapakah restoran itu akan diwariskan, asalkan orang tersebut memang memiliki integritas dan dedikasi tinggi untuk kemajuannya.
**
Dua hari setelahnya, Anne-Marie dan Ramon pun berangkat ke Jakarta. Mereka pergi dengan menaiki kereta Sawunggalih dari Stasiun Purwokerto pada pukul sembilan pagi.
Ini adalah kali pertama Anne-Marie pulang ke Jakarta setelah meninggalkan kota itu empat tahun yang lalu. Pulang ke kota itu selalu menjadi hal yang ia hindari selama ini. Terlalu banyak kenangan pahit di sana. Namun kali ini, Anne-Marie seolah telah melupakan segala sesuatunya. Ia pulang dengan hati yang ringan.
"Sepertinya Nyonya Laksmi sangat mengkhawatirkan Anda." Tanya Ramon setelah kereta melaju.
"Ya. Bagaimanapun ini kali pertama aku akan menginjakkan kaki di Jakarta lagi setelah meninggalkan kota itu dulu. Nenek khawatir hal itu akan mempengaruhi kondisi psikisku. Meski di sisi lain, beliau agak senang karena dengan kepulangan ini maka aku tidak akan bertemu dengan Satria selama beberapa waktu ke depan." Jawab Anne-Marie.
"Lalu, bagaimana dengan sahabat Anda itu?"
"Maksudmu Jasmine?"
"Ya. Bagaimana jika Anda bertemu dengannya? Juga, teman-teman Anda lainnya. Apa Anda sudah siap?"
"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas, aku punya hal yang lebih penting dari pada mengkhawatirkan tentang itu. Jadi, aku pasti akan baik-baik saja."
"Hmm. Saya yakin Anda akan bisa mengatasi semuanya."
Anne-Marie tersenyum mendengarnya. Kata-kata motivasi sederhana itu entah mengapa terdengar begitu menyejukkan di hatinya. Ia dapat merasakan ketulusan dalam kata-kata itu. Tak seperti kata-kata yang diucapkan para motivator di luar sana yang justru seringkali terdengar terlalu berlebihan dan kering.
Sesaat mereka beradu pandang. Ramon merasa hatinya tergelitik melihat senyuman di wajah Anne-Marie. Rona merah muda di pipi wanita itu membuatnya nampak lebih mempesona. Dengan kikuk, ia menunduk lalu menghirup nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Sudah demikian lama ia tidak merasakan perasaan gugup seperti itu karena seorang wanita. Hatinya sudah lama dalam kedinginan dan kesepian. Tapi sekarang, entah bagaimana ia sepertinya mulai merasakan hasrat itu lagi.
"Ngomong-ngomong, Nona Anne-Marie.. Kenapa Nyonya Laksmi meminta saya untuk belajar kuliner Barat? Apakah beliau bermaksud membuat perubahan besar di Pawon Ageng?" Tanya Ramon memecah kecanggungan.
"Bisa dibilang seperti itu. Apa kau sudah pernah mempelajari tentang western food sebelumnya?"
"Tidak. Saya belum pernah mempelajarinya." Jawab Ramon jujur.
"Tidak masalah. Nenek bilang kau adalah tipe orang yang belajar dengan cepat. Tiga bulan sepertinya cukup bagimu. Apa kau sudah membaca buku-buku yang nenek berikan?"
"Ya. Saya sudah selesai membacanya dan menyusun beberapa ringkasan."
"Ringkasan? Oh, kau cukup rajin ternyata."
"Itu hanya karena kebiasaan. Dan memang ada hal-hal yang saya pikir menarik. Saya pikir memadukan eastern dan western food memang bisa menjadi alternatif yang brilian untuk Pawon Ageng. Apalagi melihat perkembangan industri kuliner akhir-akhir ini. Generasi muda dengan kemelekatannya pada media sosial bisa menjadikan tren wisata kuliner semakin berkembang pesat. Tapi kelemahannya adalah kurangnya minat mereka dan keraguan pada kandungan gizi dalam makanan tradisional. Karena itu perlu adanya inovasi menu yang dapat menarik perhatian dan juga meyakinkan mereka bahwa makanan yang kita sajikan benar-benar sehat."
"Itu benar. Itu juga yang aku sampaikan pada nenek. Jika ingin Pawon Ageng tetap berdiri tegak di situasi perekonomian yang bergejolak ini, maka perlu adanya gebrakan yang berani. Salah satunya adalah dengan fusion food itu."
Obrolan terus berlanjut hingga perjalanan yang kurang lebih memakan waktu lima jam itu tak terasa lama. Keduanya bertukar pikiran tanpa terpengaruh batas-batas antara atasan dan bawahan. Mereka lebih terlihat seperti partner yang saling memahami satu sama lain.
**
Pukul dua siang, kereta yang ditumpangi Anne-Marie dan Ramon sampai di Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Mereka lalu langsung menuju ke La Chapelle untuk makan siang sekaligus menemui orang tua Anne-Marie.
"Hello, Ramon. Kita bertemu lagi." Sapa Parahita.
"Salam Nyonya. Senang bisa bertemu Anda lagi." Balas Ramon.
"Begitu juga denganku. Apalagi setelah tahu bahwa kau adalah murid ibuku saat ini. Aku tidak sabar untuk bisa bekerja sama denganmu." Kata Parahita.
Ia telah menerima telepon dari Laksmi sebelumnya. Dan ia sangat terkejut bahwa ibunya itu memintanya untuk mengajari Ramon western food. Satu hal yang sulit untuk dipercaya baginya.
"Bisakah kita bicarakan itu nanti saja? Kami belum makan siang, Mama." Anne-Marie memotong pembicaraan itu. Jika tidak, ia tak tahu kapan itu akan berakhir.
"Oh, maafkan mama, sayang. Mama hanya terlalu bersemangat. Baiklah, apa yang ingin kalian makan?" Tanya Parahita.
"Apa saja tidak masalah."
"Hmmm. Kalau begitu baiklah. Kalian harus mencoba menu fusion baru kami."