“Ada perkembangan, Le?” tanya Fatir sambil memantik api untuk membakar rokok yang diapit telunjuk dan jari tengahnya. Ale menggeleng kuat. “Kagak ada. Tuh cewek juteknya ngalah-ngalahin adek gue. Parah!” Ketiga temannya tertawa. Mereka pernah beberapa kali bertemu dengan adik perempuan Ale. Narin Ratu Gladis tidak pernah sekali pun menanggapi ocehan ketiganya, dan hanya menjawab ketika ditanya tanpa bertanya balik. Jadi, mereka bisa membayangkan bagaimana cewek incaran Ale menanggapi perjuangan cowok itu demi mendapatkannya. Pohon-pohon mangga yang menaungi mereka dari sinar matahari menjadi saksi betapa tangguhnya Ale mendekati cewek bernama Ajeng itu. Di bawahnya, ada bangku panjang yang sangat nyaman untuk diduduki, apalagi dijadikan tempat menggoda mahasiswa baru yang menarik perhat

