bab 6

1153 Words
"Kita mau jalan-jalan kemana, Bu?" Tanya Meki pada Ibunya. "Kemana saja lah, yang penting bisa keluar rumah." "Kita makan dulu saja, gimana?" Herman kali ini yang berpendapat. Meki hanya diam tidak berkomentar apa-apa, karna merasa dia tidak memiliki uang untuk membayarkan makanannya. "Iya-iya, kita makan dulu saja. Cari restoran yang mahal ya." Antusias Ida, dengan senyum lebar, jelas Ida sangat bahagia, karna bisa makam ditempat mewah dan mahal. "Kenapa tidak makan di tempat yang biasa-biasa saja bu?" Tanya Meki, raut wajahnya berubah menjadi tegang, karna bukan tempat Meki untuk makan ditempat yang mewah, terlebih mahal. Ibu melotot tajam. "Sekali-kali makan di tempat mewah dong! Biar kelihatan, kalau kita ini orang kaya." "Benar tuh Bu, Meki itu mah, apa? Kampungan kaya istrinya itu. " Ledek Ida, dengan melirik kearah Meki. Meki mencebikkan bibirnya. "Baiklah, aku ikut saja." "Itu ada rumah makan mewah, kayaknya ramai bu." Antusias Ida sambil menunjuk restoran mewah disebrang jalan. "Iya-iya, kita berhenti di situ saja." Teriak Ibu kegirangan didalam mobil. Meki tercengang melihat kelakuan Ibu dan kakakknya. Yang walaupun belum pernah makan ditempat mewah, tidak sepantasnya bersikap kaya orang kampung. ______ Didalam restoran. "Mas meki." Teriak Intan, dengan melambaikan tangan. "Eh Intan." Cicit Meki sedikit malu, karna dilihat banyak orang. "Sendirian aja?" Tanya Meki basa-basi. "Iya sendirian akunya. Tadi sih sama teman, abis nyanyi lapar, jadi mampir kesin." "Halo bu?, saya Intan, temannya Mas Meki." Intan beralih mendekat kearah Ibunya Meki untuk bersalaman dan memperkenalkan diri. "Iya, halo juga Intan. Kmu cantik. Sudah menikah?" Tanya Ibu sambil melirik Meki. "Belum yang ke dua Bu, saya janda tanpa anak." Jawab intan sedikit malu-malu. "Kapan-kapan main ke rumah, nanti ngobrol bareng." "Iya Bu. Oh ya, saya duluan, Bu." Pamit Intan pada mereka. "Iya," Jawab semua bersamaan. "Itu temanmu, Meki?" Ibu menyenggol lengan Meki dan melirik Intan yang berjalan keluar dari restoran. "Iya Bu, itu temanku." meki menghela nafas. "Wah, lihat tuh dia pakai mobil." Tunjuk Ida pada mobil Ida dengan sedikit berteriak, agar Meki dan Ibunya bisa melihat yang Ida lihat. "Kaya berarti dia. Pacarin aja dia Mek, kayaknya dia suka sama kamu." Ujar Ida dengan melihat Meki yang terlihat salah tingkah. "Terus Ellen gimana, Bu?" "Hallah! Ceraikan saja dia. Lagian apa yang mau di harapkan darinya, dia itu pelit, mandul juga. Siapa tau .... Sama Intan kamu bisa punya anak." Potong Ida. "Tapi, Meki cinta sama Ellen Bu." Ujar Meki sambil menunduk, dan mata berkaca-kaca. "Hallah! cinta apanya Meki... Nanti kalau sama intan juga, lama- lama bisa cinta." Seru Ida mengompori Meki untuk meninggalkan Ellen. Meki mendengkus kasar "Iya bu, nanti kufikirkan lagi. Sekarang, lebih baik kita makan dulu saja." ___________ Pagi tiba, Ellen bangun untuk memasak ikan asin dan tumis toge pake tempe, tak lupa juga membuat sambalnya. Begitu sudah selesai semua, Ellen bergegas mandi dan bersiap-siap untuk berangkat bekerja "Bau apaan sih ini, pagi-pagi bau masakan kampung!" Tiba-tiba Mbak Ida datang langsung mencerca Ellen. "Ini itu, masakan kampung yang uenak mbak." Ledek Ellen dengan mengangkat kedua jempol keatas. "Sudah pernah coba?" Tanya Ellen dengan menyeringai. "Ogah banget! Aku makan begituan, sama orang mandul, bisa gatel-gatel badanku. " Bentak Ida, sambil bergidik ngeri. "Tidak mau? Ya sudah, biar saya habiskan sendiri. Kalau mau makan makanan yang kota, ya? Silahkan masak dan beli sendiri." Ellen tak memperdulikan Ida, bergegas Ellen mengambil makan dan lauk, tak perduli lagi Ida yang kebingungan dengan tingkah Ellen. "Heh! Kamu kira aku tak mampu beli makanan yang enak ? Gak kaya makananmu ini. Kampungan" Bentak Ida dengan mengangkat tangan dan melipatnya kedepan d**a. "Hmm...... Enak sekali, Sedap. nyam-nyam-nyam... " EjekEllen, sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya. "Huh! Kampungan! Norak!" Bentak Ida pada Ellen dengan menghentak-hentakkan kaki menuju kamarnya. Selesai sarapan, tak lupa Ellen membereskan dapur dan menncuci piring bekas nakanny, dan cuci tangan. "Mas, Ellen berangkat dulu." Pamit Ellen, walaupun ada bau-bau penghianatan, Ellen tatap menganggap Meki sebagai suaminya. Sebelum berangkat, terlintas ide dalam fikiran Ellen untuk membuktikan apakah ucapan Ibu Mertuanya, dan Ida, kakak iparnya, siapakah yang mandul sebenarnya. "Kapan-kapan kita kerumah sakit, ya Mas, untuk periksa." Ajak Ellen. "Yang mandul itu kamu, apa aku! Biar jelas. Aku bosan, di katain Ibu dan kakakmu mandul." Lanjut Ellen menjelaskan. "Tidak usah, ngapain buang- buang uang. Mungkin, memang belum di kasih sama tuhan saja." Tolak Meki tanpa memikirkan perasaan Ellen sedikitpun. "Aku pengen pembuktian ma! Dan kalau aku yang mandul, apakah Mas Meki masih setia padaku?" Tanya Ellen naik pitam. Meki tak menjawab pertanyaan Ellen. Meki membatin kalau-kalau Ellen memang benar mandul. Benar juga kata Ellen. Mana mau aku seumur hidupku tidak punya anak. Enak saja! Aku juga mau bermain sama anak aku, bercanda, main bola. Dan merawatku saat aku tua nanti. "Mas!" Teriak Ellen. "Mas tidak tau Ellen. Nanti saja di fikirkan lagi. Mas juga mau berangkat ke kantor." Meki yang kebingungan dengan pertanyaan Ellen, lebih memilih menghindar dari pada berdebat dengan Ellen. ___________ Breefing kali ini Ellen tidak konsen sama sekali. Bahkan saat ada yang presentasi pun, Ellen tidak memeprhatikan sama sekali. "AKU YAKIN BUKAN AKU YANG MANDUL! " Teriak Ellen tiba-tiba. Sontak, semua orang yang di ruang breefing menoleh dan mlotot padanya. Tak terkecuali Pak Ady. "M.. M.. Ma.. Maaf. Maafkan aku Pak." Ucap Ellen lirih dan menunduk, sambil memainkan kedua jari tangannya. "Lanjutkan presentasinya!" Ucap Ady datar. Presentasi selesai, dan semua bubar, Ellen masih berdiam diri di tempat duduk nya. Dan kini, hanya tinggal Ellen dan Ady. "Nona Ellen!." "Eh, iya Pak. Ada apa.?" Tanya Ellen kebingungan, karna semua karyawan sudah membubarkan diri. "Ini semuanya pada kemana pak?" Tanya Ellen memberanikan diri. "Ini peringatan, Nona Ellen. Kalau ada masalah di rumah. Jangan di bawa ke kantor. Faham!" Ellen tak menjawab apapun, hanya anggukan kepala sebagai tanda bahwa Ellen mengerti dengan apa yang diperintahkan Ady. "Sekarang keluarlah. Kalau tidak bisa fokus, silahkan izin dan pulang." "Baik Pak. Aku tidak izin hari ini Pak. Permisi." Pamit Ellen, sebelum keluar, Ellen membungkukkan sedikit badannya dan keluar dari ruang breefing. " Hmm." Gumam Ady. Diluar ruangan ternyata sudah ada Destri yang menungguku. "Di apain Pak Ady Len?" Tanya Destri dengan menyipitkan mata. "Gak di apa-apain sih." Ellen menyengir "Emang mau di apain? Cium?". "Kamu pernah di cium Pk Ady Len? Beneran? Sumpah! Kaya apa rasanya." Karna penasaran, Destri mengguncang-guncangkan lengan ayu pelan. "Bisa tidak, kalau bertanya satu-satu. Kan aku jadi pusing mana yang harus ku jelaskan." Ujar Ellen tanpa menoleh kearah Destri. "Tapi, benar tidak? Kamu pernah di cium Pak Ady?" Tanya Destri lagi mengintimidasi Ellen. "Jangan biarkan gadis kecil ini ternodai karna ulahmu sama Pak Ady." "Memangnya kenapa? Kok ternodai? Ikut aku! Aku jamin, nodanya hilang! Ellen menarik tangan Destri menuju parkiran. "Iya kah?." Tanya Destri kebingungan. "Iya.... Ayo, ikut saja, jangan banyak tanya." "Kan aku masih penasaran Len, sama hubunganmu dengan Pak Ady." Cicit Destri. "Huft!" Ellen menghela nafas berat. "Aku tidak ada hubungan apa-apa sama Pak Ady, Destry yang cantik dan imut, dan manis kaya gulali." Kata Ellen menyakinkan Destri. "Yaudah deh, ayo keluar." Jawab Destri dengan sedikit malas, karna tidak mendapat jawaban yang diinginkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD